Kangucup, jangan bangunin macan tidur dengan menyebut nama ane.
--- kangucup <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > pak aruan... kalo saya terima sms, karena zisou > marah karena diledek > marco matrodji eh materazzi... "zibot, zibot, zibot" > (= zidan botak)... > mengutip lagunya candhil dari kelompok band rock > asal bandung > SUERIUS... > "zizou juga manusia, punya rasa punya hati, jangan > samakan dengan isau > belati" > ada artikel menarik dari sindhunata di Kompas 11 > Juli 2006: > > **** > > Selamat Jalan Zidane > > > Sindhunata > Manusia itu mudah pecah. Hidupnya dapat menjadi > berantakan, dan berakhir > dengan kehancuran tak terkira, yakni kematian. > Kebahagiaan juga mudah > pecah. Bahkan, cinta pun rawan terbelah. Itulah > derita yang harus > ditanggung manusia, seperti ia harus menanggung > hidupnya. > Manusia itu mudah pecah berserpih-serpih. Setiap > serpih pecahan adalah > ingatan, yang menyadarkan bahwa tidak hanya kaca > atau gelas, tetapi juga > dirinya sendiri mudah pecah. Sebab, ia adalah insan, > yang dapat > bersalah, dan fana. Mau apa, manusia memang terbuat > dari daging, > mempunyai nafsu, ketakutan, kerinduan, dan cinta. > Memang, ia tidak > terbuat dari plastik yang liat atau baja yang kuat, > karena itu ia mudah > pecah. > Itulah realitas yang harus dihadapi setiap insan, > seperti ditulis oleh > pengarang Rudolf Walter dalam kumpulan renungannya > tentang perlunya hati > yang terbuka agar manusia menerima dirinya dan > menjadi bahagia. > Dan realitas itulah yang dialami oleh Zinedine > Zidane dalam perpanjangan > waktu di final Piala Dunia 2006 kemarin. Siapa > menyangka dalam saat yang > demikian menentukan Zidane diusir dengan kartu merah > oleh wasit Horacio > Elizondo? > Ia telah mencetak gol penalti ke gawang Gianluigi > Buffon. Sampai > perpanjangan waktu, dengan kepala dingin ia memimpin > kawan-kawannya > menggedor pertahanan Italia. Sampai saat itu, di > kaki Zidane masih > tersimpan harapan Perancis untuk menjadi juara > dunia. > Dan sebelumnya, menjelang final, segala pujian > dilantunkan kepada > Zidane, sampai Raymond Domenech khawatir, > jangan-jangan segala pujian > itu justru akan menghancurkannya. Memang dengan > gila-gilaan, suporter > Perancis mengelu-elukan Zidane. Kata mereka, "Zidane > harus menjadi > presiden." > Bersama Lilian Thuram, Patrick Vieira, Fabien > Barthez, dan Claude > Makelele, Zidane disanjung sebagai "pahlawan yang > berada di luar apa > yang baik dan yang buruk". Pada Zidane sudah tak > dapat dikenakan lagi > norma baik dan buruk karena ia adalah Messias yang > akan membebaskan > Perancis. Itulah kemuliaan Zidane. > Terusir dengan nista > Namun, justru di puncak kemuliaannya, Zidane > tersandung dan terhempas. > Tiba-tiba ia membalikkan badannya dan menyeruduk > Marco Materazzi, > padahal sedang tak ada bola di kaki Materazzi. > Kontan wasit Elizondo > mengusirnya dengan kartu merah. Zidane terhempas, > padahal piala > kemuliaan sedang berada di depan matanya. Maka ia > pun terusir dengan > nista sebagai orang yang terpidana. > Tak jelas, mengapa Zidane berbuat senekat itu. > Mungkin ia terprovokasi > Materazzi. Mungkin ia tercekik oleh sistem permainan > selama ini. Sebab, > kata Michel Platini, permainan bola selama Piala > Dunia 2006 cenderung > mendewa-dewakan pertahanan. Dalam sistem seperti > ini, pemain seperti > Zidane atau Ronaldinho dipaksa memperbudakkan diri > bagi pertahanan. > Tentu ini bisa membuat frustrasi pemain seofensif > Zidane. > Itu pun belum bisa menerangkan mengapa Zidane > menjadi gusar. Maklum, > selama ini ia dikenal sebagai bapak keluarga yang > pendiam dan rendah > hati. Ia bukan popstar seperti David Beckham. Ia > justru banyak > menyumbangkan penghasilannya buat karya karitatif. > Ia sangat menghormati > ayahnya yang mengajarinya untuk rendah hati dan > memberi respek kepada > sesamanya. > Namun hidup Zidane ternyata juga mempunyai sisi > gelap. Ia mengaku bisa > tiba-tiba marah. Perasaan marah itu terpendam di > lubuk hatinya, dan > sewaktu-waktu bisa meluap keluar. Pada keadaan > begini, Zidane bagaikan > kucing jinak yang tiba-tiba menjadi binatang liar. > Karena ledakan emosi > itu, cukup banyak kartu merah dikantonginya. > "Saya memendam tumpukan agresi. Saya tak dapat > mengatakannya dengan > kata-kata apa sesungguhnya agresi itu. Tetapi suatu > saat tiba-tiba, > agresi itu keluar, dan saya meledak," katanya pada > suatu kesempatan. Dan > ia pun bercerita lagi, "Saya berasal dari lingkungan > yang keras di > pinggiran Marseille. Di sana saya tidak ingin > berkelahi. Tetapi jika > seseorang memprovokasi saya, saya tidak bisa tinggal > diam. Saya bisa > terjangkit untuk membalasnya. Itulah saya," cerita > Zidane jujur. > Ternyata, dalam pertandingan yang demikian > menentukan di Berlin, sekali > lagi ia tak mampu membendung luapan emosinya. Maka > bukan bola, tetapi > Materazzi yang ditanduknya. Ia diusir, lalu dengan > tertunduk dan gontai > ia meninggalkan lapangan. Di kabin, mungkin ia > berpikir, andaikan bukan > David Trezeguet tetapi ia sendiri yang mengambil > penalti, mungkin kans > Perancis tetap terbuka untuk jadi juara. Tapi sesal > kemudian tak ada > gunanya. > Di luar, kembang api bertaburan. Domenech > menengadah, terdiam seperti > orang kehilangan akal. Lilian Thuram menangis. Hati > Zidane kiranya juga > sedih teriris-iris. Ia telah melengkapi takdirnya > sebagai pemain bola, > tetapi bukan dengan kesuksesan dan kegembiraan, > melainkan dengan > kegagalan dan kesedihan. Ia ternyata bukan dewa > tetapi hanyalah manusia > biasa yang mudah pecah. > Piala Dunia 2006 telah berakhir. Kita bergembira > bersama Italia, dan > bersedih bersama Perancis. Tetapi betapa pun, kita > boleh bersyukur > dengan kisah Zidane yang tragis. Sebab, meski dengan > negatif, Zidane > telah menjawab teka-teki kebijaksanaan hidup yang > diberikan Roberto > Baggio kepada Luca Toni, "Jika kamu mau menjadi > pemain bola yang baik, > kamu harus menjadi manusia yang baik." > Memang Zidane tak berhasil menjadi pemain bola yang > baik karena ia tak > dapat menahan amarahnya. Tetapi dengan demikian, ia > mengantarkan kita > untuk melihat diri kita yang sesungguhnya: Seperti > dia, kita adalah > manusia yang mudah pecah. Itulah serpih ingatan yang > amat berharga untuk > kita bawa pulang ke dunia harian kita yang nyata, > setelah sebulan kita > berpesta dengan Piala Dunia. > > > > > --- In [email protected], "Maringan Aruan" > <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > > Pantesan aja di sundul sama Om Zidane..... > > > > > <http://www.pialadunia.com/content_images/content/2006/07/11/439/Zidane- > > > Materazzi-210.jpg> > > > AFP/John McDougall-Pascal Pavani > > > > > > London - Jika ahli pembaca gerak bibir benar, > maka > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/qO4qlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ************************************************************************ Mantan BBD's mailing list * Post message : [email protected] * Subscribe : [EMAIL PROTECTED] * Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] * List owner : [EMAIL PROTECTED] * Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/ ************************************************************************ Kunjungi Blog MANTAN BBD di http://mantan-bbd.blogspot.com ************************************************************************ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/estika/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
