----- Original Message ----- 
From: Setyanto P. Santosa 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Cc: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Sunday, April 27, 2008 8:07 AM
Subject: [milis-ika-unpad] Re: [ika-unpad-milis] Renungan


Terimakasih rekan Hendix, saya sangat suka membaca tulisan dan artikel
semacam yang anda kirimkan karena sekaligus introspeksi untuk kita2 yang
selalu merasa benar dihadapan anak2 kita.

setyanto ps
+++

> Saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan
> perenungan bagi para
> ORANG TUA...
>
> Tahun yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi
> Mulia Bogor.
> Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4
> di SD itu. Waktu
> itu Saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan
> kepala sekolah.
> Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala
> sekolah, Dika yang
> Duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan
> anak-anak berprestasi
> itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang
> bermasalah.
>
> Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala
> sekolah justru
> menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak
> tersebut selalu
> murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar
> di kelas hanya
> untuk melamun.
>
> Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah
> lembut saya tanyakan
> kepada Dika "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya
> menggeleng.
>
> "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya
>
> "Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
>
> Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan
> kepala sekolah
> untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama
> tak ada kemajuan.
> Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang
> psikolog.
>
> Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika
> meninggalkan sekolah
> untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika
> menyelesaikan
> soal demi soal dalam hitungan menit.
>
> Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja
> namun penuh
> keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.
> Angka kecerdasan
> rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas)
> dimana skor untuk
> aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi,
> bahasa, ilmu pasti,
> penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada
> angka 140 - 160.
> Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan
> verbalnya tidak
> lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
>
> Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang
> berbeda itulah
> Yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman
> lebih lanjut. Oleh
> sebab Itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya
> untuk mengantar
> Dika kembali Ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya
> Dika perlu
> menjalani test kepribadian.
>
> Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika
> kembali mengikuti
> serangkaian test kepribadian.
> Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan,
> setidaknya
> Psikolog Itu telah menarik benang merah yang
> menurutnya menjadi salah
> satu atau beberapa factor penghambat kemampuan verbal
> Dika.
> Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
> Jawaban yang
> jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat
> saya berkaca diri,
> melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
>
> Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin
> ibuku :...."
> Dikapun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka
> hatiku, sebentar
> saja" Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap
> bahwa selama
> ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk
> bermain bebas.
> Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam
> permainan-permainan
> edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan
> waktunya
> menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan
> waktunya bermain
> basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan
> waktunya main game
> di computer dan sebagainya.
>
> Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi
> masa depannya,
> Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata
> di sela-sela
> waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena
> sebagian besar
> telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai
> kursus di luar
> sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan
> Dika yang
> begitu rumit.
> Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana :
> diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati
> masa
> kanak-kanaknya.
>
> Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku
> ingin Ayahku ..."
> Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun
> kira-kira
> artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti
> dia menuntutku
> melakukan sesuatu" Melalui beberapa pertanyaan
> pendalaman, terungkap
> bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi
> diperintah untuk
> melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya
> melakukan apa
> saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan
> kepada Dika. Dika
> ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan
> tempat tidurnya
> sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang
> lain, menonton TV
> secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis
> dibacanya dan tidur
> tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti
> itu justru
> sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.
>
> Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku
> tidak ..."
> Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya"
> Dalam banyak hal
> saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka
> bekerja
> keras,disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu
> yang saya
> inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan
> bijaksana.
> Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis
> seperti diri saya.
> Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin
> menjadikan anak
> sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan
> bahwa anak adalah
> orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.
>
> Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin
> ayahku tidak : .."
> Dikapun menjawab "Tidak mempersalahkan aku di depan
> orang lain.
> Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang
> aku buat adalah
> dosa" Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak
> untuk selalu
> bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak
> memberi tempat
> kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua
> menganggap bahwa
> setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar
> dengan hukuman, maka
> anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau
> mengakui kesalahan
> yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan
> muncul karena
> orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat
> anak, sehingga
> tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk
> mencegah atau
> menghentikannya.
>
> Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu
> diberi
> kesempatan Untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa
> belajar dari
> kesalahannya.
> Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah
> adakalanya bisa
> menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu
> mendatang tidak
> membuat kesalahan yang serupa.
>
> Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku
> berbicara tentang
> ....." Dikapun menjawab "Berbicara tentang hal-hal
> yang penting
> saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru
> menggunakan
> kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari
> kantor untuk
> membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti
> menanyakan
> pelajaran dan PR yang diberikan gurunya.
> Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting,
> bukanlah sesuatu
> yang penting untuk anak saya.
>
> Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya
> dingatkan bahwa
> kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan
> pengenalan akan
> Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya
> dengan ilmu
> pengetahuan.
>
> Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
> .....",
> Dikapun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
> kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu
> merasa benar,
> paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin
> ayahku
> mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".
> Memang dalam banyak
> hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia,
> orang tua tak
> luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya
> sederhana, yaitu
> ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya
> dan kalau perlu
> meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang
> diajarkan orang tua
> kepadanya.
>
> Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku
> setiap
> hari........ " Dika berpikir sejenak, kemudian
> mencoretkan penanya
> dengan lancar " Aku ingin ibuku mencium dan memelukku
> erat-erat
> seperti ia mencium dan memeluk adikku" Memang
> adakalanya saya
> berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah
> tidak pantas lagi
> dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya
> salah, pelukan
> hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan
> supaya
> hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak
> menyadari bahwa
> perlakukan orang tua yang tidak sama kepada
> anak-anaknya seringkali
> oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang
> tidak adil atau
> pilih kasih.
>
> Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin
> ayahku setiap
> hari....."
> Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik
> dengan satu
> kata
> "tersenyum" Sederhana memang, tetapi seringkali
> seorang ayah merasa
> perlu menahan senyumannya demi mempertahankan
> wibawanya. Padahal
> kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun
> tidak akan
> melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah
> simpati dan energi
> bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti
> yang ia lihat
> dari ayahnya setiap hari.
>
> Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan
> "Aku ingin ibuku
> memanggilku. ..." Dikapun menuliskan "Aku ingin ibuku
> memanggilku
> dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali ! Memang
> sebelum ia
> lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan
> penuh arti, yaitu
> Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar,
> saya selalu
> memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam
> Bahasa Jawa
> diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.
> Sedangkan Le dari
> kata "Tole". Waktu itu saya merasa bahwa panggilan
> tersebut wajar-wajar
> saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di
> kalangan
> masyarakat Jawa.
>
> Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku
> ingin ayahku
> memanggilku .."
> Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
> Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan
> sebutan "Paijo"
> karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa
> Indonesia atau Bahasa
> Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang
> sayur keliling"
> kata suami saya.
>
> Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu,
> saya menjadi malu
> karena selama ini saya bekerja disebuah lembaga yang
> membela dan
> memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya
> kampanyekan
> pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan
> Konvensi Hak-Hak
> Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan
> poster bertuliskan
> "To Respect Child Rights is an Obligation, not a
> Choise" sebuah
> seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak
> adalah
> Kewajiban, bukan Pilihan". Tanpa saya sadari, saya
> telah melanggar
> hak anak saya karena telah memanggilnya dengan
> panggilan yang tidak
> hormat dan bermartabat.
>
> Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan
> dalam tingkah
> polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga
> dan juga
> kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang
> Tak Terucapkan.
>
> Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka
> tidak ada satupun
> anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak
> memang harus
> diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi
> para ayah (orang
> tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati
> anak-anaknya.
> Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan
> nasehat Tuhan.
>
> Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal
> 23 Juli 2008,
> Saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua
> supaya selalu
> berpikir,bersikap dan melakukan hal-hal yang
> dikehendaki Tuhan.
>
> Sumber: Ditulis oleh Lesminingtyas
>
>
>
> __________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and
> know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
> http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
>



 


--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG. 
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.5/1399 - Release Date: 4/26/2008 2:17 
PM

Kirim email ke