Note: forwarded message attached.
Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone calls to 30+ countries for just 2¢/min with Yahoo! Messenger with Voice.
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--- Begin Message ---THE DEATH OF THE AUTHOROLEH:AUDIFAXPeneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku Mite Harry Potter(2005, Jalasutra)Cerita atau narasi adalah hal yang akrab dengan kehidupan manusia. Dari jaman ke jaman, manusia bercerita. Banyak cerita yang masih terus menerus diceritakan meski jaman terus berganti. Banyak cerita dan orang bercerita. Dalam sejarah yang diajarkan di bangku pendidikan. Dalam ruang-ruang keagamaan. Dalam film, buku, dan berbagai media komunikasi. Singkatnya, cerita adalah hal yang jamak dalam kehidupan manusia. Tapi, pernahkah adna cermati bahwa cerita memiliki kehidupan sendiri di luar si pengaran cerita? Pernahkah anda mencermati bahwa seringkali cerita-cerita itu hidup lebih dalam dari pengarangnya? Pernahkah anda berpikir bahwa lahirnya sebuah cerita, berarti juga matinya otoritas (authority) dari si pengarang (author) atas ceritanya?Jika anda pernah menulis cerita atau memperhatikan bagaimana seseorang menulis cerita; serta memperhatikan bagaimana cerita-cerita yang ditulis itu kemudian dibaca oleh oang lain; maka anda bisa melihat bahwa cerita itu memiliki kehidupan-nya sendiri. Si pembaca bisa menginterpretasi, membayangkan cerita itu sebagai sesuatu yang bisa jadi sangat berbeda dari apa yang ada di benak si pengarang cerita. Ini berlaku pada semua cerita. Tak peduli cerita yang diklaim datang langsung dari Tuhan, Malaikat, dewa, Nabi, Rasul atau siapapun. Begitu cerita itu terlepas dari si pengarang dan masuk dalam benak pembaca, maka seketika itulah terjadi death of the author[ity] dan cerita itu berjalan dalam kehidupannya sendiri.Maka dari itu, jangan heran kalau banyak orang bisa menginterpretasi cerita-cerita atau ayat-ayat dalam kitab suci seenak udelnya sendiri. Jangan heran juga kalau saat ini apa yang mau disepakati sebagai cerita sejarah dari bangsa ini, terutama berkaitan dengan G 30 S/PKI, masih menjadi perdebatan. Jangan heran juga kalau orang bisa terpukau nalarnya dan terguncang imannya oleh cerita Da Vinci Code. Dan jangan kaget jika dalam situasi ini, Nietzche lantas berucap Tuhan sudah mati. Itu semua karena cerita memiliki kehidupannya sendiri yang lepas dari otoritas (authority) si pengarang (author). Tak peduli pengarang itu adalah Allah, Muhammad, Yesus, Buddha, Tao, Santo, Santa, Nabi atau siapapun juga, semua tak bisa berbuat apa-apa ketika cerita-cerita dalam Kitab Suci kemudian dibaca dan menginspirasi pembacanya untuk melakukan pengeboman, melakukan pembakaran, melakukan perang, mengeruk perpuluhan dan berbagai hal lain.Death of the Author, adalah sebuah fenomena yang pernah pula dibahas oleh Michael Foucault dan Roland Barthes. Bergeraknya makna dalam kehidupan teks yang mengalir terus menerus ini, mengilhami pula Jacques Derrida menghaslkan apa yang disebut Dekonstruksi. Implikasi dari ini semua, tak ada kebenaran atau benar-salah, dalam cerita (tak terkecuali cerita dalam Kitab Suci). Kebenaran sangat tergantung dari siapa penerima dan penginterpretasi cerita itu. Tergantung pada bagaimana cerita itu hidup di benak seseorang. Maka, Nietzche memberi nasihat, bukan kebenaran yang mesti dipertanyakan dalam sebuah cerita, tapi siapa yang mengatakan cerita itu. Pemikiran-pemikiran para tokoh tersebut, sebenarnya mengajak manusia untuk lebih arif dan tak semata bersembunyi dalam konformitas ketika berhadapan dengan cerita. Ini karena mahkluk yang bernama cerita ini memiliki kehidupan dan bahkan power-nya sendiri, yang bisa memberi implikasi tertentu pada manusia yang membacanya. Dan ingatlah, seperti pernah dikatakan Anthony de Mello, manusia bisa menghindar dari kebenaran, tapi tak bisa menghindar dari cerita.Cerita bisa menjadi sahabat atau justru binatang buas yang memangsa. Manusia bisa bermain-main dengan cerita atau justru dipermainkan oleh cerita. Dalam kehidupan manusia, cerita bisa menguatkan, menginspirasi, memotivasi serta membuat hidup lebih bermakna; sebaliknya cerita bisa pula menjadi momok, melemahkan, menghantui, serta menekan kehidupan. Pada masyarakat dengan otoritas tiranik, mereka sering melakukan pembungkaman pada orang-orang tertentu agar mereka tak bisa bercerita. Bukan orang itu yang ditakuti, tapi cerita yang bakal terlepas dari orang itulah yang membahayakan. Orang-orang yang telah konform dengan sebuah cerita tertentu, akan merasa terganggu oleh hadirnya cerita dari Yang-Lain. Seperti bisa dilihat dari terganggunya pihak-pihak tertentu dengan cerita Da Vinci Code, pengakuan korban kekerasan, dan sejenisnya.Saat ini, cerita memang makin memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Semakin lama, dunia memang makin tercerabut pula dari realitas dan terlempar dalam simulakrum cerita. Cerita-cerita yang tak jelas rujukannya pada realita, mengambil alih posisi realitas dan menjadi lebih riil dari realita. Manusia lalu hidup dalam realitas semu. Pengeboman terjadi terus menerus di berbagai tempat. Pelaku demi pelaku tertangkap, tapi pengeboman tak pernah berhenti. Berbagai cerita muncul dan memengaruhi masyarakat. Kerusuhan demi kerusuhan, penembakan demi penembakan, cerita demi cerita bermunculan. Namun, semua cerita itu tak pernah berujung pada realitas pasti yang menyelesaikan inti permasalahan. Semuanya tak lebih dari realitas simulakrum yang mencerabut orang dan mempermainkannya.Pada sisi kehidupan lain, banyak orang tak bisa berbuat apa-apa ketika orang lain men-cerita-kan dirinya. Orang menyukai gosip, orang terjebak dalam gosip. Orang celaka karena cerita, tapi juga orang bisa dipuja karena cerita. Seorang Mulyana W Kusumah yang dulu heroik berubah menjadi pesakitan karena cerita, seorang Jeffry Al-Buchory yang dulunya pengguna obat-obatan berubah menjadi hero karena cerita. Banyak orang dipecat, ditolak lamaran kerjanya karena cerita yang dibuat psikolog atas dirinya, banyak pula yang diterima dan naik jabatan karenanya. Tak jarang, semua cerita-cerita itu dibuat semata hanya untuk imbalan finansial, tanpa memperhitungkan bahwa cerita itu memiliki kehidupan dan power tersendiri.REFLEKSI:Cerita adalah sesuatu yang hidup. Ia bergerak dari satu benak ke benak yang lain. Cerita baru menjadi cerita ketika ia telah ada di benak manusia. Di situlah dia hidup dan berinteraksi dengan manusia. Apa yang penting di sini adalah kesadaran akan kehidupan dari setiap cerita itu sendiri. Kesadaran bahwa kehidupan setiap cerita, sebenarnya adalah kehidupan yang khusus hanya untuk masing-masing benak di mana cerita itu hinggap. Antara satu benak dengan benak lain, cerita itu memiliki perbedaan bentuk. Maka dari itu, tak ada satupun kebenaran cerita bisa dipaksakan pada banyak orang seperti sering dilakukan para pemegang kekuasaan. Kita, masing-masing dari kita, memiliki kebebasan untuk menginterpretasi cerita apapun yang hadir di benak kita. Dengan bersikap demikian, kita akan lebih arif dalam setiap perjumpaan kita dengan cerita atau ketika kita bercerita.© Audifax 10 April 2006NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone calls to 30+ countries for just 2¢/min with Yahoo! Messenger with Voice.
--- End Message ---
