Pak Boedi, apa kabar?

Tahun lalu saya bikin baru Paspor yang sudah kadaluarsa. Cuma mau bikin
saja, siapa tahu ada yang ngajak jalan-jalan ke negara sebelah hehehe. Waktu
proses wawancara si petugas menanyakan pekerjaan sekarang. Saya ceritalah
jabatan, tugas, lama bekerja di PT tempat saya bekerja. Lama juga tuh,
sepertinya ada yang tidak pas buat si pewawancara. Akhirnya dia tanya
pekerjaan sebelum-sebelumnya, sampai akhirnya terungkap dulu menjadi pegawai
Bank Bumi Daya. Terus bagaimana status dengan BBD-nya tanyanya. Ya sekarang
saya ya pensiunan Bank Mandiri. Lho, ada SK Pensiun-nya? Lha, ya ada dong
bu. Kalau begitu saya minta copy SK Pensiun Bank mandiri saja, disini saya
cantumkan pekerjaan bapak Pensiunan Bank mandiri saja, supaya paspornya
gampang diterbitkan. Jadi besok kembali dengan bawa copy SK Pensiun, ditukar
dengan paspor. Besoknya saya kembali dengan copy SK pensiun dan dapat paspor
baru.

Itu kejadian yang benar-benar saya alami di Imigrasi Jakarta Timur.
Begitulah repotnya kalau lingkungan menilai seseorang justru dari cangkir
yang dipakainya, bukan dari kopi yang diminumnya. "Cangkir bekas" saya yang
lama lebih dilihat orang daripada kopi yang saya minum sekarang hehehehe.
Makanya para orang tua sudah pasti bangga kalau anaknya diterima jadi
pegawai negeri misalnya, atau kerja di Bank Mandiri. Anakmu kerja di mana?
Bank Mandiri mas. Pastilah ada penekanan Bank Mandiri hehehe. Coba kalau
anaknya teller di BPR, kalau ditanya anakmu kerja dimana? Tau tuh,
kerja-kerja begitulah sama teman-temannya, ngisi waktu daripada bengong saja
di rumah... Hehehehe. 

Itu buat yang baru kerja.Buat yang sukses juga begitu. Kalau sukses di
Mandiri, ya sudah pasti bunyinya Head-nya group ini itu, kepala ini itu,
atau lainnya lah (apalagi direktur hehehe). Ada kebanggaan di dalamnya. Coba
kalau dia sukses punya usaha sendiri tapi tidak terkenal (meski punya PT)
kalau ditanya what do you do for living, pasti cuma dijawab ya wiraswasta
saja mas, dengan nada biasa-biasa saja, tidak tahu dia apanya yang dia bisa
bangga kan. Kecuali kalau diberi waktu bercerita "success story"nya, barulah
akan muncul nilai plus kopi-nya. 

Hanya saja buat mereka yang cangkir-nya indah namun kopi-nya tidak sedap
pada dasarnya tidak juga menikmati-nya keindahan cangkir-nya itu. Waktu
memegang cangkir memang senang, tapi waktu nyeruput kopi-nya mukanya
meringis .........................

Salam

ns

 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, February 14, 2008 8:08 AM
To: Estika
Subject: [exbe2de] NIKMATILAH KOPINYA, BUKAN CANGKIRNYA!

 

NIKMATILAH KOPINYA, BUKAN CANGKIRNYA!

Sekelompok alumni University California of Berkeley yang telah mapan dalam
karir masing-masing berkumpul dan mendatangi professor kampus mereka yang
telah tua. Percakapan segera terjadi dan mengarah pada komplain tentang
stess di pekerjaan dan kehidupan mereka.
Menawari tamu-tamunya kopi, profesor pergi ke dapur dan kembali dengan poci
besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis. Dari porselin, plastik, gelas,
kristal, gelas biasa, beberapa di antaranya gelas mahal dan beberapa lainnya
sangat indah, dan mengatakan pada para mantan mahasiswanya untuk menuang
sendiri kopinya.
Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, profesor itu
mengatakan: "Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal
telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja.
Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri
kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang
kalian alami."
"Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam
banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan
menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya
adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil
cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain."
"Sekarang perhatikan hal ini: Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan,
uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat
untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak
mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi.
Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk
menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita."

Tuhan memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya. Jadi nikmatilah kopinya,
bukan cangkirnya.
Sadarilah jika kehidupan Anda itu lebih penting dibanding pekerjaan Anda.
Jika pekerjaan Anda membatasi diri Anda dan mengendalikan hidup Anda, Anda
menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan keadaan.
Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak mengubah diri
Anda sebagai manusia. Pastikan Anda membuat tabungan kesuksesan dalam
kehidupan selain dari pekerjaan Anda.

So enjoy your day and work and keep make relationship with others :)
=========
Artikel ini kiriman dari seorang teman.


Salam,
Boedi Dayono
my.ERP
Mulia Industry
Enterprise Resource Planning 

 

Kirim email ke