Tadi pagi saya membaca artikel ini, mengharukan sekali membacanya, sebuah
tulisan yang sangat inspiratif! Semua orang harus sekolah, karena
pendidikan lah yang mampu mengubah keadaan.

"pendidikan adalah ekskalator untuk menaikkan posisi rakyat jelata dari
ketertinggalan dan ketergantungan jadi kemajuan dan kemandirian (Anies
Baswedan)"

selamat menikmati,
salam,
Avel
*Meja Telepon Ibu*
*Siti Horiah** *
*Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir 2012*

<http://tf.ugm.ac.id/images/mahasiswa/SitiHoriah.jpg>
Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak
sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah
yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah
satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih
dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami
dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.

Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku.
Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang
berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu
lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan
uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang
berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian
ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring,
panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.

Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya.
Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang
dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.

***
Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang
sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan
gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku
menangis terlalu lama.

*“ibu, ibu aku lapar!” *jerit Rafi.

Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil
beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa
yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir
kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari
kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap
memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh
berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung
menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku
pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan
diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.

Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan
kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang
ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang
ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter
beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi
menuruti perintah ibu.

Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku
memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur
itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk
dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku
pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua,
bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi
setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus
dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk
sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu
makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya
diberikan pada adik-adikku saja.

Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada
kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran
ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela
berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih
tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.

Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi
menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah.
Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran
kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih
menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada
saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual,
akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak
dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.

*“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan
untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” *Ungkapnya
sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini,
demi sepiring nasi untuk keenam adikku.

Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya
karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu
untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja
itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.

Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan
banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga.
Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA.
Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku
menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa
menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku
tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama
untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu
adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat
semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan
karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.

Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua
cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku
berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku
lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku
kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku
termasuk murid yang berprestasi disekolah.

Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu
aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku
masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah
satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi.
Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang
selama ini aku rahasiakan dari dunia.

Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada
siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku
itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau
orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi
selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir
sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya,
mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang
tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.

Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya
aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar
siapapun.

*“ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau
masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” *jerit hati kecil ini.

***

Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang
terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi
SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku
paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli
buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap
subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur
buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu
hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik
angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus
berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang
sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli
dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA.
Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3
seperti aku ini.

Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang
banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami.
Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah
sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut
kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa
kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa
membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil
itu dan Tuhan yang tahu.

***

Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi
dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku
tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak
seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi
itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi
saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah
bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata
mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar
mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau.
Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik
seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.

Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar
seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan
uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada
kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah
kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku
SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan
sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir
walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga
ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.

***

*“Kamu mau kuliah?”* sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.

Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi
yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh
lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir
bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu
bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku
SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu.
Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan
ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut,
ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan
pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku.
Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar
yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau
beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum
melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir
kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.

***

Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya
dengan ibuku menegurku.

*“kamu mau kuliah yah neng?”. *Tegurnya sambil tertawa kecil.

Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada
dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati
diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan
‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua
orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya,
upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk
biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.

Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu
membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.

Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu
mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin
kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang
mau menerima orang miskin seperti aku ini.

Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku
yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku.
Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling
aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu
semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku
malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah
sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua
orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu
karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.

***

Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.

*“Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!”* ucap Lidia

Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran
murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang
bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah
keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku
berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan
untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar
terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan
menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji
ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat
itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan
segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua
orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.

Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku
memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR
pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan
fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku
untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama.
Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak
perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun
senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku
pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya
pesan ayah padaku yang selalu ku ingat.Aku senang dan aku ingin membuktikan
pada semua orang yang telah menghina mimpiku.Aku ingin membuktikan kalau
impianku ini akan segera terwujud.

***

Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan
diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit
dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap
harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada
tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku
seperti ini.

*“Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” *Ucapnya
sinis
Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku,
tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi
prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau
mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

***

Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat
kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua
orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang
bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan
senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di
Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas
bergengsi dan nomor satu terbaik di Negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana
namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya
di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.

Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku.
Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku
ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain.
Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang
bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan
dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang
kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki
Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi
kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku
tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi
manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh
mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih
impian.


sumber:

http://tf.ugm.ac.id/index.php/14-prestasi/112-mahasiswa-teknik-fisika-ft-ugm-memenangi-lomba-menulis-kisah-inspiratif-kamakarya-2013

Kirim email ke