DOMPET

        Dompet memang tempat uang, biasanya kaum lelaki menaruhnya dikantung
bagian belakang celananya. Kalau dia tertinggal atau tak ada disana,
serasa ada yang hilang. Karena dompet telah menjadi "habit", atau
kebiasaan untuk ditaruh disitu. Kaum hawa lain lagi, kalau dia sedang
ber-jean, alias memakai celana panjang, bersantai, seperti kebanyakan
ABG, dompetnya juga ditaruh seperti kaum lelaki, bisa di kantung belakang
atau kantung depan celananya. Tapi kalau si hawa ini menggunakan rok,
gaun, sang dompet biasanya dipegang, kesana kemari, jadilah dia semacam
asesori yang fungsinya bukan hanya sekedar tempat uang, tapi juga buat
bergaya.
        Dompet harganya bisa mulai sepuluh ribu rupiah atau lebih murah lagi,
sampai sepuluh juta rupiah, bahkan lebih mahal lagi, tergantung
pembikinan dan dimana kita membelinya serta tentunya gimana mereknya. Di
Tanggulangin, kawasan kerajinan kulit Sidoarjo bisa menjual sangat murah,
karena memang lokasi tempat pembuatannya disitu. Soal merk, boleh
ditempel apa saja. Kalau kita beli di Plaza Senayan atau Plaza Indonesia
tentu mereknya adalah buatan luar negeri, baik Prancis, Itali atau negeri
lain yang tempatnya memang sanggar mode dunia. Kalau sudah begini, dompet
sudah menjadi simbul status, dia bisa bermerek Cartier, Dunhill, dsb
        Kalau dipikir-pikir dompet itu sebarnya bisa kita kategorikan seperti
lembaga perantara, seperti bank juga yang melakukan fungsi intermadiate. 
Orang belanja perlu bawa uang, bisa belanja barang atau jasa, alat
bayarnya yang berupa uang disimpan di dompet ini. Kalau diisi terlalu
banyak uang kertas, dia akan sangat tebal, apalagi kalau juga disesaki
uang koin. Ini akan sangat mengganggu kenyamanan si pemiliknya. Pada
masyarakat yang masih mengagungkan kegagahan transaksi tunai, maka
ketebalan dompet tentulah masih menjadi simbul status. Ingat saja istilah
"dompetnya tebal", yang diartikan bahwa  orang itu kaya.
        Dulu bentuk dompet itu paling-paling hanya ada dua bilah sisipan tempat
uang. Sekarang bisa anda lihat, begitu banyak sisipan-sisipan tempat
lainnya, yang ukurannya lebih kecil dari ukuran uang dan tentunya adanya
sisipan itu bukan tempat uang. Tapi paling tidak fungsinya mendekati
uang, misalnya kartu kredit, kartu debet, kartu diskon, kartu ATM. Atau
walaupun tidak mendekati fungsi uang, tapi ukurannya mendekati
kartu-kartu itu, misalnya, KTP, SIM, Kartu Nama, Kartu Anggota
Perkumpulan, daftar nomor telepon, dsb. Hal seperti ini tentunya terjadi
pada masyarakat yang sudah lebih berkembang, yang sudah bertransaksi
melalui uang giral ataupun alat pembayaran uang plastik lainnya. Yang
jelas fungsi tradisional dari dompet sebagai penyimpan benda berharga
masih saja ada. Walaupun ada fungsi lain seperti assesoris, trend gaya
dsb.
        Seringkali pula, tanpa terasa benda yang semula dianggap penting masuk
kedalam dompet ini, sehingga ikut menjejali, dan membuat sesak serta
penuhnya dompet, misalnya bon, bill, kwitansi bahkan mungkin surat cinta.
Kalau tak rajin melakukan seleksi isinya, dompet sangat menjengkelkan.
Karena benda ini sangat pribadi, maka privacy sangatlah perlu dijaga.
Tengoklah, sang istripun tak berani untuk mengobrak-abrik dompet suami,
apalagi orang lain.
        Coba perhatikan, kalau kita hendak membeli sebungkus rokok yang berharga
Rp. 5.000,00. Pada saat kita cabut dompet kita dari kantung belakang
celana, kita akan memilih uang kertas yang ada. Apa yang kita ambil
ternyata mencerminkan kepribadian kita. Ada orang yang tanpa pilih-pilih
dia ambil uang tiga ribu rupiah itu. Ada yang memilih-milih, mana uang
ribuan tiga lembar yang paling lusuh yang segera dia cabut untuk
dibayarkan. Padahal nanti atau sekarang, uang itu akan dibayarkan juga
pada orang lain. Karena toh, dompet adalah tempat intermediasi saja.
Mungkin dia beranggapan terlalu banyak uang lusuh di dompet bukanlah
suatu hal yang menyenangkan. Sebaliknya, coba perhatikan, bila seorang
pedagang kecil di pasar menerima pembayaran dengan uang  yang baru, yang
masih lurus tanpa lipatan, baru saja kita ambil dari bank, akan tampak
kegembiraannya, bahkan tak kurang yang mencium uang itu. Artinya, kita
bisa memberi kebahagiaan pada orang lain hanya dengan sekedar membayar
transaksi yang sebenarnya sudah disetujui. Ini adalah nilai plus yang
luar biasa dari hubungan anatar manusia.
        Karena fungsi yang demikian berharga maka dompet juga sasaran copet atau
garong yang pasti. Tidak ada resep yang khusus untuk mengantisipasi agar
copet tidak berkenan mencuri dompet kita. Copet yang biasa beraksi
ditempat keramaian, berusaha untuk mengalihkan perhatian agar aksinya
memindahkan dompet dari pemiliknya pada dirinya. Paling tidak kantung
celana penyimpan dompet yang harus ekstra aman. Entah diberi kancing atau
resluiting berlapis, atau kalau perlu bikin kantung dibagian lapis dalam
celana. Sasaran garong lebih dahsyat, dia bukan sekedar mengejar duit
yang ada di dompet, tapi mengejar kartu ATM, Kartu Kredit, Kartu Debet,
maka jadinya dia mengejar orangnya untuk juga menyerahkan nomor PIN
(Personal Indentification Number) ataupun Password-nya. Karenanya jangan
coba-coba menulis nomor-nomor rahasian anda dalam dompet itu.
Tjukria P. Tawaf


 Ada pak kok milis ini sunyiiii ...........????
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Tuti Nani Suryo [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, March 26, 2007 8:16 AM
> To: [email protected]
> Subject: RE: [exbe2de] test
>
>
>
> Ass.wr.wb,
>
> Test diterima.
>
> Wass,
>
> Tns
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of
> Djoko Enggar
> Sent: Monday, March 26, 2007 7:18 AM
> To: [email protected]
> Subject: [exbe2de] test
>
> test
>
>
>
>

Kirim email ke