|
Kontemplasi:
THE TAO OF MBAH
MARIJAN
Beberapa hari terakhir ini berita-berita di
televisi heboh dengan pemberitaan akan meletusnya Gunung Merapi, atau yang dalam
literatur Jawa kuno disebut sebagai Gunung Candrageni. Benarkah Gunung
Merapi akan meletus?
Beberapa waktu lalu, Mbah Marijan, juru kunci
Merapi pernah diwawancarai di Jogja TV selama sekitar kurang lebih 1 jam. Saya
sangat terkesan dengan sosok Mbah Marijan: keluguan dan
kesederhanaannya. Dia tidak bisa berbahasa Indonesia, dan menjawab semua
pertanyaan dalam bahasa Jawa halus. Sayangnya, penyiar Yogya TV yang
mewancarai Mbah Marijan tidak menguasai bahasa Jawa dengan baik. Sehingga
sering terjadi salah-sambung antara keduanya: ditanya begini jawabnya begitu,
ditanya begitu jawabnya begini. Namun dalam 'kebodohannya', toh
tetap tersirat betapa mendalam kebijaksaan Mbah Marijan. Ia seperti
memiliki kebijaksanaan Winnie The Pooh, tokoh kartun yang lugu
dan 'bodoh'. Namun dalam 'kebodohannya' justru terpancar kebaikan dan
kebajikannya yang alami. Bahkan ada seorang penulis Barat yang juga seorang
praktisi Tao, Benjamin Hoff, menulis buku yang sangat bagus tentang hal
ini: The Tao of Pooh.
"Kula niki tiyang bodho," begitu
kalimat yang terus menerus diulang Mbah Marijan dalam wawancara tersebut. Dia
mengaku tidak tahu-menahu tentang alat-alat canggih yang dimiliki ahli
volkanologi yang meramalkan Gunung Merapi akan meletus. Dia hanya membaca
tanda-tanda alam. Dan dari isyarat-isyarat alam yang ia tangkap, saat
wawancara tersebut Mbah Marijan mengatakan bahwa Gunung Merapi belum akan
meletus. Mbah Marijan sangat dekat dengan alam, dan sangat menghormati
alam dan Kehidupan secara keseluruhan. Kebajikan itulah yang telah hilang dalam
teknologi Barat. Kebudayaan Barat dengan kecanggihan teknologinya dan paham
kapitalismenya telah melupakan inti kebijaksanaan yang paling mendalam: bahwa
manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta. Orang Barat
meng-eksploitasi alam untuk memperkaya pemilik modal atau kapitalis, orang Jawa
menjaga harmoni dalam kehidupannya bersama alam.
Betapa Mbah Marijan sangat menghormati alam, nampak
dalam keyakinan ini: bahwa saat terlihat kepulan asap dan debu pekat keluar dari
moncong Gunung Merapi, seharusnya orang tak boleh menyebutnya
sebagai wedhus gembel, seperti yang biasa dilakukan orang, "E,
kae lho, ana wedhus gembel." Sebaliknya kita harus berkata begini,
"Assalamualaikum. Dhuh Gusti, kawula nyuwun slamet." Ini
mengingatkan saya pada Santo Fransiskus dari Asisi yang sangat menyatu dengan
alam, bahkan berbincang-bincang dengan matahari atau seeokor
ikan, karena menganggap mereka adalah saudaranya.
Satu hal yang dikritik Mbah Marijan adalah:
eksploitasi besar-besaran dengan menggunakan alat-alat berat untuk mengeruk
pasir dari lereng Gunung Merapi dan membawanya keluar wilayah Gunung Merapi.
Makin dalam kerukan pasir, makin sulit tertimbun kembali, sehingga padang rumput
pun makin lama makin sempit... dan penduduk sekitar yang sebagian besar beternak
sapi perah untuk mencari nafkah kesulitan mencari pakan bagi ternak
mereka. Menurut Mbah Marijan: hal ini mengganggu keseimbangan alam. Dan jika
keseimbangan alam terganggu: maka bumi pun akan horeg dan
gonjang-ganjing. Dalam pemahaman Mbah Marijan, alam adalah
satu-kesatuan: dari yang paling kecil hingga yang paling besar, dari
yang kasar hingga yang tak kasat mata. Dan jika terjadi ketidakseimbangan
di satu titik: katakanlah manusia menjadi terlalu serakah atau tamak, itu akan
membuat kaki-kaki bumi goyah... dan roh-roh halus penghuni dasar bumi akan marah
dan meminta tumbal darah!
Kiranya hanya Tuhan yang mengetahui
semuanya.
***
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [filsafat] yohanes sutopo
- [filsafat] Yohanes Sutopo
- [filsafat] Arif Darmawan
- [filsafat] Atma (PTI - SOR)
- [filsafat] Rahmad Setiadi
- [filsafat] abdel timur
