Hingga saat ini, Gereja Katolik mengakui bahwa kerasukan setan
merupakan peristiwa yang sangat nyata dan mungkin terjadi. Senjata
ampuh untuk melawan godaan setan yang ganas ialah doa. Ada film
segar yang patut dilihat bagi orang, ttg kerasukan ini. Bercerita
tentang bagaimana pastor yang memiliki integritas peran justru
menjadi terdakwa (Lihat filmnya The Exorcism of Emily Rose, atau ulasannya di http://lulukwidyawanpr.blogspot.com )
Pada tahun 1999 lalu, Cardinal Medina Estevez dalam jumpa persnya di
Vatican City menunjukkan pembaharuan dari Rituale Romanun (Ritus
Romawi) yang telah dipakai oleh Gereja Katolik sejak tahun 1614.
Versi baru ritus tersebut diluncurkan setelah lebih dari 10 tahun
proses redaksional, yang kemudian disebut sebagai De Exorcismis et
Supplicationibus Quibusdam, yang dikenal sebagai The Exorcism for
The Upcoming Millennium (Pengusiran Setan untuk Menyambut Millenium
Baru). Paus Yohanes Paulus II memaklumkan ritus eksorsisme baru,
yang sekarang digunakan di seluruh dunia.
Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik no. 1172 artikel 1 mengakui itu
dengan memberi catatan: "tiada seorang pun dengan legitim melakukan
eksorsisme terhadap orang yang kerasukan, kecuali jika telah
memperoleh ijin khusus dari Ordinaris wilayah". Jadi pengusiran
setan bukan perkara mudah dilakukan oleh seorang Pastor, kecuali ada
ijin Uskup lebih dahulu.
Sebaaimana diatur dalam Katekismus Gereja Katolik artikel 1673
tampak bahwa fenomena setan dan Tuhan memang ada dan tidak sekedar
hal mudah. Tetapi perlu kecermatan memperhatikannya, sebagaimana
bunyi Katekismus tersebut: When the Church asks publicly and
authoritatively in the name of Jesus Christ that a person or object
be protected against the power of the Evil One and withdrawn from
his dominion, it is called exorcism. Jesus performed exorcisms and
from him the Church has received the power and office of exorcizing.
(Mk 1:25-26; 3:15; 6:7, 13; 16:17) In a simple form, exorcism is
performed at the celebration of Baptism. The solemn exorcism,
called "a major exorcism," can be performed only by a priest and
with the permission of the bishop. The priest must proceed with
prudence, strictly observing the rules established by the Church.
Exorcism is directed at the expulsion of demons or to the liberation
from demonic possession through the spiritual authority which Jesus
entrusted to his Church. Illness, especially psychological illness,
is a very different matter; treating this is the concern of medical
science. Therefore, before an exorcism is performed, it is important
to ascertain that one is dealing with the presence of the Evil One,
and not an illness. (Codex Iuris Canonici, can. 1172).
Semoga sedikit membuka mata.....
regards
luluk widyawan, pr
--- In [EMAIL PROTECTED], "Agus Hamonangan"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Oleh Sunaryono Basuki Ks
> Sastrawan dan Warga Teater Kampus Seribu Jendela, Singaraja, Bali
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0604/22/humaniora/2601734.htm
> ------------------------------------------------------
>
> Masyarakat gempar. Bukan lagi oleh bencana alam yang bertubi-tubi,
> atau penggusuran di sana-sini, atau demo anti ini anti itu yang
> menghabiskan entah berapa truk ban bekas dan butir peluru dan anak
> panah! Betul-betul negara gempar dan seperti kena gempur.
>
> Kali ini yang menggempur entah setan, entah makhluk halus, yang
> menyerang di berbagai tempat, bahkan di tempat-tempat yang
mestinya
> bersih dari gangguan gaib. Kurang pertahanan apa lagi dari segi
> mental spiritual?
>
> Mungkin sejumlah pakar salah. Kalau sejumlah kiai bisa bilang
begitu,
> apakah mereka punya ukuran yang dapat mengetahui seberapa kuat
mental
> mereka yang menjadi korban kesurupan ini dalam hal agama dan
> ketuhanan? Pasti terlalu meremehkan anak muda yang selalu dianggap
> kurang?
>
> Sejumlah ahli psikologi juga berpendapat serupa. Jiwa yang labil.
> Bahkan, yang berorientasi ke psikologi Barat berpendapat, mereka
> mengalami trance lantaran, ya, itu tadi: jiwanya masih labil.
>
> Seorang dua berani menyatakan bahwa kita hidup di alam ini tidak
> hanya bersama sesama manusia, hewan dan tumbuhan, tetapi masih
> bersama makhluk lain yang menempati lapis alam yang lain. Kita
> manusia beserta rombongan itu (hewan dan tumbuhan) hidup pada
lapis
> yang dapat kita jangkau dengan pancaindera, plus tambahan
peralatan
> seperti mikroskop.
>
> Di dalam sebuah bacaan lama buatan Belanda dijelaskan tentang
makhluk
> halus. Dalam teks itu diceritakan, di sebuah kamar bola (mungkin
> ruang tempat main biliar?) dipertunjukkan apa yang dapat manusia
> lihat dengan pertolongan sebuah mikroskop yang diproyeksikan ke
> layar: kelihatan makhluk-makhluk halus yang dalam bahasa Jawa
> disebut "lelembut" itu dalam ukuran yang lebih besar.
>
> Kesimpulan yang ingin diajukan: lelembut itu ya makhluk kecil-
kecil
> tadi. Bukan roh, setan gentayangan, atau apa. Mikroskop mula-mula
> hanya menjangkau benda terkecil yang secara salah disebut atom
alias
> tak bisa dibagi lagi. Dengan mikroskop lebih modern ternyata ada
yang
> lebih kecil dari atom.
>
> Dengan perkembangan sekarang, entah sampai ukuran berapa, benda
> terkecil pun bisa dilihat. Soalnya, penemuan filter sekarang
sampai
> yang terkecil, yang lubangnya tak kasatmata. Ada sarjana asal Desa
> Pengastulan, Buleleng, Bali, yang menemukan filter ajaib itu untuk
> kepentingan bisnis penyaringan yang memang memerlukan filter
> superkecil itu.
>
> Teori dan pendapat terus diuji kebenarannya. Dulu Margaret Mead
juga
> berpendapat bahwa orang Bali berkepribadian terbelah (split
> personality) lantaran mereka sering bebaenan atau kesurupan. Di
> kampus kami, mahasiswi sering mengalami bebaenan. Tanpa sebab,
mereka
> tiba-tiba jatuh saat ada seminar atau apa lalu mengomel tak
karuan.
>
> Usia mereka di atas 20 tahun. Masih labil? Percaya atau tidak,
> sebabnya dicari pada "kesalahan prosedur", misalnya sebelum
> mengadakan kegiatan, pemberian sesaji pada tempat sembahyang serta
> beberapa tempat lain belum lengkap. Dipanggilkan dokter? Jangan
harap
> dokter bisa menyembuhkan mereka, bukan lantaran pasien menolak
> dokter. Tetapi, kenyataannya, walaupun ditangani oleh dokter,
tetap
> saja pasien tak sembuh.
>
> Pada salah satu kesempatan bebaenan agak massal itu, dekan kami
> pulang ke rumah mengambil peralatan sembahyang, juga tirta atau
air
> suci. Dengan sejumlah doa dan percikan air suci, sembuhlah mereka.
> Sedangkan teman-teman lainnya wajib segera "menebus" kesalahan
> prosedur itu dengan bersembahyang di pura kampus dan di beberapa
> tempat penting lainnya. Aneh? Di Bali, itu peristiwa sehari-hari.
>
> Jangan heran, setiap hari sebelum mulai bekerja para pegawai
kampus
> kami seorang demi seorang menuju pura yang terletak di sudut timur
> halaman kampus untuk bersembahyang. Mereka mengenakan ikat
pinggang
> dari kain yang disebut senteng., Di kamar kerja juga ada kotak
yang
> disebut pelangkiran untuk menaruh canang atau sesaji dari bunga-
bunga
> dan pegawai atau dosen bersembahyang di situ setelah menyalakan
dupa.
>
> Tujuannya satu: berbagi ruang dengan para penghuni yang lain agar
tak
> bertengkar. Orang Islam menyebutnya ahli bait, penghuni rumah,
yang
> wajib disapa dengan salam. Jadi diakui adanya.
>
> Yang datang selama bebaenan memang sering mengganggu, tetapi
fenomena
> trance seperti dialami para penari keris dalam barong, bukan dalam
> keadaan diganggu.
>
> Mereka seperti diberi kekuatan untuk menjadi kebal untuk berbagai
> keperluan. Dengan bersemangat mereka menusuk-nusuk tubuhnya dengan
> keris yang malahan bengkok.
>
> Masih ada kasus kerauhan, atau kedatangan roh. Kerauhan biasanya
> berlangsung saat ada upacara penting seperti pelebon atau ngaben.
> Seseorang peserta upacara tiba-tiba "menjadi orang lain". Yang
> mendatanginya biasanya arwah salah seorang leluhur yang
mengingatkan
> ada yang kurang dari kelengkapan upacara, atau keinginan untuk
ikut
> di-aben dan lain-lain.
>
> Fenomena kerauhan dianggap suatu petunjuk yang menolong untuk
> melengkapi upacara yang sedang berlangsung, tak ada gangguan
> dari "roh jahat".
>
> Masih mau dengar lagi? Setelah seseorang meninggal sering
keluarganya
> pergi ke dukun untuk menurunkan arwah si mati untuk diajak
berdialog.
> Sang dukun berfungsi sebagai medium. Saat roh turun, keluarga
dapat
> mengenali gaya bicara almarhum, gaya duduknya, dan bahkan suaranya
> yang ditampilkan oleh medium itu. Aneh? Di Bali, itu hanyalah
> peristiwa sehari-hari. Percaya atau tidak, terserah.
>
> Mudah-mudahan keluarga kita tak ada yang kesurupan hari ini. Kita
> mulai saja langkah hari ini dengan membaca Basmallah dan Insya
Allah
> kita kan selamat. Atau dengan bacaan apa saja sesuai dengan iman
> Anda!
>
Yahoo! Messenger NEW - crystal clear PC to PC calling worldwide with voicemail
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
