Ada yang bisa konfirmasi cerita ini? Tragis bener ya...
Note: forwarded message attached.
Note: forwarded message attached.
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy beauty product | Philosophy | Philosophy beauty |
| Philosophy of | Philosophy amazing grace | Philosophy hope in a jar |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--- Begin Message --- from my friend, tkx
Note: forwarded message attached.
How much free photo storage do you get? Store your holiday snaps for FREE with Yahoo! Photos. Get Yahoo! Photos--- Begin Message ---Dari milist tetangga....=======================================================Tragedi Akademik paling Memalukan
Senin, 23 November 2005, sekitar pukul 11.15-an, di hall
Universitas
Islam Negeri (IAIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta, saya kira
bisa dibilang
sebagai "insiden akademik yang paling memalukan tahun
ini". Dalam
diskusi publik "Refleksi Sosial Agamawan terhadap Kenaikan
Harga BBM
di Indonesia" itu hadir sebagai pembicara Prof. DR. Musa
Ansyari,
Ustadz Ja'far Umar Thalib, dan DR. George Junus
Aditjondro. Sedang
Prof. DR. Mochtar Mas'ud tidak bisa hadir.
Seperti biasa, ketiga pembicara memberi paparan awal
sebagai pengantar
diskusi. Dua akademisi, Musa dan Aditjondro, melengkapi
paparan dengan
makalah lengkap beserta data-data. Aditjonro dengan
makalah "Disandera
Kabinet Pedagang Migas: Membongkar Kepentingan-kepentingan
Domestik
dan Internasional di Balik Kenaikan Harga BBM di
Indonesia", dan Prof.
Musa dalam kapasitasnya sebagai representasi Departemen
Komunikasi dan
Informatika memberi dalih lewat "Latar Belakang dan
Kebijakan Mengenai
BBM". Sedang Ja'far melisankan semua paparannya, tentu
dengan
perspektif agama Islam.
Pada saat sesi tanya jawab, ada 5 penanggap dari floor
yang dengan
segera direspon balik oleh ketiga pembicara, dimulai dari
Musa, Ja'far
dan terakhir Aditjondro. Musa senderung defensif dan
membela
pemerintah. Memang itulah wilayahnya. Tak menjadi soal.
Ja'far
menjawab dengan pendekatan norma2 agama seperti laiknya
ustadz yang
baik. Nah, ketika respon balik inilah Aditjondro mencoba
memberi
perluasan cakupan persoalan dengan membeberkan banyak
(kemungkinan)praktik konspirasi dalam banyak kasus bisnis
militer
dalam industri perminyakan di Indonesia. Hingga ihwal
dugaan Prabowo
yang memiliki dua kaki di Laskar Jihad dan kelompok
Nasrani dalam
konflik Maluku untuk menjaga keberlangsungan bisnis
minyaknya di sana.
Semua dipaparkan dengan runtut beserta dukungan data dan
argumentasi
yang masuk akal. Beberapa kali respon riuh dari audiens
menimpali
paparan Aditjondro ini. Juga ketika itu Aditjondro dengan
cukup
panjang memberi perspektif Islam dari garis pemikiran
Arkoun (dan
pemikir Islam progresif lain) untuk dibumikan dalam
menyikapi problem
sosial di tanah air. Juga tentang resistensi Gus Dur, dan
lainnya
deh...
Nah, ketika sesi kedua akan dibuka oleh moderator inilah,
tiba-tiba
Ja'far meminta waktu untuk bicara kembali. Di sinilah awal
"tragedi"
itu terjadi. Ja'far langsung membuka responsnya dengan:
"Kita telah
mendengarkan gosip gaya ibu-ibu PKK dari intelektual
bernama doktor
George Aditjondro". Audiens segera terhenyak. Mereka
kaget. Suara
Ja'far lambat laun makin keras, intonasinya kian tegas,
jarinya
sesekali menunjuk-nunjuk, juga mengepalkan tangan
kanannya. Audiens
segera merespons dengan melontarkan kata2: "Bubar saja!
Sudah tidak
kondusif!" Atau "Huuuu, payah!", "Tidak intelek!" dan
lainnya.
Sementara beberapa pendukung Ja'far berteriak: Allahu
Akbar, Allahu
Akbar!! Moderator yang suaranya mungil tak digubris
Ja'far.
Sebaliknya Ja'far kian tak terkontrol. Bicaranya
kemana-mana! Antara
lain, "Siapa yang mendalangi kerusuhan Maluku? Gereja!!!
Pendeta
Damanik-lah dalang kerusuhan di sana!" "Gus Dur Jangan
Dipercaya! Gus
Dur Adalah Presiden Paling Sinting dalam Sejarah
Indonesia!!!" "Siapa
yang Teriak-teriak itu, Marilah Berkelahi dengan Saya
Setelah Acara
Ini!", teriaknya lantang sembari berdiri dan tangan
kanannya
menggebrak meja.
Diskusi betul2 kalang kabut. Mahasiswa UIN yang
kemungkinan berbasis
organisasi PMII (Perhimpunan Mahasiswa Islam Ind yang
berafiliasi ke
NU) berteriak riuh-rendah. Wajar, wong Gus Dur dilecehkan.
Anak2 buah
Ja'far demikian juga. Mereka teriak dan menuding agar
mahasiswa jangan
kabur (seperti mau menantang berkelahi). Untung saja belum
ada kursi
yang melayang. Dan moderator dengan segera membubarkan
acara setelah
Ja'far berhenti bicara, bukan menghentikan bicaranya. Musa
segera
merangkul Ja'far dan memisahkan diri dari moderator dan
DR.
Aditjondro. Ja'far masih terlibat perbincangan dengan Musa
dan
beberapa dosen UIN. Sementara puluhan mahasiswa/i ramai2
mendekati DR
Aditjondro untuk menyalami, dan beberapa di antaranya
berucap: "Saya
mendukung Anda, Pak!" Beberapa malah langsung meminta
nomor hape.
Silakan Anda akan memberi penilaian atas insiden tersebut.
Sementara
bagi saya , kasus ini kiranya telah memberi gambaran yang
cukup jelas
bahwa, pertama, (beberapa) sosok pemimpin umat Islam di
Indonesia
belum mampu menyiapkan dirinya untuk berkomunikasi secara
bi/multilateral dengan baik, dewasa, argumentatif dan
apalagi ilmiah.
Mereka, seperti kasus Ja'far, masih terbiasa menjadi
pelakon monolog
yang berbicara satu arah tanpa mengesampingkan dialog.
Jangankan
ketika menghadapi ilmuwan semacam DR Aditjondro, terhadap
Gus Dur pun
yang sesama Islam sosok Ja'far betul-betul asbun tanpa
memiliki
eksplanasi yang argumentatif. Kedua, ustadz semacam Ja'far
masih
sangat patriarkhis garis pemikirannya. Dengan
mengolok-olok omongan DR
Aditjondro tak lebih seperti gosip ibu2 PKK, maka Ja'far
dengan tegas
memberi alamat bagi omongan yang dianggap tidak bermutu
adalah milik
perempuan. Ini memprihatinkan. Ketiga, Ja'far telah
membuat pelecehan
akademis/intelektual terhadap dua pihak, yakni kampus UIN
dan sosok DR
Aditjondro. Dia melecehkan konteks ruang
akademik/intelektual yang
dibangun di UIN, dan sekaligus terhadap DR Aditjondro yang
dinafikkan
seluruh kajian dan data empiriknya sebagai ilmuwan dan
peneliti.
Keempat, kita bisa beroleh kesan teramat kuat bahwa Ja'far
Umar Thalib
adalah ustadz preman.
Apa boleh buat?
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
--- End Message ---
--- End Message ---
