Mozaik 8 Baju Safari Ayahku
Ibuku,jelas lebih pintar dari ayahku.Ibuku paling tidakbiasa menuliskan namanya dengan huruf Latin. Ayahku,hanya bisa menuliskan namanya dengan huruf Arab,huruf Arab gundul. Dan tanda tangannya pun seperti huruf shot.Tahu,'kan?Sebelum tho dan zho itu. Dan ayahhku adalah pria yang sangat pendiam.Jika berada di rumah dengan ibuku,rumah kami menjadi pentas menolong ibuku,berpenonton satu orang.Namun,belasan tahun sudah jadi anaknya.Aku belajar bahwa pria pendiam sesungguhnya memiliki rasa kasih sayang yang jauh berlebih disbanding pria sok ngatur yang merepet saja mulutnya. Buktinya,jika tiba hari pembagian rapor,ayahku mengambil cuti dua hari dari menyekop xenotim di instalasi pencucian timah,wasrai.Hari pembagian raporku adalah hari besar bagi beliau.Tanpa banyak cincong hari pertama beliau mengeluarkan sepatunya yang bermerek Angkasa.Dijemurnya sepatu kulit buaya yang rupanya seperti tatakan kue sempret itu,dipolesnya lembut dengan minyak rem dicampur tumbukan arang.lalu ikat pinggangnya,dari plastic tapi meniru motif ular,juga mendapat sentuhan semir istimewa itu.Dijemurnya pula kaus kakinya,sepasang kaus kaki sepak bola yang tebal sampai ke lutut,berwarna hijau tua. Setelah itu,special sekali,beliau akan menuntun keluar sepeda Rally Robinson made in England-nya yang masih mengilap.Sejak dibeli kakeknya tahun 1920,tak habis hitungan jari tangan kaki sepeda itu pernah dikeluarkan.Diperiksanya dengan teliti ban dan rantainya,dicobanya dynamo dan kliningnnya,dan tak lupa,sepeda itu pun mendapat kehormatan dipoles ramuan semir merek beliau sendiri tadi. Dan yang terakhir,hanya,sekali lagi hanya,untuk acara yang sangat penting,beliau mengeluarkan busana terbaiknya:baju safari empat saku!Baju ini punya nilai histories bagi keluarga kami.Aku ingat,setelah bertahun-tahun menjadi tenaga langkong,semacam calon pegawai PN Timah,akhirnya ayahku diangkat menjadi kuli tetap. Bonus pengangkatan itu adalah kain putih kasar bergaris-garis hitam.Oleh ibuku kain itu dijadikan lima potong celana dan baju safari sehingga pada hari raya Idul Fitri ayahku,aku,adik laki-lakiku,dan kedua abangku memakai baju seragam:safari empat saku!Kami silahturahmi keliling kampung seperti rombongan petugas cacar. Saat pembagian rapor,ibuku pun tak kalah repot.Sehari semalam beliau merendam daun pandan dan bunga kenanga untuk dipercikkan di baju safari empat saku ayahku itu ketika menyetrikanya. Persiapan ayahku mengambil rapor akan ditutup dengan berangkat ke kawasan los pasar ikan untuk mencukur rambut dan kumis ubannya.Di sana,sambil memperlihatkan amplop undangan dari Pak Mustar,wakil kepala sekolah kami itu,beliau sedikit bicara,seperti berbisik,pada kawan-kawan dekatnya,para pejabat trias politika Masjid Al-Hikmah. "Besok,akan mengambil rapor Arai dan Ikal.." Senyum ayahku indah sekali.Karena baginya aku dan Arai adalah pahlawan keluarga kami. "Oh...si Kancil Keriting itu,Pak Cik?" Taikong Hamin selalu menatap ayahku lama-lama untuk mengharapkan lebih banyak kata meluncur dari mulut beliau.itulah orang pendiam,kata-katanya ditunggu orang.Sebenarnya,dengan memperlihatkan isi amplop itu ayahku bisa membual sejadijadinya. Karena dalam undangan tertulis aku dan Arai berada dalam barisan bangku garda depan.Siswa yang tak buruk prestasinya di SMAN Negeri Bukan Main.Tapi bagai ayahku,tujuh kata itu:besok,akan mengambil rapor Arai dan Ikal,yang terdiri atas tiga puluh empat karakter itu,sudah cukup. Pada hari pembagian rapor,ayah ibuku telah menyiapkan segalanya.Suami istri itu bangun pukul tiga pagi.Ibuku menyalakan arang dalam setrikaan,mengipasngipasinya, dan dengan gesit memercikkan air pandan dan bunga kenanga,yang telah direndamnya sehari semalam,di sekujur baju safari empat saku keramat itu.Ayahku kembali melakukan pengecekan pada sepedanya untuk sebuah perjalanan jauh yang sangat penting. Usai salat subuh ayahku siap berangkat.Dengan setelan lengkapnya:ikat pinggang bermotif ular tanah,sepatu kulit buaya yang mengilap,dan kaus kaki sepak bola,serta baju safari jahitan istrinya tahun 1972,yang sekarang berbau harum seperti kue bugis,kesan seorang buruh kasar di intalasi pencucian timah menguap dari ayahandaku.Sekarang beliau adalah mantri cacar,syahbandar,atau paling tidak,tampak laksana juru tulis kantor desa.Ibuku menyampirkan karung timah berisi botol air minum dan handuk untuk menyeka keringat,Lalu beliau bersepeda ke Magai,ke SMA Negeri Bukan Main,30 kilometer jauhnya,untuk mengambil rapor anak-anaknya. Dibawah rindang dedaunan bungur,di depan aula tempat pembagian rapor,sejak pagi aku dan Arai menunggu ayahku.Aku membayangkan beliau,yang akan pensiun bulan depan,bersepada pelan-pelan melalui hamparan perdu apit-apit,kebun-kebun liar,dan jejeran panjang pohon angsana reklamasi bumi Belitong yang dihancurkanleburkan PN Timah..Lalu beliau beristirahat di pinggir jalan. Beliau pasti menuntun sepedanya waktu mendaki Bukit Selumar,dan tetap menuntunnya ketika menuruni undakan itu sebab terlalu curam berbahaya,Beliau kembali melakukan hal yang sama saat melewati Bukit Selinsing,dan kembali terseok-seok mengayuh sepeda melawan angin melalui padang sabana belasan kolometer menjelang Magai. Tapi tak mengapa,sebab kesurupan beliau akan kami obati disini.Di dalam aula itu,Pak Mustar mengurutkan dengan teliti seluruh rangking dari tiga kelas angkatan pertama SMA kami.Dari rangking pertama sampai terakhir 160.Semua orangtua murid dikumpulkan di aula dengan nomor kursi besar-besar,sesuai rangking anaknya.Nomor itu juga dicatumkan dalam undangan.Bukan Pak Mustar namanya kalau tidak keras seperti itu.Maka pembagian rapor adalah acara yang dapat membanggakan bagi sebagian orang tua sekaligus memalukan bagi sebagian lainnya. Pak Mustar menjejer sepuluh kursi khusus di depan.Di sanalah berhak duduk para orang tua yang anaknya meraih prestasi sepuluh besar. "Sepuluh terbaik itu adalah anak-anak Melayu avant garde,garda depan,"katanya bangga ketika mengenalkan konsepnya pada rapat orangtua murid. Dan kebetulan,aku dan Arai berada di garda depan.Aku urutan ketiga,Arai kelima.Adapun Jimbron,mempersembahkan nomor kursi 78 untuk Pendeta Geo.Biasanya acara pembagian rapor akan berakhir dengan makian-makian kasar orangtua pada anakanaknya di bawah jajaran pohon bungur di depan aula tadi. "Berani-beraninya kaududukkan bapakmu di kursi nomor 147!Apa kerjamu di sekolah selama ini?!" "Bikin malu!Semester depan kau cari bapak lain untuk mengambil rapormu!!" Metode Pak Mustar memang keras,tapi efektif.Anak-anak yang dimaki bapaknya itu biasanya belajar jungkir balik dalam rangka memperkecil nomor kursinya.Mereka sadar bahwa muka bapaknya dipertaruhkan langsung di depan majelis. Aku dan Arai serentak berdiri ketika melihat sepeda ayahku.Sepeda itu mudah dikenali dari kap lampu alumunium putih yang menyilaukan ditimpa sinar matahari.Beliau melihat kami melambai-lambai dan mengayuh sepedanya makin cepat.Lima meter menjelang kami,dadaku sejuk berbunga-bunga karena aroma daun pandan. Beliau turun dari sepeda,seperti biasa,hanya satu ucapan pelan "Assalamu'alaikum",tak ada kata lain.Beliau menepuk-nepuk pundak kami sambil memberikan senyumnya yang indah.Beliau mengelap keringat,merapikan rambutnya dengan tangan.dan berjalan tenang memasuki aula dengan gaya jalannya yang pengkor,mencari kursi nomor tiga. Tepuk tangan ramai bersahutan ketika nama ayahku dipanggil.Setelah menerima raporku,Pak Mustar mempersilakan ayahku menempati kursi nomor lima yang kosong,dan tepuk tangan kembali membahana waktu namanya kembali dipanggil untuk mengambil rapor Arai,Tidak terlalu buruk,seorang tukang sekop di wasrai dipanggil dua kali oleh Kepala SMA Negeri Bukan Main.Kulihat senyum menawan ayahku dan aku tahu,saat itu adalah momen terbaik dalam hidupnya. Selesai menerima rapor,ayahku keluar dari aula dengan tenang dan dapat kutangkap keharuan sekaligus kebanggaan yang sangat beasr dalam dirinya.Beliau menemui kami,tapi tetap diam.Dan inilah momen yang paling kutunggu.Momen itu hanya sekilas,yaitu ketika beliau bergantian menatap kami dan dengan jelas menyiratkan bahwa kami adalah pahlawan baginya.Dan kami ingin,ingin sekali dengan penuh hati,menjadi pahlawan bagi beliau.Lalu ayahku tersenyum bangga,hanya tersenyum,tak ada sepatah kata pun.Senyumnya itu seperti ucapan terimah kasih yang diucapkan melalui senyum.Beliau menepuk-nepuk pundak kami,mengucapkan "Assalamu'alaikum" dengan pelan sekali,lalu beranjak pulang. Mengayuh sepedanya lagi,30 kilometer.Kupadangi punggung ayahku sampai jauh. Sepedanya berkelak-kelok di atas jalan pasir. Betapa aku mencintai laki-laki pendiam itu. Setiap dua minggu aku bertemu dengannya,tapi setiap hari aku merindukannya. - Sang Pemimpi - Andrea Hirata

