Note: forwarded message attached.
Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--- Begin Message ---PSIKOLOGI EGO (AKU) vs PSIKOLOGI LIYAN (YANG-LAIN)OLEH:AUDIFAXPeneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku Mite Harry Potter(2005, Jalasutra)Dalam esei saya sebelumnya yang berjudul AKU dan YANG-LAIN, saya menyoroti masalah penerimaan manusia terhadap ketakpastian dan kemajemukan dalam kehidupan. Pada esei saya kali ini, saya masih berbicara hal yang kurang lebih sama namun dalam konteks psikologi. Pola-pola relasi yang tak mampu menerima ketakpastian hidup serta keluasan keunikan manusia, ironisnya juga terjadi dalam dunia psikologi di Indonesia. Banyak orang-orang psikologi ketika berhadapan dengan klien, berusaha mendefinisikan sang klien dalam berbagai definisi dari buku atau PPDGJ dan menganggap bahwa semua penjelasan yang terdapat di sana dapat memberi kepastian akan kehidupan macam apa yang dimiliki klien serta jenis orang macam apa dia. Termasuk bagaimana mesti memperlakukan dia. Menafikkan segala ketakpastian dan keluasan keunikan. Psikotes yang disusun belasan bahkan puluhan tahun lalu, masih dianggap mampu menjelaskan kehidupan manusia di masa sekarang lengkap dengan kontekstualisasi perkembangan budaya terkini, bahkan dijadikan acuan memutuskan nasib orang lain. Sebentuk upaya penghilangan keunikan manusia dan ketakberanian menghadapi ketakpastian.Beberapa waktu yang lalupun, ada sebuah peristiwa menarik ketika saya membaca penolakan di milis [EMAIL PROTECTED] pada Leonardo Rimba yang notabene membawa sesuatu YANG-LAIN bagi orang-orang di milis tersebut yang umumnya menganut psikologi mainstream. Fenomena itu mengingatkan saya pada fenomena yang lebih luas, termasuk pengalaman saya dan rekan-rekan komunitas saya ketika dulu masih berada di lingkup Fakultas Psikologi di salah satu universitas swasta terkenal di Surabaya. Kamipun (yang mengusung sesuatu yang berbeda) mengalami penolakan. Beberapa waktu lalu kita juga sering menerima posting yang menggambarkan bagaimana seorang Vincent Liong yang berbeda dari umumnya mahasiswa Psikologi di alma maternya, juga mengalami penolakan. Semakin prihatin ketika di Bandung beberapa waktu lalu, seorang rekan mengeluhkan pula resistensi psikologi terhadap kalibrasi dan validasi psikotes yang jelas-jelas sudah tidak relevan dan kontekstual dengan perubahan jaman. Bahkan teman tersebut sempat mengutip ucapan: Wong [psikotes] begini saja sudah menghasilkan uang kok. Ya, inilah potret dari sebuah lingkungan yang menamakan dirinya PSIKOLOGI, berikut salah satu jargon terkenalnya: Understanding Human Being atau Individu itu unikPsikologi, tak lebih dari sekumpulan manusia yang melestarikan totem-totem untuk disembah. Ego-ego yang dikekalkan dari perubahan. Konformitas semu yang disterilkan dari sosok-sosok unik yang berpotensi menghasilkan perubahan. Bukan hal aneh jika kemudian gelar, IPK, dan berbagai modal simbolik kosong justru dikejar ketimbang kualitas pengetahuan itu sendiri. Tak heran jika mahasiswa-mahasiswa itu menurut saja peraturan aneh yang melarang lulusan S-1 yang sudah kuliah empat tahun untuk mempraktekkan kemampuannya, sebelum mengeluarkan uang lagi untuk mengambil magister. Tak salah jika Michael Foucault pernah mengatakan bahwa pengetahuan berpeluk erat dengan kekuasaan. Ya, hanya dengan kekuasaanlah mereka bsia mempertahankan konfomitas semu. Leonardo Rimba di-banning oleh orang berinisial JeHa yang menempatkan diri sebagai penguasa milis [EMAIL PROTECTED]. Vincent Liong harus berhadapan dengan sistem absensi yang belum tentu benar-benar mampu menyaring mahasiswa yang berkualitas atau menguasai materi. Rekan yang ingin mengupayakan kalibrasi dan validasi psikotes, harus berhadapan dengan kesimpangsiuran dan jawaban konyol dari mereka yang resisten.LOGOSENTRISME
Sejak jaman Yunani kuno, sebenarnya manusia memang terbiasakan untuk berpikir secara linier dengan menempatkan logos di ujung-ujung pemikiran. Logos itu berfungsi sebagai causa prima yang sifatnya absolut, tak tergugat. Kita mengenal itu dalam term-term seperti: Akal Budi, Hati Nurani, Iman, dan banyak lagi. Seringkali juga Tuhan ditempatkan di ujung sana. Dalam banyak hal, situasi ini justru membuat manusia lepas dari tanggungjawabnya. Banyak hal ditimpakan pada Tuhan. Mungkin salah satu konteks yang bisa sama-sama disaksikan oleh anggota milis psikologi transformatif dan R-Mania adalah somasi Mujahidin kepada Bali yang diakhiri kalimat: Ya Allah, saksikanlah, kami telah menyampaikan, Allahu Akbar!.Dalam pemikiran logosentris semacam ini, Tuhan pun menjadi banal, ketika namanya disebut di mana-mana dalam banalitas kehidupan manusia. Kasus-kasus lain sering kita temui juga di keseharian. Di ruang-ruang perkuliahan misalnya, berapa banyak dosen yang mau disanggah teorinya di depan kelas? Apalagi mereka yang sudah memegang modal simbolik seperti Profesor, Guru Besar, Master, dsb. Dalam banyak kasus yang dialami saya dan teman-teman saya dulu (mungkin juga Vincent Liong saat ini) mereka cenderung mengamankan diri dalam psikologi ego yang mengeliminir hadirnya YANG-LAIN. Dalam banyak kasus-kasus seperti ini, bisa dikatakan humanitas telah mati.Keprihatinan seperti inilah yang kemudian memunculakn orang-orang seperti Friedrich Nietzche, Sigmund Freud, Carl Gustav Jung berikut sejumlah pengikut mereka yang mulai membongkar ego manusia. Sejumlah tokoh mewarnai sejarah, seperti Martin Heidegger, Jacques Lacan, Jacques Derrida, Gilles Deleuze, Felix Guattari, Jean-Francois Lyotard, Julia Kristeva, Luce Irigaray, Helen Cixous, Michel Foucault, Emmanuel Levinas dan lain-lain, yang berbicara hal yang sangat erat hubungannya dengan psikologi. Namun, jangan harap itu semua diajarkan di fakultas psikologi. Mereka beralasan bahwa tokh-tokoh itu terlalu filosofis atau jatah fakultas filsafat. Sebuah upaya konyol untuk menutupi ketakmampuan mengikuti sekaligus melestarikan psikologi ego dari hadirnya psikologi Liyan.MENGGESER LOGOS KE LOXOS
Emmanuel Levinas, filsuf Perancis, adalah seseorang yang pernah menawarkan pemikiran untuk menggeser dari metafisika yang mengedepankan logos menuju metafisika yang mengedepankan loxos, dari sejarah yang terpusat pada ego ke sejarah yang mengawali lahirnya the Other atau Yang-Lain. Inilah titik menyatunya keterpisahan antara ontologi dan epistemologi dalam filsafat. Tak ada lagi perbedaan ontologi dan epistemologi, karena apa yang ontologis sekaligus epistemologis, begitu pula sebaliknya.Manusia memang terbiasa mengembangkan ego, sehingga banyak tertanam pemikiran bahwa manusia tak bisa hidup tanpa ego. Sejak Rene Descartes, memaklumatkan cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada), pada saat itulah berawal perkembangan pemikiran Barat--yang kemudian memengaruhi dunia-- yang cenderung membangun suatu keseluruhan dengan menjadikan ego sebagai pusatnya. Ego cogito Descartes menunjukkan bagaimana AKU didaulat menjadi pusat bagi realitas ontologis. Ego mendapat prioritas utama yang mutlak tak tergugat. Jean Paul Sartre pernah mengatakan bahwa aktivitas manusia untuk mengembangkan egologi sebagai totalisasi.Ketika manusia mengedepankan ego, maka ia sebenarnya tengah melakukan totalisasi, apapun yang dihadapannya akan di-utuh-kan dalam sebuah konsep yang telah ada di pikiran AKU, sehingga apapun itu masuk dalam pemahaman dari sudut pandang aku. Totalitas semacam inilah yang kemudian bisa kita saksikan pada bagaimana Mujahidin mensomasi Bali misalnya, pada kasus itu Bali dengan segala keunikannya yang membedakan dengan kaum Mujahidin direduksi dalam penilaian yang ada pada diri kaum Mujahidin. Tak hanya dalam kasus besar seperti Mujahidin dan Bali, tapi dalam kasus-kasus yang lebih keseharianpun terjadi, manusia dengan mudah mengkonstruksi orang lain berdasarkan pemahamannya dan menentukan baik buruknya orang itu.Dalam pemikiran Levinas, totalitas itu didobrak oleh yang tak berhingga (lInfini). Dengan istilah ini, Levinas memaksudkan sebuah realitas yang tak dapat direduksi ke dalam diri AKU (sebagai ego) dan pengetahuan AKU. Yang-Tak-Berhingga adalah Orang-Lain, Liyan, the Other, YANG-LAIN daripada AKU, Yang Beda dari AKU dan Yang bukan AKU. Semua totalitas yang AKU bangun, seketika runtuh ketika AKU berjumpa dengan Orang-Lain. Inilah yang dimaksud dengan eksterioritas, yakni bahwa ada YANG-BEDA di luar AKU, yang bukan bagian dari interioritas diri AKU. YANG-TAK-BERHINGGA mengajak AKU keluar dari DIRI-AKU dan menyapanya[i].Inilah bertemu dan menyatunya mikrokosmos dan makrokosmos. Dunia dalam diri dan dunia di luar diri. Yang-terbatas dan Yang-tak-terbatas. Imanensi dan Transendensi. Jika ada nasehat dalam agama bahwa Tuhan ditemukan dalam diri orang-orang di sekeliling anda, maka inilah kontekstualisasinya. Bagaimana anda memperlakukan dan bersikap terhadap orang-orang di sekeliling anda, menunjukkan seberapa anda ber-Tuhan dalam kehidupan anda. Inilah suatu pemahaman kehidupan yang mampu menyembuhkan manusia dari segala kecemasan akan ketakpastian dan ketakmampuan menerima keunikan YANG-LAIN. Kita dapat melihat dalam sejarah bahwa manusia-manusia seperti inilah yang dalam berbagai mite dan Kitab Suci diceritakan bertemu Tuhan. Mereka ini tidak hidup diliputi dendam karena ketakmampuan menerima keunikan dan ketakpuasannya atas imbas dari ketakpastian hidup.POSKRIP
Kembali dalam konteks psikologi, seberapa anda mampu menerima kemajemukan, menunjukkan pula sebagaimana anda menguasai sebuah ilmu yang bernama psikologi. Sayang, hal seperti itu tak banyak terjadi. Psikotes masih saja seperti itu dan upaya untuk melakukan kontekstualisasi dengan jaman tak kunjung (bisa) dilakukan. Padahal, banyak nasib dan kehidupan manusia di negeri ini tergantung dari psikotes. Sungguh sebuah ironi dalam kehidupan akibat permainan orang-orang yang mengklaim diri menguasai sebuah ilmu yang bernama psikologiPsikologi ego dengan arogansi-arogansi semacam itu, sebenarnya merupakan bentuk ketakberanian menghadapi ketakpastian. Hadirnya psikologi alternatif adalah ancaman karena mereka tidak memahaminya. Psikologi yang berbasis pada the Other adalah sesuatu yang menakutkan, sehingga orang-orang yang mengusungnya dianggap aneh dan perlu dibasmi agar tak menggangu ketenangan mereka dalam Ego-ego yang telah mereka bangun. Orang-orang seperti ini adalah mereka yang tak berani menghadapi hidupnya sendiri sebagai manusia yang dalam kesejatiannya selalu dalam ketakpastian. Mereka adalah pecundang-pecundang yang begitu takutnya berhadapan dengan orang-orang yang menghadapi ketakpastian hidupnya sebagai petualangan.Bagaimana cermatan anda?© Audifax 22 Maret 2006NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.
--- End Message ---
