Oct 26, 2008 in True Story

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, Dan sempat dipublikasikan 
lewat media cetak dan electronic.

Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, 
rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru 
beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia 
sudah di promosikan ke posisi manager. Gaji-nya pun lumayan.

Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris 
dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul 
dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan 
tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian 
kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. 
Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya 
sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 
seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar 
dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain 
adalah Ibu kandung A Be.

Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu 
rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci 
(pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar 
kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya 
anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup 
sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang 
bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah 
pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. "Dia tidak punya saudara, 
jadi saya tampung, kasihan." jawab A be.

Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih 
sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin 
jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan 
mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia 
jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan 
mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan 
sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan 
obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit 
sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali).

Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan dirumah. Pada saat 
ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah box 
kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi 
perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang 
wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa 
pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan 
memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah 
menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar 
cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.

Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di 
dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. 
Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. 
Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam 
foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang 
Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun 
atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan 
ketulusan hati anaknya. " Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di 
ungkit lagi".

Setelah ibunya sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja kesupermarket. 
Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian 
peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini 
kedalam media cetak dan elektronik.

Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun 
kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu. Jangan 
sia-sia kan budi jasa ibu selama ini yang merawat dan membesarkan kita tanpa 
pamrih. kasih seorang ibu sungguh mulia.

- happy ending  -

sumber : forum.kapanlagi.com

Kirim email ke