PANCASILA atau PANCASIAL ? ..Sebuah pertanyaan menentukan
Hari kelahiran Pancasila ,tgl 1 Juni kemarin tidak disambut secara special, datar-datar saja seakan tidak ada istimewanya.. Hari selalu datang dan pergi , musim berganti, iklim berobah, tetapi apakah Pancasila akan ikut pergi??? �� Padahal Pancasila yg dilahirkan dgn keringat, darah dan perjuangan oleh Founding Fathers kita menjadi tonggak sejarah utama di Republik ini. Pancasila adalah dasar negara, Ideologi utama dan Weltanschauung ( pandangan Dunia) Bangsa dalam menatap kedepan..
Kita pantas memberi penghargaan tinggi bagi pencetus Pancasila selaku dasar negara yaitu Soekarno, M Yamin dan Dr Supomo dan tidak lupa pada Hatta selaku pemberi masukan-masukan berharga bagi eksisnya negara RI.. Jangan lupakan pula Tan Malaka selaku penggagas paling awal bagi kemunculan Republik
Tetapi apakah cukup sudah penghargaan ini???
Dimasa sekarang, era Millennium terasa penghargaan itu telah kehilangan makna.. Ditengah-tengah arus pasang kebudayaan global yg cenderung liberal sekuler, Pancasila telah kehilangan pendukung utama.. Tidak seperti pejuang 45 kita yg gigih merumuskan, mempolakan dan memperjuangkan Pancasila dgn darah , keringat dan air mata, Kita di abad ke 21 ini malahan asyik masyuk dgn kebebasan model westernist.. Pancasila sepertinya terpinggirkan , tertolak, tersisihkan dan kalau bisa dilenyapkan. Betul-betul kecenderungan yg tragis�
Kita telah dihantam badai gelombang kapitalisme global besar-besaran, ibarat layang-layang kita dibawa angin badai dan kehilangan pegangan� Pancasila adalah layang-layang putus dalam badai tsb dan belum tahu akan terbang kemana.. Jati diri bangsa sudah beterbangan dirasuki budaya global yg materialisme, asingisme, westernisme, liberalisme dan hedonisme plus serakahisme..
Tiba-tiba tgl 1 juni kemarin, lakon-lakon Politik kita ( Mega, Gus Dur, Tri Sutrisno, Akbar, Wiranto dll) berkumpul dgn semangat perayaan Pancasila .. Sebuah sinyal positif sebetulnya, tetapi sayang hanya sebuah seremonial tanpa skema program-program konkrit bagi upaya mencari dan menemukan kembali layang-layang putus ini.. buat apa kumpul kalau cuma lips service tanpa ada upaya nyata??? Dan anehnya Gus Dur mengingatkan supaya PANCASILA jangan ditulis �PANCASIAL�.. Kok bisa kata-kata saya di milis [EMAIL PROTECTED] meluncur dari si pendekar buta Gus Dur??? Apa dia telah dibisiki ttg tulisan saya ya?
Terlepas dari kritikan Gus Dur pada �istilah PANCASIAL� yg saya tulis, Pancasila memang kecenderungannya sial melulu.. Setelah Proklamasi, Sistem Pancasila akan diganti dgn sistem Republik Federal Boneka semasa agresi Belanda, Lalu RIS thn 50an, berikutnya sistem Demokrasi terpimpin ala Bung Karno si ahli gembar-gembor dgn program (nasionalis-Agama-Komunis)yg jelas menyimpang dari kaidah-kaidah Pancasila, berlanjut ke era OrdeBaru Soeharto yg menjadikan Pancasila selaku tameng terselubung bagi program Kolusi konglomerasi Militeristik represif otoriter, dan datanglah era kebebasan thn 1998 berlabel �Reformasi� yg diredusir jadi �REPOT NASI� dgn sistem Demokrasi Liberal oleh para agent-agent Liberal selaku provokator, Malahan sistem kapital Liberal murni menjadi acuan utama dgn program washington Consensus menjadi �jimat� demi perobahan kearah yg lebih baik termasuk sistem Politik yg bercorak liberal bebas berekspresi sesuai dgn HAM jargon Humany model Liberte-Egalite-Fraternite.. Pancasila telah ditendang dari Panggung Politik, ekonomi, Sosial dan Budaya.. Sial !!!
Pancasila telah diturun peringkatkan oleh utusan-utusan Liberal demi pemenuhan tujuan Global yaitu penyebaran Demokrasi yg berbau Liberal dgn program Ekonomi adalah Kapitalisme dan free Trade ( perdagangan Bebas) dalam dunia yg tanpa sekat( a Whole World) demi sebuah tujuan abadi yaitu Imperialisme berbaju Neokolonialisme ..
Sekarang semua telah hampir sempurna berlangsung di Republik oleng ini.. PILPRES dan PILKADA telah langsung dipilih rakyat, sementara implementasi sila ke 4 yaitu MUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT diganti dgn sistem suara terbanyak 50% plus 1.. Perbedaan dituntaskan dgn sistem suara terbanyak bukan lagi sistem musyawarah untuk mufakat.. Ekonomi telah diprivatisasi, liberalisasi secara bertahap dan mengundang kapitalis besar untuk masuk ke Indonesia, dan implementasi sila ke 5 yaitu kesejahteraan sosial yg berkeadilan bisa jadi akan bercorak keadilan sosial bagi kelompok pemodal, bukan penduduk asli.. Dan persatuan
Padahal Pancasila adalah sebuah mainstream utama bagi hidup berbangsa bernegara.. Tidakkah kita menyadari ada yg salah besar di republik ini??? Ketika musyawarah dilangkahi dgn hak suara, ketika itulah chaos tejadi, semua orang berhak berpendapat dan terjadi kekacauan persepsi, kegalauan pendirian dan ketidak pastian ttg kebenaran, termasuk kebenaran langit telah diacak-acak demi apa yg dinamakan sistem NEGARA TERPISAH DARI AGAMA.. artinya Negara yg berunsur rakyat, sistem politik, ekonomi, sosial, budaya dan adat tradisi dipisahkan dgn nilai-nila transenden agama dan hasilnya adalah ketiadaan makna hidup, yg memberi peluang bagi sekuler niragama untuk mengisinya.. Terlihat dari segala aspek mikro kita mulai dari
Dan yg tragis adalah sistem Ekonomi yg diarahkan ke Pasar bebas tanpa prinsip keadilan sosial sebagaimana Pancasila sila ke 5.. Free market adalah sistem hukum rimba, siapa yg kuat modal dan cepat nyerbu pasar dia yg menang( survival is the fittest and the fastest).. Kita telah gagal dgn Kapitalisasi Orde baru, sebab kekalahan finansial Orde Baru yg ceroboh telah membikin kehancuran segala sisi.. Tapi lalu malah masuk lebih dalam lagi ke tahap kapitalisasi sejati dgn deregulasi, privatisasi, liberalisasi perdagangan dan investasi asing serta pajak tinggi.. Sudah jelas liberalisasi ekonomi tidak cocok bagi kita yg berpopulasi jiwa amat banyak dan butuh ekonomi padat karya, sekarang kita gali lobang lebih dalam lagi.. apa ini tidak bego namanya... Sekarang Pemerintahan SBY teken MOU liberalisasi perdagangan dgn Jepang, sebelumnya dgn Asean , besok entah dgn siapa.. Semestinya sektor publik diperkuat
dulu dgn pemberdayaan Ekonomi UKM dan Pedesaan dgn bentuk ribuan pasar mikro dan konsumsi nasional yg semarak baru tekan perjanjian liberalisasi dgn negara asing� Itulah kalau jeratan Hutang IMF dan World bank termasuk
Jadi Pancasila selaku jati diri bangsa saat ini betul-betul sdg berada dititik nadir � akankah kita biarkan saja? Apakah kita diamkan sebuah ideologi orisinil bangsa dikubur dalam-dalam supaya dikatakan bangsa yg beradab? Tidak adakah upaya bagi kembalinya kita pada jati diri awal?
Jawabannya tergantung kita: PANCASILA (
Kita selaku penerus mesti gimana dgn Pancasila yg Made In Indonesia?
Sang
Peyakin Pancasila
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
Yahoo! Groups Links
http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
[EMAIL PROTECTED]
