Remarque : message transféré en pièce jointe.


Appel audio GRATUIT partout dans le monde avec le nouveau Yahoo! Messenger
Téléchargez le ici !

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
Berikut kiriman berita dari teman Anda yang beralamat di: [EMAIL PROTECTED]
-------------------------------------
Pesan pengirim:
Silahkan memberi komentar pada tulisanku. Trima kasih
-------------------------------------
IslamLib.com, Senin, 28 November 2005

Memetik Buah Warta Kebencian

Oleh: Pormadi Simbolon


Akhir-akhir ini kekerasan, pembunuhan, bom bunuh diri dan tindak anarkhisme 
terhadap kelompok dan agama lain semakin kerap mewarnai kehidupan bangsa 
Indonesia. Mungkinkah aneka tindakan amoral tersebut merupakan buah-buah yang 
harus dipetik dari khotbah-khotbah kebencian yang pernah diwartakan sejumlah 
pemimpin agama?

Ketika duduk di Sekolah Dasar, penulis masih terkungkung dan terbelenggu dalam 
gua lingkungan masyarakat yang mayoritas beragama Kristen di kampung halamannya 
(sebuah desa di Sumatera Utara). Perasaan aman dan nyaman menjadi pengalaman 
tersendiri. Dunia ini terasa bagaikan milik kekristenan saja. Belum tercium 
adanya  nuansa kebencian antaragama dan antar pemeluknya.

Namun ketika penulis harus merantau guna melanjutkan pendidikan ke Malang, mata 
hati dan budi penulis tercerahkan dan tersadarkan bahwa Indonesia itu pluralis 
dan beraneka ragam. Penulis merasa asing, aneh dan minoritas ketika berada di 
tengah masyarakat yang terdiri dari aneka suku, agama, ras dan antargolongan. 
Teristimewa karena tempat itu mayoritas berpenduduk dan berbudaya Islami.

Di tengah kemajemukan tersebut penulis menghadapi perbenturan antara ajaran 
agama dan budaya setempat dengan yang penulis anut. Pada situasi demikian pula 
penulis melihat realitas bahwa ada beberapa pemimpin dan tokoh agama 
berlomba-lomba “menjual” dan mewartakan ajaran agamanya. Yang patut disesalkan 
adalah adanya sejumlah kecil dari mereka yang tidak segan-segan mengajarkan 
fanatisme berlebihan, penjelek-jelekan agama di luar agama yang dianutnya, 
pengajaran kebencian terhadap agama lain dan pemeluknya. Pengalaman tersebut 
merupakan contoh yang mungkin juga terjadi di tempat lain.

Penyebaran warta kebencian dapat pula kita temui lewat media lain seperti 
majalah, bulletin, VCD/DVD dan internet. Warta kebencian  tersebut kerap kita 
jumpai bila kita coba mengunjungi toko buku atau pasar loak (penjualan buku di 
pinggir jalanan).


Pewartaan Yang Keliru

Ajaran atau wejangan kebencian terhadap agama lain dikumandangkan oleh sejumlah 
pemimpin agama-agama Abrahamistik, entah di gereja atau di mesjid. Saat itu 
hari Jumat. Penulis naik sepeda ontel pulang dari kampus (di Malang) tiba-tiba 
telinga penulis menangkap dan mendengarkan khotbah yang mengajarkan kebencian 
terhadap agama lain. Agama lain kafir, agama kita sempurna, demikian kurang 
lebih inti wejangan itu. Sebagai salah seorang dari kaum minoritas, penulis 
merasa terkejut dan berkecil hati.

Demikian pula, ketika seorang dosen Teologi Kristen Protestantisme pernah 
menganjurkan para mahasiswa agar sekali-kali mau mengikuti peribadatan salah 
satu dari agama aliran kekristenan (sekte?) guna memahami lebih jauh tentang 
teologi mereka, penulis menemukan hal yang sama yaitu pewartaan kebencian 
terhadap agama lain lewat khotbah. Penulis pun bingung dan terkejut ketika 
terdengar kata-kata dari pengkhotbah gereja tersebut mengatakan bahwa agama 
lain itu sesat, berhala dan berasal dari iblis. Telinga terasa ditampar dan 
memerah.

Barangkali segelintir saja pemimpin agama yang menanamkan ajaran kebencian, 
permusuhan, penjelek-jelekan terhadap agama lain, namun berdampak buruk bagi 
kehidupan masyarakat yang majemuk. Khotbah tersebut menyakitkan telinga dan 
melukai hati mayoritas warga yang menginginkan kedamaian, kerukunan dan 
keselamatan persatuan bangsa Indonesia.

Dari berbagai opini di media massa, mayoritas pemimpin dan tokoh agama dan 
masyarakat berjuang ekstra keras bagaimana mereka dapat membangun suatu 
perdamaian dan pertemuan antara agama-agama yang berbeda-beda secara otentik 
dengan mengedepankan universalitas ajaran agamanya tanpa menghilangkan keunikan 
dan kekhasan masing-masing agama.

Namun ada saja pemimpin (dari masing-masing agama) yang mencoba merusak 
perdamaian dan persahabatan yang sudah terjalin dengan membongkar lagi 
kejelekan, aib, konflik dan permusuhan antaragama yang terjadi pada masa 
ekspansi Muslim ke Eropa, Perang Salib dan sistem penyiaran agama yang dapat 
membuka kembali luka-luka agamis yang pernah terjadi. Bisa jadi kekerasan, 
pembunuhan dan aksi anarkhis terhadap kelompok lain  merupakan buah dari 
pewartaan yang keliru tentang ajaran agama.

Karen Armstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan  (Mizan, 2001) mengajak pemeluk 
agama-agama Abrahamistik berhenti bertengkar. Dalam keseluruhan bukunya ia 
menegaskan betapa pertengkaran antara agama-agama anak-anak Abraham tentang 
siapa yang paling benar merendahkan harkat keagamaan semua. Dengan kata lain, 
ia mau  mengajak  umat dari agama-agama Abrahamistik supaya jangan 
mempermalukan Tuhan.

Sudah saatnya para pemimpin agama dan tokoh agama menyetop ajaran kebencian dan 
permusuhan terhadap agama lain pada umatnya. Dunia akan lebih layak dihuni bila 
para pemimpin agama dan tokoh agama membangun sikap pengampunan, persahabatan 
dan persaudaraan antar suku, agama, ras dan antargolongan. Sebab ajaran 
memandang agama lain kafir dan sesat hanya akan menciptakan citra negatif, imej 
yang menakutkan, menyeramkan dan menimbulkan kemarahan terhadap pemeluk agama 
lain.


Filosofi Bangsa Indonesia

Bisa dibayangkan, akan kemana dan apa peran agama-agama dalam menjaga persatuan 
dan keutuhan Indonesia bila masing-masing agama-agama saling mencap  agama 
sendiri yang paling benar, sedangkan agama lain kafir, sesat dan jelek. Bangsa 
kita  bisa berhenti  pada retorika dan formalisme bahwa Pancasila adalah 
landasan filosofi bangsa Indonesia.

Kita, umat beragama sebagai warga Republik Indonesia (RI) yang berdasarkan  
Pancasila telah sepakat mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara 
di atas kepentingan sendiri, golongan, perbedaan agama dan lain-lain demi 
terciptanya tujuan nasional sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945 (bdk. 
Penjelasan KMA No. 70 Tahun 1978)

Namun kerapkali kita warga negara RI yang mengakui Pancasila sebagai filosofi 
negara dan ideologi nasional masih berada pada tahap ucapan bibir manis, 
formalis dan retoris. Hal inilah yang dikritik oleh Prof. Dr. Nurcholis Madjid 
(Cak Nur). Cak Nur  pernah mengkritik orang-orang  yang menyebut dirinya 
Pancasilais, namun nilai-nilai luhur yang merupakan hasil kristalisasi budaya 
Indonesia tidak dilaksanakan secara murni dan konsekwen. (bdk. Sudjangi, 1992: 
272-273).

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menegaskan bahwa bila Pancasila hanya 
berfungsi membenarkan satu agama, berhentilah ia sebagai “aturan main” yang 
menghubungkan  semua agama dan paham dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa 
dan bernegara. (bdk. Ibid, 287)

Maka tantangan bagi pelaksanaan tugas dan peran pemerintah dalam kehidupan 
berbangsa dan bernegara di bidang agama adalah bagaimana supaya Pancasila 
dengan nilai-nilai luhurnya dapat dilaksanakan secara murni dan konsekwen. Bila 
perlu pemerintah melarang tegas dan keras para pemimpin dan tokoh agama 
mewartakan benih-benih kebencian dan permusuhan antaragama dan pemeluknya. 
Dengan demikian formalisme tidak menjadi begitu kuat hingga Indonesia 
seakan-akan negara seremonial belaka.

Tak bisa dipungkiri bahwa para pemimpin agama adalah inti kekuatan agama dan 
umat. Lewat perannya sebagai pengawal ajaran agama, juru bicara aspirasi dan 
kepentingan umat serta integrator umat yang dapat menyatukan seluruh potensi 
umat, para pemimpin dan tokoh agama (ulama, kyai, pastor, pendeta) seyogiyanya 
menyetop ajaran stigmatisasi agama lain sebagai agama sesat dan kafir dan lalu 
mengedepankan persaudaraan dan persahabatan antaragama, universalitas ajaran 
agamanya tanpa menghilangkan keotentikan dan keunikannya.

Bila semua pemimpin agama mengedepankan agama yang humanis dengan menekankan 
persaudaraan dan persahabatan, kerukunan dan kedamaian antaragama, 
kesejahteraan dan kebaikan bangsa Indonesia,  maka aneka permasalahan bangsa 
pelan-pelan akan dapat diatasi secara bersama-sama.

Pada bagian penutup ini, penulis mau mengulangi apa yang pernah dikemukakan 
oleh Moh. Hatta (1977: 32) tentang Persatuan Indonesia. “Persatuan Indonesia 
menjadi syarat hidup bagi Indonesia. Persatuan Indonesia mengandung di dalamnya 
cita-cita persahabatan dan persaudaraan segala bangsa, diliputi oleh suasana 
kebenaran,  keadilan, kebaikan, kejujuran dan keindahan yang senantiasa dipupuk 
oleh alamnya”.

Unsur cita-cita persahabatan dan persaudaraan bangsa merupakan keharusan 
kodrati sesuai dengan kedudukan  manusia sebagai ciptaaan Tuhan yang diciptakan 
dari satu keturunan dan dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar dapat 
menyelenggarakan kerja sama dalam menjalani hidup di dunia ini. Semoga.


* Pormadi Simbolon, alumnus STFT Widya Sasana Malang, tinggal di Jakarta, 
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi.



Versi asli dapat dibaca di:
http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=926


--- End Message ---

Kirim email ke