ENZIM: Zat Inti Kehidupan

Prinsip lain yang penting dari aturan diet Tao adalah lebih memilih bahan 
makanan yang segar daripada bahan makanan yang sudah tersimpan lama, memilih 
‘makanan hidup’ daripada ‘makanan mati’, dan, sepanjang bisa dipraktekkan, 
memilih mengkonsumsinya dalam keadaan yang mentah atau paling banter dimasak 
setengah matang.
Definisi kerja terbaik dari “makanan hidup” digambarkan oleh Dr McCulum dari 
Universitas John Hopkins, sekitar 50 tahun lalu. “Jangan makan makanan mati 
atau berpenyakit, tapi makan sebelum basi dan busuk!” Campuran tepung putih, 
misalnya, akan basi, sementara padi-padian di tanah akan membusuk.
Di Amerika, juga dimanapun dalam derap kehidupan modern ini, hampir semua 
makanan yang dijual sekarang sudah diperpanjang usia kesegarannya dengan 
cara yang kejam. Bahan makanan yang ada sekarang telah mengalami proses 
radiasi dengan dosis tinggi sinar gamma, demi memperpanjang usia 
kesegarannya. Bakteri dan hama pembusuk tak bisa menyentuh apel atau pangkal 
kubis yang sudah mengalami proses radiasi. Bahkan baktyeri dan hama pembusuk 
pun tahu, kalau makanan yang sudah diradiase itu menjadi tak sehat lagi 
untuk dimakan. Tapi, perusahaan industri makanan pun tahu manusia modern 
akan makan apa saja karena ketidaktahuannya akan pengetahuan dasar nutrisi.
Perbedaan cirri khusus antara “makanan hidup” dan “makanan mati” adalah 
adanya enzim aktif di dalam produk yang segar. Para tabib Taois menyebut 
factor kehidupan ini sebagai chi. Dan, enzim chi terbentuk dari banyak 
sekali unsure pokok dan penting yang ada di dalam makanan. Ilmuwan Barat 
tahu pasti bahwa enzim merupakan senyawa mudah hancur dan bisa dirusak oleh 
panas di tempat terbuka, kelembaban yang berlebihan, oksigen, radiasi, dan 
kimia sintesis. Padahal, semua unsure yang bisa merusak enzim itu bisa 
muncul pada saat memasak, proses pengalengan, pembersihan, penyaringan, 
pemeliharaan, pengawetan dan pasteurisasi makanan. Semua enzim akan 
“terbantai” pada temperature sekitar 130 derajat Fahrenheit—jauh di bawah 
titik didih air (212 derajat) dan sedikit di bawah suhu pasteurisasi (140 
derajat)
Diet tradisional Asia Timur yang sangat kaya dengan dua jenis enzim aktif 
yaitu makanan segar mentah seperti buah-buahan dan saturan. Juga, khusus di 
Jepang, ikan mentah. Dan, sebagai makanan untuk konsumsi pengobatan, 
tersedia berbagai jenis tanaman aspergilus dengan berbagai enzimnya yang 
berguna dalam proses pencernaan protein, karbohidrat maupun lemak.
Tanaman aspergilus yang sudah dimanfaatkan berabad-abad di Asia, mengandung 
banyak sekali enzim penting. Tanaman ini antara lain dipakai sebagai bahan 
yang mempersiapkan beberapa nutrisi dan makanan obat aktif sebagai tofu, 
yuba, nado, atau miso, sama dengan memberi tubuh kemampuan memompa enzim, 
zat makanan penting pencetus kehidupan.
Istilah “makanan alami” semakin banyak disalahgunakan di label berbagai 
jenis makanan komersial seperti yoghurt. Padahal, pengertian sesungguhnya 
dari “alami” itu hanya benar bila semua enzim alami, vitamin, mineral, dan 
berbagai unsure nutrisi penting masih tetap utuh.
Di pihak lain, terdapat banyak juga makanan alami bagus yang bisa ditemukan 
di supermarket tanpa label, seperti buah-buahan dan sayuran segar mentah, 
daging dan ikan segar, sirop gula, semuanya mentah dan tak pucat, 
kacang-kacangan dan padi-padian yang tak layu. Sementara beberapa makanan 
tak berair seperti kismis dan kurma menahan enzim vitalnya dalam bentuk mati 
suri dan enzimnya akan kembali aktif saat basah oleh kelenjar di dalam mulut 
dan lambung.
Amati dengan seksama tentang bagaimana aktivitas enzim menuaikan tugasnya 
yang penting bagi pencernaan yang baik, metabolisme yang efisien dan berguna 
untuk kesehatan.
Enzim adalah katalisator biokimia yang dikeluarkan oleh pancreas serta 
berbagai kelenjar dan organ. Sebagian dimanfaatkan untuk pencernaan, yang 
lain masuk ke dalam darah untuk mencari dan memburu mikroba berbahaya, racun 
serta sel mati dan sel rusak. Di dalam lambung, ada sekitar 5 juta kelenjar 
sangat kecil yang mengeluarkan aneka enzim yang dibutuhkan untuk pencernaan, 
seperti misalnya pepsin. Masing-masing enzim itu aktif secara khusus, 
menyesuaikan diri dengan reaksi biokimia untuk mengunci serangga. Bila enzim 
yang tidak selaras dikeluarkan bersama-sama karena masuknya campuran makanan 
yang tak sesuai, akan terlihat tanda berlawanan yang dikirimkan enzim-enzim 
itu untuk memperbaiki atau menetralkan keadaan.
Tapi, enzim jauh lebih dari sekadar Cuma katalisator dalam pengertian kimia 
konvensional. Salah seorang pakar enzim terkemuka di Amerika, Dr Edward 
Howell yang telah berpengalaman 50 tahun di bidangnya, pernah menulis di 
Healthview Newsletter, bahwa katalisator Cuma substansi tak berdaya. 
Katalisator tak punya apa-apa, disbanding energi hidup yang ditemukan pada 
enzim. Dalam hal ini, ketika bereaksi, enzim mengeluarkan semacam radiasi. 
Hal ini tak ada pada katalisator.
Menanggapi Dr Howell, para Taois dari Taipeh mengatakan, “Itulah kerja chi. 
Chi dimanifestasikan dirinya sendiri dalam bentuk yang bagi mata awam tampak 
seakan-akan seperti tradisi siluman, tapi akan sangat nyata di mata seorang 
Taois yang ahli dalam bidangnya. Chi juga dapat terdeteksi dan diukur 
teknologi canggih.
Radiasi, yang dikatakan Dr Howell, ada dalam beberapa enzim, sebenarnya 
adalah chi yang dilepaskan untuk bekerja di dalam system tubuh. DI sini 
dapat kita lihat kesamaan luar biasa antara pandangan seorang pakar 
kesehatan Barat yang cerdik dan praktisi tradisi Tao.
Ketika “peradaban” diet ditentukan dari cara memasak, proses, dan 
penyulingan buatan, sempurnalah kehampaan energi dalam semua makanan itu. 
Konsekuensinya, tubuh harus memproduksi sendiri berbagai enzim untuk 
memenuhi kebutuhan pencernaan karena begitu banyak makanan mati yang dimakan 
manusia modern setiap hari. Banyak dari enzim itu harus diberikan pada 
pancreas, sebuah organ yang begitu berat bekerja dan membengkak dalam spesis 
manusia sekarang. Pankreas manusia sekarang sudah menjadi lebih panjang 
disbanding berat tubuhnya. Dalam perbandingan dengan berat tubuh, catat Dr 
Howell, pancreas manusia lebih panjang dua kali disbanding pancreas sapi 
berbanding berat tubuhnya.
Kapasitas produksi enzim itu terbatas. Ketika sampai pada titik di mana Anda 
tak dapat lagi memproduksi enzim, berakhirlah hidup. Ungkapan itu sesuai 
dengan ajaran Tao yang mengatakan, bila tubuh tak dapat lebih lama 
memproduksi semen (mani, sperma), hormone dan bentuk lain dari jing (esensi 
vital, termasuk enzim) itulah saatnya mati.
Enzim mengandung intisari chi. Karena itu chi menuntut untuk memproduksi 
enzim. Setiap organisme menyimpan chi yang terbatas. Siapa yang tercepat 
menghabiskan chi, dialah yang lebih cepat mencapai akhir kehidupan. Diet tak 
alami, makanan yang terlalu matang dimasak, menguras terlalu banyak enzim 
tubuh. Hal ini sebenarnya merugikan, melawan alam dan mengosongkan kapasitas 
enzim tubuh. Hal ini merupakan salah satu biang terjadinya umur pendek, mati 
muda dan penyebab semua penyakit degenerasi.
Untuk melayani terlalu banyaknya makanan tak berenzim di dalam pencernaan, 
jatah enzim bagian tubuh lain—seperti otak, otot, sendiri dan syaraf—harus 
dipotong untuk menormalkan pencernaan. Dan ini akan menimbulkan terjadinya 
berbagai penyakit. Sebagai contoh, ambil fakta yang ditunjukkan fosil 
manusia Neanderthal, yang makanan utamanya terdiri dari bangkai binatang 
yang dibakar garing hangus di dalam gua mereka. Sebagian besar fosil yang 
ditemukan menunjukkan bahwa banyak di antara manusia Neanderthal yang hidup 
50 ribu tahun lalu menderita arthritis yang melumpuhkan.
Tapi orang Eskimo yang tradisi makannya terdiri dari semuanya daging mentah, 
lemak mentah dan ikan mentah, sama sekali tak pernah mengenal apa itu 
arthritis, radang usus, atau gangguan kesehatan lain. Sayangnya, hal itu 
hanya berlangsung sampai titik di mana mereka mengenal paket pemrosesan 
makanan akibat masuknya peradaban Amerika. Orang Eskimo merupakan 
satu-satunya suku bangsa di Amerika Utara dan Selatan yang tak pernah 
dipengaruhi tradisi dari adapt-istiadat “dokter” karena mereka sebenarnya 
tak pernah sakit. Sesungguhnya, kata “Eskimo” itu diambil dari istilah 
Indian kuno yang artinya “dia yang makan makanan mentah”, dan itulah rahasia 
sebenarnya dari bentuk kesehatan dan umur panjang mereka.
Diet tanpa enzim sangat menyusahkan bagian inti dari tubuh kita, “jaringan 
esensi vital” yaitu system kelenjar endokrin. Penemuan Dr Howell menunjukkan 
fakta bahwa masakan diet bebas enzim mengakibatkan penyakit pembesaran 
berlebihan dari kelenjar di bawah otak yang mengatur kelenjar lain. Lebih 
lanjut, penelitian menunjukkan hampir 100 persen dari 50 kematian karena 
kecelakaan disebabkan karena terganggunya kelenjar di bawah otak ini.
Diet masakan makanan dengan enzim yang mati cenderung membuat lemak, betapa 
pun Anda hati-hati menghitung kalori. Petani Amerika menemukan sejak lama 
daging babi pun tak membuat gemuk bila dimakan bersama kentang mentah. Tapi 
bila diet yang sama namun dengan kentang yang dimasak, akan cepat sekali 
membuat orang menjadi sangat gemuk. ENzim aktif di dalam makanan mentah 
membuat makanan dicerna dengan efisien di dalam lambung. Hal itu 
menghindarkan kita dari sakit lambung akibat pembusukan dan pengendapan. 
Kalori pun akan dibakar sempurna oleh tubuh sehinga lemak tak terkumpul.
Sebenarnya, banyak lemak di dalam tubuh orang yang gemuk gendut bukan 
merupakan jaringan tubuh, tapi merupakan bagian terbesar dari tumpukan 
lendir dan racun yang menonjol keluar dari dinding usus, leher dan getah 
bening di dagu dan bagian lain dari tubuh. Kalori makanan mentah dan kalori 
makanan yang dimasak ituberbeda seperti udara segar dan udara berpolusi. 
Dari pengalaman, ungkap Dr Howell, tidak mungkin menemukan orang yang  
sering makan makanan mentah itu gemuk. Tak perlu jauh-jauh mencari contoh. 
Lihat saja orang Sunda yang doyan lalap. Mereka tampak sehat bugar dan 
jarang mati muda. Gadis-gadisnya punya kulis mulus ramping menarik.
Sampai ilmuwan Barat pun menemukan di dalam pengujian mereka dengan tikus 
dan mengaplikasikan hasilnya pada manusia. Kita lihat bagaimana tikus 
pemakan makanan masak. Pengujian dilakukan pada 2 kelompok tikus yang diberi 
makanan berbeda. Kelompok yang satu diberi makanan yang dimasak, dan 
kelompok lain mengkonsumsi makanan mentah. Kelompok terakhir, yaitu tikus 
tikus yang mengkonsumsi makanan mentah, mencapai usia hidup rata-rata 3 
tahun. Sementara kelompok tikus yang makan makanan masak tak ada yang 
mencapai umur lebih dari 2 tahun. Perbandingan perbedaan umur hidup tersebut 
dalam terminology manusia, bisa berarti kelebihan 20 – 30 tahun!
Percobaan Dr Pottenger dengan susu mentah dan susu pasteurisasi pada kucing 
menunjukkan hasil yang sama. Pikirkanlah hal ini bila suatu saat nanti Anda 
harus memilih antara hamburger dan French fries atau buah-buahan dan sayuran 
segar. Pilih mana?
Bila tak sibuk mencerna makanan tak berenzim di dalam lambung, enzim tubuh 
berkelana bersama aliran darah dan melindungi tubuh dari segala macam 
penyakit dan gangguan yang merusak. Ini adalah salah satu dari sekian banyak 
manfaat yang bisa diperoleh dengan berpuasa. Semua kapasitas enzim 
dipancurkan sendiri untuk membersihkan system tubuh, merawat jaringan tubuh 
yang rusak serta menghilangkan jaringan tubuh yang sudah mati, menghilangkan 
protein busuk dan membantu membangun sel-sel baru.
Tak pelak lagi, bila Anda terbiasa hidup dengan diet harian makanan tak 
berenzim alami, seluruh kapasitas enzim akan tetap sibuk melayani pekerjaan 
pencernaan. Karena itu, loloslah segala macam bentuk pembusukan dan 
perusakan sel menumpuk dalam jaringan, mengakibatkan berbagai penyakit. 
Kenyataannya, penyakit tumor kankerkebanyak selalu tumbuh di jaringan otot 
yang menjadi ladang racun, seperti paru-paru perokok, hati peminum minuman 
keras dan usus si rakus tukan makan semua makanan.
Untuk mengimbangai kekeringan enzim dalam system tubuh yang disebabkan 
karena makanan yang dimasak, khususnya masakan makanan dari produk hewani, 
sebaiknya minum 1-3 kapsul suplemen enzim saat mengkonsumsi makanan serius. 
Lain halnya kalau Anda konsisten mengkonsumsi makanan mentah. Bahkan 
sedikity salad tak akan cukup untuk mengimbangi kebutuhan enzim dalam 
mencerna sebuah steak. Kapsul suplemen enzim itu bisa diminum sebelum makan 
agar sudah larut di dalam lambung saat makanan masuk ke sana. Sebaiknya, 
kapsul enzim yang diminum adalah enzim tumbuh-tumbuhan daripada enzim 
pankreatik yang biasanya diambil dari sumber hewani. Karena enzim 
tumbuh-tumbuhan dapat bekerja di dalam keasaman lambung. Sementara enzim 
pankreatik bekerja lebih baik di dalam kebasahan (alkalinitas) usus kecil. 
Pada saat makanan mencapai usus kecil, sebagian besar proses pencernaan 
sudah terjadi ketika makanan berada di lambung. Karena itu, yang terbaik 
adalah menggunakan suplemen enzim yang bekerja di lambung.
---------------

Disadur dari: Buku Fengshui Makanan oleh Ignas Bethan.

DIkirim oleh:

Michael Suswanto,
owner of milis: [EMAIL PROTECTED]
to join, send blank email to: [EMAIL PROTECTED]

_________________________________________________________________
Read, write and reply to Hotmail on your mobile. Find out more. 
http://mobilecentral.ninemsn.com.au/mcmobileHotmail/home.aspx





******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke