Betulkah ritual sunat itu ajaran Islam?
 
Sebagian khalayak muslim dimana saja berada meyakini bahwa penis yang
disunat adalah ajaran Islam. Hanya umat Islam yang disunat. Betulkah
ritual sunat itu eksklusif ajaran Islam?
 
Berikut sebuah pendapat dari rekan Wisnu Arto yang amat yakin hanya
umat Islam-lah yang cuma disunat, dan ia juga yakin bahwa seluruh Nabi
dari mulai Adam hingga Muhammad beragama Islam:
 
Wisnu Arto
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Islam mengatur segalanya, termasuk mengurus juga bagaimana cara masuk
WC dan membersihkan kelamin. Begitu juga Islam mengajarkan kaumnya
untuk sunat. Orang yang nggak disunat banyak yang sakit tuh "burungnya". 
Dan konon sunat juga memperindah hubungan suami istri. Anda sunat  tidak?
 
Saudara Wisnu Arto,
Anda amat keliru memahami ajaran Islam. Ritual sunat (Jawa: supitan; tethakan)
bagi laki-laki bukanlah ajaran Islam, tapi lebih mengarah ke tradisi kaum Semit yang
menurun ke puak Arab yang masih sedarah dengan Yahudi. Coba cek di Al-Quran, adakah ketentuan itu pada  ayat-ayatnya? Bahkan di sebagian negara-negara Arab mensyaratkan sunat buat perempuan, dengan memotong klitorisnya. Padahal klitoris konon salah satu titik rangsang bagi kaum perempuan saat bersebadan. Tak heran kalau kaum feminis sedunia
amat menentang tradisi kuno itu.
 
Sunat itu awalnya adalah tradisi Mesir Kuno (Ancient Egypt) pada zaman
Firaun, lalu diterapkan oleh kaum Semit sejak Abraham. Kalau Anda
pernah lihat lelaki Yahudi saat kencing, atau pernah buka-buka majalah
Play Girl yang modelnya cowok Yahudi, pasti 'burungnya' disunat.

Orang-orang Arab mengikuti 'gaya' Yahudi yang memang awalnya sekaum.
Sedangkan ajaran Kristen tak mensyaratkan umatnya untuk bersunat,
walau Yesus penisnya disunat karena dia Yahudi totok. Agaknya Yesus
melakukan 'reformasi' terhadap ajaran nenek moyangnya. Ketentuan
Yudaisme tak lagi ia patuhi. Sebuah wasiat dari nenek moyang yang
'disempurnakan'. Menurut ajaran Yahudi yang juga monoteisme seperti Islam, sunat adalah
hasil perjanjian antara Abraham dengan Yahweh (Tuhannya Yahudi). Yahweh
memerintahkan kaumnya Abraham untuk disunat, sebagai tanda pemeliharaan
terhadap keturunan Abraham. Dan yang pertama kali disunat adalah  Ismael.
 
Menurut rekan Handaka B.M., amat relevan untuk menarik benang merah
hubungan Abraham - bangsa Arab (dimana Muhammad dilahirkan) lewat
tradisi sunat. Melalui sunatlah, bangsa-bangsa di jazirah Arab saat itu bisa
mengklaim sebagai anak keturunan Abraham. Namun sayangnya, kisah ini
terlewatkan di Alquran. Sedangkan menurut almarhum Cak Nur, sebetulnya
tak semua bangsa Arab adalah keturunan Semit, tapi ada juga percampuran
yang kental dengan India di masa lampau. Tak heran kalau kita melihat
orang-orang Arab saat ini ada yang berkulit putih dan ada juga berkulit
gelap. Walau sama-sama berhidung mancung, namun ada yang mancungnya
bengkok dan mancungnya lurus. Kalau hidungnya mancung patah jelas dia
keturunan Yahudi.
 
Menurut Karen Armstrong dalam "Sejarah Islam & Nabi", ada suatu masa
ketika itu Muhammad rukun dengan Yahudi yang bermukim di Madinah.
Untuk 'menyenangkan' kaum Yahudi, Nabi mengadopsi beberapa ritual Yahudi
semacam supitan, puasa, zakat, sesajèn, bahkan kiblat ke Masjidil Aqsa
di Yerusalem.
 
Di masa lalu, ada tiga kelompok yang dekat dengan nabi: Yahudi, Sabean
dan Kristen Timur. Kepercayaan Sabeanik antara lain: Sholat 7 kali sehari;
menjalankan puasa 30 hari menurut ketentuan munculnya bulan namun jika
bulan muncul sulit ditentukan mereka menggunakan perhitungan (ke-5)
bintang yang saat itu sudah dikenal; mendoakan arwah orang mati namun
tidak melakukan sujud dan memuliakan Ka'abah.
 
Menurut Handaka, supitan ala Arab kemungkinan besar bukan dari tradisi
Yahudi, karena model supitan mereka super ketat yaitu pada hari ke-8 sesudah
sang bayi lahir dan bukan pada masa anak-anak atau remaja. Supitan yang dicatat Mesir
dilakukan terhadap orang dewasa, juga supitan-supitan lain di jazirah
Afrika-Arab. Aturan Puasa kemungkinan besar lebih dekat dengan kepercayaan
Sabeanik karena dihitung berdasarkan peredaran bulan. Puasa umat Kristen lebih tidak kelihatan dan  tidak dirumuskan. Biasanya merupakan komitmen pribadi. Sedangkan kiblat
ke Yerusalem lebih dekat ke Yahudi karena dalam konsep Yudaisme pusat
peribadatan adalah Bait Allah di Yerusalem.
 
Namun sayangnya, kaum Sabeanik yang penyembah bulan bintang saat ini
sudah punah karena dihabisi oleh orang Arab di masa lalu. Begitu pula sejumlah penganut Kekristenan Timur (Orthodox = lurus) yang pernah mukim di Arab ikut musnah. seperti Nestorian. Padahal mereka pernah berjasa besar menerjemahkan kitab-kitab Yunani/Hellenis ke dalam bahasaArab. Seperti diketahui, kitab-kitab Kristen umumnya ditulis dalam bahasa
Koine Yunani. Kitab-kitab Yahudi juga diterjemahkan dalam bahasa Yunani/
Septuaginta. Bahasa Yunani menjadi bahasa elit/kaum terpelajar saat itu
(mungkin bisa disejajarkan dengan Bahasa Inggris saat ini). Hanya orang-orang
terpelajar yang bisa membaca kitab-kitab tersebut.
 
Catatan tentang istilah Islam
Kalau menurut catatan sejarah, sebelum Islam 'diproklamirkan' di Tanah
Arab, suku Quraisy (Quaryaish) menganut aliran kepercayaan Tsaba (Saba).
Aliran penyembah dewa ini banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu. Ya, Hindu.
Jauh sebelum Muhammad lahir, rupanya orang-orang India sudah banyak
yang 'wira-wiri' ke Mekkah. Tsaba sendiri adalah bahasa Sanskrit yang
bermakna 'Assembly of the Gods'.
 
Pada masa itu sudah dikenal istilah Isha-ayalam dan Moshe-ayalam
(Candi Shiva) yang berbau Sabaisme. Kakek nenek, orang tua dan kerabat
Nabi Muhammad dulunya pengikut Saba. Istilah 'Isha-ayalam' kemudian
menjelma menjadi 'Islam', sedangkan istilah 'Moshe-ayalam' menjadi
'Moslem'.
 
Isha-ayalam (Sanskrit) -> Islam (Arab)
Moshe-ayalam (Sanskrit) -> Moslem (Arab)
 
Next:
.........The Tsabaists did regarded Brahma (Abraham) as an avatar or divinely ordained teacher called Avather Brahmo (Judge of the Underworld).
 
Bangunan Ka'bah (Kaaba) dulunya adalah tempat suci yang menjadi persembahan
penganut Saba untuk Brahma, sang dewa pencipta (Creator God). Candi dengan
susunan batu bata di Mekkah (Mecca) tersebut pertama kali dibangun oleh para Brahmin dari
India. Tentu saja kini tak lagi disebut sebagai Candi, tetapi 'Rumah Allah' karena sudah beberapa kali direnovasi.
 
Adanya kaum Brahmin ini memperkuat dugaan bahwa Ibrahim tak pernah menginjak
kota Mekkah dan membangun Kabah. Karena Ibrahim itu ya sama saja dengan Brahma yang menjadi sesembahan umat Hindu. Dengan bukti dari alur sejarah penggunaan bahasa, dapat dibilang bahwa Abraham itu sama dengan Brahma yang menjadi dewa umat Hindu. Jadi kisah
Abraham yang tertulis di Torat menyadur dari India yang sudah lebih
dulu berbudaya dan pandai tulis menulis. Ezra baru merangkum Torat pada
400 SM.
 
http://en.wikipedia.org/wiki/Muslim
_________________________________________________________________


Ungkapkan opini Anda di:

http://mediacare.blogspot.com

http://indonesiana.multiply.com


Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke