Sebuah tulisan dari saya dalam rangka menyambut Hari Buruh Internasional,  ( maaf tidak ada sumbangsih pemikiran, hanya menggambar saja ))


M A Y D A Y

 

Saat istirahat tiba, seorang kawan muda yang bekerja di perusahaan di kawasan Sudirman itupun bersantai. Sambil berbincang-bincang dia duduk dikursi yang dia gunakan sebagai tempat bekerja. Mungkin karena lelah, capek setelah setengah harian bekerja, tanpa terasa sang kawan muda itupun terlelap di kursinya. Demi mengetahui hal itu sang boss marah dan seketika itu juga sang kawan muda dipecat.

Begitulah cerita singkat yang diungkapkan kembali oleh seorang teman di kereta, dalam sebuah perjalanan pulang kerja dari Jakarta - Depok. Nukilan Cerita itu saya gunakan sebagai awalan tulisan saya, Betapa nasib kaum pekerja teramat rentan dan dalam posisi tawar yang sangat lemah ketika harus berhadapan dengan pemilik modal atau orang yang mempunyai wewenang atas itu. Dan untuk itulah kenapa Serikat Pekerja dan Perjanjian kerja bersama ( PKB ) antara perusahaan pemberi kerja dan pekerja diperlukan.

Hari ini 1 Mei, atau yang lebih dikenal dengan May Day, merupakan hari dimana pekerja seluruh dunia mengenang satu momen tahun 1886, ketika demontrasi menuntut perbaikan kondisi kerja di Amerika Serikat disambut dengan berondongan senjata api dan ratusan orang tewas.

Biarkan kaum pekerja memperingati peristiwa itu dengan menggunakan hak mereka untuk menyampaikan aspirasi di jalan-jalan. Tetapi kita disini akan berbicara sisi lain kaum muda kita.

Saya sengaja mengganti kata buruh dengan pekerja, agar gambaran iring-iringan manusia berseragam ungu pergi berjalan ke pabrik-pabrik untuk memintal benang atau menjahit sepatu, bisa berganti menjadi kita yang mengetik di komputer, menulis email, menenteng-nenteng laptop, bercakap-cakap dengan telpon seluler, pakai dasi kesana kemari, pulang pergi menyetir mobil atau naik kereta ekspress, termaktup juga di dalamnya.

Karl Marx berujar, Bekerja merupakan sebuah cara dimana manusia menyatakan eksistensi dan mengidentifikasikan siapa dirinya. Masyarakat pada umumnya menekankan status pekerjaan dalam pengukuran nilai dan konsep diri individu yang terintegrasi di dalam lingkungan sosial masyarakat. Oleh karena itu dipecat menjadi hantu yang menakutkan bagi kaum pekerja, terutama bagi yang tidak memiliki self competence untuk tetap bertahan hidup mandiri.

Bekerja di sebuah perusahaan besar, dimana kita bisa mengidentifikasikan siapa diri kita di dalamnya, bukan hanya impian tetapi juga ukuran keberhasilan lulusan belajar di sekolah. Sebuah kebanggaan tersendiri dalam diri kita melekat sebagai orang Telkom, orang Pertamina, orang PLN, Orang BNI, Orang DKI atau institusi besar manapun tempat kita bekerja.

Keberhasilan belajar di sekolah dan perguruan tinggi, tidak diukur dari tumpukan huruf-huruf, angka-angka dan kata-kata, yang mengendap dalam kepala kita tetapi seberapa berhasil dia mendapatkan pekerjaan setelah kelulusan. Tidak tepat memang, tetapi begitulah anggapan sebagian besar kita.

Perguruan Tinggi dan sekolah-sekolah telah berlomba-lomba melahirkan putra-putra terbaiknya, untuk masuk dalam dunia kerja. Tetapi jaman telah berubah, bergelar sarjana tidak lagi seperti jaman orang tua mereka yang gampang mendapatkan pekerjaan. Index prestasi di atas tiga tidak lagi lantas diperebutkan dan dipersilahkan memilih meja kursi di kantor, tetapi harus bersaing dengan ribuan yang lain dengan index yang sama atau bahkan di bawahnya. Terjadilah terjadi over supply tenaga kerja di negeri kita ini.

Kita sudah melakukan 2 hal, untuk mengurangi hal itu, meng-ekspor pembantu dan mengimpor juragan. Dan itu ternyata belum cukup untuk mengurangi laju pertumbuhan tenaga kerja. Sehingga mereka mau bekerja apa saja, walaupun tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka pelajari asal ada aktifitas yang nampak dan mempunyai bergelar pengangguran.
Di lain pihak, jaman modern telah merubah kapitalisme menjadi sebuah agama, yang sadar atau tidak sadar kita menganutnya. Pencapaian pendapatan merupakan ukuran keberhasilan tertinggi dalam hidup seseorang atau perusahaan. Persaingan yang sangat ketat untuk menuju puncak memaksa perusahaan besar membuat langkah-langkah efisiensi disegala hal, salah satunya masalah pekerja. Di sana-sini terdengar pemangkasan jumlah pekerja untuk mengurangi beban pengeluaran.  Sebagai gantinya, perusahaan lebih memilih mengalihkan satu unit proses bisnisnya kepihak lain (outsourcing) atau dengan menggunakan tenaga kontrak, untuk pekerjaan tertentu.

Banyak hal keuntungannya yang diperoleh, selain tidak perlu lagi mengeluarkan anggaran yang besar untuk SDM, juga mendapatkan tenaga muda yang giat bekerja, lebih patuh dan tidak rewel, dan yang pasti…………cantik-cantik !!!

Memang tidak mudah mengelola perusahaan dengan jumlah pegawai yang menggelembung, karena cenderung tidak fleksibel dan tidak lincah untuk berubah. Belum lagi tuntutan-tuntutan yang beraneka macam. Dengan menggunakan tenaga kerja kontrak atau outsoucing, tidak ada lagi pertanyaan semacam, "bulan ini kita akan dapat apa?","tanggal berapa insentif keluar?", "kapan Jasprod dibayar ?"  pertanyaan yang hilir mudik selalu terdengar dalam pembicaraan di pantry.

Saya sendiri harus mengakui bahwa pekerja kontrak bahkan memiliki kompetensi jauh diatas pekerja tetap, termasuk saya pribadi. Seandainya dia menjadi pegawai tetap, tahun-tahun ke depan bisa akan menjadi atasan saya. YA seandainya !!.

Salah satu tuntutan dari aksi turun ke jalan pada tanggal 1 mei ini adalah masalah Tenaga kontrak ini, yang akan di revisi dari 3 tahun menjadi 5 tahun masa kontrak. Seperti juga kejadian di Perancis yang memicu demontrasi masal sampai berhari-hari, ketentuan hasil revisi ini dianggap membatasi akses pekerja muda untuk masuk ke dunia kerja yang lebih baik (menjadi pegawai tetap). Untungnya atau Ironinya pelaku unjuk rasa di Indonesia pada umumnya adalah pekerja pabrik-pabrik (yang biasa kita sebut sebagai buruh), bukan para tenaga kontrak yang berada di perusahaan besar non pabrik. Mungkin karena pekerja kontrak tersebut sudah tercukupi hidupnya dengan upah yang selama ini diterima, atau juga karena tidak berani !!, atau bahkan tidak sadar yang bahwa nasib merekalah obyek dari tuntutan kaum pekerja itu, seperti sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh salah satu pekerja kontrak di Telkom.

Saya mengakui bahwa Dasar kompetensi para tenaga kontrak sekarang memang bagus, tetapi kesadaran akan pentingnya menghimpun diri dan mengorganisir untuk sebuah kesepahaman bersama, sangat kurang dan cenderung apatis, dari banyak kaum muda kita. Sehingga nasib para pekerja kontrak tidak juga beranjak dari sebutan pekerja kelas dua pada perusahaan. Tenaga kerja kontrak memang bisa jadi tidak akan diangkat menjadi pegawai tetap tanpa persyaratan yang ditetapkan, tetapi tidak mesti tenaga kontrak harus mendapatkan penghasilan jauh dari pegawai tetap atau jauh dari kata cukup. Karena yang dibutuhkan dari tenaga kontrak sekarang adalah kompetensinya untuk menangani sebuah proses bisnis dengan keahlian tertentu. Maka mereka berhak mendapatkan penghasilan yang layak sesuai dengan keahlian mereka.

Kita harus menanamkan sifat kesadaran akan artinya pentingnya hubungan saling menguntungkan antara pekerja dan pemberi kerja. Dan bukan atas belas kasihan. Sebenarnya pekerja kontrak dapat saja menanyakan hak-hak mereka atas uang kesehatan, jamsostek, askes atau fasilitas-fasilitas lain yang layak atas resiko mereka dalam menjalankan aktifitas kerja sehari-hari. Atau bisa juga mempertanyakan status mereka dalam hubungannya dengan pemberi kerja, dengan sedikit lebih kritis. Tetapi sebuah kata " kalau tidak suka bekerja disini silahkan saja cari di tempat yang lain saja, masih banyak kok yang mau menunggu di luar !!" sudah cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pekerja kontrak. 

Bahwa tiap perusahaan itu unik dan tidak akan dipahami dengan betul oleh orang yang tidak berada di dalamnya, maka salahlah kalau organisasi karyawan diorganisir oleh bukan orang yang berada di dalam lingkup perusahaan itu sendiri tetapi oleh anasir-anasir dari luar. Posisi kaum pekerja yang rawan ini, akan mudah digerakan oleh orang-orang non pekerja yang mengatasnamanakan pekerja dalam kegiatannya. Mengutip dari para aktivis dari serikat pekerja di Amerika Latin, kemerdekaaan kaum pekerja tidak akan terjadi kecuali oleh kaum pekerja itu sendiri.

Terakhir …. Besok 2 Mei adalah hari pendidikan nasional, apakah kita masih menggukur keberhasilan pendidikan anak-anak muda kita dari mendapatkan pekerjaan ? bersiaplah untuk kecewa.

Untuk anak-anak anda, anda tentu sudah mengeluarkan banyak untuk banyak hal, dari kursus-kursus menambah kompetensi sampai dengan persiapan uang yang mungkin untuk sogokan, agar mampu masuk dalam dunia kerja. Tetapi apa yang anda persiapkan jika anak anda tidak mampu mendapatkan pekerjaan ?.

 



******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke