**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************
Pembaca Eskol-Net yang kekasih,

Salam Sejahtera,
Ditengah-tengah situasi yang belum menentu saat ini tidak semestinya lagi
melakukan kegiatan-kegiatan yang rentan dengan gejolak sosial, tanpa
memikirkan dampak negatip yang kemungkinan akan terjadi. Apalagi kegiatan
itu dalam bentuk pengerahan massa yang tentu sangat rentan untuk
dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang menginginkan kekacauan di
negeri ini. Berikut ini kami memuat dua berita Bali Post tentang sebuah
rencana kegiatan Tabliq Akbar di Mataram.
Berdoalah untuk situasi Lombok dan Mataram.

Eskol Net
-----------

Gubernur Rencanakan Gelar Tabliq Akbar
* Beredar Selebaran Gelap Habisi Masyarakat Tionghoa

Mataram (Bali Post) -17/01/2001
Untuk menyejukkan suasana Mataram yang sedang panas, Gubernur NTB Drs. H.
Harun Al Rasyid merencanakan menggelar tabliq akbar dengan mendatangkan
kiai sejuta umat KH Zainuddin MZ.

Acara tersebut memanfaatkan keberadaan kiai karismatik tersebut yang akan
menghadiri acara akad nikah putra gubernur, Sabtu (20/1) mendatang.
Sayangnya, sebelum tabliq digelar sudah beredar selebaran gelap yang berisi
hasutan bahwa setelah tabliq akbar seluruh masyarakat Cina (Tionghoa) yang
ada di Cakranegara harus dihabisi. Kapuskodalop Polres Lombok Barat Ajun
Komisaris Polisi Irianto S mewakili Kapolres Lombok Barat dalam rapat
persiapan tabliq akbar di ruang rapat utama Bupati Lombok Barat yang
dipimpin Sekda Lombok Barat Drs. HL Widjaja di Mataram, Selasa (16/1)
kemarin menyebutkan, sebelum berangkat ke rapat, polisi menerima laporan
telepon dari lapangan. Saat ini sudah beredar selebaran yang intinya akan
menghabisi masyarakat Cina seusai acara tabliq akbar. Sebagai aparat
keamanan bertanya siapa yang bertanggung jawab acara yang akan melibatkan
ribuan massa. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya
meminta, sebaiknya kiai kondang tersebut tidak melakukan tabliq tetapi
masuk ke pesantren-pesantren.

Widjaja yang ditunjuk Bupati Iskandar sebagai pimpinan rapat juga mengaku
tidak bisa memutuskan jadi tidaknya acara tersebut setelah mengetahui
kondisinya. ''Bagaimana pun pemerintah saat ini sedang waswas juga,''
cetusnya.

Tetapi tabliq ini instruksi dari gubernur langsung, di mana lokasinya
berada di wilayah kota Mataram. ''Untuk memastikan jadi tidaknya tabliq
akbar tersebut sebaiknya kita menghadap gubernur dan informasikan
perkembangan di lapangan dan utarakan solusinya. Kalau tabliq tetap jalan
kita upayakan
yang terbaik,'' ujarnya.

Untuk mencari kepastian, Rabu (17/1) ini panitia akan menghadap gubernur.
Namun di wajah-wajah peserta rapat persiapan yang notabene pejabat Lombok
Barat dan tokoh agama dan masyarakat yang ditunjuk sebagai panitia tersirat
keraguan untuk melaksanakan tabliq akbar tersebut. Mereka masih trauma
dengan kasus 17 Januari 2000 yang mencoreng citra Lombok.

Sebelum ada selebaran tersebut, TGH Syafwan Hakim sangat yakin pelaksanaan
tabliq akbar akan lancar dan membawa kesejukan bagi masyarakat yang sedang
panas sekarang ini. ''Tabliq akbar ini diharapkan mampu menyejukkan hati
warga,'' ujar Syahwan yang juga sebagai Ketua Forum Komunikasi Pondok
Pesantren NTB dan didudukkan sebagai seksi pengerahan massa.

Tabliq yang direncanakan diadakan di GOR Turida Mataram akan mendatangkan
massa dari seluruh Lombok, bahkan mungkin akan datang pula dari Sumbawa.
Yang dikhawatirkan bukan saat tabliq berlangsung, tetapi setelah acara usai
siapa yang akan bertanggung jawab. Kembali menengok kasus satu tahun lalu,
kerusuhan bukan saat tabliq berlangsung, tetapi setelah itu. Namun sejauh
ini belum diketahui dengan jelas di mana saja tempat beredarnya selebaran
laknat tersebut.

Seperti diungkapkan Widjaja, Wali Kota Mataram saat ini sedang bingung
dengan rencana tabliq akbar tersebut. Bahkan bertanya-tanya mengapa tabliq
diadakan di wilayahnya yang menyelenggarakan justru Lombok Barat. ''Saat
ini bupati sedang mencari wali kota untuk menjelaskan duduk persoalannya,
kita
juga di sini diinstruksikan gubernur,'' ujarnya. Seorang tokoh masyarakat
Faisal Hadi menyebutkan, sedianya acara tabliq akbar yang menampilkan
Zainuddin MZ sebagai penceramah akan digelar di Lombok Timur, karena kiai
ingin tempat yang terdekat dari bandara. Dengan perhitungan usai acara bisa
langsung terbang ke Jakarta. (048)

Wali Kota Mataram Tolak Penyelenggaraan Tablig Akbar
-------------------------------------------------------------
Mataram (Bali Post) -18/01/2001
Wali Kota Mataram H. Moh. Ruslan, S.H. terang-terangan menolak keinginan
Gubernur NTB H. Harun Al Rasyid, menggelar tablig akbar di lapangan
terbuka. Mengingat situasi dan kondisi kota saat ini belum memungkinkan
dilaksanakannya acara yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Sikap
Ruslan itu disampaikan dalam pertemuan Gubernur dengan Muspida I bersama
sejumlah ulama, tokoh masyarakat dan beberapa pengurus LSM, di kantor
Gubernur, Rabu (17/1) kemarin. Ruslan tampaknya memaklumi niat baik
Harun menggelar tablig akbar dengan maksud mengangkat citra NTB yang sempat
terpuruk gara-gara kerusuhan bernuansa SARA, 17 Januari 2000 atau dikenal
peristiwa ''171''. Namun, kata Ruslan, waktunya kurang tepat untuk
dilaksanakan di lapangan terbuka, yakni GOR Turide Cakranegara. Apalagi
sebelumnya telah beredar selebaran gelap yang ingin menghabisi masyarakat
Tionghoa usai mengikuti tablig akbar. ''Saat tablig memang tak terjadi
apa-apa. Tetapi saat pulang, tak mustahil akan masuk orang-orang yang tidak
bertujuan berdakwah,'' katanya.

Ruslan tak mau mengambil risiko terulangnya kembali peristiwa ''171''.
Sehingga dia bersikeras tak mau menandatangani SK Kepanitiaan Bersama
dengan Bupati Lobar. Ruslan kelihatannya agak kecewa, kenapa Harun menunjuk
Pemkab Lobar menjadi panitia, sementara lokasi tablig di kota Mataram.
Harun
tadinya mengira wilayah Turide masuk Lobar, sehingga mempercayakan kepada
Bupati Lobar.

Tablig akbar direncanakan menghadirkan dai sejuta umat, KH Zainuddin MZ,
yang kebetulan datang ke Mataram diundang khusus oleh Harun menyaksikan
perkawinan putranya, Sabtu (20/1) pagi. Tabliq dijadwalkan sore harinya, di
GOR Turide Cakranegara. Namun Ruslan sebagai penanggung jawab wilayah kota
tak mengizinkan, tetapi disarankan pelaksanaannya di Masjid Raya At-Taqwa
Mataram.

Pertemuan selama dua jam lebih itu berlangsung alot. Karena sebagian tuan
guru atau ulama mendukung maksud baik Harun, namun sebagian lagi
menyarankan untuk sementara digelar di luar kota Mataram. Termasuk Kapolda
NTB Brigjen Pol. Drs. Jonny Yodjana, merasa belum yakin tablig di Mataram
berjalan
aman, sehingga disarankan di luar kota. Demikian halnya dengan Ketua DPRD
NTB Drs.
HL Srinate, yang berpendapat konsentrasi massa mengandung risiko besar.

Dipindah ke Lobar

Beberapa tuan guru yang mendukung keinginan Harun, di antaranya TGH Mustafa
Umar, TGH Syafwan Hakim, Ketua MUI NTB KH Suparlan, M.A. dan KH Muhammad
Anwar MZ. Sementara yang menyarankan untuk ditunda atau digelar di luar
kota Mataran, di antaranya TGH Ahmad Fadly, TGH Muchlis Ibrahim dan Drs.
Achmad Taqiuddin.

Pada prinsipnya semua tuan guru yang hadir menganggap tablig akbar sangat
penting untuk dilaksanakan, terlebih lagi saat ini masyarakat muslim
membutuhkan siraman rohani. Namun, menurut TGH Ahmad Fadly, intern jamaah
yang hadir perlu dikaji supaya jelas garis komandonya ketika ada kejadian
di luar dugaan. Pasalnya kiai yang hadir dari luar (seperti Zainuddin
MZ-red) tidak memiliki sentral massa, seperti tuan-tuan guru di Lombok.

KH Muhammad Anwar MZ, TGH Mustafa Ummar dan TGH Syafwan Hakim berpendapat,
semua pihak tidak perlu takut dan khawatir dengan adanya tablig akbar.
Justru sekaranglah kesempatannya memperbaiki citra tablig akbar sebagai
sarana pemersatu, setelah sempat tercoreng oleh oknum-oknum yang tidak
bertanggung jawab pada kesempatan tablig akbar, 17 Januari 2000.

Tinggal sekarang, pinta mereka, bagaimana aparat pemerintah, terutama
aparat keamanan mendukung dengan penuh pengamanan dari tiap kegiatan yang
ada di masyarakat. Artinya aparat keamanan tidak ragu-ragu dan harus tegas
dalam menindak aksi-aksi yang mengganggu kamtibmas.

Meski terjadi perbedaan pendapat, Harun akhirnya mengambil keputusan untuk
menggelar tablig akbar di luar kota Mataram. Disepakati tablig akbar akan
digelar di Lapangan Umum Kediri Lobar. Ahmad Taqiuddin mengusulkan agar
pengamanan pihak kepolisian saat tablig tidak terlalu mencolok, supaya
jamaah bisa mengikuti pengajian dengan tenang. (046)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke