|
-----Original Message-----
From: Feryzal Putra Sent: 04 Oktober 2006 12:03 Subject: Tergusurnya Para Bankir Lokal Perbankan Eko B
Supriyanto Rencana
mundurnya Peter B Stock dari posisi puncak Bank Niaga merupakan sepotong cerita
yang menyakitkan bagi perbankan nasional. Apalagi, setelah kita mendengar cerita
yang sama dari Jos Luhukuay yang mundur dari Bank Lippo.
Kedua bankir
profesional lokal itu boleh jadi benteng terakhir dari gempuran bankir-bankir
asing yang sudah lebih dahulu masuk ke bank-bank swasta.
Menurut
kajian Biro Riset InfoBank, ternyata tidak hanya posisi direktur utama saja yang
didominasi oleh eksekutif asing, tetapi juga posisi direksi dan komisaris.
Menurut data yang sama, saat ini ada 23 orang yang menduduki posisi direksi dan
37 menduduki posisi komisaris. Jumlah ini
akan terus bertambah jika menghitung ekspatriat 2 atau 3 level di bawah direksi.
Mereka umumnya datang sebagai konsultan, tetapi diberi kewenangan memutus.
Bankir lokal hanya melaksanakan administrasinya. Penggusuran
bankir-bankir lokal oleh bankir-bankir asing merupakan cerita lanjutan dari
pengambilalihan bank-bank swasta oleh asing. Menurut data yang sama, saat ini
sudah ada 13 bank swasta yang dibeli oleh asing dan menurut keterangan Bank
Indonesia (BI) akan ada investor asing yang akan membeli bank-bank swasta yang
ukurannya lebih kecil. Kepemilikan
asing ini membawa konsekuensi perubahan pasar yang kini sudah mencapai 48,51
persen dari sisi aset, sementara bank-bank BUMN mencapai 27,45 persen. Empat
tahun lalu, kepemilikan asing menguasai pasar aset perbankan tidak lebih dari 11
persen. Didominasi
Singapura
Menurut data
Biro Riset InfoBank, Singapura merupakan yang paling banyak mengoleksi bank
swasta Indonesia, yakni Bank Danamon, BII, Bank NISP, dan Bank Buana.
Tidak termasuk
bank campuran, seperti
Development Bank of Singapore (DBS) Indonesia, Overseas Chinese Banking
Corporation (OCBC) Urutan kedua
diduduki negeri jiran
Menurut
kajian Biro Riset InfoBank, masuknya bank-bank Singapura dan Malaysia karena
lima hal. Satu, perbankan Indonesia menguntungkan dari sisi yield atau imbal
hasil dan harganya relatif murah dengan risiko yang relatif kecil. Dua, pasar
perbankan di Singapura dan Malaysia sudah jenuh, sementara Indonesia masih
sangat potensial untuk tumbuh. Tiga,
liberalisasi perbankan Singapura memaksa bank-bank di Singapura melakukan merger
dan akuisisi sebagai dampak masuknya cabang-cabang bank asing di negara tetangga
yang tak bersahabat ini. Empat, kebangkitan sektor konsumsi di Asia, khususnya
di Indonesia, menjadikannya sebagai tujuan utama bank-bank di Singapura dan
Malaysia. Kelima, harganya murah dan menguntungkan dengan obligasi
rekapitalisasi di dalamnya. Zaman sudah
berbeda. Kepemilikan bank-bank swasta berpengaruh di Indonesia sudah berpindah
ke asing. Berdasarkan kajian Biro Riset InfoBank, bank-bank rekap yang sudah
dikuasai pihak asing itu kini terlihat berorientasi jangka pendek.
Hal itu
terlihat dari pemberian kredit konsumsi dengan porsi lebih besar. Itu artinya,
bank-bank rekapitalisasi itu masih relatif kecil dalam memberikan kredit
investasi berjangka panjang. Singkatnya, bank-bank sekarang mengejar keuntungan
jangka pendek dengan memanfaatkan booming sektor konsumsi. Bahkan, jarang sekali
bank swasta rekap yang memberikan kredit di atas lima tahun.
Di sisi lain,
seperti yang diperkirakan banyak kalangan, masuknya para bankir asing ke
Indonesia ternyata tidak membawa berkah. Selain pasar yang mereka kerjakan
adalah sektor konsumsi, juga pasar yang selama ini hanya berbasis sistem dan
teknologi yang sudah baku, yang ada di Indonesia. Bankir-bankir
asing mulai menggeser posisi bankir lokal. Tidak peduli apakah sang bankir lokal
sukses atau gagal, mereka sama-sama "ditendang". Persoalannya tak lagi
kompetensi, tetapi lebih ke soal kepercayaan. Apabila ditelusuri lebih rinci,
beberapa bank swasta yang dimiliki pihak asing itu hanya melaporkan keberadaan
segelintir karyawan asingnya ke BI. Artinya, yang
tercatat sebagai karyawan sangat sedikit. Sisanya diakali sebagai konsultan,
tetapi dalam praktiknya mereka berkuasa penuh untuk menetapkan kebijakan
perusahaan. Bankir lokal sendiri lebih ditempatkan laksana stempel.
Bankir kelas
tiga
Padahal,
kalau mau jujur, tidak semua bankir asing berkinerja bagus dan punya kompetensi.
Apalagi menurut catatan, bankir asing di Indonesia sejatinya bankir kelas tiga.
Bagaimana mereka bisa disebut bankir hebat jika di negaranya hanya pemimpin
cabang. Alasan
logisnya, bankir asing kelas satu umumnya bekerja di negaranya sendiri. Bankir
kelas dua biasanya berkarier di Singapura, Hongkong, dan negara-negara Eropa.
Bankir kelas ketiga ditempatkan di negara berkembang, seperti Indonesia,
Nigeria, dan negara-negara Afrika, atau negara yang suasana keamanannya
menakutkan, seperti yang digambarkan oleh CNN. Jika sekarang
masih ada bankir made in Indonesia yang masih duduk, boleh jadi hanya untuk
urusan dengan BI. Selebihnya tidak ada. Padahal, harus diakui tidak sedikit
bankir lokal yang profesional, tidak seperti bankir pada masa lalu ketika
tragedi perbankan sebelum krisis. Sekarang para bankir profesional lokal jauh
lebih mengedepankan prinsip-prinsip good corporate governence.
Penghargaan
terhadap para profesional, apakah asing atau lokal, sama pentingnya. Akan
tetapi, jangan gara-gara kepemilikan asing, semua harus diganti oleh pihak
asing. Apabila sentimen ini terus dikobarkan, tidak mustahil nasabah yang
umumnya lokal akan memindahkan dananya ke bank-bank BUMN.
Tidak ada
yang bisa menjamin bankir asing tidak melakukan moral hazard. Praktik moral
hazard sulit dideteksi oleh BI ketika melakukan uji kepatutan dan kelayakan.
Akan tetapi, yang perlu dilakukan adalah membuat kebijakan yang mengharuskan
bankir-bankir asing ini mengerti dan mematuhi peraturan di Indonesia.
Misalnya, apakah bankir asing ini mau menandatangani
Di
Indonesia, para bankir asing itu digaji di atas rata-rata bankir made Indonesia,
kendati posisinya sama. Mereka dipercaya pemilik bank yang bersangkutan. Tidak
ada aturan yang dilanggar dalam penggusuran bankir made in Indonesia. Namun
sebaiknya, BI tetap membuat aturan yang mengharuskan bank swasta lokal maupun
asing membiayai sektor tertentu yang menjadi tujuan pemerintah dan tetap
berkomitmen terhadap tenaga kerja Indonesia. Akhirnya, BI
punya peran penting dalam menjaga kepentingan nasional. BI harus punya nyali
untuk menegur dan memulangkan bankir asing jika mereka bermasalah tanpa perlu
menunggu terlalu lama. Hal ini
penting agar jangan sampai mereka memanfaatkan moral hazard. Sebab, apa jadinya
jika bankir-bankir dari Singapura dan Malaysia ini berbuat moral hazard lalu
pergi ke Singapura, sementara kita tidak punya perjanjian ekstradisi dengan
Singapura. Kita punya pengalaman buruk tentang jebolnya bank-bank.
Eko B
Supriyanto Direktur
Biro Riset InfoBank ************************************************************************ Mantan BBD's mailing list * Post message : [email protected] * Subscribe : [EMAIL PROTECTED] * Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] * List owner : [EMAIL PROTECTED] * Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/ ************************************************************************ Blog MANTAN-BBD http://mantan-bbd.blogspot.com ************************************************************************
SPONSORED LINKS
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe __,_._,___ |
