**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************

Salam sejahtera,
Mudah-mudahan dengan adanya titik terang mengenai pelaku-pelaku kerusuhan
di Ambon ini semakin tercipta suasana kedamaian dan ketenangan di sana.
Biarlah kebenaran yang ditegakkan di Kepulauan Maluku itu. Sebagai catatan
tambahan, menurut kontak kami di Ambon, pihak-pihak yang tertangkap ini
adalah kelompok yang mendukung kelompok perusuh.
Salam --- Eskol Net.

Yon-Gab TNI Sukses Lumpuhkan Letkol Saragih Cs
`````````````````````````````````````````
Ambon, Siwalima
Tekad Yon-Gab TNI memberantas kelompok perusuh dan otak dibalik skenario
kerusuhan Ambon, akhirnya menemui titik terang. Keterlibatan oknum aparat
TNI-Polri yang selama ini sulit terjamah, justru dibuat tak berdaya
menghadapi manuver yang dilakukan Yon-Gab TNI. Alhasil, Sesdit Diklat Polda
Maluku, Letkol Pol Jati Waramas Saragih, dan komplotannya berhasil
dilumpuhkan aparat Yon-Gab TNI, Senin (22/1) subuh di hotel Wijaya II.
Bersama Saragih, juga tertangkap Mayor  Inf Nurdin, Staf Irdam XVI
Pattimura, Mayor Pol Drs Riky Pais, Kabag Sabhara Polda Maluku, Letda Pol
Saihuddin, Polres P Ambon dan Pp Lease, Serda Pol A (Polwan?), Serka Pol
Korim Suharna, Polres P Ambon dan Pp Lease, Sertu Pol Rustam, Polres.
Polres P Ambon dan Pp Lease, Bharada Ashar, pengemudi mobil Dan Sat Brimob,
Polda Maluku.

Sementara itu, Mayor Pol Drs Abdi Darman Sitepu, Waka Polres Jeneponto
terpaksa diikutsertakan ke Pomdam XVI Pattimura, lantaran saat
pernyergapan, Sitepu berada di lokasi yang sama. Hanya saja informasi yang
diterima menyebutkan Sitepu ternyata cuma sementara waktu menginap di hotel
Wijaya II, sambil menunggu serah terima jabatan menjadi Dansat Brimob
Polda Maluku. Manuver penyergapan yang dilakukan aparat Yon-Gab TNI
tersebut menemukan sejumlah barang bukti berupa senjata standar laras
panjang dan pendek milik TNI-Polri, munisai, dan perlengkspan militer
lainnya. Pula, shabu-shabu.

Pangdam XVI Pattimura Brigjen TNI I Made Yasa kepada pers di Makodam XVI
Pattimura mengatakan, kronologis kegiatan aparat Yon-Gab TNI sebenarnya
berkaitan dengan aksi tembakan 19 Januari 2001 malam sampai dengan 20
Januari pagi. "Kejadian tadi malam dimulai dari sore harinya, dimana ada
upaya-upaya dari kelompok masyarakat tertentu untuk membuat pele-pele  di
beberapa tempat, diantaranya di sekitar jembatan Ruko Batumerah,  arah
jalan di sekitar pelabuhan dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Dari
pele-pele tersebut kita memperkirakan akan ada sesuatu yang berkaitan lagi
dengan isu-isu yang dihembuskan di masyarakat bahwa ada 2 jenazah yang
diambil dan dibawa oleh Marinir," jelas Made Yasa.

Menurutnya, isu ini kelihatannya disampaikan untuk memancing emosi
masyarakat sehingga masyarakat pun merasa terpengaruh untuk kegiatan itu.
Alhasil, pada malam hari mulailah tembakan-tembakan itu kepada pos Marinir
dan pos Kompi Yon Gab di Mardika. Tembakan itu, Made Yasa, berasal dari
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang diperkirakan ada speed boat  yang masuk
ke sana, kemudian tembakan itu juga berasal dari jembatan Ruko Batumerah.
Malah, ada juga tembahakan-tembakan dari arah Taman Victoria.
"Tembakan-tembakan itu begitu gencar sedangkan aparat TNI yang ada di sana
khsusunya pos Marinir dengan kompi gabungan itu statis di tempat. Kalau
boleh saya katakan pos ini mulai diserang dari segala penjuru oleh
perusuh-perusuh. Karena diserang secara bertubi-tubi, maka mau tidak mau
untuk memperta-hankan diri, pasukan pun mem-balas tembakan-tembakan
tersebut," tegas Made Yasa.

Dikatakan, sekitar pukul 02.30 WIT tembakan justru lebih strategis lagi
karena dilakukan dari gedung-gedung. "Oleh karena itu,  saya juga berpikir
dima-na sentral komando dari kegiatan ini. Pasukan memang sudah tergelar
kemudian semua pos sudah disiapkan di sana, akhirnya sekitar pukul 04.30
pagi tadi Wadan Sektor dan As Ops ke saya minta ijin gunakan Yon Gab
sisanya, maka saya ijinkan langsung saya BKO-kan kepada Dansektor, Silahkan
pakai itu, yang penting bisa selesai. Kekuatan kita hanya 1 pleton dari
unsur Yon-Gab. Sa-ya beranggapan adalah tempat komando pengendalian
kegiatan itu adalah Hotel Wijaya II. Dan betul begitu masuk ke sana
beberapa oknum-oknum TNI dan oknum-oknum Kepolisian ada di sana dan siap
dengan senjatanya. Anak buah pada saat masuk ke sana, itu mendapat
perlawanan sehingga anak buah terpaksa melumpuhkan mereka," tandas Made
Yasa.

Pangdam mengakui, pada prinsipnya ke dalam dilakukan proses hukum, tetapi
intinya Pangdam ingin anak buahnya dipecat. "Masalah-masalah kegiatan lain
saya tetap berkeinginan masyarakat-masyarakat itu menghentikan kegiatan
negatifnya, hentikan keinginan serang-menyerang itu yang tidak bermanfaat,
itu hanya untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu saja," ujarya,
sembari menambahkan, jika ada yang menilai ada komando liar justru dia
tidak melihat itu sebagai hal yang mendasar. "Saya tidak pernah berpikir
itu komando jihad kah, komando apakah dan sebagainya. Yang saya pikirkan,
siapa yang berma-nuver saya hadapi, siapa saja yang membawa senjata dengan
berpakaian preman itu juga harus kita lumpuhkan. Jadi, saya tidak melihat
itu komando apa, komando apa dan sebagainya, yang bermanuver pasti kita
akan lumpuhkan," tegasnya lagi. (eda/lai)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke