Adakah hukuman yang lebih mengerikan dari pada yang dijalani oleh 
Sisifus? Yang terus menerus mengangkat batu besar ke puncak gunung, 
untuk kemudian menyaksikan gaya gravitasi melakukan tugasnya; 
menjatuhkan batu ke lereng gunung. Tidak berhenti sampai disitu, 
Sisifus masih harus terus melakukan pekerjaan sia2 dan tanpa harapan 
yang ditimpakan para dewa padanya itu. Bayangkan sosoknya yang 
mengkilap oleh keringat. Tangannya menahan bongkahan batu. Sebelah 
kakinya menahan berat batu itu. Dengan segenap kekuatan yang dimiliki, 
ia terus mendorong sampai ke puncak. Sesampainya di puncak, batu itu 
menggelinding ke bawah, meninggalkan Sisifus dalam keputusasaan.

Sisifus mungkin layak menerima hukuman itu. Mungkin tidak. Ia telah 
merendahkan martabat para dewa. Ia juga telah merantai Dewa Kematian, 
sampai Pluto mengutus Dewa Perang untuk membebaskan Dewa Kematian dari 
Sisifus. Sisifus yang hampir mati ingin mengukur derajat kecintaan dan 
kepatuhan istrinya. Tapi ia melakukannya dengan ceroboh. Ia 
memerintahkan istrinya untuk membuang jenazahnya ke tengah kota alih-
alih menguburkannya. Marah karena kepatuhan istrinya yang paradoksal 
dengan kasih manusiawi, ia mendapat izin dari Pluto untuk sejenak 
keluar dari neraka dan menghukum istrinya. Tapi dunia terlalu indah 
untuk ditinggalkan. Matahari yang hangat, air yang sejuk dan manis 
tentu membuat siapapun tidak ingin kembali pada kelabu dan kelamnya 
neraka. Pun Sisifus. Amarah dan murka Pluto tidak dihiraukannya. 
Panggilan dan peringatan juga dianggap angin lalu oleh Sisifus. Ia 
kembali hidup di keindahan bumi, merasakan angin laut yang sejuk 
meniup anak-anak rambutnya setiap hari, selama bertahun2 lagi. Sisifus 
memberontak sekali lagi.

Tapi para dewa tidak bisa menerima penghinaan ini. Merkurius datang 
dan menangkap Sisifus. Membuang jauh selimut kebahagiaan yang mendekap 
Sisifus, mendorongnya masuk dengan paksa. Ke neraka. Ke tempat hukuman 
batu besarnya telah menunggu. Insting hidup yang dimilikinya beserta 
nafsu terhadap hidup itu sendiri ditambah penghinaannya pada kematian, 
membuatnya harus membayar mahal. Sangat mahal. Apa lagi yang lebih 
menyiksa daripada hukuman buat Sisifus itu? Camus menyatakan; "Itulah 
harga yang harus ia bayar untuk segala nafsu di bumi ini." Tapi alih-
alih merasa kasihan pada Sisifus, Camus mengajak kita melihat Sisifus 
dari sudut pandang berbeda. Sisifus sebagai bawahan proletar para 
dewa, tersiksa, sekaligus berada pada puncak kemenangannya. Menghadapi 
siksaan tak berujung itu, ia tetap berjalan. Mendorong batu besar itu 
ke puncak gunung, sendirian. Mengerahkan seluruh kekuatannya. 
Menentang kekuasaan para dewa dengan perenungan dan perjuangan di tiap 
perjalanan mendaki ke puncak gunung. Bagi Sisifus yang telah mencuri 
rahasia para Dewa, kita harusnya membayangkan ia berbahagia. Terlalu 
absurd untuk dibayangkan? Yeah, I know... Dapatkah kita bayangkan para 
buruh bahagia dengan beban kerja mereka yang berat dan upah yang tak 
seberapa? Sama absurdnya dengan membayangkan Sisifus bahagia 
menghadapi hukumannya.

Satu yang mengganjal pikiran saya, mengapa Sisifus tidak mencoba 
memberontak lagi? Bukankah ia sudah pernah melawan dan berhasil walau 
kemudian dipaksa menyerah. Mengapa tidak dilemparkannya saja batu itu 
ke neraka dan menghabisi Pluto sekalian? Bukankah ia sudah pernah 
membuat Dewa Kematian tidak berdaya. Kenapa Fus? Kenapa?

www.xanga.com/kurusetra








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives
http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/pyIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke