kinanthi2005 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

--- In [email protected], "fankuang_tzu" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Agama bukanlah "Jalan Ketuhanan" melainkan "Cara Kemanusiaan", oleh
> karena itu tidak ada hubungan dan berdampak pada mental kecuali
> emotional.
>

K: persepsi ....?

 

FK: Bukan persepsi tetapi realita bung....

> Agama berusaha menjadikan manusia berakhlak meskipun lebih banyaklah
> kegagalan yang semakin hari semakin memprihatikan. Manusia bukan
Takut
> sama Tuhan, tetapi sebenarnya takut dengan Agama. Tidak beragama,
> nanti dikatain orang PKI, atau nanti tidak masuk surga. Tidak
beragama
> jelas tidak dapat menjadi pejabat.
>

K: Beragama yang salah kaprah.

 

FK. : Bukan salah kaprah, tetapi kesengajaan karena sejak kecil sudah diajarkan beragama yang benar,

> Bangsa Indonesia orang beragama dan bahkan mayoritas beragama
Islam.
> Tapi beragama bukan jaminan bermoral. Bangsa ini justru memiliki
> budaya korup, anarki, arogan, munafik dan fanatik. "Tiada hari
tanpa
> Korup", karena itu aku bangga menjadi bangsat Indonesia.

K: Jadi yang salah agamanya atau penganutnya...?

FK. Setali tiga uang....

> Agama di Indonesia lebih tepat diberi difinisi "TOPENG TUHAN" untuk
> menutupi wajah HANTU, he..he..he.
>

K: Ha...? benarkah ......
Jadi Tuhan kamu anggap hantu.....?
Dan Syetan kamu anggap tuhan...?

FK. Kalimat di atas adalah " agama"..bung ( coba diteliti )


> Salam renung
> FK.
> --------------------------------------------------------------------
-
> --- In [email protected], "teddyleuwol" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> >
> > (Tulisan Pak Sarlito di Kompas ini layak dijadikan sebagai bahan
> > perenungan bagi kita semua. salam :: teddy leuwol)
> >
> > Bangsa Tak Berakhlak
> >
> > Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono
> > Guru Besar Psikologi UI
> >
> > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/08/opini/2073148.htm
> >
> > Akhlak adalah jargon agama untuk budi pekerti (istilah
sekolahan),
> > atau Moral atau Etika (istilah ilmiah). Ilmu Filsafat membedakan
> > etika (baik-buruk), dari estetika (indah-jelek) dan logika (benar-
> > salah).
> >
> > Sesuatu yang benar belum tentu indah, yang indah belum tentu
baik,
> > yang baik belum tentu benar, dan seterusnya. Namun, idealnya,
hidup
> > ini merupakan keseimbangan antara ketiganya. Misal, meski benar
> > secara logika bahwa badan istri bertambah berat, tidaklah etis
kalau
> > mengatakan, Kamu kok makin gendut, sih? Bukankah lebih estetis,
> > lebih manis, jika berkata, Yuk, ke butiknya Dewi Hughes. Rasanya
ada
> > baju yang lebih pas, buat kamu.
> >
> > Tak berakhlak
> >
> > Saat pesawat Mandala jatuh di Medan belum lama ini, dan setelah
> > mengaitkan dengan banyaknya kecelakaan dan petaka yang sebenarnya
> > tidak perlu terjadi, saya beranggapan bahwa bangsa kita adalah
> > bangsa yang teledor.
> >
> > Namun, seorang teman mengingatkan, keteledoran mengandung unsur
> > ketidaksengajaan. Meninggalkan kompor menyala sehingga terjadi
> > kebakaran, atau alpa mengecek rem sehingga mobil masuk jurang,
atau
> > lupa mengunci pintu sehingga si kecil masuk saat ayah sedang
> > bercinta dengan ibu, itu namanya teledor.
> >
> > Jika membakar kampung tetangga gara-gara ada cewek kena colek,
atau
> > mengeroyok pencopet sampai mati padahal belum tentu berdosa, atau
> > korupsi miliaran rupiah tetapi tidak mau dipenjara meski sudah
> > diputus pengadilan, atau sengaja berselingkuh atau berjudi, itu
> > namanya bukan teledor, tetapi tidak berakhlak, kata kawan saya.
> > Dalam perilaku tidak berakhlak ada niat, atau kesengajaan untuk
> > berbuat buruk, atau melanggar etika, atau immoral.
> >
> > Waduh... kalau begitu banyak perbuatan bangsa kita yang tidak
> > berakhlak. Sengaja melanggar lampu merah sehingga lalu lintas
macet,
> > sengaja menaikkan harga untuk keuntungan sendiri, sengaja membeli
> > ijazah palsu untuk mengelabui calon mertua, meminta pungutan
liar,
> > menebang hutan lindung, menyuap calo DPR, menggelapkan barang
bukti,
> > merusak sekolah karena tidak lulus ujian, dan seterusnya, itu
> > contoh, ribuan bahkan jutaan. Pantas jika Indonesia mendapat
julukan
> > salah satu negara paling korup di dunia, bahkan paling munafik,
> > karena kemaksiatan berjalan seiring makin maraknya hidup
keagamaan
> > bangsa ini.
> >
> > Tidak berdampak
> >
> > Masalahnya, menurut logika, tidak seharusnya maksiat berjalan
> > seiring agama. Bagaimana mungkin agama tidak berujung kepada
akhlak
> > yang baik, seperti yang selalu diteorikan? Tentu ada yang salah.
> > Beberapa pakar berpendapat, agama kita di Indonesia baru sebatas
> > upacara, belum memengaruhi sikap mental sehingga tidak ada
dampaknya
> > pada perilaku. Tetapi, kok bisa, pendidikan dan pelajaran agama
yang
> > sudah masuk kurikulum sejak TK sampai mahasiswa tidak berdampak
pada
> > sikap?
> >
> > Jika pertanyaan ini dijawab dari teorinya para ustadz dan khatib,
> > tidak akan ketemu penjelasannya. Karena dalil yang selalu
> > dikemukakan pemuka agama adalah jika kita melaksanakan ajaran
Tuhan
> > dan Rasul, ujungnya pasti akhlak (dunia) dan surga (akhirat).
> > Padahal dalil inilah yang justru diterapkan dalam praktik
pendidikan
> > agama di sekolah-sekolah Indonesia: sejak TK murid diwajibkan
> > menghafal ayat-ayat kitab suci dan doa-doa. Ulangan dan ujian
juga
> > seputar ayat-ayat dan doa-doa itu.
> >
> > Sementara itu, menurut teori psikologi, khususnya teori belajar,
> > yang terjadi sebaliknya. Dalam teori belajar dikatakan, seseorang
> > harus berbuat dulu (psiko-motorik), baru timbul pemahaman
> > (kognitif), akhirnya timbul sikap (afektif). Dengan demikian,
untuk
> > belajar akhlak, anak TK-SD seharusnya disuruh belajar praktik
budi
> > pekerti dulu, misal, bagaimana mengucap terima kasih, mengapa
orang
> > harus meminta maaf, apakah hari ini sudah mencium tangan mama-
papa,
> > apakah sudah memberi makan kucing kesayangan? Dan seterusnya.
> >
> > Melalui praktik budi pekerti timbul empati, yaitu kemampuan
> > menyayangi binatang, mengagumi keindahan, menghargai dan
berempati
> > pada orang lain, dengan sendirinya akan terhindar dari sikap
arogan
> > atau mau menang sendiri. Ketika anak belajar ayat atau doa-doa,
ia
> > akan paham apa yang dimaksud ayat dan doa itu sehingga ia tidak
akan
> > menghujat atau membunuh orang lain sambil kerongkongannya
> > meneriakkan nama Tuhan.
> >
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/pyIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/





__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke