Samudera Biru

 
Saya pernah berjalan-jalan di daerah Cikampek, situasi  jalur Cikampek tempat berakhir dan sekaligus mulainya jalur tol  arah dari ataupun menuju Ibukota Indonesia,  tentu kepadatannya tak terbayangkan. Macet adalah keseharian jalur Cikampek, tanpa disadari di depan kendaraan saya ada mobil angkutan antar kota, di kaca belakangnya tertulis "Samudera Biru" tanpa ada kelanjutan kata-kata lainnya. Saya tidak tahu  alasan kenapa sang supir menuliskan tulisan tersebut, apakah Sang Supir mengenal Profesor Kim (W. Chan Kim) dan Renee Mauborgne pengarang buku "Blue Ocean Strategy" yang laris-manis  di tatanan perbukuan strategi manajemen atau tidak, atau jangan-jangan sang sopir adalah orang bijak yang mempelajari filosofi samudera biru? atau  hanya sekedar iseng agar pembaca dibelakangnya terbawa ilusi, dan salah satu korban diantaranya adalah saya.
 

Strategi Samudera Biru di Dunia Bisnis

Menurut Prof. Hendrawan Supratikno Ph.D, yang membawakan makalahnya di kalangan manager di Jakarta, pada pertengahan akhir tahun 2005, menjelaskan bahwa strategi bisnis ini diibaratkan dengan samudera. Samudera Merah dan Samudera Biru. Dalam Samudera Merah perusahaan memfokuskan pada pertarungan atau kompetisi bisnis yang sudah ada, sampai berdarah-darah, sehingga seperti Samudra  yang meMerah karena bersimbah darah, bayangkan saja seperti Lautan Merah yang menelan Firaun pada saat mengejar Musa A.S (Moses). Cara yang cerdas untuk keluar dari situasi ini adalah melompat ke Samudera Biru, di samudera ini perusahaan menciptakan aturan main sendiri, menciptakan market sendiri , diferensiasi dan biaya rendah, membuat kompetisi serta baku hantam tidak relevan lagi. Pada kedalaman Samudera Merah kita bisa memperkirakan kedalamannya sementara pada Samudera Biru kedalamannya tak terukur.
 
Contoh beberapa perusahaan yang menerapkan Strategi Samudera Biru di bidang otomotif diantaranya Ford, GM, Toyota dan Chrysler. Pada bidang Airlines diantaranya Netjet, Bidang Furniture : Ikea, Home Depot, Jam Tangan : Swatch, Farmasi : Viagra, kalau di Indonesia contohnya yang sudah menerapkan Samudera Biru adalah Teh Botol Sosro, Aqua kemasan gelas plastik, Lion Air, Kursi Plastik, Sampurna Amild, Toyota Avanza.
 
Yang menjadi masalah adalah biasanya perusahaan tidak tahu dimana posisi perahunya, apakah di Samudra Biru ataukah di Samudera Merah (kok gitu?). Ada  perusahan yang menganggap sudah cukup puas dengan posisi sekarang, sebagian lagi  beradaptasi dengan situasi dan kondisi sekarang. Yang perlu di camkan perubahan tetap diperlukan di dunia yang selalu berubah.
 
Pada era kemajuan seperti ini merubah perusahaan ber-IQ tinggi diperlukan apa bila ingin tetap eksis. Miliki sistem saraf digital, pengelolaan informasi dan pengetahuan secara produktif dan menerapkan prinsip saling asah, saling asih dan saling asuh.
 
Ada enam jalur rekonstruksi untuk masalah keterbatasan pasar, melihat berbagai alternatif industri di lingkungan kelompok industri, melihat produk komplemen dan pelayanan yang ditawarkan, memperhatikan emosi atau fungsi yang menarik perhatian pembeli dan terakhir memperhatikan waktu.
 

Samudera Biru di Dunia Spiritual

Air adalah mineral yang keberadaannya sangat dibutuhkan oleh tubuh kita,  tubuh kita terdiri dari jiwa dan raga, kandungan air dalam raga kita cukup banyak, agar kondisi tubuh sehat dokter menganjurkan untuk minum sebanyak empat liter per harinya, suatu jumlah yang besar. Air yang sehat adalah air yang bergerak, air yang jernih air yang tidak mengandung bibit penyakit. Air got atau air yang tergenang, tidak bergerak adalah air yang banyak mengandung kuman-kuman. Air mengalir dari daerah yang tinggi menuju daerah rendah atau dari hulu ke hilir. Di permukaan paling rendah Samudera Biru siap menampung semua air yang  menuju ke 'perut'nya, air yang datang bisa datang dari mata air yang jernih, atau air yang sudah tercemar dari got maupun limbah industri. Itulah kebijakan yang diajarkan oleh Samudera Biru
 
Islam mengajarkan filsafat ilmu yang menghendaki agar umatnya menjadi peneliti (intidzar) terhadap berbagai fenomena alam maupun fenomena yang dikandung dalam dirinya. Hal itu terungkap dalam firman Nya :
"Katakanlah (hai Muhammad), perhatikanlah apa-apa yang ada di bumi".
lalu dilanjutkan dalam Q.S. Adz Zariyat, 51:21
" Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
Begitulah kenikmatan-kenikmatan yang Tuhan berikan, tak bisa kita hitung, sekarang kenapa kita tidak bersukur lagi  kepada Nya? Kenikmatan Tuhan apalagi yang engkau dustakan?
 
Tak terasa, setelah sekian lama terjebak di kemacetan lalu lintas, saya harus merubah posisi persneling, dari gigi dua ke tiga (bukankah kita hidup di dunia yang harus selalu berubah dan beradaptasi dengannya?), sesampainya di perempatan, kendaraan angkutan umum L-300, yang bertuliskan "Samudera Biru" tetap jalan terus lurus, sementara saya harus berbelok ke kiri menuju arah timur, menutup lamunan saya tentang  "Samudera Biru", dan kembali ke alam realitas, alam yang diliputi masalah dan asap knalpot!
 
Salam,
Ferry Djajaprana
http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/39

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke