`````````````````````````````````````````` Sari Berita : Senin, 11 Juni 2001 ^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^^*^*^ > Menhan Akan Ungkap Bukti Pelanggaran Golkar > "Itu Barang Sepele" Wahid: Bukan Barang Besar > Soal Penangkapan 32 WNA Sikap Polda Dinilai Dirjen Imigrasi Berlebihan > Presiden tak Takut Hadapi Militer * Tiga Menteri Disiapkan ''Grabak-grubuk'' > Naiknya BBM Tidak Langsung Atasi Persoalan ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Menhan Akan Ungkap Bukti Pelanggaran Golkar Reporter: M Rizal Maslan ===================== detikcom - Jakarta, Menhan Mahfud MD bersedia hadir sebagai saksi dalam sidang gugatan Partai Golkar di MA. Menhan juga bersedia untuk mengungkapkan bukti pelanggaran dan penyalahgunaan dana Bulog sebesar Rp 90 miliar oleh Partai Golkar. Kesediaan Menhan Mahfud MD menjadi saksi ini dikemukakan oleh Ketua Umum Partai Pilihan Rakyat RO Tambunan. "Dulu kita sudah ketemu dan Pak Mahfud bersedia untuk menjadi saksi," kata RO Tambunan yang dihubungi detikcom per telepon, Minggu (10/6/2001). Namun, kesaksian Menhan sendiri belum ditentukan jadwalnya. Menurut RO Tambunan, Mahfud MD bersedia untuk mengungkapkan bukti-bukti pelanggaran dan penyalahgunaan dana Bulog sebesar Rp 90 miliar yang digunakan Partai Golkar dalam Pemilu 1999. Mahfud MD sendiri mengungkapkan kasus ini dalam sidang kabinet bersama mantan Kabulog Rizal Ramli. http://www.detik.com/peristiwa/2001/06/11/2001611-061311.shtml "Itu Barang Sepele" Wahid: Bukan Barang Besar =================== koridor.com [11 Jun 2001, 0:40] "Marilah kita mewarisi sifat Bung Karno yang melakukan segala tindakan tanpa kekerasan. Sifat itu diambil dari Mahatma Gandhi dan saya selalu mengikutinya. Tidak keras tapi tegas, itu dua hal yang beda," kata Presiden Abdurrahman Wahid. Ketika menghadiri peringatan seabad Pondok Pesantren-Ponpes Futuchiyyah, Mranggen, Demak, Jawa Tengah-Jateng, Sabtu (9/6), sebagaimana diberitakan Koran Tempo, Minggu (10/6), Presiden Wahid menyatakan pula, pemerintahannya masih sanggup mengatasi kemelut politik. "Bagaimana kalau mereka masih ribut terus? Percayakan pada pemerintah. Itu barang sepele, bukan barang besar," tandas Presiden Wahid. http://www.koridor.com/artikel.htm/113345 Soal Penangkapan 32 WNA Sikap Polda Dinilai Dirjen Imigrasi Berlebihan 10 Jun 2001 18:42:32 WIB ===================== TEMPO Interaktif, Jakarta:Penangkapan terhadap 32 warga negara asing peserta Konferensi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika di Hotel Sawangan Depok oleh Polda Metro Jaya dinilai sebagai sikap yang kontraproduktif dalam masa keterbukaan. "Sekarang ini bukan zamannya lagi ada yang ditutup-tutupi," kata Direktur Jendral Imigrasi Departemen Kehakiman dan HAM, Mudakir, kepada Tempo melalui telepon di Jakarta, Minggu (10/6) petang. Menurut Mudakir, jika penangkapan itu dilakukan dengan dalih menyalahgunakan izin tinggal atau visa karena mereka mengikuti seminar, hal tersebut merupakan sikap yang berlebih-lebihan dan tidak perlu. Sesungguhnya untuk sekedar mengikuti undangan seminar, seseorang tidak perlu menggunakan izin atau visa khusus. Kecuali, imbuhnya, jika mereka hadir sebagai pembicara, baru diharuskan menggunakan visa khusus. "Karena dia harus mempertanggungjawabkan apa yang diucapkannya itu," ujar Mudakir. http://www.tempo.co.id/news/2001/6/10/1,1,7,id.html Presiden tak Takut Hadapi Militer * Tiga Menteri Disiapkan ''Grabak-grubuk'' ============================= Jakarta (Bali Post) - ''Perlawanan'' berbagai pihak, termasuk militer yang akhir-akhir ini tampak ''menjauhinya'', ternyata tak mengurangi sedikit pun kepercayaan diri Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di depan jemaah salat Subuh di Masjid Al Munawarroh Ciganjur, Jakarta, Minggu (10/6) kemarin, Presiden menyatakan akan tetap mempertahankan posisinya, walaupun hal itu berarti dirinya harus berhadapan dengan militer. Bahkan, jika militer sampai mengepung Istana Merdeka dalam upaya menurunkan dirinya, Presiden asal Jombang ini menyatakan tidak takut. Kepala Negara bahkan memberi contoh sikap Presiden Soekarno yang tidak menyerah walaupun Istana dikepung oleh militer pada 17 Oktober 1952 lalu. http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2001/6/11/p1.htm Senin, 11 Juni 2001 Naiknya BBM Tidak Langsung Atasi Persoalan ================================ Jakarta, Kompas Kesepakatan DPR dan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) rata-rata 30 persen mulai tanggal 15 Juni 2001 merupakan langkah yang harus dicermati. Pengurangan subsidi yang harus ditanggung rakyat dengan kenaikan harga pada saat mereka masih dililit kesulitan ekonomi tidak serta-merta menjawab persoalan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang menjadi alasan pengurangan subsidi. Sebaliknya, hal itu berpotensi menjadi ancaman jika terjadi penolakan oleh rakyat."Kalau pengurangan subsidi ini tidak menimbulkan keresahan di masyarakat, hasilnya akan baik. Tidak ada gejolak sehingga situasi tetap aman dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak fluktuatif," ujar pengamat ekonomi Umar Juoro di Bogor, Sabtu (9/6). http://www.kompas.com/kompas-cetak/0106/11/UTAMA/naik01.htm "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 atau BCA Cab. Darmo Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
