Saya tertarik pada tulisan dahlan iskan *"Plains memiliki produksi minyak mentah hampir 300 juta barel per hari"* Benarkah? mungkin ada teman-teman yang lebih tau...
Regards Didit 2016-01-18 11:35 GMT+08:00 Aveliansyah <[email protected]>: > Tulisan menarik dari Dahlan Iskan, rasa-rasanya belum banyak tulisan yg > membahas soal Freeport dg kacamata yg lebih luas seperti apa yg Pak Dahlan > sampaikan. > > Kalau temen2 ikut acara ESK-19 kita yg di Bandung kemarin tentu sudah > dengar sudut pandang teknis dari praktisinya langsung, yaitu proses > penambangan bawah tanah freeport tdk boleh di hold lama (berbulan2 apalagi > bertahun2), krn akan mengakibatkan kondisi tambang bawah tanah hancur dan > sulit utk ditambang kembali. Ternyata sudut pandang teknis ini jg > tercapture dg baik oleh Dahlan di paragraf akhir tulisannya. > > Salam > Avel > > ---- > > Serba sulit untuk freeport yg serba berat > New Hope Series by Dahlan Iskan > > Relakah Anda bila saat ini negara kita mengeluarkan uang sekitar Rp 20 > triliun untuk membeli 10 persen saham Freeport Indonesia (FI)? > > Mungkin pertanyaan itu pertama-tama harus dijawab oleh mereka yang selama > ini mendesak pemerintah agar memaksa Freeport mengurangi sahamnya di FI. > > Kini (minggu lalu, Red) justru Freeport yang secara resmi menawarkannya > kepada pemerintah. > > Freeport minta agar pemerintah mengambil saham itu dengan nilai USD 1,7 > miliar atau sekitar Rp 20 triliun. > > Hayo! Bagaimana pemerintah harus menjawab tawaran itu? Sungguh serbasalah. > > Kalau saya sih jelas: tidak rela. Dengan membayar Rp 20 triliun, ditambah > saham lama, > pemerintah baru memiliki 20 persen FI. Masih sangat minoritas. Tidak punya > kekuasaan apa-apa > di perusahaan itu. > > Di lain pihak, laporan-laporan media di Amerika mengerikan. Dilaporkan, > kondisi keuangan Freeport tahun-tahun belakangan ini sangat-sangat > mengecewakan. > > Labanya terus memburuk. Pada 2014, tinggal USD 482 juta. Bahkan, tahun > lalu sudah rugi besar: USD 1,8 miliar! Rugi lebih dari Rp 20 triliun. > > Ini berarti kita dihadapkan pada pertanyaan sepele: mengapa membeli saham > perusahaan rugi? Apalagi, kelihatannya Freeport masih akan terus merugi > beberapa tahun ke depan. > > Mengapa kondisi Freeport begitu buruk? Mengapa tidak seperti yang umumnya > dibayangkan orang Indonesia? Mengapa tidak makmur seperti gambaran video > emas yang dicurahkan dari perut bumi Papua? > > Itu sama sekali tidak berhubungan dengan kian ditinggalkannya koteka oleh > pria-pria jantan Papua. Itu lebih karena Freeport terbelit ambisinya > sendiri. > > Ambisi Freeport luar biasa. Pada 2013, Freeport ingin tidak hanya menjadi > raja tembaga dan emas. Ia juga ingin menjadi raja minyak. Dengan cara yang > afdruk kilat. > > Sebuah perusahaan minyak terbesar keempat di California, Plains Company, > dibeli. Dengan harga USD 16,3 miliar. Atau sekitar Rp 200 triliun. Itu > termasuk untuk mengambil alih utang Plains sebesar USD 9,7 miliar. > > Harga mahal itu diterjang karena Plains memiliki produksi minyak mentah > hampir 300 juta barel per hari. Bahkan, potensi produksinya bisa lebih dari > 2 miliar barel per hari. > > Sial. Sial sekali. > > Begitu transaksi ditandatangani, harga minyak mentah terjun bebas. Dari > USD 80 menjadi USD 40-an. > > Sial. > > Begitu sialnya. Perut siapa yang tidak mulas? > > Begitu pandainya pemilik Plains: menjual perusahaan ketika nilainya masih > tinggi. > > Begitu sialnya atau cerobohnya Freeport: membeli perusahaan minyak raksasa > yang sedang berada di bibir jurang. > > Rupanya Freeport salah perhitungan. Atau terlalu banyak berharap. > > Memang harga komoditas tambang seperti tembaga dan nikel yang menjadi > andalannya terus menurun. Sudah enam tahun tidak naik-naik. Semua > perusahaan tambang, termasuk PT Antam, termehek-mehek. > > Waktu itu harga minyak masih bagus. Rupanya Freeport mau mencari tanjakan > lain. Meski tanjakan tersebut berkelok. Masuk bisnis minyak. Tidak tahunya, > malah kian terperosok. > > Maka, di New York, tempat saham Freeport diperdagangkan di bursa, > beritanya negatif melulu. Tahun-tahun belakangan ini, judul-judul berita > yang terkait dengan Freeport hanya serem dan serem sekali: Freeport Menuju > Kematian, Masih Bisa Diselamatkankah Freeport?, atau Keuangan Freeport yang > Mengerikan. > > Serem dan suram. Disebutkan, seluruh aspek usaha Freeport memburuk. > ”Multiple weakness in multiple area”: Omzetnya turun, labanya memburuk, > rasio-rasio keuangannya tidak lagi masuk akal. Bahkan, cash flow-nya pun > menghadapi kegawatan. > > Sampai kapan kondisi seperti itu akan berlangsung? > > Bergantung. Pertama, bergantung jawaban pemerintah soal tawaran Rp 20 > triliun itu. Kalau pemerintah mengabulkannya, cash flow Freeport sedikit > tertolong. Sedikit. > > Kedua, bergantung apakah pemerintah akan memperpanjang kontrak Freeport. > Kalau pemerintah mau memperpanjangnya, kondisi Freeport bisa sedikit > membaik. > > Setidaknya outlook jangka panjangnya. Apalagi kalau perpanjangannya > diizinkan sekarang. Wow. Harga saham Freeport bisa sedikit naik. > > Kondisi Freeport bisa seperti pasien yang dapat infus: belum tentu sembuh, > tapi setidaknya belum segera mati. > > Ketiga, bergantung harga minyak mentah. Kalau harga minyak mentah segera > membaik, harga sahamnya akan ikut naik. Ada napas baru. > > Tapi, ada tapi-tapinya. Di AS, baru ditemukan sumber gas baru yang disebut > shale gas. Harga gas menjadi sangat murah: hanya USD 3/mmbtu. > > Kayaknya sulit membayangkan harga minyak mentah bisa segera naik drastis. > Apalagi, perusahaan minyak yang dibeli itu adalah perusahaan minyak dari > Texas juga. > > Freeport (nama ini diambil dari nama kota kecil di Texas yang terletak di > pantai Teluk Meksiko) benar-benar berada dalam posisi berat. Di Amerika. > Dan di Indonesia. > > Kota Freeport sendiri sekarang berpenduduk 11.000 jiwa dan masih jaya. > Namun, perusahaan yang awalnya tambang sulfur tersebut, yang didirikan di > kota itu pada 1912, kini lagi berjuang melawan kesulitan. Bahkan, > chairman-nya yang legendaris itu, James Moffett, sampai menyerah. > Meletakkan jabatan. > > Cadangan emas yang sangat besar di Papua sendiri ditemukan oleh seorang > pengelana Belanda pada 1950-an. Freeport mendengar temuan itu. Dan berusaha > menguasainya. Tahun 1960, Freeport sepakat dengan si Belanda. > > Pada 1965, Bung Karno yang anti-Amerika jatuh. Soeharto naik. Atau > dinaikkan. Tahun 1967, resmilah Freeport mulai melakukan drilling. Tahun > 1988 mulai menghasilkan emas dan tembaga. > > Luar biasa hebatnya. Mudah mengerjakannya. > > Tambang itu berada di permukaan tanah Papua. Tinggal mengeruknya. Bukan di > perut bumi yang harus menggalinya. > > Tahun 2021, kontrak dengan Freeport itu akan berakhir. Kalau kontrak tidak > diperpanjang, Freeport akan 100 persen milik Indonesia. Tidak perlu keluar > uang Rp 20 triliun hanya untuk memiliki 10 persen sahamnya. > > Akan menjadi serbaenak? Jangan dulu dibayangkan serbaenaknya. > > Pertama, mungkin Amerika marah. Entah apa bentuk kemarahannya. Dan entah > apa kita mampu menanggungnya. > > Kedua, mungkin saja sejak sekarang Freeport tidak mau keluar uang untuk > pemeliharaan tambang. Toh, sudah akan lepas dari tangannya. > > Kalau itu terjadi, kelak, tepat di saat tambang itu menjadi milik > Indonesia, kondisinya sudah tidak bagus lagi. Diperlukan uang puluhan > triliun rupiah untuk kembali menghidupkannya. > > Apalagi, tambang yang ada di permukaan tanah sudah habis. Sudah harus > menggali tambang di perut bumi. Lebih mahal. > > Dengan harga jual nikel dan tembaga seperti sekarang, belum tentu bisa > menghasilkan uang seperti yang kita bayangkan. > > Bisa-bisa kita harus mengundang investor asing lagi untuk melanjutkannya. > > Mungkin Freeport lagi. Atau Freeport yang lain. Kalau tidak disiapkan > mulai sekarang. (*) > > Sumber: www.dahlaniskan.wordpress.com > > -- > Milis FORUM GEOSAINTIS MUDA INDONESIA > forum.iagi.or.id | fgmi.iagi.or.id > > * Untuk bantuan terkait milis silakan email ke [email protected] > > -- Milis FORUM GEOSAINTIS MUDA INDONESIA forum.iagi.or.id | fgmi.iagi.or.id * Untuk bantuan terkait milis silakan email ke [email protected]
