Ada....setan..gkai bunga mawar, terus....... pisang setan..du,
trus...........setan...g
motor...............setan....dardisasi.....................setan........
sekolah tinggi administrasi negara..............................kabeh
setan 

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of PRIANTO TIRTOPRODJO
Sent: Thursday, November 29, 2007 10:32 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [exbe2de] Pedas-pedas cabe rawit

 

Sambel Setan, Rawon Setan, Isetan, Alas Setan......eh Setan Alas ....
Setan opo maneh?

kangucup <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 


        Sambal Setan


        sumber: blog achmad sunjayadi
<http://achmadsunjayadi.wordpress.com/2007/11/04/sambal-setan/>  

        Kebanyakan lidah orang Indonesia menganggap makan tanpa sambal
terasa belum lengkap. Hampir semua masakan Nusantara selalu diiringi
dengan sambal. Bahkan di Menado, pisang goreng pun dimakan dengan
sambal. Kalau pun sambal tak tersedia di meja, beberapa potong gerusan
cabai merah atau beberapa potong cabai rawit dicepluskan ke mulut
sebagai teman makan.

        Perkara kebiasaan makan sambal ini terbawa sampai di luar
negeri. Alasannya, masakan yang disantap terasa hambar, belum pedas.
Apalagi bila ada sambal yang tersedia pun tidak sepedas sambal dari
tanah air. Maklum saja lidah dan perut orang asing berbeda dengan kita.
Oleh karena itu sambal botolan menjadi pilihan untuk dibawa. Untungnya
ada sambal botolan. Coba bila harus mengulek sendiri dengan membawa
serta cobek batunya. Bayangkan berapa berat bagasi yang harus dibawa.

        Mengapa sambal begitu populer di Nusantara dan nyaris menjadi
makanan utama, bukan sekedar pelengkap? Hal ini dikarenakan seni kuliner
Nusantara bersifat koud eten (hidangan dingin). Sehingga cabai menjadi
hal penting dalam setiap masakan. Rasa pedas cabe tidak hanya memberikan
rasa yang menggugah selera tetapi juga memiliki fungsi sebagai pengganti
temperatur panas.

        Jacob de Bondt alias Bontius, dokter VOC yang juga dokter
pribadi Jan Pieterszoon Coen pernah menyebut adanya Ricino Brasiliensi
atau lada Chili vocato. Menurutnya ini adalah lombok, cabai merah atau
yang dikenal sebagai cabai Brazil. Orang Brazil sendiri menyebutnya
Chili lada. Sementara itu ada yang berpendapat bahwa asal kata nama
ricino dari recche atau reche berasal dari bahasa Portugis. Kata ini
mengingatkan kita pada kata rica yang juga mengacu pada cabai atau
lombok. Tentu kita ingat `rica-rica', masakan khas Menado. Namun, kata
reche menurut pendeta P.J Veth tidak ditemui dalam kamus Portugis. Veth
berpendapat bahwa yang disebut  Spaanse peper, cabai Spanyol adalah
Capsicum alias cabai Brazil. Pendapatnya ini juga menolak anggapan bila
cabai dibawa oleh orang Portugis dari West Indien/Hindia Barat (Amerika
Tengah dan Selatan) ke Hindia Timur pada penghujung abad ke-16.

        Pendapat Veth beralasan bahwa cabai pun telah ada sebelumnya.
Seperti yang diungkapkan oleh arkeolog Titi Surti Nastiti bahwa cabai
pada masa Jawa Kuno telah menjadi komoditas perdagangan yang langsung
dijual. Bahkan menurut Nastiti dalam teks Ramayana dari abad ke-10,
cabai juga sudah disebut sebagai salah satu contoh jenis makanan pangan.

        Namun, setidaknya kata reche atau ritsjes pernah populer pada
1669 yang dapat diketahui dari syair Van Overbeeke di Batavia:
        "Soya, Gengber, Loock en Ritsjes
        Maeckt de maegh wel scharp en spitsjes".
        (Kedelai, jahe, bawang putih dan cabai
        Membuat perut melilit karena pedas dan diaduk-aduk)

        Pendeta Valentijn pun menyebutkan ada tiga jenis cabai merah.
Yaitu cabai merah besar, cabai merah kecil dan cabai kecil yang berwarna
kekuningan.

        Hal yang mengerikan sehubungan dengan cabai ini adalah sebagai
alat untuk menghukum para kuli kontrak perempuan di Sumatra pada akhir
abad ke-19 yang dianggap menentang perintah. Jan Breman dalam Koelies,
planters en koloniale politiek, Het arbeidregime op de
grootlandbouwondernemingan aan Sumatra's Oostkust in het begin van de
twintigste eeuw (1992) menuliskan bahwa para kuli perempuan itu diikat
di tonggak berposisi salib , lalu kemaluan mereka digosok dengan cabai.

        Sebaliknya para budak pada masa VOC yang mahir membuat sambal
mendapatkan tempat `khusus' karena disenangi para majikannya. Bisa jadi
`harga pasaran' mereka menjadi cukup tinggi.

        Sementara itu dalam turisme, sambal pun mendapat catatan
tersendiri. Dalam beberapa buku panduan turisme dituliskan peringatan
kepada para calon turis untuk "berhati-hati" dalam mengkonsumsi sambal
yang pedas karena ini berurusan dengan kesehatan perut. Tentu tidak akan
mengesankan bila liburan terganggu karena masuk rumah sakit gara-gara
menikmati sesendok sambal.

        Namun, tetap saja ada juga turis yang tetap nekat ingin
mencicipi. Seperti pengalaman dari Justus van Maurik, pengusaha cerutu
asal Amsterdam yang mengunjungi Batavia akhir abad ke-19.  Ia
menuturkan: " Salah satu dari hidangan dalam rijsttafel yang menarik
perhatian saya adalah Spaanse peper (lada Spanyol/cabai rawit). Suatu
kali saya pernah melihat seorang nona muda dengan pipinya yang kemerahan
menikmati lada spanyol seperti menikmati permen bon-bon. Matanya tidak
berair. Rasanya, saya tak akan bisa menikmati hidangan itu seperti
dirinya karena saya pernah merasakan pedasnya Lombok setan itu. Mulut
saya terbuka dan mata sepertinya mau keluar karena rasa panas dan pedas.
Rasanya mau meledak. Ini semua gara-gara rasa penasaran dan bisikan
pelayan yang menawari saya sambil berbisik: Sambal, toewan?"

        Demikian pula pengalaman jurnalis perempuan yang juga seorang
guru, Augusta de Wit yang juga mengunjungi Batavia. Pengalamannya yang
tak akan terlupakan adalah ketika ia untuk pertama kali mencicipi
sambal. Bibirnya langsung gemetar kepedasan. Leher terasa panas seperti
terbakar sehingga harus diguyur air. Sementara itu air mata bercucuran.
Untunglah ada seorang pengunjung yang kasihan dan menyarankan agar ia
menaruh sedikit garam di lidah. Ia pun menuruti nasihat itu dan tak lama
kemudian siksaan itu berakhir. Sambil terengah-engah, ia bersyukur ia
masih hidup. Ia pun bersumpah tidak mau mencoba rijsttafel lagi. Namun,
ternyata ia melanggar sumpahnya tersebut. Ia malah suka dan terbiasa
dengan hidangan pedas itu.

        Louis Couperus dalam Oostwaarts (1992, 1924)  mengingatkan para
turis yang belum pernah mencicipi dasyhatnya sambal oelek untuk
berhati-hati. "Sebaiknya," tulis Couperus, "...sambal itu jangan
dicampur di nasi, tetapi letakkan di pinggir piring." Lalu "Setiap suap
nasi yang diiringi daging ayam, sapi atau ikan dicocolkan sedikit
sambal."

        Memang selain garam, sebagai cara menghilangkan rasa pedas
membakar di mulut, dianjurkan meneguk susu, yoghurt. Jangan minum air
apalagi air es. Bergelas-gelas air tak akan mampu memadamkan panasnya
cabai. Selain susu, bisa juga dengan mengunyah roti, kerupuk, nasi tapi
tentunya jangan dicocolkan ke sambal lagi.

        Dalam buku resep lama, Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch
Kookboek karya J.M.J Catenius van der Meijden (1903) yang juga buku
pegangan wajib para perempuan Belanda sebelum datang ke Hindia,
tercantum resep "Sambal Bajak". Sambal ini berpenampilan kasar, persis
sawah yang baru dibajak. Atau "Sambal Serdadu", sambal terasi yang
khusus disiapkan untuk bekal para serdadu pada saat ekspedisi atau
bertempur. Bahkan pada masa itu, para keluarga Indo ada yang gemar
mengoleskan sambal sebagai beleg (isi roti) di atas rotinya. Hmm lekker,
zeg !(Hmm lezat!)

        Ketika berkunjung ke Belanda untuk pertama kali, saya yang
lumayan doyan sambal disuguhi "Sambal Setan". Terbayang di benak saya,
rasa pedas yang luar biasa. Namun, kekecewaanlah yang saya terima.
Sambal Setan tidak "se-setan" dan seseram namanya karena minus rasa
pedas. Rasanya hanya agak asin manis. Oleh karena itu pada kesempatan
berikutnya ketika studi di Belanda, saya membawa beraneka ragam sambal
botolan. Terbayarlah dendam lama saya pada Sambal Setan itu.

 

 Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com 

 

Kirim email ke