Tuesday, January 23, 2007 4:35 PM
   Waspada Kebiasaan Makan Nuggets 

   

    Dari milis sebelah….


    > Petaka Sodom dan Gomora
    > Oleh: F Rahardi
    >
    > Flu burung (avian influenza, AI) tiba-tiba menjadi hantu yang sama
    menakutkan dengan AIDS. Inilah kutukan dari Sodom dan Gomora modern.
    >
    > Agroindustri unggas modern sebenarnya telah menentang alam,
    sekaligus menantang hukum Allah. Itulah yang harus diubah, bukan
    hanya sekadar restrukturisasi menyangkut pembagian kapling.
    >
    > Flu sebenarnya merupakan penyakit lama. Ada tiga tipe virus
    influenza: tipe A yang bisa menyerang hewan maupun manusia dan tipe
    B serta C yang hanya bisa menyerang manusia. Virus tipe A masih
    terdiri atas beberapa subtipe, yakni H (1-15) dan N (1-9). AI
    sendiri sudah terdeteksi sejak 1978 di Italia, tetapi AI subtipe
    baru dengan virus H5N1 pertama kali terdeteksi di Hongkong tahun
    1997. Sejak itu, flu burung menjadi mirip AIDS, menimbulkan gejolak
    atas bisnis perunggasan, sekaligus mengancam hidup manusia.
    >
    > Ketika AI menyerang unggas, virus ini belum menjadi wabah yang
    mendunia. Agroindustri perunggasan lalu menjadi massal dan mendunia,
    dengan benih (DOC/DOD), pakan, hormon pertumbuhan, antibiotik, dan
    obat-obatan dalam dosis tinggi secara intensif. Inilah pemicu utama
    terciptanya virus subtipe baru. Terlebih setelah agroindustri
    peternakan hanya mementingkan keuntungan, tanpa memikirkan dampak
    negatif yang ditimbulkan.
    >
    > Wabah sapi gila di Inggris juga kutukan. Virus penyakit gila ini
    sebenarnya hanya berjangkit pada domba, dan tidak pernah menjadi
    wabah. Namun, agroindustri peternakan di Inggris terlalu rakus.
    Limbah dari rumah potong hewan, terutama tulang-tulang-terdiri
    tulang domba, kambing, sapi, babi, dan ternak lain-digiling dan
    dicampurkan ke konsentrat. Tujuannya adalah efisiensi. Dampaknya,
    terjadi degradasi genetik dan penularan penyakit. Penyakit gila yang
    sebelumnya hanya menyerang domba berjangkit pula ke sapi.
    >
    > "Nuggets" dan sosis tulang
    > Pada agroindustri perunggasan, terutama ayam petelur, yang akan
    dipelihara hanyalah DOC betina. DOC jantan harus dibuang. Jika DOC
    jantan diberikan kepada ikan, dampak negatifnya hampir tidak ada.
    Namun sekali lagi demi efisiensi, DOC jantan langsung dimasukkan ke
    penggilingan dan dicampurkan ke pakan. "Kanibalisme" inilah antara
    lain yang telah mengakibatkan degradasi genetik, sekaligus ikut
    berperan memicu terciptanya virus AI subtipe baru.
    >
    > Namun itu semua belum terlalu mengerikan. Kini, tampaknya konsumen
    kurang jeli melihat (atau tidak menduga) sosis (sapi dan ayam),
    nuggets (ayam), dan kornet (sapi), yang dikonsumsi, sebenarnya bukan
    dari daging, tetapi limbah tulang-belulang. Limbah rumah pemotongan
    hewan dan rumah pemotongan ayam selalu menghasilkan limbah berupa
    tulang keras, tulang rawan, sumsum, urat, dan sedikit daging yang
    masih melekat. Tulang kerasnya dipisahkan dan disebut MBM atau meat
    and bone meal. Ini merupakan bahan campuran industri pakan ternak,
    termasuk unggas.
    >
    > Tulang rawan, urat, sumsum, dan daging disebut meat and debone
    meal (MDM). Produk inilah yang semula menjadi bahan campuran
    industri sosis, kornet, dan nuggets. Kini, MDM menjadi bahan utama
    makanan pabrik itu. Terlebih dalam sosis ayam. Yang dimaksud MDM
    unggas sebenarnya semua limbah ayam digiling, sebab sekeras apa pun
    tulang ayam masih amat lunak untuk menjadi sosis dan nuggets. Kita
    tidak pernah diberi tahu oleh Asosiasi Produsen Makanan Olahan
    Daging (National Association Meat Producer = NAMPA), berapa persen
    sebenarnya kandungan MDM pada tiap sosis dan nuggets. Jangan-jangan
    sudah 100 persen.
    >
    > Pola industri ternak seperti ini sebenarnya sudah melawan hukum
    alam, sekaligus hukum AllahSWT. Sapi dan domba aslinya herbivora. Dalam
    industri modern mereka dipaksa menjadi karnivora, bahkan kanibal.
    Unggas makan biji-bijian dan kadang serangga serta cacing. Tetapi
    mereka tidak pernah kanibal. Bahkan elang dan gagak yang karnivora
    pun tidak pernah kanibal. Tetapi manusia telah memaksa ayam dan itik
    menjadi kanibal. Bahkan DOC, anak ayam yang baru menetas pun, harus
    kembali digiling untuk dimakan oleh induk-induk mereka. Ini sudah
    lebih sadis dibanding kisah Sodom dan Gomora.
    >
    > Limbah dari AS
    > Rakyat AS relatif cerdas dalam melihat "penyimpangan" atas hukum
    alam ini. Selain cerdas, mereka kaya. Itu sebabnya mereka tidak
    menyantap bagian lain dari ayam, kecuali daging dada. Kulit, daging
    paha, daging sayap, hati, ampela, tabu disantap. Apalagi kepala,
    leher, pantat, dan ceker. Semua itu harus dibuang. Lembaga konsumen
    AS juga ketat hingga limbah itu tidak bisa digiling begitu saja dan
    dijadikan pakan. Kasus sapi gila di Inggris membuat rakyat AS lebih
    waspada.
    >
    > Ke manakah limbah yang masih layak makan itu dibuang? Tentu ke
    negara yang penduduknya banyak dan ekonominya lemah. Sasaran utama
    membuang paha dan sayap ayam adalah RRC, India, dan Indonesia. MDM
    hasil penggilingan limbah unggas juga dibuang ke negara berkembang
    dan negara miskin. Untuk sarana pembuangan, kota-kota besar di
    negara berkembang siap dengan restoran cepat saji dan pasar
    swalayan. Saat memungut sosis ayam dan nuggets, ibu-ibu pasti tak
    pernah membayangkan, bahan utama produk itu bukan daging, tetapi
    limbah.
    >
    > Sebenarnya pemerintah harus mulai memperkuat agroindustri
    perunggasan tradisional peternakan itik sebagai penyeimbang.
    Kelembagaan peternakan rakyat ini sebenarnya sudah amat kuat. Hanya
    alokasi modal dan fasilitas lain tidak pernah tertuju ke mereka,
    sebab mereka bukan pengusaha yang punya kapling dalam Gabungan
    Perusahaan Perunggasan Indonesia (Gappi). Jika para peternak itik
    yang sudah massal pun tak tersentuh perhatian pemerintah, ayam
    kampung lebih tak terperhatikan lagi. Rakyat memang harus tabah
    dalam menerima petaka Sodom dan Gomora modern berupa wabah flu
    burung.
    >

    Sumber Berita :
    > F Rahardi Wartawan; Penyair
    > OPINI, Kompas, Jumat, 19 Januari 2007, halaman 6




      

Kirim email ke