Betul Mas Pri, sangat menarik. Masyarakat awam Amerika itu sebetulnya sebagaimana layaknya suatu society, mayoritas-nya tentu saja orang-orang yang punya hati, dan siap membantu kesuilitan orang lain. Kebutuhan ekonomi dan persaingan individu yang tinggi menyebabkan orang sono "terkesan" sangat individualis. Padahal kalau sudah kenal ya sama saja dengan orang asia, mereka senang kalu orang itu ya sopan dan rendah hati dan ringan kaki (kalau ringan tangan itu suka mukulin temen hehehe).
Si Barry yang temannya Ronny ini pun dinilai orang yang rendah hati, sementara Hilary digambarkan sebagai orang yang tinggi hati atau agak "arogan", dan menanglah akhirnya si rendah hati. Hanya mereka memang tidak suka kalau dengan orang yang terkesan "lemah" (kadang rendah hati dikira "lemah"). Cuma mas Pri, adalagi plusnya si Barry menurut cewek and ibu2 amerika, Barry ini memang hitam, tapi handsome dan senyumnya manis (cute), makanya ibu2 biar kulit putih milih dia juga hehehe. Pernah denger pidatonya? Memang dia itu orator ruarrr biasa. Selamatlah buat Ronny Amir, kanca ne bakal jadi the most influencing person on earth. Salam NS -----Original Message----- From: PRIANTO TIRTOPRODJO [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, June 05, 2008 10:07 AM To: [email protected] Subject: Re: [exbe2de] FW: [Alumni-Fahutan] Wisudawan Cumlaude PENS-ITS, di Mata Ibu Angkatnya dari AS Artikel Menarik Bung Nandi Yang bisa dipetik dari ini adalah bahwa tidak semua orang Amerika Buruk dan tidak semua orang Indonesia Ramah dan Baik, sekarang kembali ke masing2 pribadi watak seseorang, baik karena memang sifatnya dan karena pendalaman keagamannya atau imannya. Mengecam George Bush Jr harus, mengecam Amerika, apanya yang dikecam,? demokrasinya lebih baik, saling menghargai antar individu sangat baik. Buktinya Barack Obama terpilih sbg calon presiden dari Demokrat. Makanya jangan jadi orang fanatik seperti si Habib R dengan FPI nya, belajar dan menyebarkan kaidah agama dengan cara spt dia menimbulkan ketidak sukaan. Lho, lha koq malah mlenceng komentar saya...sorry yang bung Nandy Keep in Touch "Nandi Syukri Ch." <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Saya forward-kan dari milis tetangga ....................... Jawa Pos, 25 Maret 2007 Tidak banyak mahasiswa yang mempunyai kesempatan seperti Dwi Susanto, salah seorang wisudawan terbaik ITS. Dia berhasil mewujudkan cita-citanya setelah bertemu Mimi Coy Anzel, warga AS. Kemarin, mahasiswa teknologi informasi Diploma III Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS itu diwisuda disaksikan ibu angkatnya itu Suasana haru terlihat saat Dwi Susanto bertemu dengan Mimi Coy Anzel, ibu angkatnya yang berkewaraganegaraan Amerika Serikat dalam acara wisuda di Graha ITS kemarin. Senyum mengembang di bibir mereka. Ucapan terima kasih tak henti-hentinya terucap dari mulut Dwi, panggilan akrab Dwi Susanto. Mimi pun membalasnya dengan pelukan hangat dan sebuah tepukan bangga di punggung pemuda 23 tahun itu. Terlihat jelas bahwa wanita 50 tahun itu begitu bangga pada Dwi. Suasana semakin haru kala Amirah, ibu kandung Dwi Susanto datang menghampiri keduanya. Dengan mata berkaca-kaca, wanita paruh baya itu merangsek dan memeluk Mimi. Isak tangis keduanya langsung terdengar. Mimi memeluk Amirah dengan erat dan menenangkannya. Setelah sedikit tenang, Amirah pun menggenggam tangan Mimi dengan erat seraya mengucapkan terima kasih kepada ibu angkat Dwi itu, yang langsung diterjemahkan anaknya dalam bahasa Inggris. Mimi pun tersenyum hangat dan membalas genggaman Amirah. Pemandangan mengharukan di ruang Argopuro, Graha ITS, itu tentu saja menyedot perhatian wisudawan lain dan keluarganya. Tak terkecuali para dosen Dwi yang kemudian ikut bergabung dan menyalami Mimi serta Amirah. "O... ini ibu angkat Dwi ya," ujar Iwan Syarif, ketua Jurusan Teknologi Informasi, PENS-ITS. Setelah acara tangis-tangisan itu, suasana pun berubah jadi suka cita. Mimi tak henti-hentinya memperhatikan anak angkatnya yang masih mengenakan toga wisudawan tersebut. Ekspresinya begitu bangga melihat Dwi akhirnya sukses menyelesaikan studi dengan cumlaude. "Sejak bertemu dengan dia, saya yakin Dwi anak baik dan punya motivasi yang besar untuk maju. Dan dia telah membuktikan hari ini. Saya sangat bangga menjadi ibu angkatnya," kesan Mimi yang kemarin secara khusus datang ke Surabaya untuk menghadiri wisuda anak angkatnya itu. Dwi Susanto adalah mahasiswa ITS asal Ponorogo. Niatnya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi hampir kandas kalau saja dia tidak bertemu Mimi Coy Anzel, yang kemudian menjadi ibu angkatnya dan bersedia membiayai kuliahnya. Dwi memang berasal dari keluarga tidak mampu. Sehari-hari keluarganya hidup pas-pasan. "Saya tidak membayangkan akhirnya bisa kuliah dan bahkan diwisuda di kampus hebat ini. Ayah saya hanya petani yang penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari," ujarnya. Paham dengan kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan itu Dwi memutuskan untuk melanjutkan sekolah di sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK), dengan harapan dapat langsung bekerja setelah lulus dari sana. "Untuk mengembangkan kemampuan, setiap sore saya kursus bahasa Inggris di Elite English School," ujar bungsu dari lima bersaudara itu. Tak dinyana, melalui salah satu program tempat kursusnya itulah Dwi bertemu dengan Mimi Coy Anzel. Lembaga kursus itu mempunyai kurikulum praktik lapangan bagi siswanya setiap 6 bulan sekali. Daerah study tour yang dipilih kala itu, tahun 2002, adalah Jogjakarta. Dwi dan siswa lainnya diwajibkan mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggrisnya dengan berkomunikasi langsung dengan turis asing yang ditemuinya di lapangan. Saat itu Dwi bertemu Mimi yang sedang menikmati keindahan Keraton Jogjakarta. Dia memperkenalkan diri sekaligus menyodorkan form percakapan yang harus diisi Mimi dan dinilai langsung olehnya. "Awalnya saya kaget, tapi lalu terkesan dengan keluguannya," tutur Mimi. Pertemuan itu berlanjut. Mimi pun turut naik ke dalam bus yang ditumpangi Dwi beserta teman-teman kursusnya. Dalam perjalanan selama dua jam mengelilingi Jogjakarta itu Mimi duduk bersebelahan dengan Dwi. "Satu yang saya ingat, dia sangat jujur. Dalam pembicaraan itu dia mengatakan terus terang bahwa dia sangat menyukai orang Amerika karena mereka terbuka, namun dia tidak menyukai George Bush Jr. Hal yang tidak banyak orang mau mengungkapkannya," kenang Mimi. Kesan yang mendalam itu terekam terus dalam benak wanita yang belum lama ini suaminya meninggal dunia. Meski akhirnya berpisah, komunikasi antara Dwi dan Mimi terus berlangsung melalui e-mail. Setiap minggu mereka bertukar pikiran dan menceritakan kehidupan masing-masing. Kedekatan itu terus berlanjut hingga akhirnya Mimi memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mengunjungi kampung halaman Dwi di Ponorogo, pada 2004. Dalam pertemuan itu mereka saling bertukar pikiran. Dwi bercerita pada Mimi bahwa dia telah menjual beberapa kambingnya untuk membeli formulir pendaftaran mahasiswa baru di ITS. Dwi juga mengatakan bahwa sebenarnya dia telah lulus ujian masuk dan berhak melanjutkan kuliah di salah satu kampus terkemuka di Indonesia itu, namun dia tidak mempunyai dana untuk itu. Mimi sempat tertegun mendengar penuturan Dwi. Dia lalu menanyakan jumlah biaya yang dibutuhkan Dwi untuk mewujudkan cita-citanya itu. Setelah dikalkulasi, Mimi pun menyanggupi untuk membiayai seluruh ongkos kuliah Dwi. "Saya gembira sekali mendengar kesanggupan Mimi kala itu. Rasanya bagai mendapat durian runtuh," kenang Dwi. Keesokan harinya Mimi dan Dwi langsung berangkat ke Surabaya. Mereka mengecek apa saja kebutuhan Dwi selama tinggal di Surabaya untuk studi. Setelah memastikan Dwi dapat tinggal dan belajar dengan tenang, barulah Mimi kembali ke Amerika Serikat. Alumnus SMK Negeri I Jenangan, Ponorogo, itu tidak mau menyia-nyiakan kebaikan ibu angkatnya itu. Dia terus belajar dengan tekun. Bahkan tidak jarang harus menginap di laboratorium untuk menyelesaikan tugasnya. Setiap semester dia selalu mengirimkan daftar nilainya kepada Mimi di AS. Dengan harapan ibu angkatnya itu biar tahu perkembangan kuliah Dwi. "Saya tidak ingin mengecewakannya," ungkap Dwi. Kerja keras Dwi membuahkan hasil. Kemarin dia dikukuhkan sebagai salah satu wisudawan ITS yang meraih predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,63. Suatu prestasi yang membanggakan Sukirman dan Amirah, orang tua kandungnya, serta Mimi, orang tua angkatnya. Ketika Dwi memberi kabar bahwa dia akan diwisuda, Mimi yang sudah tiga bulan ini bekerja di Bunda Maria School Jakarta langsung menyatakan kesediannya untuk datang dan menyaksikan anak angkatnya itu mengenakan toga wisuda. "Saya sangat rindu dia. Saya ingin melihatnya mencapai kesuksesan dalam hidupnya," ujar Mimi yang sudah tiga tahun tidak bertemu Dwi. Saat ditanya alasannya membantu Dwi, Mimi menjelaskan bahwa dia terinspirasi Pramoedya Ananta Toer. Menurut dia, Pramoedya adalah salah seorang pengarang yang berhasil mendobrak dunia meskipun berasal dari keluarga tidak mampu. Dia ingin Dwi mengikuti jejak idolanya itu. "Pram adalah tokoh yang pantas diteladani," ucap Mimi. Mimi tidak ingin Dwi membalas jasa yang telah diterima dari dirinya selama ini. Namun dia ingin Dwi meneruskan apa yang telah dirintisnya. "Saya berharap kelak akan ada Dwi-Dwi lain yang bakal terbantu oleh Dwi, anakku," pesan Mimi. (*) Send instant messages to your online friends http://uk.messenger <http://uk.messenger.yahoo.com/> .yahoo.com Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
