Apakah kedua orang tua Nabi Saw musyrik?
By; Hasan Mawardi
Saya akan kutipkan dua buah hadis yang diriwayatkan Muslim dalam bukunya �Shahih Muslim� dan beberapa hadis yang bersautan dengannya berkaitan dengan status kesyirikan kedua orang tua Nabi saw sebagai berikut:
�Dari Ibn Anas, �Ada seseorang bertanya, �Wahai Rasulullah, di manakah bapakku?� Beliau bersabda, �Di neraka.� Maka ketika ia datang (lagi), beliau memanggilnya dan bersabda, �Ayahku dan ayahmu di neraka.�[1]
�Dari Abu Hurairah, ia berkata, �Nabi saw berziarah ke kuburan ibunya, beliau menangis dan aku pun menangis di dekatnya. Lantas beliau bersabda, �Saya memohon izin kepada Tuhanku untuk meminta maaf buatnya, dan Ia tidak mengizinkanku. Aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya dan Ia mengizinkanku. Maka beziarahlah ke kuburan, karena itu akan mengingatkan pada kematian.�[2]
Dua hadis ini, dan juga hadis-hadis lainnya adalah hadis-hgadis yang biasa dipakai untuk menunjukkan kemusyrikan kedua orang tua Nabi Saw, berdasarkan pengakuan Nabi saw sendiri, dan manampakkan bahwa beliau bersedih karena tidak kuasa memohonkan ampun untuk keduanya.
Analisa hadis
Di sana terdapat berbagai tanda dan bukti akan kedhaifan dan kedustaan hadis ini, serta terdapat berbagai riwayat yang juga meragukan akan keshahihannya, juga berbagai bukti historis yang menjelaskan bahwa sebelum masa kenabian atau masa senggang antara Nabi Isa as dan Muhammad Saw terdapat sekelompok besar penduduk jazirah Arab yang hidup pada masa jahiliah, mereka beragama dengan agama suci (hanif) Nabi Ibrahim, dan pemuka mereka adalah keluarga Abdul Muthallib, termasuk di dalamnya hidup Abu Thalib, Sayyidina Abdullah, bapaknya Nabi Saw, serta ibunda Sayyidatuna Aminah. Mereka menyembah dan mengesakan Allah, menjauh dari beribadah kepada patung-patung yang dianut agama jahiliyah Arab saat itu. Mereka melakukan ibadah kepada Allah di tengah-tengan penduduk Mekkah atau di kaki-kaki gunung.[3] Dan berikut ini dua riwayat saya kutipkan untuk anda sebagai bukti atasnya:
�Dari Ashbag bin Nab�tah, ia berkata, �Saya pernah mendengar Ali bin Abi Thalib berkata, �Demi Allah, Ayahku dan kakekku Abdul Muthallib sama sekali tidak pernah beribadah pada berhala, tidak juga H�syim, dan tidak pula Abdi Man�f.� Ditanyakan (kepadanya), �Maka pada apa mereka menyembah?� Beliau menjawab, �Mereka shalat ke rumah (al-Bait) berdasarkan agama Ibrahim dimana mereka �senantiasa- berpegangan kepadanya.��[4]
Rasulallah Saw berabda: �Wahai Ali, sesungguhnya Abdul Muthallib tidak bersumpah dengan dan tidak pernah pula menyembah berhala-berhala. Ia pun tidak pernah memakan sembelihan untuk persembahan (berhala), dan ia berkata, �Saya ada pada agamanya Ibrahim��[5]
Sebagaimana disebutkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, juga Ibn Sa`ad dalam Thabaq�t-nya, bahwa Abu Dzar Al Ghif�ri r.a termasuk orang-orang yang mengesakan Allah (muwahhidiin) dan menjauh dari beribadah kepada patung-patung pada masa jahiliah[6].
Target dibalik periwayatan hadis
Para pembuat hadis ini berkepentingan agar dapat keluar dari lembaran-lembaran kelam masa lalunya, dan terutama masa lalu para orang tuanya yang meninggal sebelum datangnya Islam, atau bahkan sebagian mereka meninggal lantara berperang menentang misi kenabian Muhammad Saw.
Mereka adalah barisan kelompok sakit hati (BKS) atas meninggalnya bapak-bapak mereka ditangan jawara-jawara Islam, seperti sang singa Allah, Hamzah dan Ali bin Abhi Thalib. Kebencian yang sangat kepada Hamzah ditunjukkan oleh mereka dengan memakan hati dan jantung beliau, dan kebenciannya yang sangat kepada Ali bin Abi Thalib, termasuk juga kebencian kepada Nabi Muhammad Saw, mereka tunjukkan dengan upaya mencari-cari celah kesalahan dan kekurangannya, dan sayangnya mereka tidak berhasil menemukan hal itu pada kedua pribadi agung ini. Satu-satunya celah untuk menghancurkan reputasi dan keagungan beliau adalah dengan mengorek masa lalu kehidupan orang tuanya.
Mereka dan juga orang tua mereka merasa malu dengan masa lalunya yang dikenal dalam sejarah memerangi dan memusuhi Rasulallah Saw, serta pembantaian mereka terhadap generasi-generasi muda Islam yang agung. Mereka sebenarnya masuk Islam secara terpaksa pada masa penaklukan kota Makah (Fath Makah) dan kemudian mereka pun keluar darinya dengan sukarela.
Kebencian mereka terhadap Islam, terhadap pembawanya Rosulullah Saw, dan juga terhadap para jawara Islam (mujahid) tidaklah pernah padam dalam dada-dada mereka. Setelah Islam memegang kekuasaan, nyaris tidak ada upaya penentangan yang dapat mereka lakukan selain berperan menuduh Rasul Islam yang mulia Saw melalui kedua orang tuanya, dan menganggapnya sebagai orang-orang musyrik seperti halnya ayah-ayah mereka.
[1] Shah�h Muslim, juz 1, kitab Im�n, bab Penjelasan Bahwa Orang Yang Mati dalam Kekufuran ,berada di Neraka.
[2] Shah�h Muslim, juz 4, kitab Jenazah, bab Permohonan Izin Nabi saw Mengunjungi Kuburan Ibundanya.
[3] Lihat juga Syirah Ibn Hisyam, juz.4, hal. 252; juga Syarah Nahj al-Balaghan, Ibn Abil Hadid, juz.1, hal., 120
[4] Bih�rul Anw�r, juz.15, hal. 144.
[5] Biharul Anw�r, juz 15, hal.,127; juga kitab Man L� Yahdhuruh al-Faq�h, bab Naw�dir (5)
[6] Musnad Ahmad, juz.5, hal. 174, juga At Thabaq�t, juz.4, hal.136.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
Yahoo! Groups Links
http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
[EMAIL PROTECTED]
