Note: forwarded message attached.



What are the most popular cars? Find out at Yahoo! Autos

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
THE UNNAMED
 
Oleh:
AUDIFAX
Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku “Mite Harry Potter”(2005, Jalasutra)
 
 
 
Engkaulah gulita
yang memupuskan segala batasan dan alasan
 
Engkaulah penunjuk jalan
menuju palung kekosongan dalam samudera terkelam
 
Engkaulah sayap tanpa tepi
yang membentang menuju tempat tak bernama
namun terasa ada
 
(Dee)
Supernova:”Akar”
 
Dalam semesta kehidupan ini, ada hal-hal yang sejatinya tak dapat dinamai, tak dapat dijelaskan, dan tak dapat direngkuh masuk ke keterbatasan nalar manusia. Hal-hal inilah yang dalam kesejatiannya itu, membuat hidup manusia berada dalam ketakpastian. Lalu, manusia mencoba meredusir hal-hal itu ke dalam penamaan, penjelasan, pe-metafora-an, dan penyederhanaan makna agar masuk ke dalam nalarnya yang terbatas.
 
Upaya ini menimbulkan teks-teks yang kita baca sebagai: Tuhan, Allah, Cinta, Surga, Tanah-Terjanji, Sang Penebus, Sang Penyelamat, Nabi A-Nabi B, dan lain sebagainya. Sejauh itu semua dilakukan untuk membantu manusia memahami akan adanya suatu ‘spirit’ yang begitu besar dan tak terpahami oleh keterbatasannya, maka segala teks itu akan membantu manusia dalam arah hidupnya. Permasalahan kemudian timbul ketika manusia justru lebih memercayai dan mendewakan teks-teks itu sendiri dan makin jauh melupakan ‘spirit’ di balik teks itu.
 
Inilah titik di mana manusia terjebak dalam kekosongan, karena teks-teks itu sendiri bukan apa-apa tanpa spirit yang semestinya menjadi rujukannya. Lebih parah lagi ketika manusia kemudian menyembunyikan diri di balik teks-teks kosong itu karena ketakberaniannya menghadapi ketakpastian hidupnya sendiri. Inilah momen di mana manusia jatuh dalam kefanaannya, dalam kesamaannya dengan binatang. Ia sekedar menjadi kerumunan, berlindung di balik moralitas kerumunan, dan tak berani keluar mengambil tanggungjawab hidupnya sendiri. Manusia seperti ini tak ubahnya unta yang menerima begitu saja punggungnya dimuati beban karena ia tak berani melihat kenyataan. Unta itu berjalan melintas padang pasir sambil melihat bintang berkedip-kedip di langit dan meletakkan harapannya di sana. Berharap akan ada yang akan membawa dirinya mencapai bintang-bintang yang sebenarnya ada di luar dunianya, dengan terbuai harapan kosong itu, Unta ini justru melupakan bahwa di punggungnya ia dimuati beban berat.
 
Inilah suatu fase yang dalam psikoanalisa disebut sebagai oedipalisasi. Anak yang ingin bersatu dengan ibu, kembali ke fase real (simbolisasi suatu yang tak terbatas, tak terjelaskan) dihalangi oleh ayah (simbol tatanan, hirarki, logika, kemasukakalan, nalar). Akhirnya anak yang ketakutan dihukum (kastrasi) oleh ayah, berusaha menjadi ayah dan meletakkan harapannya pada ayah. Mereka akhirnya terjatuh dalam tatanan simbolik yang justru menjauhkan dari tujuannya semula. Mereka justru sibuk dengan ayah-ayah ini dan lupa apa tujuannya semula.
 
Manusia kemudian masuk dalam dunia di mana segalanya adalah in-the-name-of-the-father. Manusia meletakkan ayah-ayah ilusif yang harus dibela dalam kehidupannya. Ayah-ayah ilusif ini harus dibela karena dialah ayah yang dianggap bisa memenuhi kebutuhan manusia. Inilah tragedi kehidupan manusia. Upayanya untuk menamai, menjelaskan, menyederhanakan hal-hal yang tak ternamai, tak terjelaskan, Maha; justru menjebaknya dalam kondisi yang mengenaskan, jatuh dalam titik kebinatangannya.
 
Teks yang sebelumnya dirasakannya mampu menampung suatu spirit tak terjelaskan, telah kehilangan fungsinya, retak, bocor. Teks-teks itu sudah tak ubahnya seperti ember bocor yang kosong. Kini tak ada lagi yang dapat menyelamatkan makna dalam sebuah teks. Itulah sebabnya manusia bisa saling menyakiti, membunuh, dengan mengatasnamakan teks-teks yang semestinya justru mempersatukan umat manusia. Ini karena mereka semua Cuma pengusung ‘ember bocor’ kesana-kemari, berceloteh, berdebat, bertengkar, saling membunuh, mempidanakan, unjuk rasa, berkhotbah; sambil mengusung ‘ember bocor’ di kepalanya. Orang-orang ini menganggap ‘ember-ember bocor’ itu adalah ayah mereka yang harus dibela dan dipertahankan serta dijunjung tinggi di kepalanya.
 
Apa yang mesti dilakukan dalam tragedi ini? Satu-satunya yang bisa digunakan untuk menyelamatkan manusia adalah différance. Istilah différance pertama kali diperkenalkan oleh Jacques Derrida. Selintas, différance mirip dengan difference, yang berarti ‘perbedaan’. Namun, différance lebih dari sekedar perbedaan yang menunjukkan ketidaksamaan dua hal. Lebih dari itu, différance juga menunjuk pada ‘penundaan’ yang tak memungkinkan sesuatu hadir. Ada ambiguitas di sini, yang merupakan perlawanan terhadap dominasi hal-hal yang absolut, yang kosong [seperti ‘ember kosong’ itu]. Karena ternyata perbedaan antara ‘a’ dalam différance dan ‘e’ dalam difference, tak dapat dibunyikan dengan suara. Jika dilafalkan dalam suara, keduanya berbunyi sama. Différance adalah ambiguitas ember kosong teks-teks.
 
Différance hanyalah strategi untuk memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang implisit sekaligus menyodorkan tantangan terhadap totalitas makna dalam teks. Sebagai sebuah strategi, différance dapat ditemukan dalam setiap sistem pemikiran, institusi penafsiran, sejarah, atau apapun yang berupaya membakukan makna, memberi tafsiran tunggal terhadap realitas, atau menghadirkan suatu model pembacaan absolut. Semua ini adalah ‘teks’, dan sejauh bisa ditempatkan serta dipahami sebagai teks, maka sejauh itu pula terbuka untuk dibongkar dan ditafsirkan ulang secara tak terhingga. Manusia yang ingin lepas dari kekosongan, kefanaan, kebinatangannya; harus berani men- différance segala teks-teks kosong dalam hidupnya. Men- différance teks-teks tersebut, bukan berarti menolak atau meniadakannya, namun membuat teks-teks itu menjadi ‘terbuka’, ‘terlepas dari absolutisme’ dan ‘mengambang’.
 
Différance berpotensi membawa manusia berlayar dalam perahu kecil mengarungi samudera ketakpastian, di mana tak ada satu pulaupun tempat berlabuh. Ini yang tak mudah karena masuk dalam ketakpastian adalah justru hal yang dihindari manusia dengan berlindung di bawah ember-ember kosong. Namun, hanya dengan strategi differance inilah manusia bisa lepas dari kebinatangannya. Différance selalu membawa manusia pada Yang-Lain (the Other). Apa itu Yang-Lain? ‘Yang-Lain’ adalah segala sesuatu yang bukan diri ‘saya’. Selama ini manusia selalu terjebak dengan paradigma ‘saya’ dan memaksa manusia lain untuk mengerti ‘saya’, menjadi seperti ‘saya’, mengikuti ‘saya’, sama dengan ‘saya’, menghormati ‘saya’ dan seterusnya.
 
Yang-Lain adalah apa yang bukan ‘saya’, bukan apa yang ada pada pemahaman nalar ‘saya’ yang terbatas. Yang-Lain termasuk segala sesuatu yang Ilahi, Maha, Tak terbatas, Tak ternamai, tak pasti, ter terdefinisi, yang memang menjadi momen transendensi bagi ‘saya’. Yang-Lain adalah sebuah kerinduan yang sempat dicoba dijelaskan, dinamai, diredusir dalam teks hingga justru menghilangkan ketakberhinggaannya. Tak ada teks yang dapat menjelaskan Yang-Lain, tak juga teks buatan Nabi, ilmuwan atau bahkan teks yang diklaim langsung diturunkan dari Allah. Ini karena apapun yang masuk dalam teks, maka segalanya menjadi kosong dan bisa di- différance. Ini karena teks-nya itu sendiri adalah ciptaan manusia dengan segala keterbatasannya.
 
Yang-Lain adalah sebuah pluralitas, keberbedaan, ketakterjelasan. Hanya melalui pertemuan dengan Yang-Lain inilah manusia yang imanen bisa mentransendensi dirinya. Momen perjumpaan dengan Yang-Lain inilah meleburnya transendensi dan imanensi. Yang-Lain itu bukan apa-apa selain ketakterbatasan itu sendiri. Ketika manusia berjumpa dengan Yang-Lain, segala definisi, pemahaman, pengetahuan yang ada dalam ‘saya’ (I/Ego) seketika luruh. Manusia masuk dalam ketakberhinggaan yang tak ternamai, tak terjelaskan baik oleh ilmu maupun agama. Hubungan dengan Yang-Lain adalah sebuah misteri.
 
Yang-Lain ini juga bukan di awang-awang atau nun jauh di sana, karena begitu manusia men- différance semua teks-teks kosong dalam hidupnya, Yang-Lain akan menampak dalam perjumpaan dengan peristiwa-peristiwa keseharian, orang-orang, berita-berita, diskusi-diskusi di milis, pada Pak Tua penarik sampah, pada satpam di depan kampus, pada kasus foro Anjasmara, pada kontroversi Kartun Nabi, pada miliser yang me-reply posting kita, pada segala kemungkinan yang hadir di hadapan manusia. Penampakan Yang-Lain merupakan tanda bahwa dalam pelayarannya di samudera ketakpastian, manusia telah mengarah pada Yang-Tak-Ternamai yang dulu pernah coba dijelaskannya dalam teks-teks seperti: Tuhan, Allah, Cinta, Surga, Nirwana, Tanah-Terjanji, Penebusan dan sejenisnya.
 
 
© Audifax – 20 Februari 2006
 
NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
 
 


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.
--- End Message ---

Kirim email ke