Tepat pada Hari Kebangkitan Negara (HarKebNeg), banyak aksi-aksi keprihatinan digelar di Ibukota, tidak terkecuali para pengamat sospol, aktivis-aktivis zaman dulu hingga para penggiat partai-partai politik. Walau kebanyakan dilakukan dalam ruang-ruang full AC, namun toh tetap harus dihargai semangat mereka mengenang hari bersejarah itu. Menarik juga jika kemudian mereka mau bergandengan tangan menyikapi keparahan kondisi bangsa kita saat ini.

Tapi yang jauh lebih menarik adalah aksi tandingan para mahasiswa dan kalangan akademisi. Pada hari yang sama, mereka menuntut penggantian nama Hari Kebangkitan Negara menjadi Hari Keereksian Nasional. Aksi massa yang dimulai sejak pagi itu, dimeriahkan dengan berbagai atribut yang tak lazim. Sebuah boneka burung raksasa diusung di atas mobil bak terbuka. Di dalam bak mobil tersebut juga banyak orang berpakaian burung, dengan melakukan gerakan naik-turun terus menerus. Arak-arakan mobil tersebut dikelilingi oleh pagar hidup manusia yang terdiri dari para demonstran sendiri. Di barisan terdepan, terbentang dengan tegas sebuah spanduk raksasa yang bertuliskan :

“Banyak Politikus kini tengah ereksi, seperti burung!”

“Apa maksud aksi ini”, seorang wartawan berusaha mengorek keterangan dari salah satu demonstran.
“Kami merasa penggunaan istilah Hari Kebangkitan Negara telah melecehkan tujuan awal para pejuang negara kita dulu”, semangatnya meledak-ledak. Nafasnya tersengal-sengal.
Wartawan itu lalu diam. Menunggu. Sepertinya dia tahu cara mewancarai demonstran. Tak perlu banyak tanya, pasti si demonstran akan nyerocos sendiri. Dan seperti yang ia duga, berikutnya si demonstran itu berkoar sendiri serasa sedang orasi :

“Apakah itu disebut bangkit jikalah suatu kali menentang lain waktu kompromis.
Apa pantas disebut bangkit, jika suatu kali berteriak vokal, lain waktu bersembunyi karena merasa diuntungkan.
Apa itu disebut bangkit, jika timbul-tenggelam, dan hanya muncul ketika memperjuangkan kepentingan pribadi ?
Apakah layak disebut bangkit kalau yang dilakukan hanya aktivitas ceremonial, verbalisme tipu-tipu?
Bangkit adalah proses yang menuntut konsistensi. Menuntut totalitas. Bangkit adalah pilihan hidup! Kepenuhan tekad. Tekad untuk tetap tegar berdiri!”

“Lalu mengapa para mahasiswa menggunakan kata ereksi?”, wartawan itu memotong
“Karena yang dialami oleh para politisi itu hanyalah sekedar ereksi dan pasti akan layu, apalagi kalau disodori kekuasaan!”, ucap demonstran itu sambil mengguyur kepalanya dengan segelas air mineral.
“Bisa diperjelas?”, wartawan itu pintar memancing
Seorang demonstran lain menyela dari belakang sambil berteriak :
“Bapak punya burung khan? Nah, kalau Bapak ereksi, burungnya terus-terusan berdiri atau sebentar doank?”

Johan

My Blog : http://yuljeworo.sekolah-bisnis.com/

 

 



******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke