|
Intermezzo:
Nonton Ledek Saya pernah melihat pertunjukan ledek di sebuah kampung terpencil, kampung yang jauh dari kehidupan kota yang serba sibuk dan tak pernah mengenal istirahat. Malam itu sehabis hujan deras, jadi jalan- jalan di kampung becek, bahkan untuk menuntun sepeda motor pun kesulitan karena roda-rodanya lengket dengan tanah. Sandal dan kakipun kotor penuh lumpur. Setelah selesai bersusah payah,
sampai
juga akhirnya kami di tempat pertunjukan. Mula-mula kami hanya menonton dari luar, karena kami tidak mendapat undangan. Tapi kebetulan seseorang dari desa tersebut mengenal kami, dan mempersilakan kami masuk dan memberi suguhan sebagaimana mestinya: teh panas, emping, lemper, jadah, wajik, dan tak ketinggalan kari ayam. Musik tayub mulai mengalun: sederhana dan lugas. Berbeda dengan gendhing-gendhing halus gaya Surakarta, musik tayub lebih menghentak dan, yang paling aku sukai, liriknya benar-benar lugas: othok kowok kembang srikatan, bengi ngothok awan pegatan... Tiga orang penari ledek, ketiganya tidak begitu cantik dan tubuhnya gemuk, menari di tengah arena. Para tamu undangan duduk lesehan di atas tikar berharap mendapatkan sampur. Siapapun yang ketiban sampur (mendapat selendang warna kuning) dari sang Ledek harus bersedia tampil ke depan dan menari bersama ledek. Mula-mula yang mendapat giliran adalah orang-orang tua yang duduk di deretan depan. Makin malam, dan makin banyak penonton yang mendem ciu, musik makin keras dan arena makin kacau. Anak-anak muda mengerubuti para ledek, dan sering menggerayangi pantat atau mencium pipi mereka. Hal yang paling berkesan bagiku, dan masih kukenang hingga
sekarang
adalah ketika saya melihat seorang kakek mendapat giliran untuk menari. Seorang kakek, yang duduk di deretan depan di antara penonton, ketiban sampur. Dengan perlahan-lahan namun penuh percaya diri, sang kakek pun bangkit. Gendhing mengalun, dan sang kakek pun menari dengan sepenuh hati. Bagi sang kakek, yang sudah uzur, hidup tinggal sesaat lagi. Hidup memang tak lama, seperti kembang api yang bersinar sesaat kemudian lenyap. Sang kakek menyadari sepenuhnya kesementaraan hidup. Dan dengan menari sang kakek merayakan kehidupannya. Life is a celebration. Dengan menari sang kakek melebur eksistensinya ke dalam seluruh Keberadaan. Dengan menari sang Kakek menemukan essensi dirinya. Jika seorang filsuf berkata: Aku berpikir maka aku ada, maka bagi sang kakek: Aku menari maka aku ada. Pernahkah kita menari sepenuh hati untuk merayakan
Kehidupan?
November 2004, Dukuh Bangoan, Desa Gilirejo (Daerah Genangan Waduk Kedungombo) ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [filsafat] Intermezzo: Nonton Ledek yohanes sutopo
- [filsafat] Intermezzo: Nonton Ledek yohanes sutopo
