BANTAHAN. Tak berapa lama, banyak bantahan yg masuk, terutama dari seseorang yang mengaku bekerja sebagai Direktur Ekskutif NAMPA (instansi yang terkait dengan makanan). Berikut adalah bantahannya
***bantahan dimulai (diedit tanpa mengurangi makna)*** Soalnya saya kebetulan adalah Direktur Ekskutif NAMPA yang dia sebut tidak mau memberi tahu berapa persen MDM yang ada, padahal saya tahu pasti dia tidak pernah bertanya pada kami. Lalu lagi dia salah mengartikan kepanjangan MDM sebagai Meat Deboned Meal, seharusnya Mechanical Deboned Meat, yaitu daging yang diperoleh dari pemisahan daging yang masih tertempel di tulang ayam, misal di kerongkongan yang memang masih banyak dagingnya, ataupun kalau Ibu melihat di supermarket menjual paha atau dada ayam tanpa tulang. Maka sebenarnya di tulang yang sudah diambil dagingnya dengan manual itu masih bisa diambil lagi daging dengan suatu mesin modern yang namanya Meat Bone Separator. Dalam syarat MDM untuk makanan manusia , ditentukan bahwa kadar calcium di bawah 0,5 % (angka pasti saya carikan nanti ya), ini akan menunjukkan bahwa daging itu tidak tercampur tulang ayam secara signifikan significant, artinya jauh di bawah 1 persen dan terbentuknya juga sangat halus. Kita tahu, bahwa kita juga suka mengerogoti kerongkongan ayam yang memang masih banyak dagingnya, apalagi kalau untuk sop ayam. Kadar gizi daging ayam MDM ini cukup baik kadar proteinnya adalah sebesar 15 %, dalam range 13 sampai 16 persen. Saat ini baru dua produsen Indonesia yang memproduksi MDM ini yaitu Charoen Phophand dan Ciomas yang grupnya Japfa, dua perusahaan amat besar yang nggak akan sembarangan memproduksi Mereka juga memproduksi nugget dan sosis. Mereka perusahaan berskala dunia. Perlu diketahui MDM ayam itu benar daging ayam dan bukan tulang, di negara maju seperti Australia , Prancis juga diproduksi, saya punya spesifikasinya kalau Ibu mau, dan jelas itu fit for human consumption. Mengenai jumlah yang dipakai , umumnya jauh di bawah 30 persen, dan dipakai untuk menggantikan sebagian daging ayam yang mahal dan sebagian filler/tepung yang murah. Lha memang ketersediaan MDM-nya juga sedikit.. Sebagai akibat, karena daging utuh diganti daging MDM (daging utuh yang mahal itupun harus di hancurkan/digiling kalau mau di bikin sosis) maka mutu (misal kadar protein) tetap dipertahankan, sementara dia juga bisa digunakan sebagai pengganti tepung filler dan fat, yang malah menaikkan mutu, karena kadar protein MDM jauh lebih tinggi dari Fat dan tepung filler (pengikat), sehingga malah bisa menaikkan mutu tanpa menaikkan harga. Walhasil... dalam situasi daya beli rendah, penggunaan MDM dapat jadi solusi membuat produk berprotein hewani tinggi dengan harga terjangkau dan sama sekali nggak ada tulang. Rakyat bisa jadi sehat walau kantong relatip tipis.. Begitulah kejamnya fitnah Rahadi yang menyebut sosis tulang , dan dimuat lagi oleh koran Kompas, tanpa mengecek ke industri bersangkutan. Sampai Ibu pun merasa tertohok NAMPA ingin menurunkan artikel balasan tentang ini, sudah berpikir negatip, bahwa tak akan dimuat oleh Kompas, karena pengalaman saya terdahulu dalam issue daging impor. Ada teman di FPK, yang bisa menolong atau menjamin , klarifikasi Nampa dimuat Kompas ?? Kami seyogianya, mendapat tempat yang sama banyak dengan saudara Rahadi, yang penyair ahli peternakan dan makanan ini. Kalau sdr Rahadi membaca ini, boleh juga menghubungi saya.. Buat Ibu-ibu, saya ingin meyakinkan bahwa anggota NAMPA, semuanya adalah perusahaan bonafide, yang tidak akan berkompromi terhadp keamanan pangan. Seluruh produksi anggota kami yang beredar telah memiliki no pendaftaran MD yang berarti sudah di periksa keamanannya oleh pihak BPOM. Dan memang tidak ada sosis atau nugget yang menggunakan tulang. Buat ahli hukum... bisa nggak sih tulisan Rahadi begini di bawa ke pengadilan??? Buat orang Pers, bagaimana sih kebijakan pers dalam memuat suatu berita bohong yang dampaknya bisa buruk pada indsuti bersangkutan, sementara sektor riil kita jelas lagi menderita...?? Atau anda berpendapat yang penting koranmu laku ??? Padahal saya yakin ada orang Kompas tahu dimana bisa hubungi NAMPA, lalu saya yakin Rahadi juga bisa cari info alamat NAMPA. Kompas korann besar yang bisa membei dampak besar.. mohon lebih cermat dengan issue sensitip.. jangan hanya hati hati denganissue agama aja dong... (mana berani siar berita poligami misalnya , .. ya kan Bu Mariana??).. Ketika Trans TV bikin berita soal bakso tikus.. berapa kerugian yang timbul kepada pengusaha bakso dan tukang bakso di pinggir jalan. Padahal barangkali yang bikin begitu cuma satu pengusaha. Andai aja Trans TV bisa memberitakan sekaligus menjaga agar dampak buruknya tak terjadi... ? Kasus itu pun kami laporkan pada Komisi Penyiaran Indonesia, tapi Sinansari Ecip cuma jadi juru pos, yang meneruskan surat kami ke Trans TV lalu, mengirim jawaban Trans TV ke kami. Kompas??? Your comment please... bikin susah ibu-ibu ... bikin berat pikiran ibu ibu dengan berita nggak benar.... ?? NAMPA ingin sekali melakukan klarifikasi .. tapi mohon Kompas mau memfasilitasinya dengan kesempatan yang setidaknya sama dengan tulisan Rahadi. Tulisan ini, masih tulisan pribadi saya, walau jabatan Direktur Ekskutif Nampa dan kesarjanaan teknologi pangan memang kebetulan melekat pada saya. (Kalau statement NAMPA ya harus liwat prosedur kan..) Adakah Rahadi bersama pihak pihak yang ingin menghancurkan sektor riil yang sudah babak belur.. agar negara ini hancur sekalian..dengan menyiarkan berita bohong.?? Lha tahu arti MDM sebenarnya aja nggak nggak (buktinya salah memperpanjang). Mengenai jumlah MDM yangd ipakai , sekali lagi karena hanya dua produsen yang ada, justru kita tidak mungkin memakai banyak karena suplainya memang sedikit... sebaliknya jika ada banyak... maka rakyat Indonesia bisa menikmati sosis begrizi tinggi dengan harga terjangkau, tepat seperti saudara saudara kita di Malaysia, di Filipina di Thailand bahkan di negara maju.. Jadi misalnya Ibu ke supermarket dan beli sosis ayam merk Doux, maka itu juga ada MDM nya.., begitupun produk Malaysia.. Bayangkan bahan baku yang memang berstandar "fit for human consumption" dengan kadar protein bisa mencapai 16 % ..murah lagi... Kalu kita tahu permasalahan bangs asaat ini, dimana rakyat nya butuh protein hewani yang tinggi tapi murah .. tentu mikir sejuta kali menurunkan berita bohong ini. Rahadi pun eksplisit berani bilang kita bodoh karena mau mengkonsumsi paha ayam dan sayap..buntutu dan ceker, karena dalam tulisannya dia bilang orang Amerika pintar karena tidak mengkonsumsi hal diatas.. Pertanyaannya benarkan kita kita ini, yang makan paha ayam, dan sayap bodoh? atau Rahadinya yang bodoh..? Biar Rahadi penyair yang ahli makanan yang menjawabnya. Salam Haniwar ***bantahan selesai*** Well...ternyata Kompas kecolongan berita bohong alias hoax... Mudah2an artikel ini berguna...
65.gif
Description: GIF image
4.gif
Description: GIF image

