Seharusnya dibentuk semacam wadah filasafat...jangan melulu agama yang terpecah-pecah dalam sekte-sekte atau aliran-aliran (sesat ) ..
 
Salm

gieh irawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
salam,
tentunya filsafat ngga sempitkan?, supaya ngga jadi generalisasi berujung fallacy . . .
tentu saja filsafat (metaphisik) yang nge-dasarin segala bentuk realitas (fisik/materi) yang ada, tinggal kita melihat dari perspektif mana. adakah aposteriori yang tidak berasal dari apriori?,
 
problematika praksis yang terjadi (masalah ekonomi, sosial, budaya, etc) saya lihat karena berangkat dari kerangka epistemologi yang memang menghendaki-nya demikian (falsafah sains). dan hal ini pula yang terjadi pada eksistensialism, materialism, etc, yang meletakkan tujuan pada keinginan manusia bukan pada kebutuhan. (coba bandingkan konsep sosialnya marx dengan konsep sosialnya ali shariati).
 
dalam perspektif saya, filsafat telah membantu saya dalam menjawab dari mana saya, untuk apa saya, dan mau kemana saya. . . sungguh perjalanan yang mengasyikkan.

azzawajalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
The End Of Filsafat

"di zaman modern ini kelaparan semakin
merajela---kita tidak bisa ngomong
karena sungguh lapar" (C.I.S Ibnasian A.S )

Saat sekarang benar-benar saat kematian bagi filsafat. Sekarang
kesadaran manusai tidak lagi berada pada nalar. Manusia sekarang
tidak menapaki daya pesona nalar, ia lebih suka menjelajah bersama
dunia maya, ruang hampa. Maka salah satu gaya-nya adalah
mengatakan "ya" dalam hidup ini. Namun kemudian apa yang di-"ya"-kan
sama sekali tidak menjawab semua problem kehidupan. Dahulu filsafat
lahir dari rahim keingintahuan segala masalah, sekarang filsafat
berurusan dengan segala pengetahuan yang ada. Sementara pengetahuan
yang ada yang tersedia bagi umat manusia tidaklah membuat nyaman,
apalagi indah. Dan saat ini pula filsafat tidak "sanggup" "menjawab"-
nya--benarkah dengan demikian filsafat berarti mati ?

Anggapan lain mangemukakan bahwa sangat krisis melanda sebuah negeri
dengan berbasiskan ekonomi, lalu apa yang akan disumbangkan filsafat
pada dunia realitas. Setiap ilmu tentulah "problem solving". Pada
titik inilah kematian menjemput filsafat dari kegagahannya. Karl
Marx pernah mengemukakan pengertian cukup mendasar kepada kita bahwa
filsafat saatnya "mengubah dunia" bukan hanya "mendefinisikan dunia"
semata. Dari dasar pikiran Marx ini kita boleh beranggapan bahwa
dunia (tentu dalam pikiran Karl Marx) tidak senantiasa membutuhkan
ide tapi terkadang materi. Demikian Marx sebagai filosof
materialistik mengkritik para filosof. Apakah dengan demikian
filsafat berarti menuju kematian ?

Bagaimana cermatan teman-teman ?
Terima kasih Azja Wajalla.   






Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke