`````````````````````` Demokrasi Tanpa Kekerasan Oleh: Fanny Lesmana, S.Sos Bacaan: Amsal 29: 8 "Pencemooh mengacaukan kota, tetapi orang bijak meredakan amarah" Demonstrasi seperti tak ada habisnya. Di sini demo, di sana demo. Iya kalau demonya itu demo masak? Kan bisa bikin orang kenyang karena incip-incip hasil masakannya? Lha yang ini lain dengan demo masak itu. Kalau demonya tutup mulut, cuma membentangkan poster alias aksi damai, itu juga nggak masalah. Lha ini, demo sambil teriak-teriak histeris, bawa pentung, bawa clurit, lempar-lempar batu, sambil pakai acara bakar membakar segala. Jelas saja sedikit banyak kondisi ini membuat orang-orang di sekelilingnya merasa ngeri. Sebisa mungkin yang namanya rakyat jelata itu ya menyingkir saja, daripada nanti ada apa-apa. Anak istri menunggu di rumah dengan harap agar ayah dan suaminya pulang selamat. Ya menyingkir saja jauh-jauh, daripada pulang tinggal nama. Sekarang ini banyak sekali demonstrasi yang diiringi dengan tindak anarkis. Semua tindakan dibenarkan dan dihalalkan. Kayak dia yang punya negara ini saja. Tapi, itulah yang sedang terjadi di antara kita saat ini. Inilah yang sedang dihadapi oleh masyarakat kita. Ini pula yang menjadi tantangan bagi bangsa kita. Diakui atau tidak, bangsa Indonesia pada waktu-waktu ini sedang berperang dengan dirinya sendiri. Bukan dengan sesama manusia, tetapi dengan batinnyalah ia sedang bergulat. Apakah ia bisa mengendalikan dirinya sendiri? Bisakah ia menguasai emosinya di saat-saat yang paling menjengkelkan sekalipun? Perjuangan ini menuntut kemenangan. Akankah kita akan memenangkan pergulatan itu atau kita harus menyerah pada amarah yang tak terkendalikan? Demonstrasi atau unjuk rasa selalu ditimbulkan oleh rasa tidak puas terhadap peraturan yang ada. Tidak puas terhadap pelaksanaan peraturan. Tidak puas kepada para pemimpin yang menjalankan kekuasaan. Tidak puas pada kebijakan yang dikeluarkan oleh para penguasa. Termasuk rasa tidak puas karena diri sendiri tidak terpilih menjadi penguasa dan tidak puas karena bukan dirinya yang mengeluarkan kebijakan itu. Yeah, sejujurnya ketidakpuasan itu bukan hanya diperuntukkan bagi rakyat banyak saja, tapi juga untuk kepentingan sendiri, kan? Ketidakpuasan selalu dialami oleh siapa pun, termasuk oleh rakyat Indonesia. Dan, ketidakpuasan itu diungkapkan dengan berbagai cara. Wakil rakyat jadi tumpuan. Nyatanya, hasilnya nyaris tak nampak . Merasakan hidup yang nyaris tanpa perubahan, bahkan makin dikuya-kuya oleh penguasa, baik penguasa besar maupun penguasa kelas teri, membuat masyarakat kita menghentikan segala keluhannya. Demontrasi menjadi pilihan. Yang lebih memprihatinkan adalah saat kita menyadari bahwa demontrasi yang jadi pilihan itu masih dibarengi dengan kekerasan yang kian ditoleransi. Yang satu menghujat seorang tokoh bangsa. Menuduhnya melakukan tindak yang tidak pantas. Namun pantaskah kita bila menuntut keadilan dengan kekerasan? Demonstrasi yang tidak tepat dan tidak pada tempatnya serta lebih diiringi dengan emosi dan ambisi (pribadi) membuat tiang kehidupan berdemokrasi kita yang baru saja dibangun menjadi ambruk. Tak ada demokrasi dengan kekerasan. Tak ada demokrasi dalam kebrutalan. Tak ada demokrasi dalam kelabilan emosi. Tak pernah ada. (*) "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 atau BCA Cab. Darmo Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
