BERITA ESDM
TANGGAL : 11 FEBRUARI 2015
SUMBER : 1. Harian KONTAN
2. Bisnis Indonesia
3. Investor Daily
TAMBANG
Produsen Batubara Siap Gugat Kebijakan Royalti dan Bea Keluar
Pemerintah tak kompak soal bea keluar batubara. Kementerian ESDM dan
Kementerian Keuangan belum satu suara soal bea keluar ekspor batubara tersebut.
Kementerian ESDM menilai, rencana Kemenkeu mengutip bea keluar bisa mengganggu
industri. Sehingga ESDM mengakomodasi keinginan pengusaha agar Kemenkeu
membatalkan rencana pungutan bea keluar ekspor batubara.
Dirjen Minerba Kementerian ESDM R Sukhyar mengatakan, pengenaan bea keluar akan
mengganggu kinerja pengusaha batubara. Sebab saat ini, harga batubara sedang
rendah-rendahnya. “Secara lisan sudah kami sampaikan ke Kementerian Keuangan.
Kami juga sudah mengirim surat ke Badan Kebijakan Fiskal (BKF),” kata dia.
Sementara BKF masih ngotot ingin mengutip bea keluar ekspor batubara. Bahkan
BKF mengusulkan supaya bea keluar ekspor dalam amandemen PKP2B.
Jika pemerintah jadi memberlakukan royalti dan bea keluar, Waskito Tanuwijoyo,
GM Exploration PT Bhakti Coal Resources mengancam perusahaannya melalui
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) siap mengajukan gugatan
terhadap kebijakan pemerintah tersebut, baik kenaikan royalti maupun bea keluar.
“Kami sudah pasti bisa minus atau rugi, para produsen saya pikir akan protes
melalui APBI untuk menolak penerapan itu,” kata Waskito. (Harian Kontan- hal
14)
Nasib 9 PKP2B yang Telah Sepakati Draft Amandemen Kontrak Tunggu Keputusan BKF
Nasib sembilan perusahaan batubara pemegang PKP2B yang telah menyepakati draft
amandemen kontrak masih menunggu keputusan Badan Kebijakan Fiskal (BKF)
Kementerian Keuangan.
Dirjen Minerba Kementerian ESDM R Sukhyar mengatakan, permintaan penerapan bea
keluar ekspor batubara seharusnya sejalan dengan upaya konservasi batubara
untuk kebutuhan dalam negeri, sehingga pengenaan pungutan itu bukan demi
menggenjot devisa negara.
“Sya sudah kirim surat ke BKF (Badan Kebijakan Fiskal). Isinya kira-kira
seperti itu. Tidak mengenakan bea keluar,” kata Sukhyar.
Sembilan PKP2B tersebut adalah PT Indominco Mandiri, PT Borneo Indobara, PT
Gunungbayan Pratama Coal, PT Indexim Coalindo, PT Trubaindo Coal Mining, PT
Kartika Selabumi Mining, PT Jorong Barutama Greston, PT Mandiri Inti Perkasa
dan PT Bahari Cakrawala Sebuku. (Bisnis Indonesia- hal 27)
ESDM akan Beri Perpanjangan Izin Ekspor Konsentrat Newmont
Kementerian ESDM akan memberi perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga bagi
PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Namun perpanjangan izin ekspor itu harus
didasari atas permohonan dari NNT.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM R Sukhyar mengatakan,
perpanjangan izin ekspor mengacu pada kemajuan pembangunan pabrik pengolahan
dan pemurnian (smelter). Menurutnya, NNT bekerjasama dengan PT Freeport
Indonesia dalam membangun smelter.
“Karena Freeport sudah dapat perpanjangan izin ekspor, maka NNT juga (akan
dapat perpanjangan),” kata Sukhyar. (Investor Daily- hal 9)
Smelter Pig Iron PT Megatop Inti Selaras akan Beroperasi 2016
Dirjen Minerba Kementerian ESDM R. Sukhyar mengatakan, smelter besi wantah atau
pig iron dari konsentrat pasir besi milik PT Megatop Inti Selaras bakal
beroperasi pada akhir 2016.
Proyek itu berlokasi di Cianjur Jawa barat yang konstruksinya telah dimulai
sejak Januari 2013. Megatop merupakan bagian dari perusahaan asal China, Fuhai
Group Limited.
Dalam dokumen pertemuan antara Menteri ESDM dengan pimpinan Fuhai Group
menyebutkan Megatop menggelontorkan investasi untuk smelter itu sekitar US$200
juta dengan biaya modal US$73 juta. Smelter itu membutuhkan listrik sekitar 15
MW yang diperoleh dari generator. (Bisnis Indonesia – hal 27)
ABM Investama akan Masuk ke Sektor Konstruksi Pertambangan Nikel dan Bahan Baku
Semen
PT ABM Investama Tbk melalui anak usahanya PT Cipta kridatama akan masuk ke
sektor konstruksi pertambangan nikel dan bahan baku semen. Perluasan usaha itu
untuk menggenjot pendapatan di luar pertambangan batubara.
Direktur ABM Investama Yovie Priadi mengungkapkan, pendapatan terbesar
perseroan selama ini berasal dari bisnis kontraktor batubara. Pendapatan dari
sektor tersebut cukup jauh perbandingannya dibandingkan dengan unit bisnis
lainnya. “dalam lima tahun mendatang, perseroan menargetkan kontribusi
pendapatan di luar pertambangan batubara mencapai 40%,” kata Yovie. (Investor
Daily- hal 15)
Renuka Coalindo akan Tingkatkan Produksi Batubara jadi 5 juta ton pada 2016
PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI –kode emiten BEI) berencana menambah produksi
batubara dari tambang yang dikelola anak usaha perseroan PT Jambi Prima Coal
(JMC), menjadi lima juta metrik ton (MT) pada 2016.
Renuka berpeluang memperoleh pendapatan sebesar US$ 295 juta setelah penambahan
produksi itu, dengan asumsi harga batubara sebesar US$ 59,15 per MT.
“Perusahaan sedang berdiskusi dengan beberapa pelanggan dari India dan
Indonesia mengenai kontrak jangka panjang seiring peningkatan produksi,” kata
Shantanu Lath, Direktur Keuangan Renuka Coalindo.
Berdasar data The Australian Join Ore Reserves Committee (JORC), tambang JMC di
Kabupaten Sarolangun, Jambi diperkirakan memiliki sumber daya sebesar 120,3
juta MT dan cadangan sebesar 92,6 juta MT. (Investor Daily- hal 14)
Indo Bara Perbarui Kontrak Ekspor Batubara
Perusahaan tambang batubara PT Indo Wana Bara Mining Coal (Indo Bara), yang
dimiliki PT Sekawan Intipratama Tbk menandatangani amandemen perjanjian jual
beli batubara dengan tiga pembeli dari luar negeri.
Sekretaris Perusahaan Sekawan Intiparatama, Hery Priambodo mengatakan,
amandemen perjanjian dengan perusahaan itu adalah jadwal pengiriman yang
ditunda dari 2014 menjadi tahun 2015. “Untuk harga jual tidak diamandemen.”
Indo Bara akan memasok batubara ke Vietnam Binh Duong Corporation sebanyak 30
juta ton dari Agsutus 2015 sampai 2030.
Indo Bara akan memasok ke Hong Kong Evertrade Ltd sebanyak 90 juta ton dari
Juni 2015 sampai 2018. Dan yang terakhir, Indo Bara akan memasok ke Asia
Express Group Ltd sebanyak 30 juta ton dari Juni 2015 sampai 2020. (Harian
Kontan- hal 14)
Cokal Peroleh US$ 110 juta untuk Kembangkan Proyek Tambang PT Bumi Barito
Mineral
Perusahaan batubara jenis kokas asal Australia, Cokal Limited (ltd) mendapatkan
pendanaan sebesar US$ 110 juta untuk menggeber produksi. Dua investor yang
mengucurkan dana adalah, Cedrus International Limited dan Platinum Partners.
Dana ini akan dipakai untuk proyek tambang anak usaha Cokal Ltd, yakni PT Bumi
Barito Mineral. “Pinjaman sindikasi sebesar US$ 110 juta dan bunga 13% dengan
jangka waktu delapan tahun,” ujar Peter Lynch, Chairman Cokal Ltd.
Investor Relations Cokal Ltd Endah Ari Cakrawati menyatakan, saat ini persiapan
untuk produksi batubara jenis kokas masih sesuai dengan rencana. (Harian
Kontan- hal 14)
PT Merdeka Copper Gold, Unit Tambang Saratoga Group akan IPO
Group Saratoga kembali bersiap menawarkan kepemilikan saham di salah satu anak
usaha, melalui penawaran umum perdana saham alias IPO. Anak usaha itu adalah
PT Merdeka Copper Gold.
Perusahaan yang berbasis di Banyuwangi, Jawa Timur ini merupakan perusahaan
tambang emas dan tembaga yang belum berproduksi. PT Merdeka copper Gold ingin
memanfaatkan aturan Bursa Efek Indonesia (BEI) Nomor I-A.1 tentang Pencatatan
Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan Perusahaan Bidang
Pertambangan Mineral dan Batubara. (Harian Kontan- hal 5)
J Resources Butuh US$ 300 Juta untuk Garap Tambang Emas di Bakan, Sulut dan
Seruyung, Kalimantan Utara
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), perusahaan pertambangan emas milik
Johan Lensa, membutuhkan dana sebesar US$ 300 juta atau sekitar Rp 3,8 triliun
untuk mengembangkan tambang emas di Bakan, Sulawesi Utara dan Seruyung,
Kalimantan Utara.
Direktur J Resources Edi Permadi mengatakan, dana pengembangan blok emas akan
berasal dari hasil penerbitan obligasi global. Namun, pihaknya masih belum
bisa memastikan kapan surat utang tersebut diterbitkan.
“Kami sudah memperoleh persetujuan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) akhir
tahun lalu. Meski demikian, kami masih menunggu waktu, karena harga emas masih
lemah.” (Investor Daily – hal 14)
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) Gadaikan 51% Sahamnya ke PT J Resources
Nusantara
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) resmi menggadaikan 51% sahamnya di PT J
Resources Nusantara. Ini jaminan atas utang sindikasi PSAB senilai US$ 275
juta terhadap sejumlah bank.
PSAB meneken akta gadai saham antara perseroan dan Bank Permata pada 6 Februari
2015. Hal ini sesuai ketentuan dalam perjanjian sindikasi PSAB dengan
Indonesia Eximbank, Qatar National Bank SAQ, Bank QNB Keswan, Bank Permata dan
Bank ICBC. “J Resources dan anak perusahaan telah menandatangani perjanjian
fasilitas kredit US$ 275 juta pada November 2013,” ungkap William Surnata,
Direktur PSAB. (Harian Kontan- Hal 5)
Dua Perusahaan asal China, Fuhai Group Ltd dan Ansteel Group akan Bangun Pabrik
Baja di Jabung, Jambi
Dua perusahaan asal China, Fuhai Group Limited dan Ansteel Group bakal
membangun pabrik baja yang memanfaatkan besi wantah dari pasir besi dengan
kapasitas 2 juta ton di Jabung, Jambi.
Dirjen Minerba Kementerian ESDM R Sukhyar mengatakan, Fuhai Group Limited
melalui PT Megatop Inti Selaras selain membangun smmelter pig iron di Cianjur,
Jawa Barat, juga akan membangun pabrik baja di Jambi dengan menggandeng
Ansteel. (Bisnis Indonesia- hal 27)
Tahun ini, Baramulti Suksessarana akan bangun PLTU 10 MW di Kaltim
PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) berencana memulai pembangunan pembangkit
listrik tenaga uap (PLTU) pada tahun ini. Perseroan bakal membangun PLTU
dengan kapasitas hingga 10 MW senilai US$ 20 juta di Kaltim.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Baramulti Suksessarana Geroad Jusuf
mengungkapkan rencana pembangunan PLTU yang awalnya akan dilaksanakan pada
beberapa waktu lalu, tetapi ditunda. “Pemegang saham asing kita sebenarnya
ingin bangun beberapa waktu lalu, tetapi pemegang saham mayoritas memilih
menunda.” (Investor Daily – hal 14)
Rothschild Komit Suntik Dana US$100 Juta, Saham Berau Coal Energy Naik 16,22%
Setelah Nathaniel Rotschild menyampaikan komitmennya untuk menyuntik dana
US$100 juta kepada Asia Resouce Minerals Plc, saham PT Berau Coal Energy Tbk
melonjak 16,22% pada perdagangan kemarin.
Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (10/2), harga saham emiten batubara itu naik
menjadi Rp 86 per lembar saham dari posisi sehari sebelumnya yang hanya Rp 74
per lembar saham. Berau Coal (BRAU) adalah anak usaha Asia resource Minerals
(ARMS). (Bisnis Indonesia- hal 14)
________________________________
"This email (including attachments) is intended only for personal and
confidential use of designated recipient(s). If you are not the intended
recipient, you are hereby notified that any review, dissemination, distribution
or copying of this email (including attachments) is strictly prohibited and you
must delete this email (including attachments) immediately.
Email transmission cannot be guaranteed to be error-free. Therefore, we do not
represent that this information is complete or accurate and it should not be
relied upon as such. Although PT Antam (Persero) Tbk is implementing anti virus
software for this email and attachments, PT Antam (Persero) Tbk accepts no
liability for any damage caused by any viruses and malicious codes transmitted
by this email. The receiver is responsible for checking and deleting any
viruses and malicious codes as a result of email transmission".
"We are not in a position to advise you, we are not advising you, and the
contents of this e-mail must not be construed as any advice to you, on
(a)whether to purchase any of our securities or, (b) if you hold an investment
in our securities, the value of your investment or how or whether you can
affect any trades relating to your investment. These queries should be
addressed to a licensed broker or your broker from or through whom you bought
the relevant investment, respectively."