Pialang Prancis Bobol Bank Rp 67,5 Triliun 
Kejahatan Bank Terbesar dalam Sejarah

PARIS - Saat guncangan di bursa saham mulai mereda, gempa keuangan baru muncul 
dari Paris, Prancis. Salah satu bank terbesar di Eropa dan bank terbesar kedua 
di Prancis, Societe Generale, menyatakan rugi 4,9 miliar euro atau US$7,16 
miliar (Rp67,5 triliun) akibat dibobol seorang karyawan yang bertugas sebagai 
pialang di bagian keuangan dan investasi. 
Pembobolan itu memecahkan "rekor" yang dipegang Nick Leeson selama 13 tahun. 
Pialang berjangka Inggris itu membobol Barings Bank US$1,5 miliar dan 
menyebabkan bank bermarkas di Inggris tersebut bangkrut pada 1995. 
Pernyataan resmi bank yang memiliki 22,5 juta nasabah di 77 negara itu 
menyebutkan, pembobolan miliaran euro tersebut dilakukan melalui serangkaian 
transaksi palsu yang rumit.
"Saya punya kewajiban menginformasikan kepada Anda semua bahwa manajemen 
Societe Generale telah menemukan adanya pembobolan internal dalam jumlah cukup 
besar, dan dilakukan seorang staf di divisi pembiayaan dan investasi," ujar 
Chairman dan Chief Executive Societe Generale, Daniel Boutin, dalam rilisnya. 
Bagaimana pembobolan megatriliun terhadap bank yang didirikan pada 1864 itu 
dilakukan? "Modus pembobolan itu sangat sederhana, yakni dengan mengambil 
posisi pada saham yang sedang naik. Namun, teknik yang digunakan cukup licik 
dan bervariasi," jelas Boutin.
Berdasarkan hasil investigasi pada 19 dan 20 Januari, pialang nakal itu 
mengambil posisi curang dan mengeruk keuntungan pribadi secara besar-besaran 
pada 2007 dan 2008.
Jean-Pierre Mustier, kepala eksekutif divisi Corporate and Investment Banking 
Societe Generale menambahkan, pembobol bank itu adalah seorang warga Prancis 
berumur 30-an tahun. "Dia sudah beberapa tahun bergabung dengan kami serta 
bertanggung jawab atas pendapatan dari pasar komoditas," ungkap Mustier yang 
mengaku ikut menginterogasi tersangka setelah praktik curangnya terkuak. Atas 
posisinya, eksekutif tersebut mendapat gaji plus bonus 100.000 euro (Rp1,37 
miliar) per bulan. 
Dari interogasi, Mustier mendapat informasi bahwa pelaku dibantu mantan 
karyawan Societe Generale di tingkat manajer. Aktor pembantu itu diduga 
memiliki pengetahuan mendalam atas prosedur kontrol di internal bank yang 
mempekerjakan 122 ribu karyawan itu. Atas sarannya, pelaku mengatur dan 
menyembunyikan posisi tersebut melalui skema transaksi fiktif, tugas yang 
sebetulnya di luar batas kewenangannya.
Pasar keuangan Prancis dan Eropa terguncang dengan pengungkapan kriminal 
perbankan terbesar itu. Otoritas bursa langsung menghentikan (suspend) 
transaksi saham Societe Generale. Saat dihentikan perdagangannya, nilai saham 
SG sudah terkoreksi 3,6 persen. Dalam enam bulan terakhir, saham bank yang 
mengelola aset 467 miliar euro (Rp6.435 triliun) itu sudah susut separo akibat 
terimbas kasus kredit macet sektor perumahan AS yang membuat SG menderita rugi 
hingga 2 miliar euro. Dengan sederet kemalangan itu, Societe Generale hanya 
berhasil membukukan laba bersih 600-800 juta euro pada 2007, atau merosot jauh 
dibanding laba bersih US$5,2 miliar yang dicetak pada 2006. 
Manajemen Societe Generale telah melaporkan kasus pembobolan di banknya kepada 
bank sentral Prancis dan Eropa. "Bank juga telah memecat pejabat eksekutif, 
termasuk pimpinan yang bertanggung jawab atas supervisi dan kontrol terhadap 
operasional yang berkaitan dengan pelaku," ujar Daniel Bouton. Bank juga 
berkomitmen menyuntik modal baru 5,5 miliar euro untuk menutup kerugian akibat 
pembobolan itu. 
Usai mengumumkan skandal di perusahaannya, Daniel Boutin sempat menawarkan diri 
untuk mundur. Tetapi, pengajuan pengunduran diri itu ditolak dewan direksi. 
Sejauh ini langkah manajemen Societe Generale belum memuaskan berbagai pihak. 
Perdana Menteri Prancis Francois Fillon menegaskan, Societe Generale harus 
bertindak lebih serius agar kerugian lebih besar dapat dicegah. "Saya telah 
mengirim nota ke Bank of France (bank sentral Prancis, Red) agar masyarakat 
diyakinkan bahwa tidak perlu ada kekhawatiran atas kesehatan Societe Generale, 
harus diyakinkan bahwa uang mereka tetap aman," ujarnya. 
Keraguan juga meluas di kalangan pengamat perbankan Eropa. "Saya sulit memahami 
fakta bahwa seorang pialang bisa melaksanakan transaksi rahasia 4,9 miliar euro 
tanpa diketahui seorang pun," kata Ion-Marc Valhi pengamat dari Amas Bank. 
Frederic Hamm, seorang pengelola dana di Agilis Gestion, yakin penipuan itu 
berdampak pada reputasi Societe Generale.
BNP Paribas, bank terbesar di Prancis, menyatakan, pihaknya belum bisa 
membeberkan kerugian apa pun sehingga belum perlu memberikan peringatan kepada 
pasar. Gilles Glicenstein, kepala eksekutif BNP Paribas Investment Partners 
mengatakan, manajemen terkesan masih menyembunyikan beberapa informasi sehingga 
sulit memahami apa sebetulnya yang terjadi di Societe Generale. "Skala 
kecurangan ini sangat besar. Harusnya ada keterangan yang lebih detail dari 
Societe Generale," tegasnya. 
Glicenstein khawatir skandal di Societe Generale akan memicu penarikan dana 
(rush) besar-besaran di bank-bank Prancis. "Zaman dulu, berita atas skandal 
seperti ini selalu ditutup-tutupi. Namun, sekarang ada desakan untuk mengungkap 
semuanya. Mungkin dengan keterbukaan, kepercayaan nasabah akan tumbuh lagi," 
sarannya. (afp/ap/bbc/kim)


Jerome Kerviel, Pembobol Bank Rp67,5 Triliun 
Sabtu, 26 Januari 2008 
Pialang Junior yang Dikenal Pemalu
PRANCIS (BP) - Meski belum diumumkan resmi, media berhasil mengendus pembobol 
dana 4,9 miliar euro (sekitar Rp 67,5 triliun) dari Bank Societe Generale 
(SocGen). Dia adalah Jerome Kerviel, pria Prancis berusia 31 tahun dan bekerja 
di Societe Generale sejak 2000. 
Terungkapnya nama Kerviel itu cukup mengejutkan publik dan pelaku pasar 
keuangan. Usianya yang masih muda, latar belakang pendidikan yang kurang 
meyakinkan, dan prestasi kerja yang biasa-biasa saja sempat memunculkan 
keraguan, betulkah pemuda pendiam itu sebagai pelaku skandal keuangan 
perorangan terbesar di dunia tersebut. 


Pada Kamis (23/1), Societe Generale mengungkapkan adanya seorang pialang di 
Paris yang melakukan transaksi fiktif berskala besar, sehingga merugikan bank 
terbesar kedua di Prancis itu, sampai Rp 67,5 triliun. 

Kasus tersebut merupakan pembobolan terbesar dalam sejarah perbankan atau empat 
kali lebih besar dibandingkan kasus Nick Leeson yang membobol bank Inggris, 
Barings, 1995. Kerugian Barings saat itu mencapai 860 juta pounds (sekitar Rp 
14,1 triliun).
CEO dan Chairman Societe Generale Daniel Bouton mengungkapkan, pembobol 
tersebut menggunakan ''teknik yang sangat rumit dan bervariasi'' untuk 
melakukan kecurangan. Pembobol itu juga memiliki kelihaian untuk melarikan diri 
dari seluruh prosedur pengawasan. 

Bouton yang menawarkan mengundurkan diri namun ditolak itu menyatakan, dirinya 
dan wakil Philippe Citerne akan memberikan gajinya enam bulan lalu dan bonus 
2007. 

Sebagai salah satu bank terbesar di Prancis, bobolnya sistem keamanan internal 
Societe Generale itu sangat mengherankan. Bank yang didirikan pada 1864 
tersebut mempunyai 120 ribu karyawan di 77 negara dengan 22,5 juta nasabah di 
seluruh dunia. Sampai Juni 2007, Societe mempunyai aset 467 miliar euro (Rp 
6.435 triliun).

Mengutip New York Times, pekerjaan pertama Jerome Kerviel di bank tertua di 
Prancis tersebut adalah menjadi clerk yang memproses dan mencatat transaksi di 
lantai bursa. Pada 2006, jabatan dia naik setingkat lebih tinggi dengan menjadi 
analis pasar di bagian perdagangan komoditas. 

Kerviel yang menjalani pendidikan terakhir di Lyon University itu bertugas 
mengamati pergerakan indeks CAC Prancis dan DAX Jerman. 

Seorang bankir senior Societe Generale yang menolak namanya disebutkan 
mendeskripsikan, Kerviel adalah seorang pialang junior, bukan seorang bintang. 
''Dia menangani portofolio kecil dan terlihat lebih dari seorang pemalu 
daripada pemuda yang extrovert,'' ungkapnya.

Saat para wartawan mendatangi apartemen Kerviel di Paris kemarin, sebuah 
pengumuman menunjukkan bahwa pemuda itu sudah pergi. Kantor pengacaranya 
menegaskan bahwa dia tidak sedang melarikan diri. Kerviel yang berpendapatan 
kurang dari 100.000 euro (Rp1,3 miliar) itu, menurut pengacaranya, siap 
mendatangi panggilan polisi jika diperlukan.

Analis keuangan dari Celent, Axel Pierron, menyatakan bahwa Kerviel yang masih 
muda itu berambisi mengejar bonus yang tinggi, sehingga dia mau mengambil 
risiko besar. Di mata Perron, Kerviel tidak ingin mencuri dari bank itu. 
''Kerviel memiliki kinerja yang bagus pada 2006,'' tegasnya. 

Kombinasi kinerja yang baik dan ego yang tinggi bisa membuat Kerviel mengambil 
risiko itu untuk mencoba mengalahkan pasar. Societe General enggan berkomentar 
mengenai laporan media soal Kerviel tersebut. 

Societe General kemarin mengajukan gugatan hukum terhadap Kerviel yang menjadi 
pembobol banknya. Kuasa hukum Societe General menuduh Kerviel membuat dokumen 
bank, menggunakan dokumen yang salah itu, dan mengakses komputer di luar 
kewenangannya.

Kejaksaan Paris membuka penyelidikan awal skandal tersebut yang menyebabkan 
para pemegang saham mengajukan gugatan terhadap bank atas kecurangan dan 
kecerobohan. 
Dari London, kantor berita BBC menurunkan laporan tentang tanggapan Nick Leeson 
saat pekerjaannya dicontek Kerviel. Leeson mengaku tidak kaget atas aksi 
jahanam Kerviel. ''Transaksi fiktif mungkin terjadi hampir tiap hari dalam 
pasar finansial,'' katanya. 

Yang mengejutkan Leeson hanya angka kerugiannya yang terlalu besar. 
''Perdagangan seperti itu biasa terjadi tiap hari dalam pasar keuangan. Yang 
membuat saya kaget adalah skalanya. Saya tidak pernah mengira kerugian bisa 
sebesar itu,'' ujarnya. (ap/afp/bbc/rtr/kim)



Diperbaharui pada: 25 Januari, 2008 - Published 12:47 GMT 

SocGen perkarakan pialang 
Jerome Kerviel ditudings sebagai pialang nakal 
Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy mengatakan penggelapan senilai $7 miliar di 
bank terbesar kedua di negaranya, Societe Generale, tidak berpengaruh terhadap 
stabilitas sistem keuangan Prancis. 
Sarkozy mengatakan, kerugian yang diakibatkan oleh tindak penipuan ini adalah 
masalah internal perusahaan. 

Pengacara pria yang diduga melakukan penggelapan, Jerome Kerviel, mengatakan 
kliennya tidak melarikan diri dan siap berbicara kepada polisi. 

Bank tersebut telah mengajukan gugatan hukum terhadap si pialang. 

Sebelumnya presiden komisaris Societe Generale, Daniel Bouton mengatakan tidak 
tahu keberadaan Kerviel. 

Bouton menyatakan, penggelapan itu kejadian "lepas" dan membantahmembantah 
kasus ini merupakan kesalahan manajemen risiko atau transaksi. 

Namun, para analis mengatakan, masa depan posisi Bouton di bank tersebut tidak 
menentu setelah malpraktik lama tidak terdeteksi.

Mereka juga mengatakan, kerugian itu menyebabkan Societe Generale rentan 
terhadap upaya pengambilalihan

Kirim email ke