Maraknya majalah gratisan, sekadar trend?
Wow, wow, wow...temen-temen dari majalah gratisan yang ada di milis ini
rame-rame buka suara di Harian KOMPAS edisi 5 Februari 2006 lalu.
rame-rame buka suara di Harian KOMPAS edisi 5 Februari 2006 lalu.
Maaf baru diposting hari ini. Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali, kan? Sebetulnya saya menunggu teman-teman untuk memposting artikel ini, tapi tak kunjung muncul.
Salam,
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gratis Tanpa Jadi Minimalis
Oleh DAHONO FITRIANTO
Informasi sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat urban. Dalam
denyut kehidupan yang berpacu makin cepat dengan perubahan yang makin
pesat kadang terlalu pesat orang membutuhkan segala informasi yang
bisa ia dapat untuk bertahan tidak tergilas zaman dan diakui sebagai
bagian masyarakat kontemporer.
denyut kehidupan yang berpacu makin cepat dengan perubahan yang makin
pesat kadang terlalu pesat orang membutuhkan segala informasi yang
bisa ia dapat untuk bertahan tidak tergilas zaman dan diakui sebagai
bagian masyarakat kontemporer.
Kondisi itu memicu pertumbuhan media-media penerbitan gratis di kota
besar. Lihat saja di kafe, restoran, pusat perbelanjaan, mal, dan
tempat-tempat nongkrong lain di Jakarta. Anda akan menemukan berbagai
majalah gratis dengan penampilan menarik dipajang di sudut.
besar. Lihat saja di kafe, restoran, pusat perbelanjaan, mal, dan
tempat-tempat nongkrong lain di Jakarta. Anda akan menemukan berbagai
majalah gratis dengan penampilan menarik dipajang di sudut.
"Pada dasarnya orang suka sama yang gratis-gratis. Mau sejelek apa
pun, asal gratis pasti diambil orang," kata Reza Puspo (35), Pemimpin
Umum Media Satu Group, salah satu penerbit majalah gratis ini.
pun, asal gratis pasti diambil orang," kata Reza Puspo (35), Pemimpin
Umum Media Satu Group, salah satu penerbit majalah gratis ini.
Dasar pemikiran itulah yang kemudian dilihat sebagai peluang bisnis.
Beberapa tahun terakhir, katakan lima tahun belakangan, penerbitan
gratis berkembang sangat pesat di pusat-pusat pertumbuhan masyarakat
urban, seperti Jakarta dan Bali.
Beberapa tahun terakhir, katakan lima tahun belakangan, penerbitan
gratis berkembang sangat pesat di pusat-pusat pertumbuhan masyarakat
urban, seperti Jakarta dan Bali.
Tidak hanya dari segi jumlah, tetapi juga ragam dan bentuk majalah
itu sangat bervariasi. Penerbitan gratis yang lima tahun lalu sekadar
berbentuk seperti brosur iklan atau pamflet penawaran belanja, kini
sudah tidak bisa dibedakan dengan majalah-majalah "komersial" yang
dijual dengan harga mahal.
itu sangat bervariasi. Penerbitan gratis yang lima tahun lalu sekadar
berbentuk seperti brosur iklan atau pamflet penawaran belanja, kini
sudah tidak bisa dibedakan dengan majalah-majalah "komersial" yang
dijual dengan harga mahal.
Gaya hidup
Sebagian besar majalah gratis yang terbit di sini berisi tentang
informasi gaya hidup kota besar, yang intinya adalah hal-hal yang
(seharusnya) bisa membuat orang lebih menikmati hidup. Free Magazine,
djakarta!, Area, Maxx-M, dan Jakarta Kini adalah beberapa majalah
gratis yang mengusung konsep gaya hidup urban.
informasi gaya hidup kota besar, yang intinya adalah hal-hal yang
(seharusnya) bisa membuat orang lebih menikmati hidup. Free Magazine,
djakarta!, Area, Maxx-M, dan Jakarta Kini adalah beberapa majalah
gratis yang mengusung konsep gaya hidup urban.
Reza, yang juga Pemimpin Redaksi Area, mengatakan, konsep dasar
majalahnya adalah panduan kota atau city guide. Reza yang lama
tinggal di Amerika Serikat (AS) mengaku bingung saat kembali ke
Jakarta pada akhir 1990-an. "Begitu saya balik, saya jadi bengong
karena tidak tahu mau hang out di mana, mau makan enak di mana, mau
kumpul sama teman-teman di mana," ujarnya.
majalahnya adalah panduan kota atau city guide. Reza yang lama
tinggal di Amerika Serikat (AS) mengaku bingung saat kembali ke
Jakarta pada akhir 1990-an. "Begitu saya balik, saya jadi bengong
karena tidak tahu mau hang out di mana, mau makan enak di mana, mau
kumpul sama teman-teman di mana," ujarnya.
Berawal dari situ, ia berpikir untuk menerbitkan majalah berisi
panduan kota bagi yang ingin menikmati hidup selama di Jakarta.
panduan kota bagi yang ingin menikmati hidup selama di Jakarta.
Hal yang sama juga mendasari tiga sahabat, Timmy, Andrew, dan Eba
Alizar, saat mereka menerbitkan Free Magazine dan Hers Magazine.
Alizar, saat mereka menerbitkan Free Magazine dan Hers Magazine.
Berangkat dari konsep itu, isi majalah-majalah tersebut dapat
dikatakan hampir sama. Mulai dari artikel mengenai kafe, restoran,
atau kelab malam terbaru; ulasan tentang acara-acara hiburan yang
heboh; tren busana terkini; petunjuk praktis psikologi atau perawatan
tubuh; dan biasanya ditutup dengan resensi film, CD, atau buku
terbaru dan pengenalan produk-produk kosmetik, aksesori busana,
hingga peralatan elektronik.
dikatakan hampir sama. Mulai dari artikel mengenai kafe, restoran,
atau kelab malam terbaru; ulasan tentang acara-acara hiburan yang
heboh; tren busana terkini; petunjuk praktis psikologi atau perawatan
tubuh; dan biasanya ditutup dengan resensi film, CD, atau buku
terbaru dan pengenalan produk-produk kosmetik, aksesori busana,
hingga peralatan elektronik.
Semakin banyaknya majalah gratis yang mengusung konsep ini membuat
setiap majalah berusaha menawarkan ciri khas masing-masing atau
menajamkan segmentasi pembaca yang ia tuju.
setiap majalah berusaha menawarkan ciri khas masing-masing atau
menajamkan segmentasi pembaca yang ia tuju.
Majalah Maxx-M, misalnya, memilih segmen sangat khusus, yakni
kalangan masyarakat atas. "Maxx-M hanya diedarkan di restoran dan
kafe-kafe mewah, hotel berbintang lima, airport lounge, dan upscale
apartments," ujar Reynaldo Semuel, Pemimpin Umum PT Maximillian,
penerbit majalah bertiras 30.000 eksemplar tersebut.
kalangan masyarakat atas. "Maxx-M hanya diedarkan di restoran dan
kafe-kafe mewah, hotel berbintang lima, airport lounge, dan upscale
apartments," ujar Reynaldo Semuel, Pemimpin Umum PT Maximillian,
penerbit majalah bertiras 30.000 eksemplar tersebut.
Sementara djakarta! memilih menajamkan isi majalahnya sehingga tidak
dianggap majalah iklan. "Citra di masyarakat, majalah gratis itu
selalu sama dengan kumpulan iklan. Kami tidak seperti itu. Kami
selalu berusaha menghadirkan liputan dengan nilai-nilai jurnalistik,"
tandas M Rasyid Ganie, Pemimpin Umum djakarta!.
dianggap majalah iklan. "Citra di masyarakat, majalah gratis itu
selalu sama dengan kumpulan iklan. Kami tidak seperti itu. Kami
selalu berusaha menghadirkan liputan dengan nilai-nilai jurnalistik,"
tandas M Rasyid Ganie, Pemimpin Umum djakarta!.
Memang isi majalah yang berdiri sejak November 2000 dan awalnya
dijual seharga Rp 27.500 per edisi itu terlihat berbeda dibandingkan
dengan majalah gratis lainnya. djakarta! tampak berusaha menampilkan
kehidupan Jakarta secara lebih utuh.
dijual seharga Rp 27.500 per edisi itu terlihat berbeda dibandingkan
dengan majalah gratis lainnya. djakarta! tampak berusaha menampilkan
kehidupan Jakarta secara lebih utuh.
Tidak hanya gemerlap sudut-sudut kota bagi kalangan menengah-atas
saja yang ditampilkan, melainkan juga lorong-lorong kumuh yang
dilalui kelompok penari lengger tradisional atau kisah kehidupan
perawat binatang telantar di Kebon Binatang Ragunan. Semuanya
disajikan dalam bentuk esai foto dan uraian tulisan yang memikat.
saja yang ditampilkan, melainkan juga lorong-lorong kumuh yang
dilalui kelompok penari lengger tradisional atau kisah kehidupan
perawat binatang telantar di Kebon Binatang Ragunan. Semuanya
disajikan dalam bentuk esai foto dan uraian tulisan yang memikat.
Penulis seperti Seno Gumira Ajidarma dan Wimar Witoelar juga rutin
menulis kolom di djakarta!.
menulis kolom di djakarta!.
Segmentasi
Beberapa majalah gratis lainnya berusaha menembak segmen lain di luar
tema gaya hidup urban. Sebut saja majalah Inspire Kids yang berisi
informasi kesehatan ibu dan anak, Appetite Journey yang mengkhususkan
diri pada bidang makanan dan kuliner, Trip yang isinya liputan jalan-
jalan dengan konsep panduan perjalanan, Le Marriage yang hanya berisi
ihwal pernikahan, dan Car&Guide bicara tentang serba-serbi bursa
otomotif.
tema gaya hidup urban. Sebut saja majalah Inspire Kids yang berisi
informasi kesehatan ibu dan anak, Appetite Journey yang mengkhususkan
diri pada bidang makanan dan kuliner, Trip yang isinya liputan jalan-
jalan dengan konsep panduan perjalanan, Le Marriage yang hanya berisi
ihwal pernikahan, dan Car&Guide bicara tentang serba-serbi bursa
otomotif.
Laurensius Zaoputra, pendiri Appetite Journey mengatakan, ia tidak
mau sembarangan dalam membuat majalahnya. Perencanaan dibuat tahunan
dengan evaluasi tiap tiga bulan. "Kami mengambil pasar eksekutif muda
di Jakarta yang jumlahnya sekitar dua juta orang. Jadi pemilihan
kertasnya saja tidak main-main. Sampul kami memakai hard carton
dilaminasi dan di halaman dalam memakai hard paper dan full colour,"
tandasnya.
mau sembarangan dalam membuat majalahnya. Perencanaan dibuat tahunan
dengan evaluasi tiap tiga bulan. "Kami mengambil pasar eksekutif muda
di Jakarta yang jumlahnya sekitar dua juta orang. Jadi pemilihan
kertasnya saja tidak main-main. Sampul kami memakai hard carton
dilaminasi dan di halaman dalam memakai hard paper dan full colour,"
tandasnya.
Segmentasi pasar yang dipilih dan tujuan awal pembuatan memang
menentukan bentuk dan isi majalah-majalah tersebut. Majalah Suara BSD
City yang diperuntukkan bagi warga dari berbagai lapisan di kompleks
perumahan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, mengambil bentuk
tabloid yang sederhana.
menentukan bentuk dan isi majalah-majalah tersebut. Majalah Suara BSD
City yang diperuntukkan bagi warga dari berbagai lapisan di kompleks
perumahan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, mengambil bentuk
tabloid yang sederhana.
Manajer Pelayanan Masyarakat BSD Dhony Rahajoe mengatakan, Suara BSD
City diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi antara pihak
pengembang perumahan tersebut dan para penghuninya. "Jadi, seluruh
pihak bisa saling berinteraksi, baik yang mau berbisnis maupun yang
membutuhkan berbagai fasilitas, mulai dari tahu goreng sampai desain
interior," ujar Dhony.
City diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi antara pihak
pengembang perumahan tersebut dan para penghuninya. "Jadi, seluruh
pihak bisa saling berinteraksi, baik yang mau berbisnis maupun yang
membutuhkan berbagai fasilitas, mulai dari tahu goreng sampai desain
interior," ujar Dhony.
Batasan
Segmentasi pasar ini juga membuat pembuat majalah tersebut menetapkan
batasan sendiri dalam proses penerbitan majalahnya. "Jadi, jangan
dianggap karena kami hidup bergantung pada iklan, kemudian kami akan
melakukan apa saja untuk mendapatkan iklan. Ada kode etik jurnalistik
yang masih kami pegang," ujar Reza Puspo yang juga memegang waralaba
majalah gratis khusus dunia kehidupan malam dan clubbing, Juice.
batasan sendiri dalam proses penerbitan majalahnya. "Jadi, jangan
dianggap karena kami hidup bergantung pada iklan, kemudian kami akan
melakukan apa saja untuk mendapatkan iklan. Ada kode etik jurnalistik
yang masih kami pegang," ujar Reza Puspo yang juga memegang waralaba
majalah gratis khusus dunia kehidupan malam dan clubbing, Juice.
Meski tanggung jawab jurnalistik media-media ini memang tidak seberat
media cetak yang lebih serius, para pengusung jurnalisme pelayanan
atau service journalism ini tetap menerapkan etika jurnalistik dasar,
seperti penulisan berdasar fakta, akurasi, dan asas keseimbangan. "Meski kami sekadar memberi info city guide, panduan yang kami berikan harus bisa dipercaya," tutur Reza.
media cetak yang lebih serius, para pengusung jurnalisme pelayanan
atau service journalism ini tetap menerapkan etika jurnalistik dasar,
seperti penulisan berdasar fakta, akurasi, dan asas keseimbangan. "Meski kami sekadar memberi info city guide, panduan yang kami berikan harus bisa dipercaya," tutur Reza.
Bahkan, sikap kritis dan menuliskan sesuatu apa adanya dengan lugas
dan polos justru menjadi nilai utama yang membuat majalah Juice
banyak dibaca orang dan diminati pemasang iklan. "Dan tidak pernah
ada masalah dengan kelab atau kafe yang kami kritik. Justru kalau
kami tidak kritis, pemasang iklan malah akan meninggalkan kami,"
tandasnya.
dan polos justru menjadi nilai utama yang membuat majalah Juice
banyak dibaca orang dan diminati pemasang iklan. "Dan tidak pernah
ada masalah dengan kelab atau kafe yang kami kritik. Justru kalau
kami tidak kritis, pemasang iklan malah akan meninggalkan kami,"
tandasnya.
Kontrol terhadap kualitas isi majalah juga diakui
Marcellinus
Hanjaya, Pemimpin Redaksi Appetite Journey. "Majalah ini tidak
sekadar berisi menu-menu makanan, tetapi sampai pada budaya makan.
Kami ingin mengedukasi masyarakat tentang makanan. Kalau kami menulis
tentang wine, kami menulis mulai dari apa itu wine, bagaimana
mencicipi wine, hingga budaya dan sejarah minum wine itu sendiri,
jadi tulisannya tidak dangkal," ungkapnya.
Hanjaya, Pemimpin Redaksi Appetite Journey. "Majalah ini tidak
sekadar berisi menu-menu makanan, tetapi sampai pada budaya makan.
Kami ingin mengedukasi masyarakat tentang makanan. Kalau kami menulis
tentang wine, kami menulis mulai dari apa itu wine, bagaimana
mencicipi wine, hingga budaya dan sejarah minum wine itu sendiri,
jadi tulisannya tidak dangkal," ungkapnya.
Reynaldo dari Maxx-M juga mengaku sangat selektif dalam menerima
iklan yang bisa dipasang di majalahnya. "Meski kami membutuhkan
iklan, tetapi kami harus menyesuaikan iklan yang dipasang dengan
target pasar kami. Kalau target kami hotel bintang lima, kemudian ada
hotel bintang tiga yang ingin pasang iklan, langsung kami tolak,"
tandasnya.
iklan yang bisa dipasang di majalahnya. "Meski kami membutuhkan
iklan, tetapi kami harus menyesuaikan iklan yang dipasang dengan
target pasar kami. Kalau target kami hotel bintang lima, kemudian ada
hotel bintang tiga yang ingin pasang iklan, langsung kami tolak,"
tandasnya.
Nuke Galdira, Marketing Manager Inspire Kids, juga menambahkan
pihaknya menolak iklan makanan kecil untuk anak yang mengandung MSG
dan buku atau mainan yang tidak mendidik anak. Sementara Dhony
mengatakan, meski Suara BSD City adalah media komunitas warga, isinya
harus tetap dijaga. "Jangan sampai ada tulisan gosip tentang ibu ini
atau ibu itu," ujar Dhony.
pihaknya menolak iklan makanan kecil untuk anak yang mengandung MSG
dan buku atau mainan yang tidak mendidik anak. Sementara Dhony
mengatakan, meski Suara BSD City adalah media komunitas warga, isinya
harus tetap dijaga. "Jangan sampai ada tulisan gosip tentang ibu ini
atau ibu itu," ujar Dhony.
Rata-rata media gratis ini juga membatasi penerimaan jumlah iklan
yang masuk. Mereka menetapkan batas maksimal 30-50 persen dari jumlah
halaman yang dijual ke pemasang iklan. "Lebih dari batas maksimal
itu, tidak ada yang bakal mau membaca majalah kami lagi," katanya.
yang masuk. Mereka menetapkan batas maksimal 30-50 persen dari jumlah
halaman yang dijual ke pemasang iklan. "Lebih dari batas maksimal
itu, tidak ada yang bakal mau membaca majalah kami lagi," katanya.
(M Clara Wresti/ Edna C Pattisina/Susi Ivvaty)
Harian Kompas - 5 Februari 2006
_____________________________________________________________________
Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get pricing, reviews, & more on new and used cars.
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy beauty product | Philosophy | Philosophy beauty |
| Philosophy of | Philosophy amazing grace | Philosophy hope in a jar |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
