Note: forwarded message attached.


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
KEBENARAN DALAM DA VINCI CODE
OLEH:
AUDIFAX[1]
 
Da Vinci Code, adalah sebuah novel yang sarat pengungkapan dan tafsir terhadap simbol-simbol. Pengungkapan dan tafsir itulah yang kemudian menimbulkan kontroversi, terutama di kalangan Nasrani. Perdebatanpun berputar pada kebenaran Alkitab. Terutama mengenai Maria Magdalena dan kebenaran pernikahannya dengan Yesus. Terlepas dari fenomena kontroversinya, ada suatu hal yang terkesan naif di sini. Baik yang mempertahankan “kebenaran” Alkitab mengenai Gereja dan Yesus yang melajang, maupun yang kemudian memercayai “kebenaran” dalam Da Vinci Code di mana Yesus menikahi Maria Magdalena dan memiliki anak; keduanya sama-sama terjebak dalam kebenaran tekstual.
Sayang, banyak orang yang justru tak menangkap pesan mitologis dari Da Vinci Code dan cenderung membiarkan diri terjebak dengan membawa Da Vinci Code pada kebenaran tekstual. Perdebatan lantas bergerak pada adu bukti, yang ironisnya sama-sama tekstual, sama-sama imanen, dan tak menyentuh apa yang transenden. Implikasinya, yang transenden pun seolah ditaruh nun jauh di atas sana dan tak turun pada imanensi, sehingga terkesan mati dalam simbol-simbol kosong. “God is Dead” kata Nietzche!.
Tulisan ini akan mencoba sedikit mengulas masalah kebenaran dalam Kisah Da Vinci Code. Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai Kebenaran dalam Da Vinci Code, akan saya paparkan terlebih dulu penjelasan mengenai kebenaran dan Teks.
Kebenaran-kebenaran yang dibangun melalui Teks
Banyak kebenaran di dunia ini, dibangun di atas dan melalui teks serta bersifat terberi (given), sehingga tak pernah dipersoalkan lagi. Teks di sini meliputi teori, ajaran, laporan, Kitab-kitab, dan segala hal yang berbentuk teks. Kontekstualisasinya dapat kita lihat pada berbagai konsep, berbagai ajaran dalam agama dan pada sejumlah hal lainnya. Kebenaran Teks ini, kemudian ditetapkan sebagai sebuah acuan untuk menilai atau meletakkan segala sesuatu dalam kontinum Benar-Salah. Tak terkecuali Kebenaran akan Tuhan yang transenden.
Tradisi Platonik memahami Kebenaran secara vertikal, yakni dalam hubungannya dengan Yang Ilahi atau realitas suci. Karena penekanannya pada aspek spiritual dan adiinderawi, maka Platonisme memahami kebenaran sebagai kenyataan ekstralinguistik yang mandiri dari manusia[2]. Inilah bentuk awal dari logosentrisme yang berabad-abad kemudian menjajah alam pikiran Barat dan membentuk suatu sistem metafisik yang berbasis pada kehadiran. Filsafat kemudian terbiasa mereduksi berbagai persoalan ke dalam satu rumusan universal yang diterima secara a priori[3].
Jacques Derrida melihat lain, jika filsafat ingin merangkum segalanya ke dalam satu rumusan universal, maka sedari awal rumusan itu sendiri sebenarnya tidak dapat mengelak dari perbedaan-perbedaan yang dibentuk oleh struktur tanda. Logika apapun yang hendak menegakkan sebuah keutuhan tidak terbebas dari aspek diferensial tanda yang implisit dalam bahasa. Maka, usaha untuk membuat suatu sistem pemikiran yang koheren akan selalu terbentur dengan aspek diferensial bahasa[4]. Derrida mengemukakan bahwa nilai sebuah kata ditentukan sepenuhnya oleh perbedaannya dengan kata-kata lain yang terwadahi dalam konsep differance. Namun, konsep tersebut juga menegaskan bahwa nilai sebuah kata tidak dapat hadir seketika. Nilainya terus ditunda (deferred) dan ditentukan-bahkan juga dimodifikasi- oleh kata berikutnya dalam satu aliran sintagma.[5]
Apa maksudnya nilai sebuah kata terus tertunda? Mari kita coba peragakan:
Coba bayangkan sesuatu ketika anda membaca (atau mendengar) kata “Cantik”.
Sekarang, apa yang anda bayangkan jika kata “cantik” saya letakkan dalam kalimat: “Dian Sastro cantik”.
Coba bayangkan lagi ketika kata “cantik” itu saya letakkan pada kalimat: “Payung Cantik”.
Bayangkan pula ketika kata “cantik” itu saya letakkan pada kalimat: “Nomor cantik”
Bayangkan lagi ketika saya meletakkan kata “cantik” pada kalimat: “Kesebelasan Brazil bermain cantik”.
Lalu, sebenarnya apa itu “cantik”? “cantik” tak merujuk pada apapun karena tergantung pada penempatannya. Inilah yang dijelaskan bahwa nilai kata selalu tertunda. Ini baru bermain-main dalam satu kata. Dalam kalimatpun juga berlaku hal yang sama.
Oleh karena itu, jika kita masih menginginkan kebenaran, sementara kebenaran itu sendiri tak pernah keluar dari jaring-jaring tanda teks, maka prinsip intertekstualitas menjadi satu-satunya cara kita untuk melihat kebenaran. Derrida mengatakan tidak ada apa-apa di luar teks. Jika kita mau menemukan kebenaran, maka kebenaran itu “stand between and within” teks. Meminjam istilah Mark dan Esa, maka yang penting bukan lagi understanding, tapi interstanding. Ini karena yang dilakukan bukan menetapkan sesuatu di atas dan meyakininya secara taken-for-granted, namun lebih pada pencarian terus menerus. Kebenaran, dengan demikian, akan selalu berada pada kondisi penghampiran, tak pernah finish, tak pernah final, dan justru di situlah kebenaran itu hidup.
Inilah sebuah metode yang terkenal dari Derrida, yaitu Dekonstruksi. Jacques Derrida, hadir dengan Dekonstruksinya untuk menantang segala totalitas makna, penafsiran, atau pengetahuan yang terlembagakan dalam sejarah, institusi sosial, kultur, politik, dan pelbagai order of things yang ingin menata dunia ke dalam suatu sistem tunggal dan koheren[6]. Derrida memelajari pemikiran dari filsuf-filsuf dan menemukan ketidakkonsistenan dalam teks-teks pemikiran mereka. Dari titik ini, bisa ditarik bahwa pada segala hal yang tekstual, tak akan pernah ada makna yang stabil. Semua yang tekstual, bisa didekonstruksi. Dekonstruksi, berbeda dari destruksi; jika disetruksi menghancurkan bangunan tapi masih memungkinkannya untuk membangun kembali, namun dekonstruksi tidak. Dekonstruksi menghancurkan tatanan dan membiarkannya mengambang serta tak mungkin dibangun kembali. Segala kebenaran pun, ketika diletakkan secara tekstual (atau sebatas konsep) akan selalu bisa didekonstruksi.
Derrida sebenarnya mengajak manusia untuk lebih ‘rendah hati’ dalam melakukan segala tafsir terhadap kebenaran. Bagi Derrida, tafsir-tafsir semacam itu, semestinya berangkat dari pemosisian diri sebagai yang tidak tahu apa-apa dan dari ketakberdayaan si penafsir untuk merangkum dunia yang sebegitu majemuk. Dalam tafsir yang ditulis dalam kesadaran akan kefanaan itu, tak ada lagi pengelevasian satu keyakinan kebenaran di atas yang keyakinan kebenaran yang lain; manusia sebagai penafsir, sepenuhnya tenggelam dalam kabut pekat dan selubung misteri akan kebenaran.
Dekonstruksi  merupakan koreksi terhadap pemikiran konstruksi sosial berkaitan dengan interpretasi terhadap teks, wacana, dan pengetahuan masyarakat. Dekonstruksi kemudian melahirkan tesis-tesis keterkaitan antara kepentingan (interest) dan metode penafsiran (interpretation). Dalam dekonstruksi, kepentingan tertentu selalu mengarahkan pada pemilihan metode penafsiran tertentu. Sebagian pemikiran Derrida sejalan dengan pemikiran Habermas bahwa terdapat hubungan strategis antara pengetahuan[7] manusia dengan kepentingan[8], meski tidak dapat disangkal bahwa yang terjadi bisa pula sebaliknya, yakni bahwa pengetahuan adalah produk kepentingan[9].
Kebenaran yang dinyatakan dalam bahasa, dengan demikian tak akan menemui kesejatiannya sebagai kebenaran. Ia tak lebih sebagai bangunan yang tak pernah usai. Layaknya mitologi Menara Babel yang pembangunannya terhenti karena para pekerjanya memiliki bahasa yang berbeda-beda; seperti itupulalah kesejatian kebenaran; ia tak akan pernah secara utuh dibangun oleh bahasa. Kesejatian kebenaran ini bertemu dengan kesejatian manusia yang juga selalu berada dalam kesementaraan. Pada titik inilah pemikiran Nietzchean dan Dekonstruksi Derrida menemukan implikasinya. Manusia dan kebenaran selalu berada dalam kesementaraan dan perjalanan pencarian; namun justru dalam kesementaraan dan pencariannya itulah manusia dan kebenaran masih memiliki arti. Jika kesementaraan dan pencarian itu tak ada, maka sebenarnya manusia dan kebenaran telah mati.
Da Vinci Code, Pesan Kebenaran dari ranah mitologis
Kebenaran, mestinya tak mati di dalam teks, seperti saya tulis dalam esei saya berjudul “Kebenaran tanpa “Kebenaran”[10]. Dan Brown sendiri sebenarnya mencoba menyampaikan ini, seperti tertera pada kutipan berikut:
“...Biarawan selalu menjaga sehingga Grail tidak akan pernah diungkap.”
“Tidak akan pernah?”
“Misterinya dan keanehan itulah yang bermanfaat bagi jiwa kita, bukan Grail itu sendiri. Keindahan Grail terdapat pada kehalusannya.....bagi beberapa orang, Grail adalah cawan yang akan memberikan kehidupan abadi bagi mereka. Bagi yang lainnya, itu merupakan pencarian dokumen-dokumen yang hilang dan sejarah rahasia. Dan bagi kebanyakan orang, aku menduga Holy Grail hanya merupakan gagasan mulia...harta yang megah dan tak dapat diraih yang memberikan inspirasi bagi kita walau di dunia yang penuh kekacauan ini[11]
Holy Grail, kunci dari cerita Da Vinci Code, adalah sebuah kebenaran yang hidup, yang selalu dalam pencarian, yang selalu orang menghampirinya namun tak pernah sampai pada finalitasnya. Itulah kesejatian kebenaran yang bisa menginspirasi manusia dan tetap jernih walau dunia menjadi keruh. Ini adalah sebuah kebenaran yang berasal dari ranah mitologis. Tak hanya Holy Grail, mite-mite lain juga banyak yang membawa pesan-pesan kehidupan yang untuk menagkap maknanya tak bisa direduksi dalam tekstualitas semata. Kitab suci pun, sebenarnya merupakan kumpulan mite yang menyampaikan pesan-pesan kehidupan, termasuk Kebenaran yang hidup. Sayang, tafsir-tafsirnyalah yang membuat pesan-pesan itu mati dalam tekstualitas dan tak pernah mencapai kontekstualitasnya.
Jadi Da Vinci Code dan Holy Grail, sebenarnya bukanlah tawaran kebenaran tekstual. Novel itu membawa pesan mitologis akan kebenaran yang hidup dan harus dicari manusia. Lebih jauh, novel itu juga mengandung pesan akan kematian sejumlah kebenaran dalam teks-teks yang diyakini secara taken-for-granted. Ini membuat manusiapun mati dalam pemaknaan-pemaknaan yang diberikan oleh teks itu dan tak mampu memaknakan sendiri. Padahal, setiap teks akan selalu berbeda antara orang satu dengan orang yang lain, karena masing-masing individu adalah unik.
Poskrip
Bukan dalam “kebenaran-kebenaran” yang telah mati manusia menemukan makna hidupnya, melainkan dalam Kebenaran yang masih terus dan terus dicari dalam perjalanan hidupnya. Inilah titik di mana Kebenaran yang transenden, menyatu dengan realita yang imanen. Segala yang hanya diletakkan dalam transendensinya dan tak menyentuh tataran imanen, adalah kosong, tak terkecuali Tuhan. Kebermaknaan hanya bisa ada ketika yang transenden itu mampu turun untuk menyatu dengan yang ada di tataran imanen, dan itu hanya terjadi dalam perjalanan hidup yang terus menerus mencari kebenaran.
Ada cermatan lain?
 
 
© Audifax – 16 November 2005
 
NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
 
  


CATATAN-CATATAN:
[1] Peneliti; Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA)-Surabaya
[2] Pereduksian bahasa oleh Logosentrisme dilakukan secara sistematis melalui metafisika yang lebih memprioritaskan Kesatuan daripada Keragaman, Mengada daripada Menjadi, Ketetapan daripada Perubahan, dan Kemutlakan daripada Relativitas. Plato sejak awal membangun fondasi metafisikanya di atas prinsip Kesatuan yang merupakan prioritas tertinggi dari segala perubahan dan kontingensi. Dinamika metafisik terjadi akibat tegangan antara kesatuan dan keragaman dalam segenap aspek kehidupan. Plato menentang keras metafisika Parmenides yang lebih memprioritaskan Keragaman daripada Kesatuan dan menganggap keragaman sebagai efek dari Kesatuan yang menampakkan manifestasi dalam wujud konkret. Karena itu, kata Plato, relasi antara Kesatuan dan Keragaman tidak dapat terjadi secara langsung dengan Esensi Ada yang absolut, tunggal, dan sempurna. Ia membutuhkan sesuatu yang lain, yakni esensi yang menggabungkan keragaman dan kesatuan sekaligus. Esensi ini bersifat dyadic.
[3] Muhammad Al-Fayyadl; (2005); Derrrida; Yogyakarta: LKIS; hal. 73-75
[4] Muhammad Al-Fayyadl; (2005); Derrrida; Yogyakarta: LKIS; hal. 75
[5] Paul Cobley & Litza Jans; (2002); Mengenal Semiotika – For Beginners; saduran Ciptadi Sukono; Bandung : Mizan,  hal 94
[6] Muhammad Al-Fayyadl; (2005); Derrrida; Yogyakarta: LKIS; hal. 172
[7] empiris-analitis, historis, hermeneutik, maupun pemikiran kritis
[8] teknis, pratis, atau filsafat emansipatoris.
[9] Alex Sobur; (2001); Analisis Teks Media – Suatu pengantar  untuk analisis wacana, analisis semiotik, analisis framing; Bandung : PT Remaja Rosdakarya, hal. 92
[10] Lihat Milis Psikologi Transformatif; http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/2064
[11] Dan Brown; (2003); The Da Vinci Code; saduran Isma B, Koesalamwardi; Jakarta: Serambi Ilmu Semesta; hal. 616


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
--- End Message ---

Kirim email ke