Quantum Maverick <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
On 4/26/05, Dores Pande M S <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>  Salam,

>  Bagaimana cara mengenal Tuhan? Kalo pertanyaan itu tidak harus dijawab
>  oleh manusia. Yang pertama-tama kita lakukan ialah membolak balik
>  kalam Ilahi. Di sana pasti ada jawabnya:

>  "Akan Aku perlihatkan tanda-tanda-Ku di ufuk-ufuk cakrawala
>  dan di dalam diri mereka itu sendiri." (Fushilat:53)

>  Tanda kehadiran Tuhan di alam semesta sudah tak bisa diingkari. Sedang
>  keberadaan Tuhan dalam diri manusia tentu saja kita dapati oleh orang
>  yang punya kedekataan dengan Tuhan itu sendiri. Pribadi-pribadi yang
>  peka hatinya, teguh imannya, baik amalnya dan kuat kepada Allah.

>  "Jika mereka bertanya-tanya tentang Aku, Katakanlah (wahai Muhammad)
>  bahwa Aku adalah dekat." (Al Baqarah:185)
:QM:
Nah. . .
Anda menunjukkan cara mengenal Tuhan yang ciri-cirinya disebutkan
dalam suatu kitab suci tertentu.
Perkenankan saya bertanya . . .
apa dasar / alasan Anda mengambil kitab suci itu sebagai pegangan Anda
dan bukan kitab suci yang lain atau kata-kata orang suci lainnya?

with warmest regards,


Bagaimana Mengenal Tuhan?

 

Pertanyaan ini sederhana dan menarik. Tentu jawaban yang diberikan sedapat mungkin sederhana dan menarik juga. Mari kita coba

 

Sebelum menjawab Bagaimana mengenal Tuhan, Saya akan bertanya juga: Apa dan Siapakah Tuhan itu? Kapan Dia ada dan Dimana dia? Hayoo.. apa jawab anda?

 

Apakah Ia semacam makhluk ajaib yang sangat modern? Atau Siapakah Dia, mungkin bukan manusia tapi semacam roh atau apa ya? Dimana dia berada? Dimana alamatnya. Mencari alamat orang agak mudah: Dikota A jalan B Nomor C, Tetapi Tuhan dimana? Katanya di Surga? Surga itu dimana? Di telapak kaki ibu? Ah itu hanya kiasan. Apa Tuhan juga hanya kiasan? Hanya angan-angan supaya orang mudah menggambarkan apa yang dibutuhkan saat ia ingin menyatakan rasa hormat kepada sesuatu yang agung? Apakah itu bukan semacam dewa? Katanya rumusan filsafat hidup bangsa Indonesia Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan yang tunggal ada dimana? Tunggal itu satu atau sekelompok yang dijadikan satu? Atau memang itu satu-satunya? Kalau itu satu saja, kenapa ada kelompok-kelompok agama yang saling membunuh dengan alasan pengabdian kepada Tuhannya? Lho Tuhan yang mana ini? Ada lagi sekelompok orang yang mengatakan ini Tuhan saya, dan itu Tuhan kamu. Wah kok jadi banyak Tuhan nih. Lalu Siapa Dia sebenarnya?

 

Doris Pande MS diatas telah menulis: Cari saja di kitab suci, banyak keterangan tentang Tuhan disana. Oke. Memang kitab suci memberi keterangan Tentang Tuhan, tetapi kitab suci hanya memuat keterangan tentang Tuhan saja. Saya mau mengenal Tuhan secara pribadi, bukan keterangan-keterangan tentang Dia. Bagaimana nih?

 

Lalu Doris Pande MS, menambahkan lagi: Sedang keberadaan Tuhan dalam diri manusia tentu saja kita dapati pada orang yang punya kedekataan dengan Tuhan itu sendiri. Pribadi-pribadi yang peka hatinya, teguh imannya, baik amalnya dan kuat kepada Allah�.

 

Wah, kalau orang seperti saya yang kadang-kadang jauh dengan Tuhan, tidak peka dan imannya kadang-kadang krisis, amalnya setengah-setengah tentu dijauhi Tuhan dong� Apa iya sih? Saya kok nggak percaya� Saya malahan percaya bahwa Tuhan menyertai orang berdosa seperti saya ini, Ia menolong saya dalam kesulitan-kesulitan yang saya alami, Ia menyembuhkan saya ketika saya sakit, Ia menjawab doa-doa saya meskipun doa saya amat sederhana, Ia menguatkan saya ketika saya berada pada posisi lemah, Ia menemani kesepian-kesepian saya, Ia melindungi dan membimbing saya dan menerima saya apa adanya� Apakah Tuhan semacam ini yang (saya atau anda) maksudkan?

 

Baiklah, itu kita perdebatkan nanti. Tetapi kita kembali dulu pada pertanyaan awal: Bagaimana saya bisa mengenal Tuhan?

 

Saya akan mencoba menjawab pertanyaan itu. Jawaban ini saya dapatkan dari pengalaman saya. Mungkin saja anda setuju dengan apa yang saya uraikan dibawah ini, tetapi bisa saja anda tidak sependapat. Tentu saja anda bebas memilihnya, karena menurut saya, pencarian pengenalan tentang Tuhan tidak dapat dibatasi. Artinya: Anda bebas mencari dengan cara anda sendiri, tetapi petunjuk-petunjuk memang diperlukan sejauh anda memerlukannya. Nah, saya akan berikan petunjuk itu sesuai dengan pengalaman saya, tetapi andapun tetap dalam keadaan bebas sebebas bebasnya. �Setiap orang memiliki pribadi yang bebas untuk berkenalan dengan Tuhannya�� itulah prinsip saya.

 

Nah, kisah ringkas dibawah ini mungkin menolong anda untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana berkenalan dengan Tuhan.

 

Pertama, Waktu kanak-kanak saya kenal Tuhan dari cerita-cerita. Nah, waktu itu saya menurut saja dan percaya bahwa Tuhan itu ada dan memang baik karena Dia yang menciptakan kita. Tetapi setelah saya agak besar sedikit, saya jadi enggak puas dengan keterangan itu. Lho, saya kok nggak pernah bertemu dengan Tuhan. Apa Dia memang ada atau kerna saya hanya ikut-ikutan berdoa atau mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang disarankan orang lain saja?

 

Kedua, Saya kemudian diperkenalkan dengan kitab suci. Ada seseorang yang memberikan kitab suci kepada saya. Kitab suci yang saya baca adalah kitab Injil yang dipakai oleh orang Kristen. Kitab Injil orang Kristen ada dua bagian. Bagian pertama disebut perjanjian lama (old testament), bertutur tentang jaman Adam dan Hawa sampai dengan jaman sebelum Yesus Kristus, dan Bagian kedua disebut perjanjian baru (new testament) degan pusat cerita Yesus Kristus. Kitab suci Kristen ini memang memberikan gambaran yang banyak Tentang Tuhan. Ringkasnya begini: Tuhan menciptakan alam semesta, termasuk menciptakan manusia dan mahluk hidup lainnya. Mereka ditempatkan di tempat yang disebut taman Eden. Anda pasti tahu tipikal cerita ini. Kemudian manusia tidak patuh akan peraturan yang diberikan oleh Tuhan lalu dihukum, dibuang ke muka bumi sampai beranak pinak. Tetapi ternyata Tuhan tetap mencintai manusia, maka ia berniat menebus kesalahan yang dilakukan oleh manusia itu dan Ia datang dalam bentuk manusia, namanya Yesus Kristus. Orang Kristen percaya bahwa ia tidak berdosa, namun manusia menyalahkannya dan menghukum mati dengan cara menyalibkannya. Dan kematiannya itu telah menebus segala kesalahan yang dilakukan manusia, maka Ia berjanji akan kembali menjemput manusia yang percaya padanya di akhir jaman nanti.

 

Baik. Sampai disini anda menyatakan: Anda menunjukkan cara mengenal Tuhan yang ciri-cirinya disebutkan dalam suatu kitab suci tertentu. Perkenankan saya bertanya� apa dasar/ alasan Anda mengambil kitab suci itu sebagai pegangan Anda

dan bukan kitab suci yang lain atau kata-kata orang suci lainnya?

Saya akan menjawab demikian: Memang saya membaca bukan hanya injil saja. Ada kitab lain yang saya baca, misalnya Al Kuran, kitab suci orang muslim, (saya membaca terjemahannya dalam bahasa Indonesia, karena saya tidak bisa membaca huruf Arab), lalu saya baca juga beberapa kisah kebijaksanaan Budha Gautama, Zen Budhism dan beberapa risalah dari saudara-saudara kita pemeluk agama Hindu, misalnya kisah Mahabharata, Bhagavat Gita, dan juga beberapa kisah dari saudara-saudara kita penganut agama Hindu Bali misalnya. Saya juga membaca beberapa risalah tentang Tao dan ringkasan kitab I-ching milik saudara-saudara kita orang cina. Yah. Semuanya menarik. Dasar dan alasan saya melakukan ini adalah karena saya memang suka membaca saja.

 

Apa yang saya dapatkan dari membaca itu adalah: Semuanya menarik, kata-katanya semua indah, sarat dengan kebijaksanaan, penuh dengan pesan dan petunjuk tentang Tuhan�. Tetapi, kata-kata yang tertulis dan apa yang mengilhami kita tentang Tuhan dari kitab-kitab suci itu tidak cukup. Karena ketika kita membaca kitab suci, kita membayangkan Tuhan seperti yang disebutkan dalam kitab suci itu. Tetapi bayangan kita tentang Tuhan tidak mencukupi. Dengan kata lain, Dia tidak seperti yang kita bayangkan. Kata-kata dalam kitab suci memang baik, tetapi itu tidak memadai. Pikiran kita tentang Tuhan tidak cukup menggambarkan tentang Dia� Banyak orang tidak bisa menerima hal ini. Dikiranya dari kitab suci saja sudah cukup ia membayangkan tentang Tuhan. Sekali lagi: Kitab suci memang baik dan membantu, tetapi kita tidak boleh berhenti disitu saja�

 

Apa artinya itu? Artinya: Anda tidak boleh berhenti pada teks, kata-kata atau bayangan tentang Tuhan, sekalipun teks itu membantu anda. Karena sekalipun teks itu membantu, tetapi sekaligus teks itu akan menghalangi anda untuk berkenalan dengan Tuhan. Kecuali jika anda sudah cukup puas dengan kitab suci saja. Yang harus anda lakukan kemudian adalah: Anda harus melampaui kata-kata atau teks itu. Anda harus melampaui apa yang anda bayangkan tentang Tuhan. Dengan kata lain, anda harus MENGERTI. Apa yang harus dimengerti? Ya, anda harus mengerti bahwa Tuhan itu tidak seperti yang kita bayangkan. Dia (Tuhan) tidak seperti ide-ide yang kita temukan dan pikirkan.

 

Saya akan memberikan sedikit keterangan tentang �mengerti� ini dengan contoh: Misalnya anda belum pernah sama sekali makan buah mangga. Lalu anda bertanya kepada saya bagaimanakah rasanya buah mangga? Maka saya akan kesulitan menjelaskan kepada anda rasa buah mangga itu. Kalau saya katakan: Mangga itu rasanya manis, boleh jadi kita akan salah paham bahwa rasa mangga sama dengan rasa gula, kerna sama-sama manis. Kalau saya mengatakan mangga itu rasanya asam, maka kita bisa salah paham juga bahwa rasa asam itu serupa dengan buah tomat atau jeruk yang belum masak. Nah, satu-satunya cara adalah: Saya memberikan mangga itu kepada anda, dan silahkan mencicipi rasanya. Itulah yang dimaksudkan dengan �mengerti�. Nah, Kalau kata-kata saja tidak cukup untuk menjelaskan rasa buah mangga, apalagi menjelaskan tentang Tuhan. Kata-kata (baik yang digunakan secara indah di kitab suci sekalipun)tidak akan cukup memberi keterangan tentang Tuhan. Dan anda sekarang tahu, itulah lemahnya teks atau kata-kata..

 

Lalu bagaimana?

(Inilah pengalaman saya saya berkenalan dengan Tuhan berikutnya)

 

Ketiga, Karena kata-kata itu terbatas, kata-kata itu tidak memadai, maka saya harus keluar dari kata-kata itu. Saya harus keluar dari pikiran dan ingatan tentang Tuhan: Saya harus menjangkaunya dengan HATI. Serupa dengan menikmati sebuah lagu. Kalau saya mendengar anda bernyanyi, maka saya mendengar suara anda dan lagu yang anda bawakan. Dua-duanya harus ada: yang menyanyi dan lagunya. Sangat aneh kalau misalnya mendengar lagu tetapi tidak ada yang menyanyi. Sangat aneh pula misalnya melihat tarian tetapi tidak ada yang menari. Dari dua kenyataan (Lagu dan penyanyinya, Tarian dan penarinya) Hati kita bisa menikmati keindahan lagu dan tarian itu. Yang perlu kita perbaiki disini adalah: CARA KITA MELIHAT. Ada contoh lain: Jika anda menikmati pemandangan senja hari yang cerah, matahari merah turun diufuk barat, mega-mega kelabu, lampu-lampu jalanan mulai menyala, pohon-pohon tertiup angin lembut, dan mulai ada suara-suara serangga malam. Kita katakan itu INDAH. Kita bertanya: Dimanakah letak keindahan? Keindahan itu bukan benda. Keindahan itu adalah �cara kita melihat�. Nah, karena saya harus melihat dengan hati, maka saya menikmati keindahan itu dengan cara saya melihat: Sebuah lagu yang merdu, sebuah tarian yang lembut, senja yang sangat mempesona� saya mulai berkenalan dengan kenyataan: Kalau saya melihat tarian, maka saya akan mengenal penarinya. Kalau saya mendengarkan lagu, maka saya mengenal penyanyinya, kalau saya melihat senja hari atau pagi hari yang indah, maka saya berharap dapat mengenal: Siapa yang �membawakan� pemandangan yang indah itu�

 

Yang perlu anda coba hanyalah mengamati dan menikmatinya saja. Diam dan hening, jangan mencari ide-ide yang sensasional. Jangan mencari hal-hal yang aneh. Nikmati keindahan itu dengan hati anda. Suatu saat anda akan diberi rahmat oleh Tuhan untuk mengenalnya: Tuhan akan mewahyukan dirinya dalam keindahan ciptaanNya. Otak kita tidak memadai untuk memikirkanNya, tetapi Dia (Tuhan) memungkinkan diriNya bisa dikenal oleh kita. Dan itu bisa terjadi kalau cara memandang terhadap ciptaanNya disekitar kita itu kita perbaiki (ini memerlukan usaha kita)�

 

Saya percaya, suatu saat nanti anda akan berkenalan benar-benar dengan Tuhan. Sekarangpun sebenarnya anda sudah mengenal Dia, cuma mungkin kesadaran anda belum sepenuhnya terbuka� Maka bukalah hati anda, lihatlah sekeliling anda, Nikmatilah dengan hati, carilah saat yang hening untuk melihat keindahanNya. Dan yakinlah: Anda akan mengenalNya�

 

Mungkin saya perlu bertanya: Apa hobby anda? Kalau hobby anda menikmati pemandangan alam, gunung, pantai laut, alam pedesaan, kota yang ramai dan penuh sesak. Pergilah ke salah satu obyek itu dan nikmatilah keindahan dengan hati anda. Ketika anda melihat gunung dan lembah, hati anda berkata: alangkah indahnya itu semua, siapa sih yang membawakan ini semua? Pasti ada dong.. Siapa itu kira-kira? Kalau hobby anda sport, olah raga: Coba nikmati cara anda berlari, anda main tennis atau bulutangkis, ketika bola-bola itu dipukul kesana kemari dan anda meloncat berlarian mengejar bola itu. Alangkah indahnya kaki anda berlarian dan keringat yang keluar dari Tubuh anda� Keindahan itu tentu ada yang menciptakan� Siapa kira-kira? Anda menikmati keindahan itu, tetapi pasti bukan anda yang menciptakan keindahan itu. Sama seperti ketika anda mau tidur. Anda tidak bisa menciptakan tidur, tetapi anda bisa mengupayakan untuk tidur dengan cara terlentang di tempat tidur, memejamkan mata dan berharap tidur diberikan kepada anda. Nah, ketika tidur diberikan, anda menikmatinya�.

 

Begitulah awal saya berkenalan dengan Tuhan. Oleh karena itu mengapa diatas saya membantah pernyataan saudara Dores Pande MS. Tidak cukup kita membaca dan membolak balik kitab suci, tidak usah kita menunggu menjadi orang yang baik amalnya, saleh atau peka dan kuat imannya(Kalaupun itu ada pada diri anda, bolehlah) tetapi Tuhan bagi saya, bersifat lebih �proaktif� mendatangi saya daripada segala upaya-upaya saya menjadi orang saleh untuk mendatangi Dia. Ibaratnya, dia yang  lebih dulu datang dan mengetuk-ngentuk pintu �hati� saya dan menunggu saya untuk membukakan diri� dan saya hanya cukup membukakan �pintu hati� saya untuk mempersilahkan Dia masuk� cukup sederhana, tidak ada metode yang muluk-muluk.

 

Ada suatu dongeng yang bermanfaat untuk menggambarkan hal ini: Suatu kali Tuhan mengeluh karena capek melayani manusia, karena manusia di seluruh dunia memohon doa padaNya untuk dikabulkan, siang dan malam mereka semua ingin berjumpa dengan Dia. Karena itu Dia bertanya kepada salah satu malaikat, dimanakah Ia bisa bersembunyi supaya agak tenang sedikit dan bisa beristirahat. Tuhan bertanya, apakah sebaiknya Ia bersembunyi di gunung yang tinggi atau di dasar lautan. Kemudian malaikat itu menyarankan tempat untuk bersembunyi, yaitu: dalam hati manusia. Akhirnya diputuskan Tuhan bersembunyi disana. Di lubuk hati yang paling dalam manusialah Tuhan bersembunnyi�.

 

Dongeng ini mempunyai makna, bahwa hati manusia dijiwai oleh Tuhan. Kalau anda mencintai sesama anda, kalau hati anda tulus dan ikhlas, kalau anda berjiwa positif, kalau anda menghormati dan mencintai sesama anda� itulah gema suara Tuhan melalui anda� Nah, itulah yang saya katakan bahwa anda perlu membuka hati, agar gema itu kembali terpancarkan lewat anda� Anda boleh saja meragukan teori ini. Tetapi coba kita buktikan dengan cara ini: Hentikan nafas anda satu menit saja. Lakukan sekarang!....  Amati apa yang terjadi? Anda megap-megap dan tersengal-sengal bukan? Itulah buktinya bahwa anda memerlukan nafas anda. Nafas itu diberikan gratis kepada anda sejak anda lahir sampai sekarang. Nonstop, otomatis, tidak anda sadari bahkan ketika anda tidur nafas anda tetap berjalan, denyut nadi anda tetap setia berdetak. Pertanyaannya: Pernahkah anda menyadari hal itu dari lubuk hati anda yang terdalam betapa indahnya nafas anda? Siapa gerangan yang memberikan nafas gratis itu kepada anda?... Ya, ya, kalau kita sadari benar-benar, misterius memang. Nanti anda akan kenal dan menyadari bahwa Tuhan memang menyimpan misteriNya sendiri, rahasia yang menggetarkan hati (bahasa latin: Mysterium Tremendum)�

 

Carilah Tuhan melalui hati anda, Tuhan yang tersembunyi secara personal, milik anda pribadi. Sidik jari kita masing-masing berbeda, dan ditandai itu, Tuhan datang dengan sangat khas kepada anda, tidak harus sama dengan orang lain.

 

Menutup diskusi ini, ada contoh cerita menarik yang ditayangkan di TV beberapa waktu yang lalu (anda pasti sudah melihat kisahnya): Itu kelompok band Dewa yang dikomandani oleh Ahmad Dhani, diprotes oleh seorang ulama dengan kelompoknya yang mewakili agama tertentu. Masalahnya sebenarnya sepele saja. Kelompok band Dewa sedang pentas untuk mempromosikan album mereka yang terbaru. Cover kaset mereka ditulisi dengan gaya kaligrafi dibentangkan di pentas. Pada akhir show, ada adegan kembang api yang menyala membakar poster itu. Entah bagaimana juntrungnya, Ulama itu beserta kelompoknya protes. Itu pelecehan terhadap agama, dan kalau itu melecehkan agama berarti melecehkan Tuhan� Wah. Ahmad Dhani juga nggak mau diam saja, Ia bereaksi: Tuhan yang mana? Tuhan itu kan bukan milik sekelompok tertentu, Tuhan itu milik semua, ya semua orang termasuk kuda, kerbau kucing dan lain-lain. Saya senang sekali mendengar bantahan anak muda yang bernama Ahmad Dhani itu, lugas dan terus terang: Tuhan itu MILIK PRIBADI. Begitu juga ketika ia menghadap Gus Dur untuk menengahi masalah ini, Gus Dur bilang: Ulama itu tidak bisa mengatasnamakan umat (dimanakah sebenarnya alamat umat itu?). Yang saya salut lagi, akhirnya Ahmad Dhani mewakili kelompoknya berani meminta maaf kalau kejadian itu tidak sengaja ia lakukan (sebelumnya tidak terpikir olehnya kalau kemudian menyinggung perasaan seseorang atau kelompok tertentu). Itu sangat manusiawi, kerna tindakan yang sudah hati-hati pun bisa saja disalahkan. Nah, belajar dari cerita ini, saya menyimpulkan bahwa orang yang merasa mengenal Tuhan dengan baik semacam ulama tadi pun bisa salah juga. Lepas dari kepentingan bisnis, popularitas maupun sensasi apapun, mengapa ia misalnya tidak memanggil Ahmad Dhani SECARA PRIBADI, ajaklah berdiskusi atau berdebat tentang Tuhan, secara pribadi dengan nada pendekatan personal, kebapakan yang arif� Dia kan ulama� masak sih ulama tidak bisa berbuat begitu? tetapi kenapa ia dengan berapi-api mengatasnamakan orang lain?... Anda boleh saja tidak setuju dengan pendapat saya, tetapi saya termasuk orang yang menghargai pribadi seseorang, apalagi kalau kita berbicara tentang Tuhan. Ada banyak contoh yang menyedihkan di negeri ini. Saya sangat jengah melihat mereka yang merasa kenal dengan Tuhan tetapi tindakannya amat anarkis. Mereka mengaku mengatasnamakan Tuhan dan agama, tetapi meledakkan bom di tempat umum dan membunuh orang lain. Mereka mengaku dirinya paling suci dan paling benar lalu menyalahkan orang lain dengan istilah-istilah kafir, tidak bertuhan dan memaksa orang lain untuk berbuat dan beribadat seperti dia� Kalau ada orang yang berani dibunuh karena mempertahankan dan mempertaruhkan keyakinannya tentang Tuhan, itu saya kagum, tetapi kalau ada orang yang merasa dirinya mengatasnamakan agama atau Tuhan tapi membunuh apapun termasuk kreativitas orang lain, kok saya jadi ragu-ragu: Tuhan yang bagaimana sih yang ia kenal itu?

 

Mencari Tuhan itu bebas. Ada kemerdekaan didalam pencarian itu. Tuhan itu menunggu masing-masing pribadi untuk berkenalan dengannya secara lembut, khas dan sesuai dengan kodratnya masing-masing� Tidak ada siapapun juga yang menghalangi pencarian anda untuk berkenalan dengan Tuhan�

 

Masih banyak yang bisa kita diskusikan, lain kali kita perpanjang kalau anda setuju. Saya kira kita cukup filosofis dan tidak menyimpang dari maksud milis ini yang memang disediakan untuk ruang filsafat�

 

Senang berkenalan dengan anda pribadi..

Senang berkenalan dengan Tuhan ��

 

Warmest regard too..

 

 

 

 

 

 

 

 


Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke