Siapa Lebih Cepat Tua?

Jakarta, Selasa, 27 Juni 2006

Ada pendapat, wanita lebih cepat tua dari pria. Benarkah? Simak apa yang mempercepat timbulnya penyakit dan kerentaan di tubuh Anda.

Wanita menaruh perhatian lebih besar dibanding pria dalam hal awet muda. "Selama 20 tahun terakhir saya mendapati  bahwa wanitalah yang sering mengeluh karena merasa kelihatan lebih tua dibanding suaminya,' kata Dr. Perricone, dokter sekaligus guru antipenuaan tingkat dunia.

Kondisi itu dibenarkan Dr. Perricone. Ada perbedaan fisiologis antara tubuh pria dan wanita. Pria memiliki kulit lebih tebal, sehingga lebih resisten terhadap kerusakan. Hormon testosteron menjaga kulit pria tetap lembab. Selain itu, pria punya tulang lebih padat daripada wanita.
 
Sudah begitu, wanita punya kecenderungan untuk berdiet sembarangan setelah masa remaja. Padahal, kurang gizi, khususnya protein, juga merupakan faktor yang mempecepat penuaan. Dr. Perricone percaya bahwa kurang protein menyebabkan kita jadi cepat tua.

Inti dari proses penuaan, menurutnya, adalah pembengkakan. Ketika inflamasi ini terjadi dalam kadar rendah dan tak terlihat karena berlangsung dalam sel organ tubuh pelan tetapi pasti kita punya risiko terkena penyakit degeneratif misalnya penyakit jantung dan stroke, Sebaliknya,  jika sel-sel tubuh sehat, bebas dari cedera plus mendapatkan gizi cukup terus menerus, tubuh akan awet  sehat meskipun sudah masuk usia emas.

Hal itu juga dibenarkan oleh Dr. Czeresna Heriawan Soejono Sp.PD, KGer, MEpid. dari FKUI/RS Cipto Mangunkusumo-Jakarta. Pola makan yang benar adalah kunci untuk tetap sehat dan awet muda. Stres oksidatif pada tubuh terjadi jika pola makan tak sehat.
 
Stres oksidatif  erat hubungannya dengan penyakit kronis degeneratif  yang menggerogoti pembuluh darah dan sendi pada manusia berusia 50 tahun ke atas jika tak didukung pola makan sehat. Namun, ia menambahkan bahwa belakangan penyakit kronis degeneratif menggerogoti pula orang Asia perkotaan mapan mulai usia 30-an.

Kesibukan orang Asia perkotaan yang menjauhkan diri dari olahraga, kemudahan dan kedekatan dengan akses makanan siap saji yang tinggi lemak dan rendah serat adalah penyebabnya. "Ada penelitian Prof Campbell dari Amerika Serikat di Shanghai. Penelitian itu mengungkapkan bahwa perubahan pola makan orang Asia bertanggung jawab pada penyakit kronis degeneratif yang diderita orang Asia belakangan ini," kata Dr. Czeresna.

"Prof. Campbell sudah memperingatkan orang Indonesia. Jangan ubah pola makan tradisional menjadi pola makan Barat yang cenderung miskin serat dan kaya lemak itu agar tua tidak sakit-sakitan," sebutnya.

Gumpalan Darah

Pola makan disebut tak sehat bila komposisi makanan lebih banyak mengandung lemak jenuh, tinggi kandungan gula sederhana, rendah serat, dan tinggi garam. Makanan tinggi kandungan lemak jenuh dalam tubuh akan meningkatkan kadar trigliserida dan kolesterol.

Gumpalan lemak dalam darah ini selanjutnya akan melapisi pembuluh. "Pembuluh darah yang mengeras dan tak lagi fleksibel. Akibatnya, ketika terjadi kelebihan trombosit, pembuluh darah tak bisa mengatasinya dan terjadilah penggumpalan darah. Inilah awal terjadinya serangan jantung atau stroke. Bisa pula menyebabkan gagal ginjal," ungkapnya.

Pola makan tinggi kadar gula sederhana akan meningkatkan kadar gula darah. Gula darah yang tinggi ini selanjutnya akan membuat tubuh mengeluarkan insulin.

Kelebihan kadar gula darah terus menerus akan menyebabkan resistensi insulin dalam tubuh. Akibatnya, tubuh tak bisa memasok gula  ke dalam otot. Ujung-ujungnya adalah kerusakan  pembuluh darah yang bisa merusak jantung, paru-paru, ginjal, hati, otak, organ penting dalam tubuh manusia.

Kadar garam  yang terlalu tinggi dalam darah juga akhirnya akan merusak pembuluh darah. Kadar garam tinggi akan menyebabkan tegangan hidrostatis dalam darah meningkat. Ini menyebabkan lapisan pembuluh darah cedera, sehingga akan terjadi gumpalan darah, suatu kondisi yang akan mengantar tubuh menderita stroke atau serangan jantung.

Cara menghentikan gumpalan darah itu dengan mengonsumsi makanan kaya serat dengan gizi seimbang. Dr. Perricone menyebutkan langkah awal menghentikan penyakit sejak dini dengan menghindari makanan pembuat inflamasi dalam tubuh "Pilih jenis makanan yang rendah lemak jenuh dan gula, tetapi tinggi serat."

Gula, kue dan makanan manis termasuk jenis gula sederhana. Jenis gula ini akan cepat meningkatkan kadar gula. Kadar gula yang tinggi akan menyebabkan inflamasi. Ketika gula darah naik terus, gula itu masuk ke kolagen kulit, sehingga membuat kulit kelihatan kaku. Inilah penyebab kulit tua dan kusam.

Proses stres oksidasi juga bisa diredam dengan suplementasi vitamin, diantaranya vitamin B kompleks, A, C, dan E. Pola hidup sehat yang bisa mengelola stres dan olahraga juga dinilainya ampuh meredam proses penuaan.

"Pola hidup sehat itu tak hanya memperlambat proses penuaan. Ketika memulainya, orang akan merasakan proses peremajaan tubuh," tutur Dr. Penicone.

Tak ada kata terlambat untuk memulai hidup sehat, sekalipun bagi Anda yang kini sudah berusia 50 tahunan. Pola makan kaya serta bergizi seimbang plus olahraga jalan kaki 30-40 menit dan latihan beban 3 kali seminggu akan membantu meningkatkan massa otot dan kepadatan tulang. Anda pun bakal tampak lebih muda. (Diyah Triarsari)

__._,_.___

************************************************************************
Mantan BBD's mailing list
* Post message : [email protected]
* Subscribe    : [EMAIL PROTECTED]
* Unsubscribe  : [EMAIL PROTECTED]
* List owner   : [EMAIL PROTECTED]
* Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
************************************************************************
Blog MANTAN-BBD http://mantan-bbd.blogspot.com
************************************************************************





SPONSORED LINKS
Internet banking Banking Banking software
Mortgage banking Offshore banking


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke