-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of wawan
wawan
Sent: Thursday, September 28, 2006 4:08 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [stan] [fwd] OOT: Dongeng dari Jepang

untuk bacaan dan perbandingan

---------- Forwarded message ---------

Cerita dari teman, menarik untuk diresapi apalagi kalau bisa di contoh.....

Salam

Pris

Rabu, 13 September 2006 06:18:38

 Catatan Perjalanan

 Dongeng dari Jepang

 Oleh Yuli Setyo Indartono

> Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu

> kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti

> sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian

> di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada

> nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak

> dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan

> fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di

> Jepang.



> *Kantor pemerintahan dan pelayanan publik***



> Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira

> situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang

>

 diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor

> senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut

> malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang

> sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan

> mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus.

> Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para

> pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi,

> dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang

> kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu

> ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya

> bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang

> bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari

> pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari

> dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama

> seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam

 dengan pola

> serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan

> perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang,

> bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan

> berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di

>

 internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara;

> kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan

> profesi yang lain.

>

> Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan

> fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai

 keringanan

> tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau

> walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas

> Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan

> saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan

> sambilan

 (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama

> anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal,

> pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau

> tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan"

> dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan

> kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan

> meningkat, sekaligus sangat efisien.

>

> Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar

> berbahasa Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari

> pada saat

 mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya

> melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior

> saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di

> Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain

> hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang

> kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk

> orang-orang yang kurang beruntung.

>

> Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di

> Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya

> diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan

> bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang

> sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah

> seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat

> tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak

> tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf

 divisi tersebut

> akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen

> pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana.

> Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah

> yang saya jumpai di Jepang.

>

> Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami

> sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga

> 10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami

> bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik

 oleh petugas - sebuah

> kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya

> telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan

> kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula

> berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya

>

 sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak

> lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu,

> istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk

> meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam

> harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas

> lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya

> bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun

> dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut.

> Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru

> tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara

 umum,

> menyangkut kehormatan di negara ini.

>

> Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di

> Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul

> 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00

> (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda

> akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya

> membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda

> melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sebagian besar lampu di

> kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali

 saya

> jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar

> pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja -

> versi Jepang.

>

> *Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian***

>

> Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol

> murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah

> mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada

> permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang

> disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut,

> penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi

> sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali

> memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami

> mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah

 melihatnya

> dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan

> kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap

> jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka

> mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan

> dalam

 berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar,

> bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

>

> Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu

> menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang

> tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski

 hanya satu yen

> (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima

> permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan

> praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem

> perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang

> dan

 vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang.

> Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal

> ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-

> beli.

>

> Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak;

 dan

> karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau

> buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur

> dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali

> melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut,

> petugas supermarket

 melihat dan segera mengganti barang-barang

> tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan

> pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini

> adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah

> dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua

> ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket

> menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).

>

> Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk

> sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas

> supermarket di Jepang. Di

 Jepang, bila anda menanyakan keberadaan

> sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada

> anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang

> yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah

> memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah

> petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka

> berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar;

> justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan

> kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko

> elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer

> yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas

> yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli.

>

> *Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi***

>

> Kami sempat

 terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe

> demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah

> dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan

> metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi)

> yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit.

> Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di

> Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di

> jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila

> saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa

> benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe

> dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang

> tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip

> dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau

> mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada

> diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari

 di negara

> dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari,

> kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda.

> Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih

> pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) -

> kedua

 fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot

> dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata

> melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu

> melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang

> akan bekerja.

>

> *Lingkungan hidup dan transportasi***

>

> Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini

> hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah

> negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk

 dihuni.

> Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah

> Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah

> pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk

> terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di

> mancanegara.

 Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni,

> dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan

> kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah

> anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang.

> Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada

> situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas

> kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja.

> Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas,

> sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki

> diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita

> keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang

> senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai

> kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di

> depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya

> tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati

 psikiater

> ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar

> di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan

> dialog dengan dokternya.

>

> Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus,

> kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat

> terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di

> Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan

> sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak

> memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan

 shinkansen (kereta

> antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang.

> Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas

> kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta

> dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak

>

 menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi

> terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik

> di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara

> karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

>

> Nasehat "tengoklah duru kiri dan

 kanan sebelum menyeberang jalan"

> mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang

> di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu

> lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda

> akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan

> kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia,

> kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir

> terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota

> ini.

>

*> Kesehatan dan rumah sakit***

>

> Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih

> mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya

> belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan

> (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat

> perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa

> pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional.

> Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari

> biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya

> akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan

 turun

> menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan

> mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih

> kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang

> dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos

> berobat kami

 selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya

> bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke

> rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang

> menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa

> pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang

> berbeda kepada para pemegang kartu asuransi - apalagi untuk kami yang

> mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter

> dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta

> prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan

> yang sebenar-benarnya.

>

> Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah

> sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah

> sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi

> pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan

> bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari

> dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan

> keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa

> melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari

> Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga

 baru

> datang dua bulan kemudian. Saling percaya adalah kuncinya.

>

> Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School of Science and

> Technology, Kobe University, Japan. Peneliti Istecs dan Ketua

> Teknologi Energi INDENI www.indeni.org. __


[Non-text portions of this message have been removed]



---------------------------------------------
Budayakan menghapus bagian imil yang tidak
perlu. Pandangan di milis ini adalah pandangan
pribadi, tidak mewakili posisi/organisasi pengi-
rim. Petunjuk di http://help.yahoo.com/groups/ 
Yahoo! Groups Links






 




Website FEForum : http://groups.yahoo.com/group/feforum
Website Admin FEForum : http://arga21.blogspot.com
Website Indri <Member FEForum> : http://iniparirian.blogspot.com
Website Zeqen <Member FEForum> : http://zeqen.blogspot.com
Website member yang lainnya : silahkan dikirim urlnya ke admin 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/feforum/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/feforum/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke