Thanks to laluta yang udah mencerahkan kita dgn tulisan the great muslim seperti Zulvan Lindan ini. Semoga lahirlah ketulusan pihak2 yang sadar bahwa percuma energi terkuras untuk mengadu domba sesama anak bangsa. Polisi lawan mahasiswa, pejabat-lawan rakyat, anggota DPR - menindas rakyat.....rasanya sudah cukup darah, nyawa, air mata sesama anak bangsa berjatuhan. Saatnya menata diri. '
 
Jaman dulu Soekarno susah2 nyatukan visi bangsa, Soeharto susah2 membangun. Meskipun tak sempurna dan harus dijatuhkan dengan olok2, keduanya bisa membawa bangsa ini satu visi: bangga sebagai Indonesia dan membangun bangsa. Pasca gonta-ganti presiden sampai kini belum menonjol sisi bersatu bersama sebagai anak bangsa. Malah tercabik-cabik, terkota-kota, satu mau menang atas yang lain. Memuakkan. Kita ini plural, tak bisa memang-menangan diatas kekalahan pihak lain. Cukup sudah dan baiklah kita win-win.
 
Kalau tidak..... bangsa luar, USA dan antek2nya siap menghancurkan, mengadu domba plus mencabik-cabik kita. Sudah cukup pelajaran adu domba, masak sih kita nggak belajar dari kesalahan. Kita dipencundangi gank Azhahari yang nota bene warga Malaysia.....(HUH), pariwisata kita kocar-kacir sementara VISIT MALAYSIA berjaye (salah satu contohnya.
 
viva indonesia

la_luta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=241122&kat_id=43

Sabtu, 25 Maret 2006

Zulvan Lindan, Aktivis Alumni HMI:

Islam-Nasionalis Harus Dialog


Seberapa penting untuk mendialogkan Islam dan nasionalis?
Penting sekali. Saat ini wacana dikotomi Islam-nasionalis sering
dimanfaatkan oleh kalangan tertentu untuk kepentingan mereka.
Dikotomi ini merugikan Islam juga nasionalis. Karena itu harus
didialogkan agar tidak ada dikotomi. Ini berlaku pada tataran politik
secara nasional, juga dalam konteks organisasi semacam alumni GMNI.

Terkait dengan pemilihan ketua umum alumni GMNI, siapa sosok yang
Anda anggap bisa membawa visi ini?
Berdasar pengalaman, kami percaya kepada Riad Oscha Chalik. Kami
sudah berkomunikasi lama dengan beliau. Saya dari aktivis HMI dan
beliau di GMNI sudah berhubungan sangat baik. Paling tidak dengan
beliau muncul citra yang dibuat negatif menyangkut hubungan Islam-
nasionalis itu bisa diminimalkan. Beliau sudah teruji.

Apa yang bersangkutan punya kans dan tidak 'dicurigai' akan
menghijaukan alumni GMNI?
Kalau bicara kans, di tingkat grassroot beliau cukup kuat. Cuma kalau
bicara kepentingan yang lain, semuanya bisa berubah. Dalam pemilihan
biasanya akan dipertemukan antara kepentingan bawah dan kepentingan
yang di atas sehingga mencapai tingkat keseimbangan. Saya juga yakin
tidak akan ada kecurigaan seperti itu. Di kalangan senior GMNI
seperti Pak Siswono juga Pak Sri Soemantri akan memahami bahwa
perubahan itu tidak akan terjadi secara ideologis. Yang jelas, dalam
GMNI kan banyak kalangan.

(irf )







Win a BlackBerry device from O2 with Yahoo!. Enter now.


******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke