Hmmm … keinget deh sama orang2 yang kalau ketemu, senyum
aja syusyahnya bukan maen … Padahal dari jauh saya sudah senyum duluan,
eh si doi malah cuek pura2 gak tahu. Tapi gak papa sih, yang penting udah
berniat baek.
Banyak2lah tersenyum, baik kepada yg lebih tua atau yang muda.
Konon kabarnya, senyum itu memerlukan sedikit otot wajah untuk bekerja ketimbang
cemberut, yang lebih perlu banyak energi!
Salam,
Hidayat
----- Original Message -----
From: adhi permana
To: [EMAIL PROTECTED] ; Dindin ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, May 20, 2005 7:43 AM
Subject: [Kesesi] Tentang Faiz
Ada tulisan Helvy Tiana
Rosa ttg Putranya Faiz
(Pemenangn lomba menulis surat buat president..)
>CINTA YANG TAK RUMIT DARI FAIZ
>
>Apa yang menyebabkan kita menyapa atau
tidak menyapa, saat bertemu
seseorang? Kebanyakan kita menyapa karena kita
mengenal atau minimal mengetahui seseorang itu.
Bisa juga karena kita
menyukai atau menghormati orang tersebut, karena
memang
kebiasaan,atau punya keperluan. Mungkin juga
sekadar basa basi. Apa
pun itu, saya belajar banyak soal ini dari seorang
anak kecil yang
berbeda umur 26 tahun dari saya.
>
>Setiap hari saat berjalan kaki menuju
sekolahnya yang tak begitu
jauh dari rumah, Faiz akan melewati deretan
panjang rumah yang ada di
sekitar kami. Empat tahun yang lalu, ketika
Faiz masih TK, saya
takjub menyaksikan bagaimana cara ia menyapa!
Semua tetangga yang
kebetulan dilewati atau ditemuinya di jalan, tak
akan luput dari
teguran ramah disertai senyum lebar Faiz.
>
>"Selamat pagi, Pak, selamat pagi,
Bu...."
>"Assalaamu'alaikum...."
>"Mari Oma, mari Opa..."
>"Dari mana, Tante?"
>"Wah hari ini Kakak berseri sekali!"
>"Mau kuliah, Bang?">
>"Eh, ketemu adik cakep. Mau kemana
pagi-pagi sudah rapi?"
>
>Dan seterusnya....
>
>Saat ia duduk di kelas II SD, saya
pernah bertanya
pada Faiz," Mas Faiz, apa kamu tak
lelah menyapa begitu banyak orang
setiap pagi?"
>
>Faiz tertawa. "Tidaklah, Bunda. Aku
senang karena senyum dan sapaku
mungkin bukan mengawali pagiku saja. Tapi
mengawali
pagi orang lain. Lagipula senyum itu kan sedekah,
Bunda."
>
>Saya nyengir. Pernyataan yang unik dari anak
yang waktu itu belum
berumur delapan tahun. "Subhanallah. Kalau
dihitung
dengan uang, sedekahmu mungkin sudah
milyaran," ujar saya sambil
mencium pipi Faiz yang memerah.
>
>Setiap kali hadir pada arisan yang diadakan
ibu-ibu sekitar rumah,
mereka kerap membicarakan Faiz.
>
>"Waduh, Faiz itu ramah sekali ya,
Bu. Kalau bertemu saya selalu
menegur lebih dulu, senyumnya manis
sekali."
>
>"Kok bisa seperti itu sih, Bu? Bagaimana
mendidiknya?"
>
>Saya tersenyum. Bagaimana mengatakannya?
Sesungguhnya saya tak
pernah mendidik Faiz secara khusus untuk menyapa
dan
tersenyum. Sayalah yang banyak belajar dari Faiz!
>
>Terbayang lagi berbagai peristiwa yang
terjadi sejak Faiz mulai
duduk di bangku SD.
>
>Ketika ia ada di teras rumah, semua pengemis
yang lewat selalu
dipanggilnya, diajak makan dan minum. "Hari
ini di
rumah masak sop dan perkedel." Atau
"Bapak mau bawa kopi untuk di
jalan biar tidak mengantuk? Mau teh manis
dingin?" Ia akan berlari ke
kamar, mengambil celengan dan mengeluarkan
lembaran kertas dari sana
untuk diberikan
>pada mereka.
>
>Belum lagi, semua tukang jualan, tukang sol
sepatu,yang lewat pun
disuruh mampir. Ada saja yang
ditawarkannya.
"Istirahat dulu di sini, Pak. Kan capek. Hari panas
sekali. Sini,
makan kue dan minum dulu. Atau mau makan
nasi?" Selain itu ia pun
akan bisik-bisik pada anggota keluarga lainnya
untuk membeli sesuatu
dari tukang jualan itu, meski kami tak
terlalu membutuhkannya. "Apa
salahnya sih menolong orang?"ujarnya.
>
>Maka di rumah mungil yang kami tempati, tak
pernah ada hari di mana
kami memasak sekadar pas untuk keluarga. Selalu
ada
tamu-tamu istimewa yang entah siapa. Faiz
mengundang mereka secara
tak terduga.
>
>"Ikhlas yaaa, Bunda...," katanya
sambil tersenyum manis.
>
>Lalu apakah ada lagi yang bisa saya ucapkan,
meski dengan terbata?
Saya hanya mampu memeluk Faiz kuat-kuat.
>
>(Helvy Tiana Rosa)
--------------------------------------------
.