|
Diskusi ttg mogok boleh, tapi tulisan dibawah juga
menarik lho.....
-----Original Message-----
From: Metri Politianingrum [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, June 23, 2005 12:04 PM To: 'Undisclosed recipient' Subject: FW: Ayah, Ibu, ketahuilah, saya juga mencintaimu dengan segenap jiwaragaku..... Ayah, Ibu,
Ketahuilah Saya juga mencintaimu dengan segenap Jiwa
ragaku Kisah berikut
ini sangat menyentuh perasaan, dikutip dari buku
"Gifts From The Heart for Women" karangan Karen
Kingsbury. Buku ini dapat Anda peroleh di
toko buku Gramedia,
maupun toko buku lainnya. Kisahnya sbb: Bahkan Seorang
Anak Berusia 7 Tahun Melakukan Yang Terbaik Untuk
...... Di sebuah
laki2 berusia
tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain
bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di
kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah
seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan,
ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain
cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di
setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan
semangat saat Luke dapat memukul bola maupun
tidak. Kehidupan
Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia
menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan
mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita
dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya
berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia
tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis
es, suami Sherri meninggal karena mobil yang
ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari
arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan
pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa
dilakukannya pada malam hari. "Aku tidak
akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak
ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau
tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil
tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan
nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam
hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu
orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan
tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya.
Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan
lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri
daripada ia memaksakan mencari penggantinya." Sherri sangat
bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah
untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua
merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya,
Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan
selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan
seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi
seorang ayah bagi Luke. Pertandingan
demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu
datang dan bersorak-sorai untuk memberikan
dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain
beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke
pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku
bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat
penting bagiku. Aku mohon ?" Pelatih
mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat
bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan
sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan
mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya
bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas
Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa
hari ini. "Tentu,"
jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya
topi merah Luke. "Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang,
lakukan pemanasan dahulu." Hati Luke bergetar saat
ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia
bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home
run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil
menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya
berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja
pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat
Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan,
pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan.
"Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada
Luke. "Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik
sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi
begini?" Luke tersenyum
dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh
oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu.
Sambil sesunggukan, ia berkata "Pelatih, ayahku sudah
lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan
mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat
berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu
lalu,......Ibuku meninggal." Luke kembali menangis. Kemudian Luke
menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya
dengan terbata-bata "Hari ini,.......hari ini adalah pertama
kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada
pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku
bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan
mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak. Sang pelatih
sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat,
dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama
hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian
sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu
mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan
Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh.
Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya
sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan
sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang
anak..... Sang pelatih
sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa
dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan
seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang
terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah
dan ibunya sudah pergi selamanya............Luke baru saja
kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya........ Sang pelatih
sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada.
Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk
kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan
lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari
bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal
seumur hidupnya............... Hikmah yang
dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia
7 TAHUN : Mulai detik
ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan
ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan
utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn
kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka.
Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat
apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka
bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak
terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian
kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan
mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7
tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan
ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ? Berapakah usia
Anda saat ini ? Apakah Anda
masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu
sudah hilang untuk selamanya.........? Mohon
KEMURAHAN HATI Anda untuk menyebarkan kisah ini kepada
sanak keluarga Anda, famili, teman2, rekan2 kerja, rekan2
bisnis, atasan, bawahan, sebuah kelompok organisasi
ataupun perusahaan, PELANGGAN, serta siapa saja yang Anda
temui. Kisah ini dapat disebarkan melalui
internet, ataupun difotocopy per banyak (hanya sekitar Rp.
1,500 / 10 lbr) untuk dibagi2kan secara gratis kepada
orang banyak.
Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah
ini. PERTAMA, cuek / tidak peduli / tidak mengerti
kisah ini. KEDUA, tersentuh dengan kisah ini,
tetapi tidak melakukan apapun. KETIGA, tersentuh
dengan kisah ini, intropeksi diri, tetapi tidak
melakukan apapun. KEEMPAT, tersentuh, intropeksi diri, lalu
segera bergerak aktif untuk lebih memperhatikan
kedua orangtuanya dan menjadi seorang anak yang
lebih berbakti.
Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari
Anda, ada satu saja yang termasuk kategori nomor
EMPAT, ini berarti Anda telah berhasil menyadarkan
seseorang akan betapa pentingnya orangtuanya.
Bayangkan kebahagiaan seorang anak yang bersyukur
bahwa ayah dan ibunya masih hidup, lalu berusaha
membahagiakan mereka. Lalu orangtuanya yang begitu bahagia
mengetahui bahwa anaknya juga begitu mencintainya,
seorang anak yang berbakti. Kebahagiaan ini lebih
berharga daripada tumpukan emas permata. Mereka sungguh
beruntung dengan KEHADIRAN ANDA di dunia ini,
yang BERMURAH HATI untuk menyebarkan kisah ini. Ayah, Ibu,
Ketahuilah, Saya Juga Mencintaimu Dengan Segenap Jiwa
Ragaku............. |
Title: Message
