Setelah bencana, kita mau apa?
Oleh karena itu.. sungguh teramat sayang sekali kalau bencana di sekitar kita yang sedemikian mahal tersebut tidak berpengaruh apapun atau tidak pernah sedikitpun menggerakkan hati kita, baik sebagai korban yang selamat, sebagai orang yang punya kaitan dengan sebagian korban, maupun sebagai orang yang tidak terkena bencana maupun tidak ada sangkut paut apapun dari korban tetapi mengetahui bencana itu baik secara langsung ataupun hanya dari berita mass media.
Mungkin kita akan dimurkai, kalau pengalaman yang tak ternilai yang telah Allah tunjukkan di depan mata kita tidak pernah berbekas dalam hidup, tragedi besar itu dengan segera terhapus dari memory kita dan sedikitpun mengubah pandangan, sikap maupun perilaku kita. Oleh karena itu kita perlu mencari pelajaran apa yang bisa diperoleh dari bancana yang pernah terjadi di sekitar kita. Inilah barangkali sedikit diantara pelajaran itu:
Mungkin kita akan dimurkai, kalau pengalaman yang tak ternilai yang telah Allah tunjukkan di depan mata kita tidak pernah berbekas dalam hidup, tragedi besar itu dengan segera terhapus dari memory kita dan sedikitpun mengubah pandangan, sikap maupun perilaku kita. Oleh karena itu kita perlu mencari pelajaran apa yang bisa diperoleh dari bancana yang pernah terjadi di sekitar kita. Inilah barangkali sedikit diantara pelajaran itu:
Pertama, bencana menyadarkan bahwa kita ini berada di wilayah yang rawan bencana. Maka mata harus terbuka untuk lebih waspada dan selalu siap sedia kalau sewaktu-waktu terjadi bencana. Pihak berwenang hendaknya juga menyiapkan peralatan, fasilitas, infrastruktur, organisasi, managament dalam peringatan dini, tanggap darurat sampai recovery kalau terjadi bencana dan kita semua juga rela ikut berpartisipasi dan memeliharanya.
Kedua, bencana menjadi titik tolak untuk berbenah diri. Berdasarkan sebab terjadinya, ada bencana (sebagian besar) akibat perbuatan tangan manusia manusia dan ada pula bencana (yang hampir) bebas dari campur tangan manusia, Untuk bencana yang diakibatkan oleh oleh "kesalahan" tangan manusia (banjir, longsor, kebakaran hutan, dll), harus ada komitment dan upaya untuk menghentikan eksploitasi membabi buta terhadap alam dan ada komitmen dan upaya perbaikan kembali alam yang telah rusak (lihat QS Ar-Ruum 41) sehingga adanya bencana semacam itu bisa dicegah. Adapun terhadap bencana yang di luar kuasa tangan manusia (gempa, tsunami, gunung meletus, dll), memang manusia tidak punya kekuatan untuk mencegah atau menghentikan, tetapi tetap harus berupaya melakukan mitigasi, antara lain mengatur lingkungan, penetapan struktur, konstruksi dan bahan bangunan didaerah rawan bencana, dll sehingga kalau terjadi bencana, kerusakan dan korban bisa ditekan.
Ketiga, seberat apapun bencana yang menimpa, sebagai hamba Allah manusia harus tetap sabar (baca Al Ankabut 1-3). Tidak boleh berprasangka buruk terhadap Allah SWT dan selalu yakin bahwa Allah tidak pernah membebankan sesuatu yang di luar kekuatan manusia. Bahkan menurut sabda Nabi bahwa yang sabar menerima musibah akan memperoleh buah antara lain ampunan dosa-dosanya (HR Al Imam Tirmidzi).
Ketiga, seberat apapun bencana yang menimpa, sebagai hamba Allah manusia harus tetap sabar (baca Al Ankabut 1-3). Tidak boleh berprasangka buruk terhadap Allah SWT dan selalu yakin bahwa Allah tidak pernah membebankan sesuatu yang di luar kekuatan manusia. Bahkan menurut sabda Nabi bahwa yang sabar menerima musibah akan memperoleh buah antara lain ampunan dosa-dosanya (HR Al Imam Tirmidzi).
Keempat, musibah bisa dijadikan momentum untuk meningkatkan kesadaran akan kelemahan kita sebagai makhluk dan kebesaran Allah SWT sebagai Tuhan seru sekalian alam, dan sewaktu-waktu bencana juga dapat merenggut kita. Oleh karena itu bencana hendaknya dijadikan motivasi untuk menguatkan iman, meningkatkan takwa, mengintensifkan ibadah menjalankan perintah maupun menjauhi yang dilarang dan menambah kekhusukan dalam bermnajat mohon perlindungan agar diselamatkan dari segala macam bencana (Secara ilmiah Indonesia 99% mustahil tanpa bencana gempa, tetapi kalau gempa yang terjadi kecil-kecil meskipun lebih sering akan lebih aman dibandingkan gempa satu atau dua kali tapi intenstitas-nya besar).
Kelima, bencana adalah wahana bagi kita --yang tidak ikut menjadi korban--- untuk menolong sesama, membantu mereka yang selamat dari bencana tapi menderita, menghibur mereka yang trauma, menyantuni keluarga korban yang kehilangan masa depannya. Ketika ada bencana sedangkan kita lapang bersegeralah untuk berbagi, karena kita tidak pernah tahu (dan juga tidak pernah berharap) kapan ada bencana lagi seandainya-pun akan terjadi lagi, kita juga tidak tahu apakah ketika itu masih bisa berbuat sesuatu...
Amien.. Wallahu a'lam..
************************************************************************
Mantan BBD's mailing list
* Post message : [email protected]
* Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
* Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
* List owner : [EMAIL PROTECTED]
* Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
************************************************************************
Blog MANTAN-BBD http://mantan-bbd.blogspot.com
************************************************************************
SPONSORED LINKS
| Internet banking | Banking | Banking software |
| Mortgage banking | Offshore banking |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "estika" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
