********************************** Wacana Mingguan : 5 Februari 2001 ================================== TAHIRKANLAH KAMI Oleh Rm Benny Pr Bacan Yes 6:1-2a.3-8 1Kor 15:1-11 Lukas 5:1-11 Para saudara/i ku yang terkasih Hari ini wajah pertiwi menjadi muram melihat badut politik lagi memainkan jurus silat lidah. Mempermainkan kata - kata yang indah demi sebuah demokrasi. Dibalik semua kata yang indah, jujur, mewakili nurani rakyat. Sebetulnya penuh dengan bayang-bayang semu untuk menutupi dosa masa lalu. Mereka menggunakan tangan pers, media, komunikasi untuk membuat image bahwa "mereka " ini adalah pejuang, pembela kebenaran. Yang paling norak mereka mengaku paling reformasi. ApakahTradisi seperti ini merupakan kultur/budaya bangsa ini yang berani mengakui kesalahan, dosa-dosa masa lampau. Dengan cara melempar batu sembunyi tangan. Dengan meminjam tangan orang lain "mereka " membersihkan dirinya. Perilaku inilah yang dikecam oleh Tuhan sendiri. Dalam bacaan pertama, sikap Yesaya mengakui diri orang berdosa, yang tidak pantas dan tidak layak dihadapan Tuhan dengan kata yang penuh dengan makna "ay 5" lalu kataku "Celakalah aku !Aku binasa ! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal ditengah -tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja yakni Tuhan semesta alam. Pengakuan seperti ini agak susah ditemukan dalam para pemimpin kita, juga para anggota dewan yang terhormat itu. Mereka klaim dirinya paling bersih, suci, jujur? Padahal mulut "mereka " penuh dengan tipu muslihat? Tangan "mereka "penuh dengan darah, Mata mereka penuh dengan prasangka curiga. Tetapi "mereka " tidak memiliki jiwa satria bahwa kita seperti ini karena ulah mereka. Kondisi seperti ini yang terjadi jaman Yesaya dimana para pemimpin baik politik, agama kerap kali hanya mengobral kata -kata untuk membohongi umatnya. Mereka membuat tumbal menimpakan kesalahan itu kepada orang lain. Bukankah apa yang terjadi di zaman Yesaya juga kita alami hari ini. Ajakan Yesaya agar kita mau bercermin bahwa kita ini juga orang yang najis bibir. Ajakan ini seharusnya agar kita mau menjadi satria berani mengakui kesalahan, dosa tidak menimpakan kesalahan itu pada orang lain. Ini ditegaskan oleh Petrus ketika Dia melihat peristiwa penangkapan ikan atas perintah Yesus. Dia menyebut Tuhan, merupakan seruan pengakuan bahwa dirinya orang berdosa. Dengan kata ini "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa. Belajar dari pengalaman Iman Yesaya dan Petrus kita bisa menyimpulkan bahwa syarat orang berjumpa dengan Tuhan bila manusia berani mengakui kesalahannya, dosanya dan segala keburukkannya. Keterbukaan seperti inilah yang Tuhan inginkan. Bukan seperti Bapak-Bapak kita yang terhormat itu yang hanya memperebutkan kekuasaan, mereka menjual hati nurani dan uang. Semoga kita bukan seperti itu seperti dikatakan Bapa Suci dalam doa Yubileum Agung Th 2000. Antara lain berdoa Bapa berilah para murid Kristus pikiran yang jernih. Semoga dengan saling mengakui Kesalahan mereka bersatu padu, sehingga dunia menjadi percaya. *sekian* "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 atau BCA Cab. Darmo Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
