Note: forwarded message attached.


Yahoo! Mail Mobile
Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone.

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




Yahoo! Groups Links

--- Begin Message ---

SAINTIS DAN TEORI

 

Oleh:

Audifax[1]

 

Bagaimana orang-orang seperti Sigmund Freud, Carl Gustav Jung, Claude L�vi-Strauss dapat menemukan teori-teorinya? Beberapa dari kita mungkin mempertanyakan bagaimana orang-orang ini dapat membuat teori-teori sedemikian rupa. Pada tulisan kali ini, saya akan mencoba memaparkan pandangan saya mengenai teori, berteori, dan riset. Saya mencoba meletakkan sudut pandang ini untuk menjelaskan fenomena teori dan berteori.

Teori berasal dari istilah latin untuk �theatre�. Derivasi ini memberi gambaran bahwa metode untuk membuat teori sejak awal mulanya bersifat dramaistik[2]. Gambaran tersebut menghantar pada suatu pemahaman bahwa fungsi teori hanyalah sebagai pendukung dalam menyusun kerangka konseptual yang akan memandu dalam melakukan penelitian. Teori yang digunakan oleh peneliti tergantung pada bagaimana peneliti itu memandang dunia yang menjadi obyek kajian[3].

Baik Freud, Jung, Strauss, maupun sejumlah tokoh lain, berangkat dari suatu sudut pandang untuk memasuki fenomena yang menjadi studinya. Melalui sudut pandangnya itu, ia mencoba mengontraskannya dengan realita. Ada hal-hal kontekstual yang coba dijelaskan dari sudut pandangnya. Lantas muncul tesa, antitesa, dan sintesa. Oleh karena itu, bagaimana seseorang berteori, sebenarnya tak pernah lepas dari sudut pandang, minat dan karakter orang tersebut, kita menemui hal ini tergambar dalam Freud, Jung, Strauss, dan sejumlah tokoh lain. Sepintas kelihatan subjektif dan sangat bisa diperdebatkan, tapi justru di situlah letak kekuatan teori (yang membedakannya dari dogma).

Sebuah teori adalah penjelasan mengenai sesuatu. Ini secara tipikal menjelaskan keberadaan fenomena, dibanding suatu event yang spesifik. Teori kerapkali diekspresikan sebagai rantai kausalitas: sesuatu terjadi karena ada hal lain yang terjadi terlebih dahulu sehingga seseorang melihat ide mengenai terjadinya sesuatu[4]. Nah, kerap terjadi kesalahan dalam penggunaan teori di sini. Saya banyak menemui rekan-rekan mahasiswa di kampus saya yang tengah mengerjakan skripsi (termasuk dosen pembimbingnya) tak bisa membedakan antara teori dan berteori. Pada akhirnya, mereka lebih memposisikan diri sebagai pembelanja dalam sebuah supermarket yang melihat sederetan teori yang bisa dipilih pada rak penjualan.

Orang-orang ini menempatkan teori sebagai dogma. Mengambil, memercayai dan menggunakan begitu saja tanpa melihat dari sudut pandang apa dan dalam konteks apa si empunya teori menyusun teorinya. Teori perkembangan Jean Piaget, misalnya, kerap diadopsi begitu saja, padahal jika dicermati Piaget menyusun itu hanyalah untuk membuat penjelasan berdasar amatan terhadap perkembangan anaknya. Tentu saja orang tak bisa semudah itu mengadopsi tanpa melihat kontekstualisasi penerapan. Kenapa ini terjadi? Saya akan coba paparkan pengalaman saya ketika memfasilisasi sekelompok peneliti ketika saya menjadi pendamping diskusi di kelas Metodologi Penelitian II di semester genap 2001-2002. Ketika itu kelompok yang saya fasilisasi, mencoba berteori dari penelitiannya mengenai gay. Kebetulan ketika itu mereka berhasil maju ke final dalam sebuah LKTI. Di Final, seorang juri yang juga menjadi dosen di Universitas kami, mempertanyakan: �Kok kalian berani-berani berteori, wong profesor aja belum tentu bisa bikin teori�. Saya pikir, pengalaman ini menjelaskan banyak sekali kelemahan saintis (atau setidaknya mereka yang mengaku saintis) dalam memahami pentingnya berteori. Ada suatu budaya tertentu yang mungkin bisa anda tangkap di sini.

Lantas bagaimana seharusnya kita menempatkan teori dan berteori? Neuman mendefinisikan teori sebagai suatu sistem yang saling menghubungkan sejumlah abstraksi atau ide yang mengondensasi dan mengorganisasi munculnya pengetahuan mengenai dunia sosial. Orang selalu membuat teori baru untuk menjelaskan bagaimana �cara kerja� suatu fenomena. Mereka menggunakan riset untuk memperbandingkan apa yang mereka pikirkan mengenai temuan; teori menjelaskan data pada riset[5]. Teori bukanlah fakta maupun data mengenai suatu pengalaman, tetapi teori memiliki keterhubungan dengan fakta atau data. Secara umum, teori bisa kita definisikan sebagai suatu abstraksi dan ide umum yang menjelaskan organisasi  dan keteraturan suatu hal. Teori yang berbeda bisa digunakan sebagai penjelas bagi seperangkat fakta yang sama.

Dalam pandangan tradisional, teori adalah akumulasi dari proposisi-proposisi mengenai suatu subyek. Proposisi-proposisi itu terjalin satu sama lain sehingga terbentuk semacam susunan di mana hanya beberapa saja menjadi proposisi dasar sedang proposisi lainnya adalah penurunan dari proposisi dasar tersebut. Makin sedikit proposisi-proposisi dasar, makin kokoh dan sempurna suatu teori[6].

Max Horkheimer melihat bahwa teori tradisional sebagai teori yang bersifat ideologis. Horkheimer mengungkapkan berdasarkan sejumlah argumen berikut :

         Teori dalam kenetralannya, menjadi kedok pelestarian keadaan yang ada. Dengan hanya menganalisa serta mengatur fakta secara teknis, teori tradisional tidak sampai pada tahap mempertanyakan kenapa realitas tersebut sampai terjadi. Dengan kata lain, teori tradisional hanya menerima dan membenarkan realitas begitu saja. Kenetralan justru menjadi kedok yang aman untuk menutupi kelemahan dirinya yang memang tidak mau mengubah realitas.

         Teori tradisional berpikir secara �ahistoris�. Teori tradisional memutlakkan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya unsur yang bisa memajukan dan �menyelamatkan� masyarakat. Namun, teori bukanlah sesuatu yang bebas dari kepentingan dan dapat secara bebas nilai melukiskan keteraturan alam semesta dan fenomena manusia. Jurgen Habermas mengatakan bahwa   Semua ilmu pengetahuan dan pembentukan teori selalu dibarengi oleh interes kognitif tertentu, yaitu suatu orientasi dasar yang mempengaruhi jenis pengetahuan dan objek pengetahuan tertentu[7].

Juergen Habermas mengklasifikasikan tiga pokok interes kognitif yang membimbing terciptanya tiga disiplin ilmu pengetahuan. Interes Kognitif pertama berkaitan dengan kebutuhan manusia akan reproduksi dan kelestarian dirinya, yang melahirkan ilmu pengetahuan yang bersifat empiris analitis. Interes kognitif kedua berhubungan dengan kebutuhan manusia untuk melakukan komunikasi dengan sesamanya di dalam praktik sosial, yang menimbulkan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat historis-hermeneutis. Lalu, interes kognitif ketiga berkaitan dengan kepentingan yang mendorong manusia untuk mengembangkan otonomi dan tanggung jawab sebagai manusia, dan tercermin dalam jenis ilmu pengetahuan yang bersifat sosial kritis[8].

Ketika seseorang berupaya mendefinisikan suatu hal dalam tataran konseptual, maka sebenarnya dia sudah berteori. Pendefinisian itu sendiri bisa muncul melalui berbagai tipikal. Beberapa orang mungkin cenderung mendefinisikan dalam kausalitas linear, sementara orang lain melalui kausalitas circular. Lainnya, mungkin berusaha melakukan pemahaman mengenai sesuatu yang ada di balik realita.

William Dilthey membuat distingsi antara Naturwissenschaften (ilmu-ilmu alam) dan Geisteswissenschaften (ilmu-ilmu roh/budaya). Para penganut positivisme masuk dalam pandangan Naturwissenschaften, di mana mereka ingin menerapkan penjelasan ilmu-ilmu alam pada seluruh wilayah kenyataan, termasuk kenyataan sosial. Kesuksesan pendekatan ilmu alam menjelaskan gejala alam hingga menjadi teknologi, diyakini akan sukses pula jika diterapkan dalam ilmu-ilmu tentang masyarakat[9].

Pemahaman ini kemudian banyak diadopsi pada riset-riset berbasis paradigma positivisme. Dalam perkembangannya, muncul reaksi berlawanan dari mereka yang berada pada pandangan Geisteswissenschaften, lalu muncullah paradigma post-positivist, critical, constructivisme, hingga posmodernisme. Apapun paradigmanya, esensinya seorang saintis harus berteori. Dalam berteori, seorang saintis tak lepas dari proses tesa-antitesa-sintesa. Inilah pentingnya riset dalam berteori dan eksistensi suatu teori.

Teori, Berteori dan Riset

Suatu riset sebenarnya merupakan upaya menghasilkan suatu teori. Seorang peneliti, baik dengan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, harus berteori dalam penelitiannya. Di sinilah letak permasalahan pada sejumlah penelitian, ada ketidakmampuan membedakan antara teori dan berteori.

Suatu teori adalah penjelasan mengenai beberapa hal di mana hal tersebut merupakan bagian dari usaha untuk menjelaskan perilaku atau karakteristik. Sepanjang sejarah dunia ini, telah banyak teori telah dikemukakan. Salah satunya adalah teori bahwa bumi berbentuk flat (datar). Teori lain adalah teori mengenai evolusi. Teori-teori itu berusaha untuk menjelaskan suatu pencarian pemahaman. Seringkali, di masa berikutnya muncul teknologi atau pemikiran yang menyangkal teori-teori yang sudah ada dan diyakini oleh generasi sebelumnya. Di sini, baru kita bisa memahami bahwa riset adalah suatu proses tiada akhir untuk melakukan investigasi berkelanjutan[10].

Teori membentuk pandangan kita terhadap dunia dan diri kita sendiri. Kita adalah mahluk yang dipengaruhi oleh teori yang ada di masa lalu dan sekarang. Kita hidup dalam suatu dunia yang dijelaskan oleh teori-teori, dan teori-teori ini menyertai kita terus dalam apa yang kita baca dan lihat (melalui media televisi dan cetak). Faktanya, kita ditunjukkan pada teori-teori sejak kita masih muda, dan mengalami indoktrinasi ke dalam pemahaman mengenai teori tersebut melalui sistem pendidikan yang kita lalui[11].

Secara umum teori memiliki komponen-komponen sebagai berikut[12]:

A)    Konsep

B)    Relasi di antara konsep

C)    Proposisi

D)     Relasi di antara proposisi

E)     Hubungan antara proposisi dan amatan pada dunia empiris.

Kebanyakan teori muncul dari hipotesis. Hipotesis adalah suatu pemikiran awal berkaitan dengan konsep / variabel dan hal yang ingin diuji atau diketahui.

Ide mengenai hipotesis muncul dari Plato, yang berpikiran bahwa akan lebih bertanggungjawab jika ide mengenai suatu invesitigasi berbasis dari suatu hipotesis[13]. Hipotesis adalah semacam acuan yang dipakai peneliti untuk menjawab pertanyaan riset. Kendati istilah hipotesis hanya digunakan dalam penelitian kuantitatif namun bukan berarti seorang peneliti kualitatif dapat turun melakukan penelitian tanpa acuan jelas.

Pertanyaan riset adalah indikasi umum yang sifatnya belum spesifik. Seringkali peneliti menggunakan pertanyaan riset pada situasi di mana dia belum meyakini permasalahan yang menjadi penelitiannya. Pertanyaan riset bersifat membantu peneliti untuk lebih terfokus pada suatu titik pemasalahan.

Setelah mengetahui mengenai apa itu teori, pertanyaan riset dan hipotesis. Di sini kita mulai bisa melihat suatu keterkaitan antara teori dan riset. Riset sebenarnya memiliki tujuan-tujuan: mencari jawaban akan suatu pertanyaan, menarik konklusi dari data, melakukan generalisasi konklusi, memberikan sesuatu yang baru pada sains, dan mengembangkan pemahaman akan dunia di mana kita tinggal. Dengan demikian, pada setiap penelitian semestinya peneliti berteori dari hasil penelitiannya.

Ada cermatan lain?

 

� Audifax - 27 Mei 2005

 

 



Catatan-catatan:

 

[1] Peneliti, Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA) - Surabaya

[2] Deddy Mulyana; (2001); Metodologi Penelitian Kualitatif-Paradigma baru ilmu komunikasi dan ilmu sosial lainnya; Bandung : Penerbit Rosdakarya; hal. 9

[3] Di sinilah mengapa paradigma menjadi penting. Dalam penelitian, kita mengenal berbagai paradigma, misalnya positivist, post-positivist, critical, constructivism/interpretive, definisi sosial, fakta sosial, posmodernisme, feminism, dll.

[4] Anonim; Thinking Teoritically; online documents                                   : http://www.analytictech.com/mb870/theorizing.htm

[5] W. Lawrence Neuman; (1994); Social research Methods-Qualitative and quantitative approaches; 2nd Edition; Massachusets : Allyn and Bacon;  hal. 35

[6] Sindhunata; (1982) Dilema Usaha Manusia Rasional; Jakarta : Gramedia; hal. 72

[7] Ibrahim Ali Fauzi; (2003); Jurgen Habermas; Seri Tokoh Filsafat; Jakarta : penerbit Teraju; hal. 46

[8] Jurgen Habermas, (1990); Ilmu dan teknologi sebagai ideologi, terjemahan Hasan Basari, Jakarta : LP3ES, hal. 157 - 168

[9] F. Budi Hardiman; (2003) Melampaui Positivisme dan Modernitas; Yogyakarta : Kanisius; Hal. 22

[10] Brian Brown; (2000); Research 201: A Basic Introduction; online documents : http://physinfo.ulb.ac.be/cit_courseware/research/chapter1.htm

[11] Ibid

[12] Anonim; What Is a Theory ? online documents :

[13] Brown; (2000); op.cit


Do You Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new Resources site!
--- End Message ---

Kirim email ke