Ass.wr.wb,
Insya Allah kita semua diberi kemudahan untuk memenuhi kewajiban kita dengan 
baik.
Wass.wr.wb,
 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Maryanto Sandy
Sent: Tuesday, November 27, 2007 4:40 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [exbe2de] FW: Idul Adha





Terima kasih masukan bapak, namun izinkan saya untuk meluruskan dan menambahkan 
sedikit yang saya tahu sebagai bahan diskusi kita : 
 
 1.  Tentang hukum wajib berqurban setahu saya disyariatkan bagi setiap muslim 
yamg mampu setiap tahun  sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah, (Al 
Kausar ayat 1-2 )
2.  Hakikat berkurban adalah keilkhasan, karena bukan  daging  hewannya yang 
sampai kepada Allah tetapi ketaqwaan kita , dan ketaqwaan kita dalam berqurban 
adalah dengan keilkhsan kita memberikan qurban yang terbaik yang dapat kita 
berikan 
 

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) 
Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah 
telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap 
hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang 
berbuat baik.( Ah Hajj 37)    
 
 3.  Kalau kita menengok sejarah qurban itu sendiri, nabi Ibrahim disuruh 
mengqurbankan anaknya, artinya yang beliau qurbankan adalah miliknya yang 
paling berharga dalam hidupnya yaitu anak. Kata ustadz saya, berqurban adalah 
salah satu bentuk wujud taqwa kita kepada Allah, dan ini adalah  hanya satu 
dari sekian banyak ibadah yang menuntut kita untuk mengorbankan sebagian kecil 
harta kita, artinya Allah pasti akan menguji kita apakah anak-anak, 
istri,harta, perniagaan yg kita usahakan lebih dicintai dari pada Nya??
 
Attaubah 24 :

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum 
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri 
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari 
Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah 
mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada 
orang-orang yang fasik. 

 
Semoga Hari raya Qurban ini menjadi momentum bagi kita untuk menumbuhkan 
kecintaan kita kepada Allah SWT diatas kecintaan kepada selainNya, seperti 
pernah dicontohkan Nabi Ibrahim AS, Amien
 
 
Wallahu'alam bishoab.
 
 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Harries 
Hermawan
Sent: Tuesday, November 27, 2007 1:03 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [exbe2de] FW: Idul Adha






Cerita ini cukup menyentuh hati.....namun menurut saya harus diteliti juga 
apakah memang harga kambing dimaksud benar-benar mencerminkan harga yang 
"wajar". Terkadang di lapangan saya perhatikan harga hewan korban sangat tidak 
wajar diakibatkan adanya "permainan" harga atau hal apapun yang intinya adalah 
untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya padahal sudah jelas pembelian 
hewan korban adalah dimaksudkan untuk ibadah dan bukan untuk kepentingan lain. 
Hal ini tercermin dari harga hewan korban yang begitu mahal namun menjelang 
atau sesudah sholat idhul adha maka harga hewan korban bisa turun jauh sekali. 
Padahal kalau saja harga hewan korban yang ditetapkan itu wajar saya yakin hal 
ini tidak akan terjadi.

Seringkali saya dengar dalam majelis-majelis taklim dikumandangkan bahwa umat 
muslim yang mampu disarankan untuk berkurban setiap tahunnya (walaupun hanya 
satu kali yang diwajibkan) bahkan ada yang berpendapat haram hukumnya apabila 
menawar harga hewan korban (padahal setahu saya dalam jual beli menurut islam, 
tawar menawar itu diperbolehkan) namun saya tidak pernah mendengar adanya 
anjuran yang pada prinsipnya meminta agar umat muslim yang terkait dengan 
pengadaan hewan korban (peternak, tengkulak, bandar, pedagang, tramtib dan 
spekulan) untuk bersama-sama membantu agar ibadah ini bisa dilaksanakan dengan 
sukses oleh umat islam (khususnya yang penghasilannya pas-pasan namun memiliki 
niat untuk ber-qurban) misalnya mengambil keuntungan atau pungutan yang wajar, 
tidak menghalangi supply hewan korban dan lain-lain. Dengan harga jual hewan 
korban bisa ditekan sedemikian rupa maka akan dapat membuat semakin banyak umat 
islam yang bisa melaksanakan ibadah ini.  

Intinya jangan sampai ada anggapan terdapat pihak-pihak yang mengambil 
keuntungan yang berlipat dari adanya ibadah ini (dan jangan sampai pemerintah 
mengambilalih masalah ini dan menetapkan diperlukan adanya Tata Niaga Hewan 
Korban) 

Menyimak cerita tadi kalo saja harga kambing tersebut bisa ditekan sampai 
separuhnya tentunya mbah sutrimo bisa juga membeli kambing korban untuk satu 
orang keluarganya.

Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tidak berkenan atas pendapat saya 
ini.....      




  _____  


From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Daryono
Sent: Tuesday, November 27, 2007 11:32 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [exbe2de] FW: Idul Adha



Hebat Mar..., bener222 menyentuh ! Tks



-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Maryanto Sandy
Sent: 27 Nopember 2007 11:11
To: [email protected]
Subject: [exbe2de] FW: Idul Adha

Kiriman dari seorang Sahabat, agak panjang namun cukup menyentuh...........

Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat 
pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku 
menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para 
penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak 
terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan 
di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi 
anak-anak sejak dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan 
yang akan disembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing 
coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di 
sekitarnya.

"Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.

"Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak 
kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani 
calon pembeli lainnya.

"Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

"Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" si pedagang 
bertahan.

"Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama.

"Maaf pak, masih jauh. " ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap 
si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

"Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku.

"Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek.

"Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?" ujarku 
berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

"Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini 
sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan 
rumput" kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga 
selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke 
kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan 
harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana 
ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus 
tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya 
kini selangit.

"Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian.

"Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah" 
katanya.

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga 
kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan 
lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

"Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum.

"Dua juta tidak kurang tidak lebih kek" kata si pedagang setengah malas 
menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

"Weleh larang men regane (mahal benar harganya)?" kata si kakek dalam bahasa 
Purwokertoan.

"bisa di tawar-kan ya mas?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.

"Cari kambing yang lain aja kek." si pedagang terlihat semakin malas meladeni.

"Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau 
yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini) Duite (uangnya) cukup kanggo 
(untuk) mbayar koq mas" katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan 
dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di 
bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima 
puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

"Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?" 
lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak 
tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang 
disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.

"Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang mengeluarkan selembar 
lima puluh ribuan.

"Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek 
seakan tahu uang yang diberikannya berlebih.

"Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yang cukup jujur memberikan 
lima puluh ribu ke kakek.

"Mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah).

"Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung 
lagi)" kata si kakek sambil menerimanya " tulung anterke ning deso cedak kono 
yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya 
di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah 
Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti 
(InsyaAllah anak-anak sudah tahu)". Setelah selesai bertransaksi dan membayar 
apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang 
di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. 
Perlahan diangkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan 
semangat.

Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke 
arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya 
berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk 
dirinya.

Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh 
si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang 
berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani 
dan para pensiunan pegawai rendahan. Yang pasti secara materi, sangatlah jauh 
di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing, yang sanggup 
membeli rumah di kawasan cukup bergengsi, yang sanggup membeli kendaraan roda 
empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super, yang 
sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya, yang 
sanggup mengkoleksi "raket" hanya untuk olah-raga seminggu sekali, yang sanggup 
juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus. Tapi apa yang aku pikirkan? 
Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang 
harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia 
fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali 
saat membelinya.

"Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia, balikkan hati 
hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri 
nikmatMu.

 - Semoga bermanfaat - 







 

Kirim email ke