Pararaton 1296 Caka : Bencana "Pagunung Anyar" dan Sandyakala
ning Majapahit

Awang Harun Satyana

Judul di atas maksudnya adalah menurut Kitab Pararaton yang
diterjemahkan Brandes (1896), bahwa pada tahun 1296 Caka atau 1374
Masehi telah terjadi sebuah bencana bernama "Pagunung Anyar"
yang memundurkan Majapahit, kerajaan Nusantara terbesar. Apakah bencana
Pagunung Anyar ? Saya menafsirkannya, itu adalah erupsi gununglumpur ala
semburan LUSI (!)

  [sengkala_majapahit_1.JPG] 
<http://dongenggeologi.files.wordpress.com/2007/03/sengkala_majapahit_1.\
JPG> Di bawah ini adalah catatan2 saya setelah mempelajari buku2
sejarah, geologi, dan folklore yang berselang lebih dari 100 tahun
penerbitannya. Dimulai dari Daldjoeni (1984, 1992) "Geografi
Kesejarahan", lalu bersambung ke depan dan ke belakang menuju
Purwadi (2001) "Babad Tanah Jawi : Menelusuri Jejak Konflik",
Slamet Muljana (1968, 2005) "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan
Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara", Slamet Muljana (1965,
2005) "Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)",
Denys Lombard (1990) "Le Carrefour Javanais", James Nash (1932),
"Enige voorlopige opmerkingen omtrent de hydrogeologie der Brantas
vlakte - Handelingen van 6de Ned. Indische Natuur Wetenschappelijke
Congres", H.J. de Graaf (1949) "de Geschiedenis van
Indonesie", J. Brandes (1896) "Pararaton (Ken Arok) of het Boek
der Koningen van Tumapel en van Majapahit", buku2 geologi karya
Duyfjes (1936-1938) untuk pemetaan wilayah Kendeng bagian timur
("Zur geologie und stratigraphie des Kendenggebietes zwischen Trinil
und Soerabaja" dan "Toelichting bij blad 115,109, 110, 116),
juga karya masterpiece van Bemmelen (1949, 1972) "The Geology of
Indonesia", dan buku folklore karya James Danandjaja (1984) "
Folklor Indonesia : Ilmu gossip, dongeng, dan lain2"

Maksud hati ingin menelusuri tulisan2 sejarah tentang kronik kejadian
Bledug Kuwu di selatan Purwodadi agar bisa mencari analogi untuk kronik
semburan LUSI, ternyata penelusuran buku2 di atas malahan membawa saya
ke pemikiran bahwa : selain oleh alasan politik, Majapahit MUNGKIN telah
mundur oleh deformasi Delta Brantas akibat rentetan erupsi gununglumpur
Jombang-Mojokerto-Bangsal pada kawasan sepanjang 25 km. Mari kita lihat
sisik-meliknya.
  [Perspektif dari selatan] 
<http://rovicky.files.wordpress.com/2006/09/overlay.jpg>

Kita mulai dari panorama sebuah gunung yang dikeramatkan oleh penduduk
dan tokoh2 kerajaan sejak Mpu Sindok, Erlangga, dan para pengikutnya :
Gunung Penanggungan. Gunung Penanggungan, sebuah gunung setinggi 1659
meter di utara Gunung Arjuno-Welirang, adalah gunung paling dekat ke
lokasi semburan LUSI. Gunung ini terletak di sebelah selatan Sungai
Porong dan masih ke sebelah selatan dari Gawir Watukosek, sebuah gawir
sesar hasil deformasi Sesar Watukosek yang juga membelokkan Sungai
Porong , melalui titik2 semburan lumpur panas termasuk LUSI, juga
melalui gunung2 lumpur di sekitar Surabaya dan Bangkalan Madura.

  [sengkala_majapahit_5.JPG] 
<http://dongenggeologi.files.wordpress.com/2007/03/sengkala_majapahit_5.\
JPG> Dalam sejarah kerajaan2 Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan
adalah sebuah gunung yang penting (Daldjoeni, 1984; Lombard, 1990).
Kerajaan2 yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat nadi Sungai
Brantas, kerajaan2 itu mengelilingi Gunung Penanggungan, misalnya
Kahuripan, Jenggala, Daha, Majapahit, dan Tumapel (Singhasari). Daerah
genangan LUSI sekarang dulunya adalah wilayah Medang atau Kahuripan dari
zaman Sindok dan Erlangga, juga termasuk ke dalam wilayah Majapahit.
Setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan2 itu, maka Gunung
Penanggungan dijadikan ajang strategi perang. Erlangga pun pada saat
pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan
Dharmawangsa mertuanya (Maha Pralaya), bersembunyi di Penanggungan
sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan
bagaimana membangun kerajaannya yang baru. Penanggungan pun dijadikan
tempat2 untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung
ini di Belahan terdapat makam Erlangga, makam Sindok di Betra, dan makam
ayah Erlangga di Jalatunda. Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi,
yang saat ini tidak terawat. Makam2 keramat ini ditemukan penduduk
Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus2 tahun terkubur, saat
mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan
pupuk.

Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya
permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran
Brantas. Menurut Nash (1932) – "hydrogeologie der Brantas
vlakte", Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan
peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang
pernah ada di Jawa Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan2 ini
kelihatannya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta
Brantas.

  [sengkala_majapahit_4.JPG] 
<http://dongenggeologi.files.wordpress.com/2007/03/sengkala_majapahit_4.\
JPG> Menurut penelitian Nash pada tahun 1930, tanah Delta Brantas itu
tidak stabil karena di bawahnya masih terus saja bergerak tujuh jajaran
antiklin sebagai sambungan ujung Pegunungan Kendeng yang mengarah ke
Selat Madura. Misalnya, pernah terjadi kenaikan tanah di sekitar
sambungan (muara) Kali Brantas dengan Kali Mas; palung sungai bergeser
ke kiri sehingga airnya mengalir ke barat. Setelah mengisi ledokan yang
dinamai Kedunglidah (di sebelah barat Surabaya sekarang), kemudian
mengalir menuju laut dan bermuara di dekat Gresik. Menurut catatan
sejarah, Kedunglidah itu masih ada pada tahun 1838.

Denys Lombard, ahli sejarah berkebangsaan Prancis yang menulis tiga
volume tebal buku sejarah Jawa tahun 1990 "Le Carrefour Javanais -
Essai d'Histoire Globale" (sudah diterjemahkan oleh Gramedia
sejak 1996 dan cetakan ketiganya diterbitkan Maret 2005) menulis tentang
"Prasasti Kelagyan" zaman Erlangga bercandra sengkala 959 Caka
(1037 M). Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali
Porong. Prasasti Kelagyan mmenceritakan bahwa pada suatu hari sungai
Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur
memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan
menggenangi rumah2 penduduk. Erlangga bertindak dengan membangun
bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa sungai kembali mengalir ke
utara. Mungkin, inilah yang disebut sebagai bencana "Banyu
Pindah" dalam buku Pararaton. Bencana seperti ini kelihatannya
terjadi berulang2, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton
terjadi lagi tahun 1256 Caka (1334 M) pada zaman Majapahit.

Sejak zaman Kerajaan Medang abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang
dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara
Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh).
Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Kahuripan yang letaknya di
dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin,
di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (sekitar 10 km ke sebelah
utara baratlaut dari lokasi semburan LUSI sekarang). Setelah kerajaan
Erlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan
Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri,
pelabuhan dari Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, dekat Mojokerto
sekarang. Kemudian, Kediri digantikan Singhasari, lalu akhirnya Kerajaan
Majapahit pada tahun 1293 M, pusat kerajaan kembali mendekati laut di
Delta Brantas, sehingga Majapahit menjadi kerajaan yang menguasai
maritim.

  [sengkala_majapahit_3.JPG] 
<http://dongenggeologi.files.wordpress.com/2007/03/sengkala_majapahit_3.\
JPG> Daldjoeni (1984) menulis bahwa mulai mundurnya Majapahit pada akhir
tahun 1300-an mungkin bukan hanya karena sepeninggal patih Gajah Mada
(1364 M) atau Raja Hayam Wuruk (1389 M), tetapi juga dapat dihubungkan
dengan mundurnya fungsi delta Brantas yang didahului oleh rentetan
bencana geomorfologis yang dalam buku-buku sejarah tidak pernah ditulis.
Namun, sebagai gejala alami, Kitab Pararaton mencatat hal-hal yang
menarik untuk kita perhatikan. Kitab Pararaton menurut Prof. Slamet
Muljana ditulis pada tahun 1613 M. Kitab Pararaton menceritakan kronik
Singhasari sejak Ken Arok sampai habisnya Kerajaan Majapahit. Pararaton
adalah sumber sejarah penting Majapahit di samping Negara Krtagama
karangan Mpu Prapanca (Mpu Prapanca hidup sezaman dengan Gajah Mada).

Dalam hubungan dengan kemunduran Majapahit, kitab Pararaton mencatat
(Brandes, 1896: "Pararaton" terbit lagi tahun 1920 setelah
diedit oleh N.J. Krom) :

    * Bencana yang dalam kitab Pararaton disebut "BANYU PINDAH"
(terjadi tahun 1256 Caka atau 1334 M).     * Bencana yang dalam kitab
Pararaton disebut "PAGUNUNG ANYAR" (terjadi tahun 1296 Caka atau
1374 M)

Secara harafiah, Banyu Pindah=Air Pindah, Pagunung Anyar = Gunung Baru.

Penelitian selanjutnya (Nash, 1932) telah menemukan bukti-bukti bahwa
telah terjadi berbagai deformasi tanah yang pangkalnya adalah
bukit-bukit Tunggorono di sebelah selatan kota Jombang sekarang,
kemudian menjalar ke timurlaut ke Jombatan dan Segunung. Akhirnya
gerakan deformasi tersebut mengenai lokasi pelabuhan Canggu di sekitar
Mojokerto sekarang, lalu makin ke timur menuju Bangsal (sekitar 25 km di
sebelah barat lokasi semburan LUSI sekarang). Di dekat Bangsal ada
sebuah desa yang namanya GUNUNG ANYAR. Begitu juga di tempat pangkal
bencana terjadi di selatan Jombang ada nama desa serupa yaitu DENANYAR
yang semula bernama REDIANYAR yang berarti gunung baru.

Perhatikan bahwa nama GUNUNG ANYAR juga dipakai sebagai nama sebuah
kawasan di dekat Surabaya yang sekarang menjadi terkenal dalam hubungan
dengan kasus semburan LUSI sebab ternyata GUNUNG ANYAR adalah sebuah mud
volcano yang membentuk kelurusan dengan LUSI.

Nah, apakah bencana alam yang memundurkan era keemasan Majapahit yang
dalam kitab Pararaton disebut bencana "Pagunung Anyar" adalah
bencana-bencana terjadinya erupsi jalur gununglumpur dari selatan
Jombang-Mojokerto-Bangsal ? Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar
25 km. Kalau erupsi semua gununglumpur itu sedahsyat seperti semburan
LUSI sekarang, bisa dibayangkan bagaimana terganggunya kehidupan di
Majapahit pada akhir tahun1300-an dan pada awal 1400-an. Serangan fatal
mungkin terjadi karena rusaknya pelabuhan Canggu di dekat Mojokerto,
sehingga Majapahit yang merupakan kerajaan maritim menjadi terisolir dan
perekonomiannya mundur. Zaman itu, Canggu di Mojokerto masih bisa
dilayari dari laut sekitar Surabaya sekarang.

  [sengkala_majapahit_6.JPG] 
<http://dongenggeologi.files.wordpress.com/2007/03/sengkala_majapahit_6.\
JPG> Secara geologi, Jalur Jombang-Mojokerto-Bangsal adalah masih di
dalam Jalur Kendeng, sejalur dengan lokasi semburan LUSI, masih di dalam
wilayah bersedimentasi labil dan tertekan (elisional), yang menurut Nash
(1932) di bawahnya dari selatan ke utara ada jajaran antiklin Jombang,
antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak
yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil. Aktivitas deformasi di
bagian timur Kendeng ini secara detail digambarkan oleh Duyfjes (1936)
yang memetakan lembar peta 109 (Lamongan), 110 (Mojokerto), 115
(Surabaya), dan 116 (Sidoarjo) pada skala 1 : 100.000. Beberapa
gambar2-nya dimuat di buku van Bemmelen (1949) yang juga mengatakan
bahwa secara struktural deformasi di wilayah Kendeng bagian timur ini
terjadi melalui gravitational tectogenesis sebab geosinklin Kendeng
timur-Madura Strait masih sedang menurun. Kondisi elisional semacam ini
tentu memudahkan piercement structures seperti mud volcano eruption.
Dari geosinklin menjadi antiklinorium jelas melibatkan sebuah sistem
elisional.

Sepeninggal Hayam Wuruk, raja-raja Majapahit kurang cakap memimpin
negara, banyak perang saudara, seperti Paregreg, yang melemahkan negara
sampai akhirnya Majapahit musnah pada tahun 1527 M saat diserang
kerajaan Islam pertama di Jawa : Demak. Suksesi tidak berjalan dengan
baik, one-man show mendominasi pemerintahan selama Gajah Mada dan Hayam
Wuruk, tak ada regenerasi ke penerusnya. Sepeninggal pasangan Gajah
Mada-Hayam Wuruk, negara melemah. Tetapi, catatan2 tak tertulis di buku
sejarah, kecuali Pararaton beserta kondisi geologis-geomorfologis Delta
Brantas menunjukkan, bahwa bencana alam erupsi gununglumpur ala semburan
LUSI juga patut diperhitungkan sebagai penyebab kemunduran Majapahit.

Cerita rakyat atau dongeng Jawa Timur "Timun Mas"
<http://rovicky.wordpress.com/2006/09/21/dongeng-timun-emas-dan-lusi/> 
(seperti pernah di-posting Pak Dwi-PetroChina dan kita diskusikan tahun
lalu dalam hubungannya dengan semburan LUSI) berasal dari sekitar zaman
Kahuripan di Delta Brantas sekitar abad ke-11 (James Danandjaja, 1984 :
"Folklor Indonesia"). Kemunculan raksasa yang selalu disertai
gempa, garam yang dilempar Timun Mas yang menjadi lautan, dan terasi
yang dilempar Timun Mas yang menjadi lumpur panas yang akhirnya
menenggelamkan sang raksasa, secara samar menggambarkan kondisi
bagaimana kalau sebuah mud volcano ala LUSI meletus. Kita melihatnya
sekarang, lumpur panas dan genangan seperti laut dengan air asin
menengelamkan desa2 Sidoarjo yang dulunya adalah wilayah Kahuripan.
Apakah dongeng Timun Mas sebenarnya menggambarkan bahwa dulu pun kasus
seperti LUSI pernah terjadi ? Walahualam, tetapi penelusuran buku2
sejarah, geologi, dan folklore Timun Mas rasanya memungkinkan hal itu.

Apakah bencana LUSI sekarang akan memundurkan Jawa Timur atau bahkan
Indonesia ? Sekitar 500-600 tahun yang lalu mungkin hal yang sama telah
terjadi terhadap Majapahit ! Lima ratus tahun kemudian, mestinya kini
kita tak semudah itu patah diterjang bencana bukan ?

Awang H S
Geologist Indonesia

Kirim email ke